HomePojok LirboyoMemperkenalkan kembali Pesantren, Aswaja, dan Nasionalisme

Memperkenalkan kembali Pesantren, Aswaja, dan Nasionalisme

0 3 likes 443 views share

LirboyoNet, Kediri –Penanaman kembali ideologi ahlussunnah wal jamaah menjadi begitu penting akhir-akhir ini. Terutama, ketika melihat fakta bahwa banyak alumnus pesantren, yang mendapat ajaran dan maqalah-maqalah bijak masyayikh (para kiai) saat masih mesantren, kini justru berjalan dan berjuang di jalan yang bertentangan dengan ideologi yang bertahun-tahun diterimanya itu.

Fakta ini diungkap oleh Ahmad Muntaha AM, salah satu anggota Tim Aswaja Center PWNU Jawa Timur dalam pengenalannya akan buku “Khazanah Aswaja” di depan ratusan santri Pondok Pesantren Lirboyo. Berawal dari kegeraman akan fakta inilah, kemudian menjadi salah satu dasar bagi Tim Aswaja Center untuk “menyeduh” kajian-kajian pemahaman bernafas ahlussunnahyang dapat dinikmati khalayak muslim Indonesia yang kemudian berwujud sebuah buku tebal.

Dalam “seduhan buku Khazanah Aswaja” yang ada di hadapan para peserta itu, telah terpapar dengan jelas sejarah berikut analisa kasus seputar ahlussunnah, terutama perseteruannya dengan tawaran ideologi dari firqah lain.”Sangat banyak firqah yang berusaha mengacaukan ajaran ahlussunnah. Puncak usaha mereka, firqah apapun itu, ingin menanamkan ajaran tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma’ wa shifat (yang sangat terlarang bagi akidah aswaja). Pada intinya mereka ingin akidah pengikut aswaja menjadi buram,” jelas pria yang juga alumnus Ponpes Lirboyo ini.

Yang marak terjadi dewasa ini adalah usaha untuk menanamkan jargon “kembali ke Alquran dan Hadits” ke dalam mindset muslimin Indonesia. Mereka mengajak untuk meninggalkan kitab-kitab salaf dan pendapat-pendapat ulama. Alquran, kata mereka, adalah kalam Allah, yang terjaga keasliannya dan pasti benar apa yang dikandungnya. Sementara ulama adalah manusia, makhluk yang tak lepas dari kesalahan. “Sampean pilih mana, Alquran yang ma’shum (terjaga) atau kitab-kitab yang dikarang makhluk yang tak lepas dari dosa?” tuturnya menirukan jargon yang sering mengemuka di instansi pendidikan tinggi itu. “Yang mengherankan, banyak santri yang tergerus jargon ini. Bagaimana bisa? Wongpara kiai, masyayikh dan pesantren tidak pernah meninggalkannya (Alquran dan Hadits), kok kita diajak kembali. Kembali ke mana?”

Syaikh Ramadlan Al-Buthi, sebutnya, bahkan menilai jargon ini sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akhtha’u al bid’ah. Seburuk-buruk bid’ah. Karenanya, para santri harus sangat berhati-hati. Propaganda yang dilakukan sudah begitu masif, tidak hanya oleh satu-dua kelompok, namun sudah menjamur dan dilantangkan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat. “Biasanya, mereka merujuk pada persoalan-persoalan besar negara yang tidak terpecahkan. Ekonomi yang buruk, itu karena (kita percaya pada konsep) Pancasila thaghut (sesat). Obatnya apa? Khilafah. Politik yang tidak kunjung adem, obatnya apa? Khilafah. Apa-apa khilafah. Sampai-sampai ada guyonan, panu di punggung obatnya apa? Khilafah.”

Penjelasanini kemudian mengundang pertanyaan dari Isrofi, salah satu peserta kelas tiga Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. “Bukankah alasan-alasan mereka ada di dalam nash? Dan bukankah itu, dengan merujuk bahwa Alquran dan Hadits adalah kabar yang pasti benar,jelas bisa diterima?”

Ahmad Muntaha dalam menjawab kegundahan ini kemudian merujuk pada satu kisah, bagaimana KH. Maimun Zubair, Sarang, pada suatu ketika membacakan kitab di depan para santri. Saat sampai pada teks-teks yang menelaah kekerasan dalam Islam, beliau berujar, “Yo ngunu kui kitab, cung (ya begitu itu teks kitabnya, cung)”. Artinya, nash yang kita baca tidak bisa sertamerta dapat dipahami sekilas, lalu diterjemahkan apa adanya. Satu maqalah arif mengatakan, “an-nash syai’un, wa tadbiruhu syai’un.” Dalil nash adalah sesuatu, sementara pemahaman dan pembicaraan mengenainya adalah sesuatu yang lain. Perlu melihat faktor-faktor lain sebelum merubah nash itu menjadi sebuah keputusan.

“Mbah Hasyim (KH. Hasyim Asy’ari) saat kukuh mendukung NKRI apa tidak tahu ayat itu? Itulah perlunya penalaran lebih dalam mengenai dalil-dalil nash, terlebih jika ingin melakukan tindakan yang subversif seperti akhir-akhir ini,” terangnya.

Di akhir pembicaraan, Muntaha menegaskan bahwa saat ini diperlukan santri-santri yang berjiwa militan dalam memperjuangkan ahlussunnah. Para masyayikh sangat berharap tumbuh para santri yang tak kenal lelah berjuang dan berkiprah di berbagai bidang, terutama lewat budaya literasi. Karena dengan semakin intensifnya karya tulis santri lahir, keutuhan NKRI dan kelestarian agama Islam dapat terus diabadikan.][