I am Yeraz

0 4 likes 462 views share

Idzhab! Hadzaa baladunaa! Idzhab! Pergi! Ini negara kami”

Kata-kata itu selalu kulontarkan saat melewati tentara militer Israel. Tak peduli seberapa jumlahnya. Aku benci mereka, sangat benci. Begitupun saat aku dan dua temanku hendak memasuki sekolah darurat.

“idzhab! Hadzaa baladunaa..”

“Yeraz, hentikan!” Bentak Syekhra, salah satu yang paling tidak suka ketika aku memaki orang-orang Israel.

“Diam kau! Kenapa kau selalu marah jika aku memaki mereka, hah?!!” dengan perasaan dongkol aku meninggalkan Syekhra dan Malya. Ya, seperti saat ini. aku selalu melewati har-hari dengan rasa benci yang selalu membuncah. Untuk mereka, orang-orang Israel yang tak tahu diri. Mereka menyabotase bangsa dan kebahagiaan kami. Mereka yang tak berperikemanusiaan menyiksa kami di negeri kami sendiri. Apa mereka bisa disebut manusia?

***

“teng-teng”. Seseorang telah membunyikan lonceng tanda istirahat. Tidak ada kantin disekolah darurat. Jika nantinya lapar, maka kami harus sedia bekal sebelum berangkat. Kami bertemu lagi. aku, Syekhra, dan Malya. Dengan memakan bekal masing-masing, kami berbincang ringan, yang nantinya menjadi rumit.

“kenapa kau begitu membenci mereka?” Syekhra memulai pembahasan itu lagi.

“memangnya kamu tidak membenci mereka?” aku menimpali.

“buat apa…?”

“buat apa katamu? Kau sudah buta? Tuli? Setiap hari kita harus merunduk berlari menghindari ledakan. Setiap hari pula kita melihat tetangga dan saudara kita tergelepar bercucuran darah. Itu kau masih tanya kenapa?!” aku melihat perubahan ekspresi diwajah Syekhra.

“Fasis?” tanya Malya dengan santai.

“Siapa? Aku? Bukan. Aku bukan fasis. Aku bukan anti yahudi. Aku hanya anti kekerasan dan kekejian yang mereka lakukan setiap hari”.

“Bagaimana menurutmu, jika Allah menakdirkanmu mencintai salah seorang dari mereka?” goda Malya.

“Hei, apa maksudmu? Mustahil. Jelas-jelas kau lihat betapa aku benci mereka”.

“Yeraz, cinta dan benci beda tipis”. Ucap Malya dengan memicingkan matanya.

“Dengan selalu bersikap seperti ini, apa kau tidak takut hidupmu berujung seperti Aned?  Teman sekolah kita yang baru-baru ini masuk penjara hanya karena menampar tentara Israel. Kurasa cukup viral beritanya, bal ayna al-‘aalam? Kemana dunia?” geracau Syekhra yang dibalas anggukan Malya.

“Aku sama sekali tidak takut dengan mereka. Syekhra, Malya, cinta adalah perjuangan. Aku mencintai Palestina, berarti aku harus memperjuangkannya. Memperjuangkan bangsa, keluarga, cita-cita, kebahagiaan, dan masa depan. Memperjuangkan hak yang harusnya milik kita. Dan jika nantinya aku harus masuk penjara hanya karena perjuanganku, tak apa. Bukannya para sahabat tidak keberatan jika harus mati karena membela  Islam?”. Hening, kulihat Syekhra mengepalkan tangan.

“tetapi memaki saja apa bisa merubah keadaan?” tanya Syekhra.

“Tiap kali aku memaki mereka, hatiku berdoa semoga Allah mentakdirkan kebebasan kepada kita”. Tanganku terkepal. Ini diatas kesabaranku.

Fii quluubihim maradhun fataadahumullahu maradhaa. Jika dihati mereka terdapat rasa sakit, maka Allah akan menambahkan rasa sakit itu..” Braak. Tanganku memukul meja, lantas berdiri. Mungkin hatiku telah dikuasi emosi.

“Dari tadi, kau hanya memikirkan kemungkinan terburuk, Syekhra. Ayat itu ditujukan kepada kaum kafir.  Kepada mereka.”

“Tapi al-Qur’an adalah kitab orang Islam. semua perintah ataupun larangan yang ada didalamnya berlaku untuk semua muslim.

“Jaga ucapanmu, Yeraz!” bentak Malya dengan menudingku. Lantas meninggalkan kami. Aku menjambak rambutku sendiri, frustari.

