HomeArtikelHukum Menghadiri Resepsi Pernikahan

Hukum Menghadiri Resepsi Pernikahan

0 6 likes 180 views share

Salah satu dasar hukum perintah untuk menghadiri walimah atau resepsi pernikahan adalah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Umar RA. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيْمَةِ فَلْيَأْتِهَا

Jika salah satu dari kalian diundang dalam acara walimah, maka hendaklah mendatanginya.” (Muttafaq ‘Alaih)[1]

Hadis di atas menunjukkan hukum wajib untuk menghadiri undangan Walimatul Urs. Berbeda dengan walimah-walimah lain yang hukum mengahadirinya adalah sunah. Akan tetapi, kewajiban ataupun kesunahan untuk menghadiri acara tersebut terikat dengan beberapa syarat:

Pertama, mendapatkan undangan secara khusus terhadap orang tertentu. Baik melalui ucapan lisan ataupun undangan media tulisan. Sehingga apabila undangan bersifat umum atau tidak tertentu pada orang yang dituju secara khusus, maka tidak memiliki keharusan untuk menghadirinya.

Kedua, tidak terdapat kemungkaran. Apabila di tempat acara pernikahan terdapat kemungkaran yang tidak mungkin untuk dihindari, misalkan percampuran antara laki-laki dan perempuan, pertunjukan hiburan yang diharamkan maka hukum menghadirinya tidaklah wajib.

Ketiga, tidak ada halangan. Apabila seseorang yang diundang terdapat halangan atau udzur yang dapat mencegah dirinya untuk menghadiri acara pernikahan, maka diperbolehkan baginya untuk tidak menghadirinya. Salah satu contoh udzur tersebut ialah sakit.[2]

Bagaimana Jika Berpuasa?

Jika menghadiri acara Walimatul ‘Urs dalam keadaan berpuasa, maka tetap harus menghadirinya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim RA:

إِذَا دُعِيَ اَحَدُكُمْ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيُجِبْ

Apabila salah satu dari kalian diundang, sementara ia dalam keadaan berpuasa maka tetaplah ia mendatanginya.”

Dengan menghadiri acara pernikahan, secara otomatis seseorang yang berpuasa tetap akan dihadapkan dengan suguhan makanan. Maka dalam keadaan seperti ini, ada dua pemilahan;

Pertama, ia tetap berpuasa dan hanya mendoakan. Sesuai hadis Rasulullah SAW:

ذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ، وَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ

Apabila seseorang dari kalian diundang makan, maka penuhilah undangan itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka makanlah (hidangannya). Tetapi jika ia sedang berpuasa, maka hendaklah ia mendoakan (orang yang mengundangnya).”

Kedua, boleh membatalkan dan ikut makan. Untuk opsi yang kedua ini ditujukan apabila puasa yang dilakukan adalah puasa sunah dan apabila ia tidak memakannya maka akan menyinggung perasaan pihak yang mengundang. Sesuai sabda Rasulullah SAW:

إِذَادُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ فَلْيُجِبْ فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

Apabila salah seorang dari kalian diundang makan, hendaknya dia memenuhinya. Apabila ia menghendaki, maka ia akan memakannya atau meninggalkan (makanan)nya.”[3]

[]waAllahu A’lam

 

_______________________

[1] Syarah Al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, III/296, al-Haromain.

[2] Hasyiyatani Qulyubi Wa ‘Umairoh, III 297-299.

[3] Syarah An-Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, V/153.