HomeSantri MenulisKepekaan Sosial

Kepekaan Sosial

Santri Menulis 0 0 likes 322 views share

Akhir-akhir ini, Negeri elok yang amat kita cinta, di mana kebanyakan pulaunya ditumbuhi pohon kelapa yang selalu melambai di pesisir pantai, kini—dalam keadaan berduka. Tertimpa berbagai musibah bencana, diantaranya: kekeringan, tsunami dan gempa bumi.

Adanya musibah, mau tidak mau akan semakin menambah jumlah orang-orang yang harus disantuni. Rosulullah saw pernah mengingatkan kepada kita bahwa: “tidak sempurna iman seseorang yang perutnya merasa kenyang, sedang tetangganya dalam keadaan lapar. Dia tahu, tapi tidak mau tahu”. Hadist yang lain juga mengatakan “tidak sempurna iman seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri”.

Kenyataan-kenyataan yang semacam ini mengharuskan kita untuk menjadi sosialis sejati. Dalam hal ini, tidak hanya rasa simpati tinggi yang muncul dari orang yang tidak terkena musibah. Tetapi, solidaritas tindakanlah yang sangat diperlukan. Dalam riwayat Imam Muslim, Rosulullah saw pernah bersabda: “barang siapa yang menghilangkan kesusahan saudaranya dari beberapa kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya dari beberapa kesusahan di hari kiamat. Allah swt akan menolong hambanya, selagi ia masih tetap menolong saudaranya”.

Untuk berpartisipasi menjadi sosialis, bisa kita lakukan dengan berbagai cara. Misalnya: menjadi relawan untuk mencari mayat-mayat yang hilang, mendirikan tenda sebagai tempat pengungsian sementara, menjadi relawan penggalangan bantuan, atau  menjadi orang yang mengasihkan sumbangan. Baik berupa uang, pakaian, makanan, dan barang-barang yang sekiranya bermanfaat bagi para korban yang terkena musibah.

Banyak cara yang dapat dilakukan ketika menjadi relawan penggalang sumbangan. Paling mudah berupa, memasang iklan di televisi atau di media sosial beserta mencantumkan nomor rekening. Bisa juga dengan membentuk suatu kelompok atau komunitas peduli kasih. Dalam hal ini, pencarian donatur biasanya dilakukan di perempatan jalan, tempat umum, atau di sekolahan. Komunitas yang dapat dipertangguang jawabkan, akan memiliki akuntabilitas yang jelas dan resmi dari pengelola sumbangan.

Kegiatan yang dijabarkan di atas, sempat terlaksana di madrasah ini. Yaitu ketika terjadi gempa bumi di Lombok. Dimulai dari adanya instruksi dari atasan, lantas berlanjut dengan pengumpulan donasi dari setiap kelas. Pengumpulan donasi biasanya dibebankan kepada ketua dan wakil kelas. Mereka berkeliling dengan melepas peci sebagai alat untuk menampung dana. Kemudian, donasi keseluruhan kelas dari satu madrasah itu, disatukan untuk diberikan kepada pengelola sumbangan. Agar selanjutnya, hasil tersebut dikirimkan kepada para korban yang membutuhkan.

Dari hasil yang didapat, kebanyakan donasi terdiri dari pecahan koin rupiah sampai nominal sepuluh ribu kebawah. Dari sini, ada pelajaran yang dapat diambil bahwa, tidak ada sumbangan yang terlalu kecil sehingga tidak berarti. Karena koin seratus, dua ratus jika terkumpul banyak, hasilnya juga menjadi besar. Sesuai yang diucapkan oleh pepatah “sehari selembar benang, lama- lama menjadi kain”.

Di Negara maju seperti Amerika Serikat, ketika terjadi becana alam, para siswa berkonstribusi aktif dalam memberikan sumbangsih untuk membantu para korban bencana. Dilakukan oleh siswa dari tingkat menengah dan berlanjut ke tingkat atasnya. Kegiatan ini dimunculkan untuk lebih menghayati sebuah rasa kepedulian sehingga menyadarkan mereka bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Keaktifan mereka dalam berkonstribusi, bukan dikerahkan untuk meminta sumbangan di perempatan jalan, mall, terminal dan tempat umum lainnya. Tetapi, keikutsertaan para siswa di sini ialah memberikan dana sumbangan atas jerih payah yang dilakukannya sendiri.

Hari sabtu disaat pembelajaran eksta kulikuler adalah waktu mereka diperintahkan oleh gurunya untuk bekerja. Kegiatan ekstra yang telah menjadi jadwal tetappun, saat itu diliburkan. Dari hasil yang didapat siswa disaat bekerja satu hari itu, dikumpulkan kepada panitia pengelola sumbangan untuk diberikan kepada korban yang terkena bencana.

Yang terpenting dari beberapa contoh yang telah dipaparkan di atas ialah—memunculkan sifat kepekaan sosial. Tidak hanya rasa simpati yang perlu diwujudkan, namun yang sangat dibutuhkan oleh orang yang sedang terkena musibah atau cobaan ialah rasa empati. Dimana antara rasa peduli dan tindakan terkumpul di dalamnya.[]

(*) Penulis: M. Nur Al-Fatih santri asal Brebes Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.