–Hammem—

“Idzhab! Hadzaa baladunaa! Idzhab! Idzhab!”

makian itu selalu menjadi sarapanku ketika gadis itu lewat. Gadis yang entah bisa-bisanya Tuhan takdirkan untuk menyukaiku. Gadis yang biasa dipanggil temannya, Yeraz. Jika aku tak menyukainya, mungkin bisa saja aku menjebloskannya ke penjara. Seperti Aned Tamimi, gadis berumur 16 tahun yang masuk penjara karena menampar temanku. Jika orang-orang mengatakan bahwa cinta tak butuh balasan, menurutku itu munafik. Aku butuh balasan, tapi inilah kata keadaan. Jika aku tertangkap basah mencintai gadis Palestina, maka tamatlah riwayatku dan dia tidak hanya sekedar membenciku, tetapi membenci kami. Biarlah ku diam seperti ini. yang dengannya kujadikan makian sebagai peredam kerinduan.

–Yeraz—

Sebenarnya aku benci harus berjalan mengendap-endap sejauh 50 meter hanya untuk keluar dimalam hari. Karena banyak tentara Israel yang berjaga mengawasi warga Palestina yang berkeliaran dimalam hari, dan tak sedikit pula dari mereka yang tidur maupun bermain domino. Demi mengantarkan makanan untuk nenekku, aku rela melakukan ini. aku juga tak mau mengusik ketenangan yang diusahakan itu. Melalui lorong-lorong yang menjadi sarang tikus dan… “oh, ya” aku membekap mulutku, lantas berbelok kesalah satu gang yang penuh dengan sampah, bersembunyi. Takut kalau mereka tiba-tiba mencariku hanya karena aku berteriak menginjak tikus. Aku menahan nafas ketika sayup-sayup terdengar suara khas orang Israel yang berat dan kasar.

Sekarang kau yang harus bertahan dengan caramu sendiri. Aku tak bisa jika membelamu terus menerus”.

Aku tertegun. Itu tidak ditujukan untukku. Aku melihat sekitar dan ternyata ada ventilasi rumah diatas troli sampah itu. Kusibakkan rambut kebelakang telinga. Ternyata terdengar pula suara perempuan menangis. “kau harus bertanggung jawab”. Dengan teriak, perempuan itu berkata.

“bertanggungjawab katamu? Dasar wanita tak tahu diri! Harusnya kau berterima kasih padaku karena sudi menolongmu! Jika tidak, maka kau akan menjadi budak nafsu mereka setiap hari!” bentak si lelaki, aku bergidik mendengarnya.

“kalian menjijikan! Kalian Israel, merampas bangsa dan harga diriku”. Plaak. Aku memegang pipiku yang entah kenapa turut merasakan sakitnya. Ya, ini semua tak adil. Tapi, siapa perempuan itu? Perempuan Palestina dan lelaki Israel? Apa maksudnya kata bertahan dan membela? Aku melihat arlojiku. Allah, jam berapa ini? aku harus segera kembali.

***

Jalanan begitu rusuh. Api, asap, teriakan, jeritan, tangisan, dan makian terobral disini. Entah untuk alasan apalagi lelaki Palestina itu menyerang mereka. bahkan anak kecil yang tak tahu apa-apa, ikut melempari mereka batu. Pemandangan disini hanya ini adanya, lantas tentara Israel itu memberondong dengan peluru dari pistol mereka. “Aaahh…” pundakku terasa begitu nyeri. Darah sedikit demi sedikit mengalir. Sepertinya terserempet peluru. Bukan masalah yang pelik sebenarnya,  tapi aku harus berlari sebelum mereka manangkapku.

Aku berlari secepat yang kubisa dangan pundak terluka. Masuk dibangunan lama yang tak terpakai, bersembunyi. Tenagaku perlahan habis. Meski agak jauh, hiruk pikuk itu tetap saja terdengar. Nafasku berburu dengan peluh mengalir. Tiba-tiba telingaku terdengung. Ngilu dan sangat lama, hingga aku terjatuh dengan memegang telingaku. Terlintas wajah-wajah orang terdekatku. Apa ini? semakin lama dengungan ini semakin kencang membuat luka dipundakku terasa begitu nyeri. Aku menangis. Terlintas Abraa, tetanggaku umur 7 tahun yang tadi kulihat ikut melempari batu. Dia dikejar tentara Israel. Door.. seketika aku tersadar dan dengungan itu hilang. Aku harus pulang.

