1.994 views

Khutbah Jumat: Syukur dan Sabar, Mana yang Utama?

Kali ini redaksi Lirboyo.net menayangkan teks Khutbah Jumat dengan tema Syukur dan Sabar, Mana yang Utama? Sembari bermuhasabah atas semua nikmat dan musibah yang keduanya bisa mengangkat derajat kita di sisi-Nya. Semoga dapat bermanfaat bagi jamaah jumat sekalian. Amin.

Khutbah I

الْحَمْدُللهِ الْقَوِيّ سُلْطَانُهْ. اَلْوَاضِحِ بُرْهَانُهْ. اَلْمَبْسُوْطِ فِى الْوُجُوْدِ كَرَمُهُ وَاِحْسَانُهْ. تَعَالَى مَجْدُهُ وَعَظُمَ شَانُهْ. خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَهْ. وَطَوَى عَلَيْهَاعِلْمَهْ. وَبَسَطَ لَهُمْ مِنْ فَائِضِ الْمِنّةِ مَاجَرَتْ بِهِ فِى اَقْدارِهِ الْقِسْمَهْ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَه. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ وَفِي أيَةٍ أَخَرَ وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Alhamdulillah, di siang yang mulia ini kita bisa bertatap muka lagi dalam kondisi yang sehat. Khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri dan hadirin sekalian, agar selalu memupuk ketakwaan kita. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat keimanan yang Allah berikan. Dan menjauhkan diri dari apa-apa yang dilarang-Nya.

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah

Rasa syukur kita yang paling besar atas nikmat Allah adalah nikmat berupa iman dan terjaga dari melakukan maksiat. Bersyukur kepada Allah menjadikan kita orang beriman, menghindarkan kita dari maksiat terbesar berupa kekafiran, kesyirikan, bid’ah dan macam maksiat lainnya. Belum lagi kenikmatan indrawi yang menjadi patokan umum dari kita, seperti nikmat hidup tenang, kecukupan harta, kedamaian keluarga dan sebagainya. Kita tidak mampu menghitung semua nikmat itu.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.

Rasa syukur harus kita implementasikan dalam rupa tindakan nyata. Karena dengan demikian, kita seperti tengah mengikat semua nikmat tersebut agar tidak lepas lebih-lebih bisa bertambah. Syukur adalah pengagungan kita kepada Sang Pemberi nikmat dengan tidak berani-berani kepada-Nya dan mengkufuri nikmat-Nya.

Menurut Imam Al-Ghazali, paling tidak dari ungkapan syukur itu, kita tidak menjadikan anugerah nikmat tersebut sebagai alat untuk bermaksiat. Itulah standar syukur yang paling rendah versi beliau. Tidak menggunakan nikmat yang ada menjadi tunggangan dan tameng untuk bermaksiat.

Hadirin rahimakumullah

Di dunia ini selalu mempunya sisi lain yang berseberangan, ada hitam ada putih, ada gelap ada terang, begitu seterusnya. Seperti kata pepatah, roda selalu berputar. Yang di atas akan merasakan juga bagaimana berada di bawah. Begitulah pola kehidupan. Ujian, kesulitan dan musibah yang kita hadapi, sejatinya mengandung hikmah yang sangat besar jika kita mampu menghadapi dengan sabar.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa ketika nikmat yang diberikan Allah begitu banyak, kita selayaknya harus selalu mensyukurinya. Bagaimana cara bersyukur? Yakni dengan mentaati-Nya, menghindarkan diri dari semua yang dilarang, atau setidaknya, seperti yang diungkapkan Imam al-Ghazali, kita tidak memanfaatkan fasilitas kenikmatan tersebut sebagai alat untuk mendurhakai Allah swt.

Dan saat musibah hidup melanda pun, kita bisa pula mendapatkan nilai pahala dengan bersabar menghadapinya. Bisakah kita tetap bersyukur saat musibah mendera? Sebagian ulama berpandangan, bahwa syukur hanya bisa diaplikasikan pada suatu kenikmatan, tidak sebaliknya yakni musibah dan ketidak-nyamanan hidup. Sebab dalam konteks tersebut, tugas seorang hamba adalah sabar, bukan syukur.

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah

Sebagian lain mengatakan, tidak ada suatu musibah kecuali selalu dibarengi dengan kenikmatan. Dari sisi mana kenikmatan tersebut? Yaitu kenikmatan seperti yang diungkapkan Abdullah bin Umar;

“Aku tidak pernah diuji dengan suatu musibah kecuali Allah memberiku empat kenikmatan sekaligus di dalamnya. Nikmat pertama, ternyata musibah tersebut tidak menimpa terhadap agama dan keyakinanku. Kedua Ternyata musibah tersebut tidaklah lebih besar (sebab masih ada musibah yang lebih berat). Ketiga, aku tidak terhalangi untuk mendapatkan ridla Allah karena musibah yang datang itu. Terakhir, aku bisa mendapatkan pahala darinya dengan cara bersabar.”

Sebagian menambahkan, kenikmatan yang lain ketika diterpa musibah, yakni ternyata musibah tersebut tidaklah lama, dia pasti berlalu. Lalu antara syukur dan sabar mana yang lebih utama dari keduanya? Ulama berbeda pandang. Sebagian mengatakan syukur lebih utama, sebab banyak pujian Allah kepada utusan-Nya yang mampu bersyukur, seperti pujian-Nya kepada Nabi Nuh As. Dalam sebuah ayat;

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

“(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”

Namun, menurut Imam al-Ghazali, antara syukur dan sabar mempunyai keterikatan satu dengan yang lain. Keduanya adalah satu kesatuan. Sejatinya, orang yang bersyukur juga tengah bersabar, begitu pun sebaliknya. Orang yang mampu untuk sabar, sejatinya ia tengah bersyukur.

Sebab, ketika seseorang bisa bersyukur padahal kehidupan di dunia yang penuh dengan ujian, berarti dia juga termasuk golongan orang yang bersabar dari mengkufuri nikmat. Bersabar tidak menggunakan nikmat itu sebagai alat bermaksiat. Mampu menahan diri dan bersabar untuk tidak berbuat durhaka yang menyebakan Sang Pemberi Nikmat murka

Sedangkan orang yang memiliki sifat sabar sejatinya juga tengah bersyukur, ia bersyukur kepada Allah karena mendapatkan kekuatan untuk mampu bersabar menghadapi ujian dan musibah. Mampu untuk tidak berkeluh kesah. Semua itu sudah pasti harus di syukuri.

Sehingga antara syukur dan sabar adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Keduanya, setiap waktu bisa kita lakukan. Semoga bimbingan-Nya selalu menyertai di setiap lika-liku kehidupan kita. Seperti apa pun kondisinya. Amiin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْأنِ اْلعَظِيْم، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأيَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْم، وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُم تِلاَوَتَهُ ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ، أَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

baca juga: Khutbah Jumat: Islam Agama yang Menyerukan Kesehatan
tonton juga: KULIAH UMUM MA’HAD ALY bersama Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad

Khutbah Jumat: Syukur dan Sabar, Mana yang Utama?
Khutbah Jumat: Syukur dan Sabar, Mana yang Utama?

3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.