223 views

Flexing, Boleh Atau Tidak?

Flexing adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang sering pamer kekayaan. Dengan adanya media sosial membuat fenomena flexing jadi makin marak. Apabila sebelumnya pamer sebatas diduna nyata yang hanya diketahui oleh orang sekitar dengan adanya platfrom media sosila pamer kekayaan dapat terekpose lebih luas lagi.

Flexing atau pamer dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukan status dan posisi sosial, menciptakan image baik bagi orang lain, dan menunjukan kemampuan.

Dalam Ihya’ Ulum ad-Din al-Ghozali menjelaskan secara rinci mengenai flexing yang sebenarnya sudah menjadi trend masyarakat bahkan sejak dari dahulu.Trend yang al-Ghozali bahasakan dengan Riya’ ini merupakan salah satu penyakit hati yang muncul akibat sifat dasar manusia yang ingin memilki kedudukan di hati orang yang ada disekitarnya.

Dengan sifat dasar tersebut orang akan memperlihatkan segala aktifitasnya yang bernilai positif supaya memiliki image yang baik di mata orang lain.

Al-Ghozali memilah objek flexing menjadi dua bagian, kegiatan yang bersifat duniawi dan kegiatan yang bersifat agamis. Mari kita bahas satu persatu.

Flexing dengan kegiatan yang bersifat duniawi.

Beberapa contoh flexing model pertama ini seperti pamer properti, keahlian, jabatan atau pun status sosial dan semacamnya. Dengan adanya gadget yang dilengkapi bermacam-macam aplikasi media sosial, orang akan mudah mengekspose semua aktifitasnya, seperti kegiatannya saat liburan di pantai, saat membeli mobil atau motor baru, saat menjalankan tugasnya sebagai bos perusahaan dan semacamnya.

Menurut pandangan al-Ghozali, tindakan tersebut pada dasarnya tidak masalah selama didasari dengan tujuan yang benar dan tidak kelewat batas.

Termasuk tujuan yang dibenarkan adalah sebatas menunjukkan status sosial supaya tidak diremehkan orang lain. Sebab direndahkan orang lain, dicaci dan dihina, dibully, merupakan madharat yang tidak ingin dialami oleh siapapun.

Namun, al-Ghozali juga mengingatkan bahwa menampakkan keunggulan yang dimiliki bisa sangat mengkhawatirkan apabila terlalu berlebihan dan mendapat perhatian dari banyak orang. Sebab yang demikian bisa saja menjadi awal dari kerugian pelaku flexing itu sendiri yang tidak membentengi diri dari sifat-sifat jelek seperti sombong, merasa lebih baik dari orang lain, meremehkan orang lain dan sifat merugikan lainnya.

نَعَمْ اِنْصِرَافُ الهَمِّ إِلَى سَعَةِ الْجَاهِ مَبْدَأُ الشُّرُوْرِ كَانْصِرَافِ الْهَمِّ إِلَى كَثْرَةِ الْمَالِ وَلَا يَقْدِرُ مُحِبُّ الْجَاهِ وَالْمَالِ عَلَى تَرْكِ مَعَاصِي الْقَلْبِ وَالْلِسَانِ وَغَيْرِهَا

“Terlalu mementingkan terhadap luasnya pangkat merupakan awal kejelekan sebagaimana terlalu mementingkan terhadap banyaknya harta. Dan orang yang senang dengan pangkat yang tinggi dan harta yang banyak, tidak akan mampu untuk menahan maksiat-maksiat hati dan lisan” (al-Ghozali, Ihya’ Ulum ad-Din)

Walhasil kita hendaknya bijak dan sebisa mungkin mengontrol diri dalam memamerkan keunggulan yang dimiliki.

Baca edisi kedua tentang Flexing.

Baca juga: Kesabaran Laki-Laki Yang Fakir, Kenapa Hamba Masih Disuruh Berdoa Kepada Allah, Padahal Allah Maha Mengetahui, Kemis Legi Digelar Kembali

Flexing, Boleh Atau Tidak?
3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.