***

Aku merasa resah pagi ini, entah kenapa. Berangkat sekolah sendiri, tanpa Syekhra dam Malya. Karena Malya harus membantu neneknya terlebih dahulu dan Syekhra, aku tak peduli. Ya, aku masih marah padanya, karena pembicaraan itu. Ada sesuatu yang janggal. Setiap hari tentara Israel yang menjaga sekolah hanya dua. Tetapi, kenapa hari ini satu, dua, tiga,.. tujuh. Tujuh? Banyak sekali. Mereka sesekali mendongak keatas, seakan ada sesuatu yang ditunggu. Salah satu dari mereka mengunci pintu sekolah. Aku sering berangkat telat, tapi pintu tak pernah dikunci. Ritme detak jantungku mulai tidak teratur. Satu dari mereka melihat jam lantas mendongak dan mengangguk.

“Bom?” ujarku lirih. Lya,.. bom. Aku baru menyadarinya. Belum sempat aku mencerna semua ini, terdengar suara pesawat jet tempur yang memekakkan telinga. Hatiku semakin tak menentu. Aku menoleh. Boom… semua terjadi begitu cepat, tanpa jeda. Tubuhku terjatuh akibat efek getaran. Semua orang panik. Mereka yang disekolah tertahan, terkunci. Aku bukan panik, tapi khawatir. Aku memikirkan seseorang yang sayangnya aku lupa siapa. Ya Allah, aku memejamkan mata, Malya. Ya, ledakan itu didaerah tempat tinggal Malya. Apa yang harus kulakukan? Malya, bagaimana keadaanya? Aku harus melakukan sesuatu. Berlari menuju belakang sekolah darurat, tak terlalu yakin dengan apa yang akan kutemukan. Hanya ada satu tentara disana. Tentara Israel yang setiap hari kumaki. Aku mengambil balok kayu yang cukup besar. Buuk… aku memukulnya dari belakang. Tersungkur sebelum ia menyadari, aku memukulinya berulang kali. Dia menyerang. Aku mengambil paksa senapan yang dibawa dan menendang perutnya.

“Aku pinjam senapanmu dulu. Akan ku kembalikan jika temanku selamat”. Ucapku lantas berlari meninggalkannya.

–Hammem—

Aku merutuki diriku sendiri, begitu lemah dikalahkan seorang wanita, Yeraz. “Aaah… cinta bodoh! Kenapa aku menyukainya hingga aku tak sanggup berlari mengejarnya!”

Bruuk.. aku menoleh. Seorang perempuan Palestina melompat dari jendela hendak melarikan diri. Dia terdiam yang kuyakini sedang mengawasiku. Sayang, sebagian wajahnya tertutup rambut. Baru aku akan berdiri, dia sudah berlari lebih dulu. Aku menepuk dahi, menyadari ucapanku? Tuhan! Aku hendak berjalan menuju kedepan, tiba-tiba Baaroq dan satu tentara lain mencekal tanganku.

“apa yang kau lakukan Baaroq?” aku mencoba mengelak, tak paham.

“Baaroq!” aku membentaknya.

“Diam!” aku berkelit. Baaroq mengelintir tanganku. Mereka membawaku naik mobil patroli.

“kantor pusat!” perintah Baaroq tanpa memasuki mobil. Kantor pusat? Semoga tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

–Yeraz—

Aku mencoba lari secepatnya. Sebelum tentara Israel yang lain menyadarinya dan sebelum terjadi apa-apa dengan Malya. Saking cepat dan tak teraturnya berlari, aku tersandung dan terjerembap. Tiba-tiba telingaku berdengung. Berdengung lebih  kencang dari sebelumnya. Aku memegang telingaku erat-erat. Ya Allah, kumohon jangan sekarang. Aku harus menyelamatkan malya. Dengungan itu sedikit demi sedikit mereda. Aku membuka mata dan tiba-tiba terasa perih, sangat perih. Sepertinya ada yang sengaja menyebarkan gas air mata. Terdengar suara beberapa tentara Israel mendekatiku. Apa ini? mereka akan menangkapku? Aku mencoba berdiri. Namun terlambat, mereka sudah mencekal tanganku.

“lepaskan!” aku memberontak. Tapi percuma, mataku perih dan cekalan mereka terlalu kuat.

“diam!” tunggu. Aku seperti mendengar suara laki-laki ini, tapi kapan? Dimana?

“bawa dia ke kantor pusat!” perintahnya. Aku ingat. Suara itu, suara lelaki dan perempuan malam itu. Ya, tidak salah lagi. kantor pusat? Kenapa mereka membawaku ke kantor pusat Israel? Kenapa?

–Hammem—

Aku hafal sekali gedung ini. Kantor pusat tentara militer Israel. Mereka membawa ke ruang pimpinan kami. Diseberang sana, tuan Jadis duduk dikursi dan menyilangkan tangan diatas meja kerjanya. Dihadapannya seorang perempuan yang kuyakini sebagai perempuan yang mendengar ucapanku tadi.

