HomeSantri MenulisIslam yang Tertinggal, yang Merasa Benar Sendiri

Islam yang Tertinggal, yang Merasa Benar Sendiri

0 6 likes 1.6K views share

Di media sosial kian bertebaran ujaran-ujaran kebencian: gara-gara beda pandangan keagamaan dengan sangat mudah seorang ulama dikatai munafik, bahkan seringkali lebih kasar daripada itu. Padahal sama-sama islamnya. Ya, suasana sosial-agama kita-Indonesia-saat ini memang sedang tegang. Mulai dari makian, sampai tindakan ekstrim pun siap dilakukan cukup dengan alasan “beda pandangan”.

Ada yang mengaitkan semua ini dengan masalah politik praktis. Bisa betul, bisa juga salah. Tetapi menurut saya isu politik hanya sekadar “angin lalu” yang bisa datang dan pergi kapan saja.

Ada yang lebih mendasar dari itu. Barangkali yang menjadikan kita saat ini mudah disorong kesana kemari dan “digoreng” dengan isu-isu yang sekedar angin itu adalah karena nihilnya prinsip nalar-kritis dalam masyarakat kita. Ditambah model beragama yang sedang tren saat ini. Banyak dari mereka yang terlalu empirik dalam beragama dan cenderung simbolik- dan puncak dari empirisme adalah egoisme dan mendahulukan pendapat sendiri, yang dalam berbagai kesempatan kita lihat digunakan untuk menyalahkan yang berbeda.

Imbasnya, kini orang-orang tak lagi mengenal tradisi dialog yang arif, dan semakin menjauh dari apa yang kita sebut dengan toleransi. Pada akhirnya perbedaan tak berarti lagi: yang tak sependapat dengan pandangannya harus salah, kalau perlu digali makamnya, atau dimunafik-munafikkan, bahkan dikafir-kafirkan.

Kita tak perlu menyebutkan semua masalah satu persatu. Kita cukup merasakannya sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Islam yang begitu agung dan luasnya, bahkan menjadi mayoritas dalam negara kita Indonesia, faktanya begitu terasing dan dibuat sekat-sekat oleh apa yang disebut dengan “perbedaan”. Entah kenapa saya berpikir bahwa apa yang dipanjanglebarkan Syakib Arslan (1869-1946) ternyata benar. Dalam bukunya “Limadza Taakhara al-Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum” beliau mengupas kenapa dulu umat Islam begitu maju, tidak untuk sekarang.

Kini kita sepertinya cukup mengenang masa lalu. Ia tak lebih dari sekedar dongeng yang terus menerus diulang saat menjelang tidur: cerita-cerita masa lalu memang mempesona, kita pun terlelap. Menurutnya saat ini kita tidak memiliki apa yang dimiliki kaum muslimin terdahulu. Bagi kita, umat muslim, kini “keimanan hanya meninggalkan namanya saja, keislaman hanya menyisahkan alamat, Alquran hanya untuk didendangkan, tanpa mengamalkan perintah dan larangannya.”

Syakib Arslan menyangsikan eksistensi Islam yang sebatas nama dan kuantitas. Dalam Alquran memang disebut perihal keluhuran iman kaum muslim, seperti firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ [المنافقون: ٨]

Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

Tapi cukup aneh ketika keluhuran iman tersebut tanpa didasari “isi” berikut nilai-nilai yang menjadi alasan untuk patut diperjuangkan: sebuah proyek perubahan universal. Berubah dari kedzaliman menjadi keadilan, dari kecelakaan menjadi keselamatan, dari ketakutan menjadi keamanan, dari kegelisahan menjadi kedamaian, dari ketertinggalan menjadi kemajuan, dan dari “yang fana” ke “yang hakiki”.

Untuk menuju perubahan yang bisa mengantarkan pada kedamaian dan kesejahteraan bersama, mula-mula kita harus berjalan jauh menuju kedalaman nurani kita masing-masing. Oleh karena itu kita membutuhkan dialog agar lebih mengerti tentang satu “diri” dan “yang lain”, lalu membuang egoisme sejauh mungkin. Dan demi tercapainya tujuan, kita butuh berjalan bersama-sama.

Rupanya untuk memiliki rasa toleransi– tak harus merasa paling selamat dan paling “surgawi” sendiri– kita harus belajar kepada Imam Syafii yang pernah berujar, “Pandangan kami benar, tapi mungkin salah. Pandangan selain kami salah, tapi mungkin benar.”

Syekh Muhammad Abduh juga pernah menelaah perihal toleransi ini.

“Telah masyhur di kalangan muslimin serta kaidah-kaidah keagamaannya bahwasannya ketika keluar suatu ucapan dari seorang muslim yang memungkinkan kekafiran dari seratus jalan, tapi masih mengindikasikan keislaman meskipun hanya dari satu jalan saja, maka yang harus diambil adalah jalan keislaman. Dan tidak boleh dikatakan kafir.”

Beliau lalu merasa perlu menegaskan perlunya toleransi ini, “Adakah engkau melihat toleransi sebagaimana ajaran para filosof dan para bijak bestari yang lebih luas (pemaknaannya) dari ini?”.

Referensi: al-Hiwar wa al-Tasamuh li duktur Mahmud Hamdi Zaqzuq fi Kitabihi al- Fikr al-Dini wa Qadlaya al-‘Ushr.

Muhammad Farhan Al Fadhil, alumni Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, sedang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.