HomeAngkringKezuhudan KH. Abdul Karim

Kezuhudan KH. Abdul Karim

0 2 likes 1.1K views share

Setelah fasilitas penunjang untuk asrama santri di pesantren mulai terpenuhi, KH. Abdul Karim berkeinginan menunaikan ibadah haji menyempurnakan rukun Islam yang lama beliau dambakan. Niat itu semakin mantab setelah Pemerintah Daerah Kediri akan membeli sebidang tanah beliau yang terletak di sebelah selatan masjid. Menurut rencana tanah tersebut dipergunakan untuk membangun penjara (lembaga pemasyarakatan) oleh Pemda Kediri.

Karena hak atas tanah tersebut ada pada Ibu Nyai, KH. Abdul Karim meminta persetujuan sekaligus musyawarah kepada Ibu Nyai. Bila kelak Pemda Kediri jadi membebaskan tanah itu, uang ganti ruginya akan digunakan untuk ongkos naik haji. Ibu Nyai Khodijah setuju dengan rencana baliau.

Anehnya, meski rencana itu baru beliau kemukakan kepada ibu Nyai, dalam waktu singkat, sudah terdengar ke mana-mana. Wallahua’lam! Yang jelas kediaman KH. Abdul Karim lantas dipenuhi tamu yang menghormat dan menghaturkan selamat atas keberangkatan beliau. Sebagai lazimnya tamu yang ingin mengungkapkan rasa kebahagiaanya banyak yang menghaturkan tambahan bekal untuk beliau. Memang rizki dari Allah swt. Tidak disangka, ternyata uang hibah dari para tamu tadi mencapai sekitar Rp 600,00. Jumlah yang cukup untuk ongkos naik haji saat itu. Karenanya, penjualan tanah akhirnya diurungkan dan kebetulan juga Pemda Kediri menggagalkan rencana pembeliannya.

Setelah cukup berbenah, KH. Abdul Karim berangkat menuju Surabaya. Perjalanan haji kala itu melalui laut. Di Surabaya, beliau memperoleh tambahan bekal lagi dari para dermawan. Sehingga, bekal beliau menjadi Rp 1.000,00. Jumlah itu tentu lebih dari cukup. Namun, KH. Abdul Karim tidak tahu-menahu dengan uang sebanyak itu. Bahkan, untuk menghitung dan membawanya, beliau serahkan kepada pendamping beliau, yaitu Mbah Dasun Khotob. Begitulah KH. Abdul Karim, tidak peduli pada duniawi sehingga jumlah uang milik sendiri pun beliau tidak tahu.

Kezuhudan KH. Abdul Karim membuat kagum Kiai Hasyim Asy’ari ketika keduanya bertemu di Surabaya. Waktu itu, kebetulan sekali Kiai Hasyim, sahabat sekaligus guru beliau, ternyata juga hendak menunaikan ibadah haji. Kiai Hasyim merasa heran, KH. Abdul Karim, yang kemampuan duniawinya nampak biasa saja, mampu melaksanakan haji. Kiai Hasyim lantas bertanya kepada beliau, apakah sudah siap segalanya. Ternyata memang sudah semuanya. Cuma yang bikin geleng-gelang kepala ketika ditanya berapa jumlah uangnya, KH. Abdul Karim hanya menjawab pendek, “Mboten ngertos.”

Kontan Kiai Hasyim meminta uang itu untuk dihitungnya. Ternyata, malah lebih dari cukup untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian, KH. Abdul Karim dan Kiai Hasyim bersama berangkat ke tanah suci. Mereka satu kapal. Di Tanah Suci, KH. Abdul Karim mampu melakukan umroh sampai 70 kali. Itu pun beliau lakukan dengan berjalan kaki dari Tan’im.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini.