HomeSantri MenulisKekuatan Dongeng 1001 Malam

Kekuatan Dongeng 1001 Malam

Santri Menulis 0 0 likes 665 views share

Tidak ada satu literatur lain yang begitu kuat dan luas memengaruhi literatur dan tradisi penceritaan barat melebihi dongeng seribu satu malam. Pernyataan itu saya baca dari suatu artikel yang saya dapatkan dari seorang teman pada rabu malam-akhir bulan juli.

Sesudahnya, saya terhasut untuk membongkar-bongkar lagi kerdus buku dan mencari dongeng tersebut; saya pernah memilikinya: tiga jilid buku yang diterbitkan oleh penguin. Saya pernah membacanya sepintas-sepintas, tapi itu sudah lama sekali dan tanpa perhatian khusus terhadapnya. Pada waktu itu saya menghadapinya dengan pengetahuan umum bahwa ia adalah cerita berbingkai. Ada cerita di dalam cerita di dalam cerita di dalam cerita dan seterusnya.

Saya tidak membacanya secara khusuk; mungkin karena merasa sudah mengenal sejumlah cerita yang ada di dalamnya. Untuk kepentingan pragmatis industri perbukuan, beberapa cerita dari buku tersebut memang sudah dipecah dari buku induknya dan dijadikan buku-buku tersendiri sebagai dongeng anak-anak. Tiga yang paling popular adalah Aladin dan Lampu Wasiat, Ali Baba dan 40 Pencuri, serta Petualangan Sinbad Si Pelaut. Adaptasi tiga cerita itu kedalam film juga sudah saya tonton.

Ternyata ketiganya bukan bagian dari dongeng seribu satu malam. Mereka masuk karena ditambahkan sendiri oleh Antoine Galland, orang menerjemahkan buku tersebut kedalam Bahasa Prancis pada 1704-1717, lalu menerbitkannya dengan judul Mille et une nuit.

Ada nama Simbad di dalam Versi asli dongeng seribu satu malam, tapi dia bukan pelaut , melainkan seorang raja dari Persia yang menyesali amarahnya sendiri—amarah yang menyebabkan burung elang kesayangan, yang menemani raja itu kemana-mana dan selalu bertengger pada pergelangan tangannya, mati oleh sebetan pedangnya sendiri. Padahal, burung itu bertingkah aneh demi menyelamatkan nyawa Sinbab. Terjemahan Galland menjadi pembuka bagi munculnya versi lain buku tersebut dalam bahasa-bahas Eropa. Dongeng itu dan berbagai imitasinya kemudian menjadi bagian struktural bagi lanskap kesastraan Eropa dan pengaruhnya bertahan hingga hari ini.

Pada awal abad ke 18, ketika Galland menerjemahkan dongeng tersebut, tradisi penceritaan Eropa belum menemukan bentuknya yang kukuh. Dongeng seribu satu malam hadir sebagai sihir dari timur yang menawarkan pesona di dalam struknya serta isinya yang imajinatif dan liar, dengan tikungan yang sering tak terduga dan percabangan yang menyebar kemana-mana.

Bagi khalayak pembaca, dongeng itu memukau karena Eksotime dan Imajinasinya yang amat liar. Tetapi,dongeng itu tidak melulu berisi cerita tentang Jin, para pangeran, atau orang-orang yang dikutuk. Lebih dari itu, ia menyodorkan banyak hal yang tak terduga: tentang motif-motif misterius pada tindakan manusia, tentang keputusan-keputusan yang keliru, tentang hasrat menggebu yang bertentangan dengan logika serta melahirkan tindakan yang menyakiti diri, tentang dorongan-dorongan yang kacau pada manusiauntuk menciptakan kehancurannya sendiri, dan sebagainya.

Semua itu memukau bagi para penulis. Mereka takjub, terutama pada aspek-aspek literer yang menantang mereka untuk bereksperimen dengan berbagai model penceritaan, di samping kekayaan naratif yang memberi mereka ilham untuk penciptaan mereka sendiri.

Maka begitulah, dongeng seribu satu malam datang, membuat orang terpana, dan kemudian menyusup kedalam pembuluh darah kesastraan Eropa. Ia meninggalkan pengaruhnya pada nama-nama besar, mulai Goethe Jean-Jacques Rousseau, Voltaire, Denis Didet, Jonathan Swift, hingga raksasa argentina Jorge luis Borges.

Pengaruh tersebut membuat Swift melahirkan karya berjudul Gullivers Travels. Goethe menuliskan dalam surat-suratnya bahwa dirinya telah berkali-kali sepanjang hidupnya membaca Dongeng Seribu Satu Malam dan menggunakannya sebagai model untuk menuliskan karya-karyanya; dia juga menyebut otobiografinya sebagai versi personal Dongeng Seribu Satu Malam .

Borges terpukau pada metafora yang ditawarkan dan labirin penceritaan yang membuat orang terperangkap kedalamnya dan tidak bisa melepaskan diri hingga halaman terakhir. Bagi Borges, dongeng itu seperti sungai yang berkelok-kelok. Seperti arus yang tak berkesudahan, seperti rawa-rawa yang menenggelamkan siapa saja-orang yang berani menyentuhnya.

 Tiga ratus tahun setelah mereka terpukau untuk kali pertama, saya terbawa hanyut bermalam-malam oleh buku itu, terperangkap di dalam labirin yang dibangun Syahrazad, takjub dengan cerita tentang perempuan cerdas yang menundukan penguasa gila.

Terluka oleh penghianatan permaisuri yang suatu hari ia dapati tidur bersama budak hitamnya, Raja Syahriar menjadi raja lalim yang setiap pagi memenggal kepala perempuan yang ia peristri hari sebelumnya dan ia tiduri pada malam harinya. Ia pikir itulah satu-satunya cara untuk tidak dikhianati oleh perempuan yang menjadi istrinya.

Kemudian Syahrazad, putri wasir istana, menyediakan diri sebagai permaisuri. Kepada ayahnya ia mengatakan: “cepat atau lambat giliranku akan tiba. Karena itu, aku memilih sekarang saja, Ayah. Jika aku berhasil dengan caraku, aku akan selamat sekaligus menyelamatkan nyawa semua perempuan muslim dari kegilaan lelaki itu.”

Setiap malam Syahrazad bercerita. Di tangannya, cerita dan kata-kata menjadi alat untuk memperpanjang umurnya satu malam, lalu satu malam lagi, lalu satu malam lagi. Seterusnya seperti itu hingga seribu satu malam.

Ia menyelamatkan nyawanya sendiri, menyelamatkan nyawa para perempuan lain, dan menyembuhkan raja dari penyakitnya. Syahrazad memahami bahwa cerita dan kata-kata adalah alat paling ampuh untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi kaum yang dilemahkan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.