HomePojok LirboyoIlmu dan Pengabdian

Ilmu dan Pengabdian

0 3 likes 882 views share

LirboyoNet, Kediri — Bagaimana jika manusia yang sakit, tak makan, tak minum, dan tak berobat? Ia akan mati. Begitupun hati. Jika ia tidak menerima kalam hikmah dan ilmu selama tiga hari, sejatinya ia telah mati. Idiom ini dipopulerkan oleh Imam Fath al-Mousili, yang dikutip ulang oleh ustadz Abdul Kafi Ridho, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Putri Tahfidzil Quran (P3TQ).

Kutipan itu ia sampaikan di dalam Jam’iyah Nahdhiyah, yang terlaksana Kamis (17/11/16) lalu. Begitu agungnya ilmu, Allah menyebutkannya secara tersirat dalam Al-Baqarah: 31. Adam as., yang baru saja tercipta, oleh Allah dihadapkan kepada seluruh malaikat, sekaligus disuruhNya mereka untuk bersujud kepada Adam as. Mengapa, malaikat, makhluk tanpa cela, harus bersujud kepadanya? Karena ada satu hal yang diberikan Allah kepadanya, yang tak diberi kepada yang lain: pengetahuan.

Jam’iyah Nahdhiyah adalah salah satu kegiatan yang menjadi program Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fit Tahfizhi wal Qiro-aat (M3HMTQ). Ia diadakan sebagai penutup dari seluruh kegiatan yang berada di dalam program M3HMTQ. Baik, musyawarah, sorogan kitab, hingga sorogan nadzam. Karena pondok ini berlokasi di dua tempat, barat (samping ndalem barat almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi) dan timur (samping ndalem timur almaghfurlah), maka kegiatan juga dibagi menjadi dua, namun dilaksanakan bersamaan.

Di pondok barat, jamiyah ini diikuti kurang lebih 700 santri, yang terdiri dari 300 siswi ibtidaiyah, 400 siswi Tsanawiyah, Aliyah, dan ’Umdah (santri khusus tahfidz). Sementara di timur, yang ditutori oleh ustadz Zaenal Musthofa, ada sekitar 200 santri yang berpartisipasi.

Selama satu tahun, Jam’iyah Nahdhiyah dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni di akhir masing-masing semester.

Di dalam kegiatan yang bertema Ilmu dan Pengabdian ini, juga diungkap bagaimana proses khidmah, mengabdi, adalah proses penting lagi mulia. Karena pengabdian sejatinya adalah pengorbanan, maka ia tak terkhusus kepada ilmu. Ada satu analogi menarik untuk membandingkan amal khidmah dengan amal ibadah lain: jika ibadah sunnah, shalat dhuha semisal, hanya bermanfaat bagi pelakunya secara pribadi, lain halnya dengan khidmah. Manfaat khidmah mesti dirasakan oleh banyak pihak.

Pertama, manfaat kepada pribadi, pernah ditulis oleh Ibn Qayyim al-Jauzi. “Yang bisa menentramkan hatia dalah membatu kepada orang yang membutuhkan dengan harta, pangkat, maupun tenaga kita. Ada kepuasan batin yang tidak akan dirasakan oleh orang yang bakhil.”

Kedua, dengan berkhidmah, kepada seorang guru\kiyai, seseorang akan tahu bagaimana strategi pengajaran dan dakwah mereka. Tentunya, sepulangnya nanti, ia dapat mempraktikkan strategi ini di tengah masyarakat nanti.][