“apalagi pembuktian yang kau bawa untuk kami tetap mempercayaimu, wanita Palestina?” tanya tuan Jadis dengan melecehkan. Pembuktian? Percaya? Wanita Palestina? Apa maksudnya? Tiba-tiba pintu terbuka. Siapa lagi yang datang dan siapa sebenarnya perempuan Palestina itu?

–Yeraz—

“Syekhra?” ujarku setengah terkejut. Aku begitu kalap setelah mengetahui siapa perempuan yang menghadap tentara Israel itu. Tetapi mereka tetap mencekalku lebih kuat. Syekhra menoleh kearahku dengan tatapan tajam.

“gadis itu…” dia menudingku. Suara bergetar Syekhra mengingatkanku pada sesuatu, tapi apa?

“mencuri senapan kalian dan hendak menembak tentara kalian dengan peluru yang ada, sedangkan tentara itu..” dia menuding tentara yang setiap hari kumaki. Tentara yang kuambil senapannya.

“membiarkannya mengambil senapan yang dibawa tanpa usaha untuk menangkapnya. Padahal bisa kalian lihat sendiri, dia tak terluka. Karena dia, tentara pasukanmu mencintai gadis itu, gadis Palestina”. Apa dia bilang? Tentara yang setiap hari kumaki mencintaiku? Tanpa sadar, aku menggelengkan kepala tidak percaya. Bagaimana mungkin? Aku melihat kearah tentara-tentara itu, mencari kebenaran. Dia hanya menunduk.

“oh, berita yang sangat..” aku ingat, Syekhra. Iya, perempuan yang menangis malam hari itu.

“kau! Perempuan yang menangis malam itu kau, Syekhra!” aku mengatur nafas dan emosi yang meledak dikepalaku.

“kau perempuan tak punya harga diri! Kau munafik, Syekhra! Mereka sudah mengambil harga dirimu dan kau malah mengikuti mereka? apa itu alasan mengapa kau tidak suka aku membenci mereka. hah!” suaraku bergetar. Air mata kebencian perlahan mengalir. Syekhra berjalan mendekatiku.

“kau mendengar perdebatanku dengan Baaroq, Yeraz?” Tanya sinis Syekhra disusul dengan tawa yang terdengar sumbang.

“bukankah sudah berkali-kali kubilang, tidak ada gunanya membenci mereka, Yeraz. Sedang kau selalu saja mengoceh tentang berjuang, berjuang, dan berjuang. Apa itu berjuang?”

Dia berteriak tepat didepan wajahku.

“siapa yang harus kuperjuangkan, Yeraz? Aku sudah tidak punya siapa-siapa! Semua keluargaku tewas seketika meninggalkanku seorang diri. Malam itu, dengan gontai aku berjalan, lantas menabrak salah satu dari mereka, Baaroq. Dia menangkapku, menyeretku, dan manjadikanku suguhan segar teman-temannya. Aku berteriak sekuat yang kubisa. Tapi mana orang-orang Palestina yang katamu penuh perjuangan itu?” air matanya mengalir.

“kepada siapa lagi aku harus mengemis pertolongan, Yeraz! Jika tidak kepada mereka? dan kau tau kelanjutannya bukan? Buat apa memperjuangkan negara yang tidak ada satupun negara yang memperjuangkannya?” Syekhra tersenyum melecehkan.

“siapa yang harus kau perjuangkan? Harga dirimu! Palestina, bangsamu! Kami keluargamu dan temanmu! Siapa yang harus kau mintai tolong? Allah, Tuhanmu. Mudah sekali kau mengobral rasa setiamu, Syekhra!” aku memandangnya benci. Cih… aku meludahinya.

“kau menjijikan, Syekhra…” plaak. Rasa sakit dan panas manjalar diurat pipiku. Lelaki yang bersama Syekhra, Baaroq manamparku.

“bawa dia kepenjara Hasharon!” dia memerintahkan tentara yang mencekalku untuk membawaku kesatu-satunya penjara wanita di Palestina. Sebelum keluar, aku sempat menoleh kearah tentara Israel yang menyukaiku itu, lagi. dia juga memandangku. Pandangan yang menyertaiku keluar dari ruangan ini. Adil? Apa semua ini adil? Aku, Yeraz Hariman menyusul masuk ke panjara Hasharon dengan alasan dikhianati teman. Mereka sudah buta antara kebijaksanaan dan kekerasan. Tidak ada pembelaan. Selama ini kami hanya menerima rasa kasihan tanpa adanya tindakan. Semua ini omong kosong. Bukankah dunia dikatakan damai jika Palestina juga damai?

Selesai

Oleh: santri P3HM dari kelas 2 Aly