HomeDawuh MasyayikhHusnudhon Pada Guru: Kunci Kesuksesan Murid

Husnudhon Pada Guru: Kunci Kesuksesan Murid

0 4 likes 656 views share

Setiap menjelang acara Lirboyo Bersholawat, Habib Syekh bin Abdul Qodir As-Segaf pasti menyempatkan diri sowan ke ndalem, dan bertatap muka dengan santri putri. Tak lupa pula beliau selalu menyampaikan petikan-petikan petuah untuk bekal para santri.

Dalam kunjungan beliau ke Ponpes Putri Hidayatul Mubtadi-aat kemarin, beliau berpesan kepada para santri untuk selalu berhusnudhon kepada guru. Sebab salah satu kunci kesuksesan dalam proses belajar adalah husnudhon. “Sebesar apa ilmu yang kita dapatkan, tergantung sebesar apa husnusdhon kita kepada guru. Kalau husnudhon kepada guru seratus persen, walaupun kadang tidak membaca kitab, memandang guru itu saja sudah dapat ilmu.” Tutur Habib Syekh.

Masih tentang husnudhon, beliau berbagi pengalaman saat umroh beberapa waktu lalu. Saat itu beliau sempat bertemu dengan Al-Habib Abdullah Muhammad bin Abdul Qadir bin Ahmad di Jedah. “Al-Habib Muhammad mengatakan, ‘aku waktu belajar kepada ayah dan guru-guruku, disitu saya kebanyakan tidak mebaca kitab. Disitu saya di tes oleh guru-guru saya yang khusus, bagaimana husnudhon saya terhadap mereka. Sewaktu saya menyangka guru saya baik betul, seakan-akan saya mendapatkan ilmu tanpa membaca kitab’.” Kenang Habib Syekh.

Bahkan Habib Syekh juga menambahkan, kalau husnudhon kepada guru adalah salah satu faktor utama penentu keberhasilan murid, selain belajar. “Baca kitab, belajar itu penting, tapi lebih penting lagi kalau kita husnudhon penuh kepada orang yang mengajar. Kalau belajar saja, tidak husnudhon tidak cepat masuk (ilmunya -Red). Masukpun, besok kalau sudah keluar dari pondok akan ngelek-elek (menjelek-jelekkan –Red) gurunya. Karena tidak ada husnusdhon kepada guru.” Tukas Habib Syekh.

Karena menurut beliau, sering sekali seorang murid menemukan guru yang kelihatannya memang ‘biasa-biasa’ saja. Namun sebetulnya, guru tersebut memiliki kelebihan yang sangat luar biasa. Beliau memberikan i’tibar pada pribadi Nabi Muhammad SAW yang memang sengaja menutupi kemuliaan dan ketinggian derajatnya dimata Allah SWT, dengan tetap mau bergaul kepada siapapun tanpa membatasi jarak.

Ada guru-guru yang tidak memamerkan bahwa ‘saya ini memiliki kedudukan’. Kadang guru-guru tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki sirr (rahasia –Red), kalau ditunjukkan, murid-murid tidak ada yang berani duduk dihadapannya. Seperti Rasul Muhammad SAW, manusia pilihan Allah SWT yang memiliki kedudukan yang amat sangat tinggi. Sampai istilahnya, kalau Allah SWT menampakkan aslinya Nabi Muhammad, tidak satupun makhluk berani memandang wajah Rasulullah, karena luar biasanya nur (beliau). Tapi oleh Allah SWT, makhluk ditutupi hingga dia bisa melihat nur itu. Akhirnya (para sahabat) bisa duduk, makan, dan menanyakan sesuatu kepada  Nabi Muhammad.”

Terakhir, beliau berpesan, “Siapapun guru anda, anda harus husnudhon. Setiap guru akan bertanggung jawab kepada muridnya, dan setiap guru yang akan mengarahkan muridnya menuju surga. Karena guru-guru kita adalah guru yang keluar dari sumbernya (berguru kepada guru yang jelas sanadnya –Red).[]