Di tengah suasana masyarakat yang mudah terbelah karena perbedaan politik, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus memberikan nasihat sederhana namun sangat dalam maknanya: jangan biarkan perbedaan memutus rohim (tali silaturahim).
Bila Rohim Terputus 5 Tahun Sekali
Dalam dawuh beliau yang dikenal lembut namun tegas, KH. Abdulloh Kafabihi berkata:
“Kita gontok-gontokan ya percuma, yang enak ya sana. Masa rohim kita akan putus terus setiap lima tahun sekali? Kita lelah, rohim itu harus dijaga.
قَطْعُ الرَّحِمِ مِنَ الْكَبَائِرِ
Memutus rohim (tali silaturahmi) termasuk dosa besar.”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Kiai, Penjaga Negeri Indonesia
Kalimat “masa rohim kita akan putus terus setiap lima tahun sekali?” terasa menampar kesadaran banyak orang. Betapa sering hubungan persaudaraan, bahkan persahabatan lama, hancur hanya karena beda pilihan politik menjelang pemilu. Padahal, dalam pandangan Islam, silaturahim bukan urusan sepele—ia bagian dari iman sosial yang menandai kedewasaan spiritual seseorang.
Kisah di Masa Sayyidina Umar
KH. Abdulloh Kafabihi kemudian menuturkan kisah dari masa Sayyidina Umar bin Khathab yang pernah berpesan kepada sebuah kabilah:
Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar
“Wahai Qabilah, supaya kamu mencar (berpencar), supaya rohim kamu tidak putus.”
Pesan Sayyidina Umar ini menarik: kadang justru dengan memberi ruang bagi perbedaan dan jarak, hubungan bisa tetap terjaga. Tidak semua harus disatukan dalam satu pendapat; cukup saling menghormati dan tidak saling meniadakan.
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Kemuliaan Hamba di Sisi Allah
Lebih lanjut, KH. Abdulloh Kafabihi menegaskan bahwa perbedaan di kalangan kiai, pemimpin, bahkan umat Islam sendiri adalah rahmat, bukan bencana:
اِخْتِلَافُ الأَئِمَةِ رَحْمَةٌ
Perbedaan para imam merupakan rahmat.
اِخْتِلَافُ الأُمَّةِ رَحْمَةٌ
Perbedaan umatnya Kanjeng Nabi itu rahmat.
Baca juga: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo
Dalam konteks sekarang, dawuh ini adalah pengingat bagi kita semua. Politik bisa berganti, kekuasaan bisa berpindah, tapi rohim—tali kasih antar sesama—tidak boleh putus. Karena yang akan bertahan bukanlah kemenangan di bilik suara, melainkan kedamaian hati dan persaudaraan yang tetap terjalin.
Menjaga rohim berarti menjaga kemanusiaan kita sendiri. Bila setiap lima tahun kita harus kehilangan teman hanya karena beda pilihan, barangkali yang perlu kita pilih ulang bukan partai, melainkan cara kita mencintai sesama.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
