HomeKonsultasiIstri Bekerja Membantu Suami, Bagaimana Tanggapan Syariat?

Istri Bekerja Membantu Suami, Bagaimana Tanggapan Syariat?

0 1 likes 4.3K views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana tanggapan syariat mengenai seorang istri yang berkarir atau bekerja dalam rangka membantu suaminya? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Evi, Surabaya)

_______________________________

Admin- Wa’alaikumsalam WR. Wb.

Kesejahteraan merupakan salah satu modal penting dalam membina rumah tangga. Namun tidak semua keluarga merasakan hal itu, terutama yang masih tersandung masalah ekonomi. Diakui atau pun tidak, persoalan ekonomi kerap kali menjadi menjadi beban utama sebuah keluarga. Sehingga menjadi lumrah ketika banyak istri turut bekerja meringankan beban sang suami. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan bijak Imam Khatib As-Syirbini pernah menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Mughni Al-Muhtaj: .

وَلَهَا الْخُرُوجُ مِنْ بَيْتِهَا زَمَنَ الْمُهْلَةِ نَهَارًا لِتَحْصِيلِ النَّفَقَةِ بِكَسْبٍ أَوْ تِجَارَةٍ أَوْ سُؤَالٍ، وَلَيْسَ لَهُ مَنْعُهَا سَوَاءٌ كَانَتْ فَقِيرَةً أَمْ غَنِيَّةً لِأَنَّ التَّمْكِينَ وَالطَّاعَةَ فِي مُقَابَلَةِ النَّفَقَةِ، فَإِذَا لَمْ يُوَفِّهَا ممَا عَلَيْهِ لَمْ يَسْتَحِقَّ عَلَيْهَا حَجْرًا

Bagi istri diperbolehkan untuk keluar rumah ketika siang hari untuk mencari nafkah. Baik dengan cara bekerja, berdagang, atau meminta haknya. Bagi suami tidak diperbolehkan mencegahnya, baik sang istri tergolong perempuan yang fakir atau pun kaya. Karena kepasrahan dan taat sebagai perbandingan nafkah, sehingga ketika sang suami tidak mampu memenuhi nafkah yang menjadi kewajibannya, maka ia tak berhak untuk melarang sang istri (untuk bekerja).”[1]

Islam tidak membatasi ruang gerak seorang istri untuk melakukan aktivitas pekerjaan di luar rumah. Namun syariat memberikan batasan selama ia tetap mampu menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama selama bekerja. Dalam referensi lain juga dijelaskan:

وَمَعَ ذَلِكَ فَالإْسْلاَمُ لاَ يَمْنَعُ الْمَرْأَةَ مِنَ الْعَمَل فَلَهَاا أَنْ تَبِيعَ وَتَشْتَرِيَ، وَأَنْ تُوَكِّل غَيْرَهَاا، وَيُوَكِّلَهَا غَيْرُهَا، وَأَنْ تُتَاجِرَ بِمَالِهَا، وَلَيْسَ لأِحَدٍ مَنْعُهَا مِنْ ذَلِكَ مَا دَامَتْ مُرَاعِيَةً أَحْكَامَ الشَّرْعِ وَآدَابَهُ

Dalam keadaan (suami tak bisa menafkahi) itu, maka Islam tidak mencegah seorang wanita untuk bekerja. Ia diperbolehkan melakukan aktivitas jual beli, menerima atau memberikan mandat perwakilan orang lain, dan ia boleh berbisnis dengan hartanya. Bagi siapa pun tidak diperkenankan mencegah wanita melakukan pekerjaan itu selama ia mampu menjaga hukum-hukum dan etika-etika syariat.”[2]

[]waAllahu a’lam


[1] Mughni Al-Muhtaj, vol. V hal. 181, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah, vol. VII hal. 82.