HomeSantri MenulisIsra Mikraj dan Musik: Ekspresi Cinta kepada sang Baginda

Isra Mikraj dan Musik: Ekspresi Cinta kepada sang Baginda

Santri Menulis 0 2 likes 481 views share

Mumpung masih suasana bulan Rajab, saya hendak berbagi sedikit kemesraan. Kemesraan? Benar. Di dalam bulan mulia ini terdapat peristiwa penting yang mewajibkan kita memiliki rasa cinta: perjalanan spiritual Nabi dari Masjid al-Haram Mekah ke Masjid al-Aqsha Palestina. Setelah meninggalkan tunggangannya, Nabi bermikraj naik hingga ke langit ketujuh, lalu melangkah melampaui Sidaratul Muntaha sebelum akhirnya berjumpa dengan Tuhan.

Namun bukan kisah-kisah menakjubkan yang terburai sepanjang perjalanan spiritual itu yang ingin saya bagikan. Di waktu-waktu yang marak dengan caci maki dan ujaran benci ini, sangat urgen kiranya saya membagikan kemesraan-kemesraan suci: rasa cinta umat kepada sang Nabi.

Ada banyak cara mengungkapkan cinta kepada sang pujaan hati. Sayyidina Ali mengajukan dirinya untuk menjadi “sosok Nabi” ketika rumah Nabi dikepung kaum kafir Quraisy. Sayyidina Utsman menyerahkan ratusan kuda dan unta untuk membantu peperangan demi peperangan. Sayyidina Umar mengacungkan pedang untuk siapa saja yang mengatakan Rasulullah telah wafat di hari duka itu. Sayyidina Abu Bakar tetap merestui Usamah bin Zaid, yang masih 17 tahun itu, untuk memimpin pasukan perang melawan imperium Romawi di saat Madinah masih bergejolak akibat banyak kaum murtad, hanya karena Nabi telah memutuskannya.[1]

Pun begitu dengan umat Nabi hari-hari ini. Untuk mengenang Isra Mikraj Nabi, sebuah grup musik sufi dari Libanon, “Al Madihin”, ingin membuktikan cinta mereka kepada Nabi. Mereka membacakan salawat dan puji-pujian dari Qasidah al-Burdahnya Imam al-Bushiriy. Tentu saja dengan irama merdu suara dan alat musik mereka.

Madah-madah yang digubah al-Bushiriy ini memang mengesankan sekali. Indah, sastrawi, dan membuat kita melambung secara spiritual, apalagi dipadu dengan adanya garapan musikal yang penuh estetika. Baca saja bait-bait yang beliau tulis khusus mengenai peristiwa Isra Mikraj ini. Berikut beberapa bait diantaranya[2]:

وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ *

فيِ مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيهِ الصَّاحِبَ العَلَمِ

Engkau tembus langit tujuh petala, bertemu para nabi

Bersama kumpulan malaikat, engkau menjadi pembawa panji

حَتىَّ إِذَا لَمْ تَدَعْ شَأْوًا لِمُسْتَبِقٍ *

مِنَ الدُّنُوِّ وَلاَ مَرْقَى لِمُسْتَنِمِ

Hingga tak ada batas terdekat yang engkau sisakan untuk orang yang ingin mendahului (mendekat)

dan tak ada tempat naik (yang engkau sisakan untuk pencari derajat tinggi)

خَفَضْتَ كُلَّ مَقَامٍ بِالإِضَافَةٍ إِذْ *

نُودِيتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ المُفْرَدِ العَلَمِ

Dibandingkan dengan derajatmu derajat apapun menjadi rendah

kerena namamu dipanggil dengan rafaʻ (keluhuran) sebagaimana ʻalam mufrad

Maafkan saya yang terlampau buruk dalam menerjemahkan syair-syair al-Bushiriy. Tetapi betapapun buruk terjemahan saya, dan orang-orang terhadap syair kasmaran ini, pembacaan syair ini toh telah menjadi tradisi di berbagai lapisan masyarakat. Dengan gaya dan langgam yang berbeda-beda, tradisi membaca syair salawat Burdah hampir ada di semua kawasan di dunia Islam. Di kampung saya dan di lingkungan tradisional-religius lainnya, hampir setiap malam Jumat masjid dan surau-suraunya melantunkan salawat al-Burdah ini.

Dengan kata lain, dunia Islam sejak dulu sebetulnya kaya dengan tradisi musik yang berbagai-bagai. Agama menjadi indah, dan umat Islam tidak mengalami kekeringan rohaniah, karena adanya tradisi estetik seperti ini. Tradisi-tradisi ini potensial sekali untuk mengasah naluri moderat umat Islam di manapun. Berangkat dari fakta atas tradisi ini, boleh jadi musik adalah salah satu fondasi “tawwassuthiyyat al-Islam”, moderasi Islam.

Orang-orang dengan jiwa yang kering kerontang atau komunitas manusia tanpa pengetahuan sastrawi, tanpa kebudayaan, tanpa keindahan alam, tanpa tradisi estetika, tak akan mampu mengekpresikan keindahan agama melalui tradisi musik seperti ini. Alih-alih bersalawat dengan ekspresi estetik, orang-orang dan komunitas seperti itu malah menuding salawat dan berbagai ekspresi keindahan agama sendiri sebagai barang bid’ah, munkar, dan syirik.

Bagi saya dan sebagian besar masyarakat islam yang ikut membangun tradisi indah untuk ekspresi agama, tudingan dan bentakan-bentakan itu tidak berpengaruh apapun. Toh tradisi kami tetap berlangsung, bahkan semakin marak. Kalau kalian tidak percaya, lalu preman-preman di jalanan dan para pengamen yang melantunkan salawatannya Sabyan itu kalian sebut apa?

Ada saatnya kita menampakkan diri untuk membela habis-habisan apa yang ditudingkan. Tapi untuk saat ini, kita bantah dengan salawatan saja. Mengenang kembali perjalanan spiritual Isra Mikraj Nabi Muhammad dengan lantunan puja-puji kepadanya. Sesekali kita teduhkan timeline medsos kita dengan syair-syair burdah. Jangan gegeran pilpres saja.

Faurok Tsabat, alumnus Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo tahun 2017, asal Pasuruan.


[1] Tarikh al-Khulafa. Abd al-Rahman al-Suyuthi. Dar Ibn Hazm. Beirut. Hal. 61.

[2] Syarh Burdah al-Madh. Muhammad al Bushiriy. Dar al-Quran. t.t. hal 17-18.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.