Khutbah Jumat Bulan Dzulqa’dah : Manusia dan Lingkungan Hidup

manusia dan lingkungan hidup

Pada khutbah Jumat bulan dzulqa’dah kali ini, kami akan memberikan materi singkat khutbah bulan dzulqa’dah : manusia dan lingkungan hidup.

Khutbah I

الْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ الصَّلاةَ عِمَادَ الدِّيْنِ، وَجَعَلَهَا كِتَابًا مَوْقُوْتًا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَشْهَدُ أن لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ خَلَقَ الْإِنْسَانَ في أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Jamaah Jumat rahimakumullah

Manusia diciptakan Tuhan dengan segala potensinya, kehadiran manusia di dunia ini hanyalah semata-mata mengabdi, beribadah, kepada Allah Swt. Dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56, Allah Swt berfirman:

وما خلقت الجن والإنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya :”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Az Dzariyat [51]:56)

Seiring dengan itu, manusiapun diberi kewajiban oleh Allah sebagai pemimpin di muka bumi untuk memakmurkan dirinya dan seluruh mahluk di alam jagad raya ini. Islam menegaskan bahwa manusia ditugaskan Tuhan menjadi pengelola bumi, mempunyai makna unsur-unsur yang berkaitan sebuah rangkaian sistem kehidupan di antara unsur-unsur tersebut. Pertama, manusia sebagai makhluk yang diberi predikat khalifah. Kedua, alam raya sebagai tempat melangsungkan kehidupan, Ketiga, hubungan manusia dengan lingkungan. Hubungan manusia dengan alam atau dengan sesamanya, bukan merupakan hubungan penakluk dan yang ditaklukkan, melainkan hubungan ketundukan kepada Tuhannya, karena kemampuan yang dimiliki oleh manusia dalam mengelola alam, bukanlah akibat dari kekuatan yang dimiliknya, melainkan anugerah dari Allah SWT.

Sebagaimana vang tergambar dalam QS. Ibrahim, ayat 32, Allah Swt berfirman :

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلْفُلْكَ لِتَجْرِىَ فِى ٱلْبَحْرِ بِأَمْرِهِۦ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلْأَنْهَٰرَ

Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS. Ibrahim : 32)

Jamaah Jumat rahimakumullah

Senada dengan itu QS. Al-Zukhruf ayat 13 juga mengatakan:

سُبْحَنَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِينَ

Artinya :”Mahasuci Allah yang telah menundukan semua ini kepada kami, padahal sebelumnya kami tidak menguasai” (QS Al-Zukhruf [43]: 13)

Pada sisi lain, kekhalifahan mengandung makna bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptanya dalam pandangan agama, seseorang tidak dibenarkan memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan dan memetik bunga sebelum berkembang, karena hal itu tidak memberi kesempatan pada makhluk tersebut mencapai tujuan penciptaannya.

Sebagaimana firman Allah dalam surat Ad Dukhon ayat 38 yang berbunyi :

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

Artinya “Dan kami Tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan main” (QS Ad Dukhan [44]:38)

Senada dengan ayat di atas QS Al Ahqof 3 juga mengatakan:

مَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ

Artinya :”Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang di tentukan” (QS Al Ahqaf [46] : 3)

Ayat tersebut memberikan penegasan kepada manusia selaku khalifah bumi, agar tidak hanya mementingkan kepentingannya atau kelompoknya belaka, melainkan harus bersikap bijak demi kemaslahatan semua makhluk la tidak boleh menjadikan alam sebagai tempat berbuat sewenang-wenang. Dengan demikian keberadaan manusia di muka bumi tidak hanya mencari kemenangan melainkan keselarasan manusia dengan lingkungannya dan tunduk kepada tuhannya, sehingga mereka dapat bersahabat dan senantiasa bersifat ramah.

Jamaah Jumat rahimakumullah

Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang berakal (hayawanun nathiq) seyogyanya mampu memberikan nilai lebih di haribaan Tuhannya Dibandingkan dengan mahluk lain yang tidak dianugerahi akal, sebaliknya Tuhan tidak mengharapkan manusia menjadikan bumi sebagai ladang menumpuk dosa dan kemadharatan bagi yang lainnya. Keberadaannya pun tidak di harapkan mengukir sejarah penebar kerusakan melainkan diharapkan menjadi “rahmatan lil alamin” Pada posisi tersebut, sangatlah mulia keberadaan manusia, sehingga pantaslah makhluk yang satu ini dijadikan makhluk yang paling sempurna penciptanya. Namun, manusia pun bisa turun derajatnya seperti binatang, bahkan lebih rendah dari seekor binatang, yaitu bila manusia menjauhi harapan-harapan Tuhannya (QS Al A’raf: 179).

Dengan demikian sikap yang harus dikedepankan sebagai bagian dan karakter masyarakat islami rahmatan lil alamin di antaranya terwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, tidak membiarkan lingkungan (lahan) kosong. Tanpa ada pengelolaan adalah bagian dari sikap kontra produktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.