HomeAngkringKisah Pelacur Yang Ikut Mobil Kiai

Kisah Pelacur Yang Ikut Mobil Kiai

Angkring 0 15 likes 4.7K views share

Pernah suatu ketika saat satu mobil dengan KH. Ali Yahya Lasem (Alm.) beliau menceritakan bahwa suatu hari saat hendak mengisi pengajian di Jepara ada seorang wanita yang mendekatinya saat mobil berhenti di lampu merah. Karena wajah beliau yang rupawan dan kebetulan saat itu sedang tidak memakai kopiah dan sorbannya, wanita itu menyangka bahwa beliau adalah seorang turis.

“Malam, om” sapa wanita itu dari balik jendela mobil.

“Malam” jawab beliau

“Ikut dong, om. Boleh ya..”

“Boleh, boleh. Silahkan masuk”

Wanita itu pun masuk dalam perjalanan Kiai Ali.

“Om mau kemana? Butuh aku nggak? Aku temenin ya, om. Sampe pagi”

Sambal memakai kembali kopiah dan sorbannya, Kiai Ali menjawab,

“Ini, mau ngaji di Jepara”

Menyadari bahwa lelaki yang di hadapannya adalh seorang kiai, wanita itu pun gugup alang bukan kepalang.

“Maaf pak kiai, saya benar-benar tidak tahu.”

“Oh, ndak apa-apa, mbak. Sekali-kali, kan ikut pengajian.” Jawab Kiai Ali dengan santainya.

“Tidak usah kiai, saya turun di sini aja”

Ndak bisa, tadi kan kamu bilang mau ikut.” Bujuk Kiai Ali.

Wanita itu bertambah gugup dan bingung.

“Tapi, Kiai. Saya tidak pakai jilbab”

“Nanti saya pinjamkan jamaah”

Beruntung pada saat itu si wanita mengenakan pakaian yang agak sopan.

“Tapi saya malu, kiai.”

Sampean jadi kayak gini aja ndak malu, masa ikut pengajian malah malu.”

“Saya takut, kiai.”

“Sudah tenang saja” tutur Kiai Ali

Setelah sampai di tempat, Kiai Ali langsung mengutarakan pada salah seorang jamaah

“Maaf, bu. Bisa pinjam jilbab. Ini bu nyai saya lupa pake jilbab”

Dengan sedikita kebingungan ibu itu menjawab,

“Iya bisa, Kiai. Saya ambilkan.”

Setelah memakainya, wanita itu turun dari mobil. Dan betapa terkaget-kagetnya ia karena ibu-ibu jamaah langsung mengerumuninya untuk bergantian mencium tangannya.

Mendapat penghormatan seperti itu seketika wajah wanita itu langsung pucat, lisannya kelu diam sejuta bahasa dan tubuhnya pun serasa kayu. Ia begitu merasa terhormat dipersilahkan masuk lalu dijamu dan dilayani dengan sebaik-baiknya layaknya benar-benar isteri sang Kiai.

Setelah pengajian selesai, jamuan makan dihidangkan (tempat hanya terpisah kiri dan kanan dengan tempat kyai, jadi masih tetep terlihat). Dan sebelum acara makan-makan dimulai, di tempat jamuan wanita tadi, para ibu-ibu jamaah memohon barokah doa dari wanita tadi. Allahu Akbar..!! Bagaikan disambar petir saat ia dimintai barokah doa. Beruntung masih hafal ROBBANA ATINA..

Seperti saat baru datang, wanita tadi kembali di kerumuni ibu-ibu untuk bergantian cium tangan. Dan saat menuju mobil pun diantar oleh para jamaah.

Di dalam mobil, wanita itu menangis sejadi-jadinya, layaknya orang yang baru saja terkena musibah besar.

Setelah tangisnya agak reda, Kiai Ali mulai mengajaknya bicara,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana cara orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu dan mereka juga rela menunggu hanya untuk dapat menciumi tanganmu, bahkan meminta barokah doa darimu. Padahal tidak tahu siapa sebenarnya dirimu? Yaitu manusia yang tak ubahnya seperti sayuran-sayuran yang dijual dipasar.”

Tangis wanita itu semakin mendalam, air matanya semakin deras mengali. Namun Kiai tetap melanjutkan nasihatnya.

“Ketika kamu menjual sayuran kangkung, bayam dan terong, kamu masih memiliki martabatmu. tetapi ketika kamu menjual dirimu sendiri, kamu sudah tidak lagi memiliki harga dihadapan Allah. Hari ini kamu mendapatkan pelajaran yang mungkin terbesar dalam hidupmu, maka segeralah bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum kamu bertaubat.”

Dari tangisnya yang belum reda, sambil terisak-isak wanita itu bertutur kepada Kiai Ali,

“Terimakasih Kiai atas pelajarannya. Dan lewat dari kejadian ini, mulai saat ini saya bertaubat dan akan berhenti dari pekerjaan laknat ini. sekali lagi saya sangat berterimakasih, Kiai.”


Alhamdulillah. Berkah tindakan bijaksana seorang kyai, bisa menyentuh hati seorang pelacur hingga bertaubat.

-Dishare dar Fb: Hamim Hr, dosen Mahasantri Mahad Aly Lirboyo semester VIII.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.