Dalam salah satu mau‘izhah yang KH. Nurul Huda Ahmad sampaikan, beliau memberikan wejangan tentang bagaimana para santri terdahulu bisa mencapai kedalaman ilmu dan keteguhan akhlak, meskipun materi yang mereka pelajari tidak sebanyak kurikulum zaman sekarang. Dawuh-dawuh beliau mengingatkan bahwa kekuatan seorang santri bukan hanya terletak pada banyaknya kitab yang dia kaji, tetapi pada kesungguhan atau ikhtiar mereka dalam beribadah, keikhlasan, dan kegigihan dalam tikror atau mengulangi ilmu.
Ikhtiar dan Mengamalkan Ilmu
Beliau menuturkan:
“Santri-santri dulu itu kebanyakan paling tinggi belajarnya sampai kitab Amriti (kitab nahwu tingkat dasar-menegah) Namun begitu, mengapa kok bisa Ampuh-ampuh? Karena dibareng dengan ikhtiar-ikhtiar semacam tahajud dan semacamnya.”
Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Santri dan Kiai, Penjaga Negeri Indonesia
Dawuh ini menegaskan bahwa kualitas spiritual para santri dahulu menjadi faktor utama dalam keberkahan ilmu. Tahajud dan amalan-amalan malam menjadikan pelajaran sederhana terasa mendalam dan mengakar.
Beliau melanjutkan:
“Apa bila kita mau mengamalkan ilmu yang kita dapat, maka Insyaallah Allah akan memberikan ilmu lain yang belum kita ketahui.”
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Sholawat kepada Nabi Muhammad
Amal adalah pintu ilmu. Siapa yang mengamalkan, Allah akan bukakan pemahaman-pemahaman baru yang tak dia duga. Inilah rahasia para ulama: sedikit bicara, banyak amal, lalu Allah menambah ilmunya.
Adab Santri
KH. Nurul Huda turut memberikan pesan adab santri:
“Hendaknya seorang santri itu harus bisa memegang prinsip ‘Mikul duwur mendem jero’ artinya kita bisa menjaga martabat guru serta pesantren dan menyimpan serapat-rapatnya jika terdapat kekurangan.”
Baca juga: KH. Anwar Manshur: Mendidik, Bukan Sekedar Mengajar
Sikap ini menegaskan bahwa santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga menjaga marwah guru dan lembaga. Mengangkat kehormatan masyayikh adalah bagian dari adab yang menjadi fondasi keberhasilan seseorang.
Pesan kepada Para Pengajar
Dalam kesempatan yang sama beliau mengutip dawuh Al-Maghfurlah Yai Idris (KH. Ahmad Idris Marzuqi):
“Al-Maghfurlah Yai Idris (KH. Ahmad Idris Marzuqi) sering mewanti-wanti hendaknya para pengajar itu berusaha bagaimana agar para siswa bisa tenang dalam belajar, semangat, serius dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.”
Baca juga: Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf: Saya itu Santri Lirboyo
Belajar membutuhkan ketenangan. Guru yang baik tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menciptakan ruang batin yang kondusif bagi muridnya.
Masih mengenai dawuh Yai Idris, KH. Nurul Huda menyampaikan:
“Sering juga yai Idris menganjurkan hendaknya para pengajar itu menyisihkan waktu tersendiri untuk melaksanakan salat malam. Walaupun hanya dua rakaat. Idealnya tahajud delapan rakaat, witir tiga rakaat.”
Salat malam adalah bekal ruhani bagi guru. Ibadah ini menjernihkan niat, menguatkan hati, dan membuat ilmu yang dia ajarkan lebih bercahaya (nur).
Tikror atau Mengulang-ulang Ilmu
Beliau kemudian meneruskan wejangan tentang manfaat tikror:
“Saat mengajarkan sesuatu yang pernah kita pelajari, pasti akan mendapatkan ilmu baru yang tidak kita peroleh sewaktu mempelajarinya dulu. Itulah salah satu manfaat tikror (mengulang-ulang ilmu) yang disebutkan dalam kitab Ta’lim al-Mutaalim.”
Mengulang pelajaran bukan tanda kelemahan, tetapi jalur menuju kedalaman. Justru saat mengajar, seseorang menemukan makna baru yang tak ia temukan dahulu.
Baca juga: Agus Abdul Mu’id Shohib: Kisah Anak Kecil dan Dua Bata Merah
Sebagai teladan, beliau menyampaikan kisah Mbah Kiai Manshur:
“Mbah kiai Manshur (Ayahanda KH. M. Anwar Manshur) itu setiap waktu Ashar sampai menjelang Maghrib tidak pernah meninggalkan ngaji kitab Safinatussolah.”
Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab dengan penuh tawadhu:
“Saat ditanya mengapa demikian? Beliau menjawab: ‘Apakah saya sudah benar-benar bisa membacanya? Kalau pun iya, lalu apakah sudah benar-benar memahaminya? Jika sudah paham, apakah bisa mengamalkannya dengan benar? Dan kalau sudah mengamalkan, apakah mampu untuk ikhlas?’ Demikian beliau benar-benar memahami manfaat tikror dalam ilmu.”
Baca juga: Sanad Itu Pedang Para Pencari Ilmu
Inilah kerendahan hati seorang alim. Tidak puas hanya dengan bisa membaca, tapi terus menguji pemahaman, pengamalan, hingga keikhlasan dengan selalu melakukan tikror terhadap ilmu.
Niat Mengajar
KH. Nurul Huda menambahkan:
“Seorang pengajar itu hendaknya dengan niat yang ikhlas. Ikhlas khidmah kepada ilmu, masayikh dan santri.”
Keikhlasan adalah inti dari semua proses belajar—baik bagi guru maupun murid. Tanpa ikhlas, ilmu tidak menancap, amal tidak kokoh.
Dan seluruh dawuh tersebut disampaikan dalam konteks lembaga yang kredibel:
Disampaikan pada sidang paripurna kwartal I di gedung LBM P2L, Jumat 15 Sep. 2018 M.(IM)
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
