Jejak Sastrawan dari Pesantren

Jejak Sastrawan dari Pesantren

Jejak Sastrawan dari Pesantren

Pesantren bukanlah melulu sebagai tempat yang dihuni santri dengan bimbingan kyai yang hanya konsen menekuni ilmu agama.  Lebih dari itu pesantren juga sebagai lembaga penyemai kebudayaan dan kesusasteraan. Di pesantren sastra adalah salah satu mainstream yang tumbuh subur mengiringi keberlangsungan rutinitas kegiatan belajar-mengajar.

Di era kontemporer, khazanah sastra dan jagad literasi Indonesia sudah tidak asing dengan nama-nama sastrawan nasional seperti KH. A. Mustofa Bisri, D. Zawawi Imron, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Abdul Hadi WM, dan Acep Zamzam Noor.

Merekalah para sastrawan sekaligus budayawan Indonesia terkemuka yang memiliki latar belakang pondok pesantren—dengan tanpa harus memisahkan pandangan santri NU dan santri Muhammadiyah—Karya-karya mereka cukup memikat perhatian para pencinta sastra tanah air.

Sebelumnya juga tercatat nama sastrawan besar berlatar belakang pondok pesantren seperti Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Hamka, M. Fudoli Zaini, Djamil Suherman, dan Muhammad Diponegoro, atau mungkin pula, Pramoedya Ananta Toer? Wallahu A’lam.

Begitu pula nama-nama seperti Machbub Junaedi, Zaenal Arifin Toha, A. Munif, Kiai Kuswaidi Syafi’ie, K.Ng. Agus Sunyoto, Jamal D Rahman, Gus Yahya Cholil Staquf, Mashuri, F Aziz Manna, Ahmad Syubanuddin Alwy, Kiai Aguk Irawan MN, Abdul Wachid BS, Abidah El Khaliqy, Nasruddin Anshory Ch, Ach. Azaim Ibrahimy, Ulfatin Ch, Habiburrahman El Shirazy, Hamdy Salad, A. Fuadi, Faisal Kamdobat, Mathori A. Elwa, Asef Saeful Anwar, Binhad Nurrohmat, Mahwi Air Tawar, Kedung Darma Romansha, Akhiriyati Sundari, Muna Masyari, Achmad Muchlish Amrin, Ahmadul Faqih Mahfudz, Candra Malik, Dian Nafi, Edi AH Iyubenu, Mahfud Ikhwan, Mustofa W Hasyim, Usman Arrumy, Dimas Indiana Senja, Muna Masyari, Ahmad Faisal Imran, Muhammad Lefand, Badrul Munir Chair, Vita Agustina, Ali Ibnu Anwar, Dr. Abdulloh Hamid dan Ning Khilma Anis, adalah sedikit dari sekian nama-nama sastrawan santri laki-laki dan santri perempuan jebolan pondok pesantren di tanah air.

Lebih jauh ke belakang, dalam catatan sejarah sastra tanah air, Bahasa Melayu sebagai ibu kandung dari Bahasa Indonesia memiliki sejarahnya sendiri dengan mencatatkan nama sastrawan perdana Melayu yaitu Hamzah Fansuri pada abad ke-16 Masehi, demikian pula Abdullah bin Karim Al-Munsyi sebagai penyair modern Melayu pada abad ke-18 (sebelum akhirnya Pemerintah Belanda mendirikan Balai Pustaka dengan menempatkan sastrawan angkatan-angkatan Balai Pustaka).

Baik Fansuri atau Al-Munsyi tak lain merupakan para tokoh pondok pesantren atau yang dikenal dengan surau di tanah Melayu. Keduanya adalah pemimpin besar tarekat di daratan Sumatera. Maka kiranya tidak berlebihan bila saya menyebutkan bahwa sastra Indonesia beremberio dari manusia santri. Lain lagi di tanah Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Madura misalkan, sejumlah peninggalan serat-serat dan karya sastra klasik juga mudah ditemukan lahir dari manusia-manusia pesantren. Sebut saja kenduri-kenduri karya Walisongo yang ada sejak kisaran abad ke-13 Masehi.

Membaca Sastra Pesantren

Tidak ada definisi yang pasti terhadap apa yang dimaksud dengan “sastra pesantren”. Walau demikian para ahli mencoba mendefinisikan hal tersebut. Sebagaimana yang ditulis oleh M. Irfan Hidayatullah dalam sebuah makalah dengan judul “Pergulatan dalam Sastra Pesantren”, ia menghimpun beberapa pendapat ihwal definisi sastra pesantren. Seperti Hidayatullah yang menjelaskan bahwa sastra pesantren merupakan sebuah konstruksi estetika kesastraan yang khas dan memiliki kekuatan roh transenden yang khas pula.

Dalam sejarahnya, pesantren pun memiliki banyak bentuk karya sastra yang telah dihasilkan di Nusantara, baik itu dalam bentuk hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir hingga nadzaman. Karya-karya tersebut pun tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi juga dalam bentuk lisan yang digubahkan di mana-mana pada masanya.

Karya-karya sastra dari dunia pesantren sendiri adalah karya-karya yang diteruskan dari generasi ke generasi selanjutnya sehingga dikatakan memiliki karakter komunal, sebab berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya. Dengan demikian menurut Kiai Ahmad Baso bahwa jika berbicara mengenai “sastra pesantren” maka bukan sekadar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra, tetapi juga melihatnya sebagai perbincangan atau diskursus tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dan komunitas khalayaknya (mustami’/pendengar) dalam berkebudayaan.

Pada masa silam, karya-karya sastra komunitas pesantren ini banyak ditulis dalam huruf Arab Pegon dengan beragam bahasa di Nusantara. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari roman yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga kisah-kisah yang dipenuhi dengan tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Karya-karya sastra yang dihasilkan oleh pesantren ini walaupun bersifat fiktif, namun memiliki kesan realis yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.

Pada abad ke-17 dan abad ke 18 dikatakan bahwa pesantren menjadi tempat para pujangga dan para sastrawan menghasilkan berbagai karya. Seperti pujangga kraton yakni Yosodipuro I, Yosodipuro II, dan Ranggawarsita yang merupakan santri-santri yang menghasilkan banyak karya, baik itu dalam bentuk kakawinserat dan babad.

Sumber dari karya-karya mereka pun dikatakan tidak hanya berasal dari kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa mereka sendiri sebagaimana yang dialami kerajaan Hindu, Budha di zaman para Wali Songo. Selain mereka ada lebih banyak lagi karya sastra pesantren yang dihasilkan pada zamannya yang masih bisa ditemukan hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.