KH. Nurul Huda: Wasiat KH. A. Idris kepada Pengajar

Pengajar

Dalam sebuah kesempatan, KH. Nurul Huda Ahmad menyampaikan dawuh dari Al-Maghfurlah KH. Ahmad Idris Marzuqi—sebuah nasihat yang terasa sederhana, tetapi menghunjam tepat pada inti tanggung jawab seorang pendidik. Pesan yang layak ditulis dan ditempatkan di relung hati setiap guru dan pengajar.

Beliau menyampaikan bahwa Yai Idris kerap memberikan penekanan khusus kepada para pengajar agar memiliki satu kepekaan mendasar: menciptakan ketenangan dan semangat belajar bagi para santri.

Baca juga: Tertib Ngaji, Tertib Sekolah, dan Makna Takzir  sebagai Riyāḍah Santri

KH. Nurul Huda Ahmad menukil dawuh beliau:

“Al-Maghfurlah Yai Idris (KH. Ahmad Idris Marzuqi) sering mewanti-wanti hendaknya para pengajar itu berusaha bagaimana agar para siswa bisa tenang dalam belajar, semangat, serius dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu.”

Dari dawuh ini tampak jelas bahwa fokus belajar bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Ia hadir karena ada suasana yang sengaja diupayakan. Guru yang baik bukan yang hanya pandai menyampaikan materi, tetapi juga mampu menata atmosfer batin di sekeliling proses belajar.

Baca juga: Kumpulan Kisah KH. Mahrus Aly yang Disampaikan KH. Abdulloh Kafabihi pada Haul ke-42

Dalam kacamata para masyayikh, tugas guru bukan semata mentransfer pengetahuan, melainkan membimbing kondisi jiwa agar siap menerima ilmu. Ini adalah kearifan pendidikan yang nyaris hilang dalam dunia modern—ketika pengajaran sering kali hanya soal target materi, bukan lagi tentang ketentraman hati para murid dalam menerima materi pengajaran.

Ikhtiar Lahiriah dan Batiniah

KH. Nurul Huda Ahmad kemudian menambah satu wasiat lagi dari Yai Idris yang tak kalah penting. Dalam pengabdiannya terhadap ilmu, seorang pengajar tidak boleh berhenti pada usaha lahiriah saja. Ada ikhtiar batin yang harus ditunaikan. Beliau menuturkan:

“Sering juga yai Idris menganjurkan hendaknya para pengajar itu menyisihkan waktu tersendiri untuk melaksanakan salat malam. Walaupun hanya dua rakaat. Idealnya tahajud delapan rakaat, witir tiga rakaat.”

Baca juga: Perjalanan Mencari Ilmu KH. Abdul Karim

Salat malam adalah jalan yang menajamkan menjernihkan seorang guru. Dua rakaat saja, kata beliau, sudah cukup menjadi minyak yang menjaga pelita hati tetap menyala. Bagaimana mungkin seorang pendidik berharap muridnya mendapat cahaya ilmu, jika ia sendiri tidak menjaga sumber cahayanya?

Pesan ini sekaligus menegaskan bahwa mengajar bukan semata profesi, tetapi amanah ruhani. Ada tanggung jawab batin yang hanya bisa dicapai melalui kedekatan dengan Allah. Guru yang hatinya terhubung dengan Sang Maha Penerang biasanya memiliki tutur yang menenangkan, gesture yang menguatkan, dan kehadiran yang membuat murid merasa aman.

Guru sebagai Penjaga Kejernihan Hati Santri

Dua dawuh ini—menciptakan ketenangan belajar dan membiasakan salat malam—jika kita satukan, membentuk potret ideal seorang pengajar menurut para kiai:

Di tengah derasnya arus modernitas, nasihat KH. Ahmad Idris Marzuqi ini ibarat kompas yang mengingatkan kita kembali. Dan guru yang paling berhasil bukanlah yang membuat murid takut salah, tetapi yang membuat murid tenang, bersemangat, dan mampu memusatkan pikiran hanya kepada kebaikan yang sedang ia pelajari.

Baca juga: Menjaga Akhlak di Mana Pun Berada: Pesan KH. M. Anwar Manshur untuk Santri Lirboyo

Semoga dawuh para masyayikh ini menjadi pengingat yang lembut, namun kuat, bagi siapa pun yang mengemban amanah mengajar. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjalankan ikhtiar lahir dan batin sebagaimana yang dicontohkan para kiai.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses