78 views

Ijazahan lewat Youtube

Tentang Sanad

Salah satu tradisi Ahlusunnah Wal Jama’ah adalah menjaga dan melestarikan sanad keilmuan antara murid dan guru. Sanad secara bahasa bisa diartikan tempat berpijak yang tinggi. Sedangakan dalam istilah ilmu hadist adalah informasi tentang silsilah matan hadist. Dinamakan sanad sebab ulama hadist sangat bergantung pada informasi tentang periwayat hadist yang terdapat dalam susunan sanad untuk menentukan sahih atau tidaknya hadist.

Ringkasnya, sanad sangat diperlukan untuk menentukan kevalidan sebuah informasi terutama informasi tentang ilmu agama.

Rasulullah Saw. berkata;

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Siapa saja yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka tempatilah tempat duduknya di neraka.”

Sehingga mengenai pentingnya sanad keilmuan antara murid dan guru Ibn Mubarok menegaskan:

الْإِسْنَادُ عِنْدِيْ مِنَ الدِّينِ لَوْلَا الإسْنَادَ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad menurutku termasuk dari agama, andai tidak ada sanad pastilah orang akan mengatakan apapun yang ia kehendaki.”

Imam at-Turmudzi dalam al-Ilal as-Shoghir meriwayatkan dari Ibn Sirin;

كَانَ فِي الزَّمَنِ الْأَوَّلِ لَا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الْإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتْ الفِتْنَةُ سَأَلُوْا عَنِ الإسْنَادِ لِكَيْ يَأْخُذُوْا حَدِيثَ أَهْلِ السُّنَّة ِويَدْعُوا حَدِيْثَ أَهْلِ الْبِدَعِ

“Pada zaman awal agama islam orang tidak menanyakan perihal sanad. Kemudian setelah munculnya fitnah orang islam mulai menanyakan mengenai sanad, demikian supaya orang islam mengambil hadist ahli sunnah dan meninggalkan hadist ahli bidah.”

Imam ad-Darimi membuat perumpamaan bahwa orang yang belajar agama tanpa sanad bagaikan orang naik kelantai atas tanpa tangga. Sehingga sangat sulit untuk sampai pada tujuannya. Sampai disini sudah cukup kiranya untuk menegaskan betapa pentingnya sanad keilmuan.

Kemudian, banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sanad keilmuan, salah satunya adalah melewati ijazah.

Tentang Ijazah

Ijazah dalam keilmuan agama bisa diartikan dengan izin untuk mengamalkan, berfatwa dan mengajarkan ataupun izin untuk meriwayatkan hadist. Imam ibn Sholah dalam Muqoddimahnya menyebutkan tiga praktik ijazah yang dapat menyambungkan sanad keilmuan;

  • Ijazah kepada orang tertentu untuk kitab tertentu, semisal seorang mujiz berkata; aku ijazahkan kepada kamu untuk kitab tertentu.
  • Ijazah kepada orang tertentu untuk kitab yang tidak ditentukan. Semisal seorang mujiz mengatakan; aku ijazahkan kepada kamu semua karanganku.
  • Ijazah kepada orang yang tidak ditentukan melainkan hanya menggunakan sifat yang umum. Semisal seorang mujiz mengatakan; saya ijazahkan kepada orang muslim, saya ijazahkan kepada orang yang hidup satu masa denganku.

Ijazah Lewat Media Digital

Pada dasarnya platform digital merupakan salah satu media penyambung untuk menyampaikan atau menerima informasi. Posisinya takubah speaker dalam sebuah acara yang fungsinya menyalurkan suara dari pusat suara keseluruh penjuru ruangan. Sehingga orang yang mengikuti siaran langsung pengajian, melewati saluran kanal youtube semisal, dimanapun ia berada walaupun dipisahkan jarak yang sangat jauh, orang tersebut pada hakikatnya hadir dan mengikuti pengajian tersebut. Begitu juga seandainya dalam acara tersebut terdapat acara ijazahan, maka secara otomatis ia juga mendapatkan ijazah yang diberikan jika ijazah yang berlangsung dalam acara tersebut telah sesuai dengan model ijazah yang dapat menyambungkan sanad.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh al-Habib Umar ibn Hafizd saat ditanyai oleh seseorang dari indonesia yang bernama Haji Basuni yang menanyakan tentang orang yang mengikuti pengajian dan ijazahan melewati saluran internet. Apakah ia bisa dianggap murid dari pemateri dan apakah ia boleh mengamalkan ilmu ataupun wirid yang diijazahkan lewat saluran internet walaupun tanpa ijazahan secara langsung. (kajian langsung bersama al-Habib Umar ibn Hafidz)

Orang yang mendengarkan pengajian dari kanal youtube dapat dianggap sebagai murid dan mendapat ijazah dari pemateri apabila melihatnya dalam siaran langsung. Tidak demikian jika hanya melewati siaran ulang. Sebab siaran ulang hanyalah menceritakan kembali siaran yang sudah lewat. Pun demikian siaran ulang sangat rawan diubah dan diedit sedemikian rupa sehingga sangat mungkin sekali terjadi kesalahfahaman.

ومن يأخذ العلم من شيخ مشافهة   #     يكن عن الزيغ والتصحيف فى حرم

ومن يكن أخذا للعلم من صحف    #     فعلمـــه عند أهــــــــل العلم كالعدم

“Barangsiapa yang mengambil ilmu dari seorang guru dengan musyafahah (berhadap-hadapan langsung), niscaya terpeliharalah ia dari tergelincir dan keliru. Dan barangsiapa mengambil ilmu dari buku-buku (apalagi internet, red), maka pengetahuannya menurut penilaian ahli ilmu adalah nihil semata”

Dari kutipan sya’ir di atas dalam masalah belajar lewat media sosial, selain siaran langsung, sangat perlu untuk memastikan kebenaran isi dari konten yang ada.

Bagaimanapun, internet adalah sarana atau alat saja. Ia berpotensi baik tapi juga berpotensi buruk. Tidak ada yang salah mencari informasi di internet. Ia cukup membantu kita untuk belajar banyak hal. Namun, khusus untuk persoalan agama, sikap ekstra hati-hati penting dijaga. Kredibilitas sumber perlu ditekankan, konfirmasi perlu diupayakan, dan tentu saja tanpa meremehkan pentingnya berguru langsung pada ulama yang kompeten di bidangnya. Sekian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Baca Juga; Cahaya Islam yang Terhalang, Hukum Merubah Paketan Internet

Youtube; Pondok Lirboyo

Instagram: @pondoklirboyo

Ijazahan lewat Youtube
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.