Hukum Menghadap Kiblat Dengan Hanya Menghadap ke Arah Barat

Arah Kiblat

Salah satu syarat dalam salat adalah menghadap kiblat. Mayoritas ulama Madzhab Syafi’i mengartikan menghadap kiblat dengan menghadap bangunan fisik Ka’bah. (Lihat: Sa’id bin Muhammad Ba’alawi, Busyra al-Karim, hlm. 265)

Namun di masyarakat sering ditemukan orang yang salat dengan langsung menghadap ke arah (jihah) kiblat yang dalam konteks Indonesia ialah menghadap ke barat. Karena dia berasumsi bahwa salat cukup dengan menghadap ke arah barat.

Dalam permasalahan ini, Sayyid Abdurrahman Ba’alawi menjelaskan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

اَلرَّاجِحُ اَنَّهُ لَابُدَّ مِنِ اسْتِقْبَالِ عَيْنِ الْقِبْلَةِ … وَالْقَوْلُ الثَّانِي يَكْفِي اسْتِقْبَالُ الْجِهَّةِ أَيْ اِحْدَى الْجِهَاتِ الَّتِي فِيْهَا الْكَعْبَةُ لِمَنْ بَعُدَ عَنْهَا فَهُوَ قَوِيٌّ اخْتَارَهُ الْغَزَالِى وَصَحَّحَهُ الْجُرْجَانِي وَابْنُ كَجٍّ وَابْنُ اَبِي عُصْرُوْنَ وَجَزَمَ بِهِ الْمَحَلِّي. قَالَ الْأَذْرَعِي وَذَكَرَ بَعْضُ الْاَصْحَابِ اَنَّهُ الْجَدِيْدُ وَهُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّ جِرْمَهَا صَغِيْرٌ يَسْتَحِيْلُ اَنْ يَتَوَجَّهَ اِلَيْهِ أَهْلُ الدُّنْيَا فَيَكْفِي بِالْجِهَّةِ

“Pendapat yang unggul, wajib bagi orang yang salat untuk menghadap fisik kiblat… Dan pendapat kedua, cukup menghadap arah kiblat bagi orang yang jauh dengan kiblat. Yaitu salah satu arah dimana kiblat berada di di sana. Dan pendapat ini pun kuat sebagaimana dipilih oleh al-Ghazali, disahihkan al-Jurjani, Ibnu Kajin dan Ibnu Abi Ushrun, serta dikuatkan oleh al-Mahalli. Al-Adzra’i berkata, pendapat ini termasuk pendapat baru yang dipilih. Karena fisik kakbah kecil sehingga mustahil bagi penduduk bumi untuk menghadap kepadanya, sehingga cukup dengan menghadap arahnya saja.” (Lihat: Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.