HomeSantri MenulisKumpulan surat (untuk ibu)

Kumpulan surat (untuk ibu)

0 6 likes 1.3K views share

Hari pertama di pesantren.

Ibu, ini adalah hari pertama Adrian menapakkan kaki di pesantren. Rasanya asing. Apa Adrian akan sanggup bertahan di sini?

Hari ke-4 di pesantren.

Assalamu’alaikum… bagaimana kabar Ibu di sana? Adrian baik-baik saja. Semoga Ibu juga baik-baik saja. Amin. Sudah beberapa hari Adrian di pesantren ini. Tapi, tetap saja rasanya masih asing. Masih kepikiran rumah terus.

Bu, Adrian kangen sama Ibu, Bapak, Paman, Bibi, semuanya. Oh iya, bagaimana kabar Nenek? Tolong bilangin ke Nenek kalau Adrian kangen sama Nenek. Adrian sayang ibu. Dadah, Ibu.

Hari ke-5 di pesantren

Bu, hari ini Adrian dihukum. Dihukum karena terlambat sekolah. Padahal Adrian terlambat ada alasannya. Waktu mau berangkat Adrian nyari sandal tapi gak ketemu-ketemu sampai terlambat. Tapi tetap saja Adrian dihukum.

Hari ke-7 di pesantren.

Bu, hari ini adrian dihukum lagi. Cuma gara-gara gak hafal pelajaran saja disuruh jalan jongkok di depan kelas. Iya kalau cuman sekali, lah ini berkali-kali. Ibu tahu kan kalau menghafal bahasa orang yang tidak dimengerti itu tidak mudah? Ibu juga tahu kan kalau Adrian paling susah buat menghafal sesuatu?

Sudah dua hari ini Adrian dihukum karena tidak hafal pelajaran. Adrian sedih, Bu. Ini baru dua hari paha Adrian sudah sakit semua. Nyeri. Kalau Adrian gak hafal terus bagaimana, Bu? Adrian pengen nangis, Bu.

Hari ke-11 di pesantren:

Mulai dari hilangnya sandal Adrian, sekarang Adrian kalau kemana-mana gak pakai sandal. Gak pakai alas kaki. Awalnya agak jijik apalagi kalau jalannya becek. Tapi mau bagaimana lagi? Kata teman Adrian, percuma beli lagi, nanti juga hilang lagi.

Beberapa hari gak pakai sandal, telapak kaki Adrian pecah-pecah. Mungkin karena kepanasan waktu pulang sekolah. Rasanya kaki kaya dibakar, Bu.

Hari ke-15 di pesantren:

Sudah lima hari berturut-turut Adrian dihukum. Sejak awal kan Adrian sudah menolak keputusan Ibu dan Bapak buat masukin Adrian ke pesantren. Apalagi pesantren yang banyak hafalannya. Adrian gak cocok di sini, Bu! Adrian gak betah! Apa Ibu mau kaki Adrian diamputasi karena keseringan jalan jongkok?

Tapi biarlah, Bu. Jangan Ibu hiraukan keluhan Adrian. Adrian yakin, meski Adrian menjerit-jerit pun keputusan Ibu dan Bapak tidak akan berubah. Rasanya sakit, Bu.

Hari ke-16 di pesantren:

Hmmm, hari ini Adrian gak belajar, Bu. Capek. Biarin besok jalan jongkok lagi. Sekalian saja biar kecapean terus sakit sekalian. Biar gak masuk sekolah, atau mungkin sekalian pulang.

Hhh, rumah! Biasanya kalau malam-malam begini paling enak nonton TV sambil makan mie buatan Ibu. Mie kesukaan Adrian yang paling enak sedunia. Sayangnya Ibu sudah lama gak buatin Adrian mie. Huh! Adrian kangen, Bu. Pengen pulang.

Hari ke-20 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian cerita sama temen kamar yang sudah dua tahun di sini. Adrian tanya, bagaimana bisar bisa betah? Terus, kenapa kok susah hafalan? Gimana biar mudah dan cepat hafal?

Katanya, sih, kalau mondok harus fokus. Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Tapi, apa mikirin rumah itu aneh? Terus, katanya kalau di pondok harus ingat tujuan mondok. Yang bikin bingung, tujuan Adrian mondok apa? Kan yang ngirim Adrian ke pondok Ibu sama Bapak.

Terus, katanya, kalau masalah hafalan semua orang bisa hafal asal orang tersebut tekun dan bersungguh-sungguh. Berarti Adrian belum tekun ya, Bu? Belum bersungguh-sungguh ya, Bu?

Kalau memang dengan mondok dapat membuat Bapak dan Ibu bahagia, Adrian akan berusaha bersunguh-sungguh. Adrian akan menjadi santri yang tekun buat Ibu, buat Bapak. Adrian akan berusaha.

Hari ke-26 di pesantren:

Bu, Adrian dua hari ini gak dihukum. Alhamdulillah hafal, walaupun sebelum-sebelumnya dihukum terus. Gak tau kok bisa hafal. Padahal cuma Adrian baca terus bolak-balik. Eh, gak taunya hafal sendiri.

Bu, Bapak capek ya kerja terus buat biayain Adrian? Mondok pasti juga ada biayanya. Buat makan, beli kitab dan lain-lain. Kasihan Bapak, Bu. Adrian bisanya menghabiskan uang saja! Gak bisa bantu-bantu Bapak. Harusnya dulu Ibu sama Bapak turutin saja keinginan Adrian buat bantuin Bapak bekerja. Tapi, Bapak sama Ibu tetap berbulat tekad.

Hari ke-31 di pesantren:

Bu, bagaimana kabarnya? Maaf Adrian jarang kirim surat ke Ibu. Tapi alhamdulillah, Adrian sekarang sudah mulai biasa di sini. Juga sudah jarang dihukum. Ya, cuma sekali-dua kali saja. Bu, tapi rasanya masih ada yang janggal, Bu.

Hari ke-35 di pesantren:

Hmm, Bu, sebenernya kejanggalan di hati Adrian itu, mondok itu buat apa sih? Kalau cuma makan, tidur, sekolah, hafalan, terus ngerepotin Bapak saja, mending Adrian kerja saja bantuin Bapak. Bapak sudah berumur. Apalagi waktu adrian berangkat ke pondok, Bapak sering sakit-sakitan. Tapi meskipun sakit, Bapak tetap saja bekerja. Gak kaya Adrian yang sedikit-sedikit mengeluh. Adrian gak tega Bu, sama Bapak. Kasihan Bapak.

Hari ke-43 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian nangis berat. Soalnya kejanggalan di hati Adrian semakin membesar. Ibarat orang buta yang berjalan di tengah kegelapan. Hari ini Adrian menangis lagi, Bu. Bukan karena kegelapan tersebut. Tapi karena ada setitik cahaya yang mampu menyinari kegelapan dan membuat semuanya menjadi lebih jelas.

Tadi, seusai salat jamaah, Mbah Yai dawuh banyak hal. Seolah-olah ditujukan buat Adrian. Jawaban atas semua kejanggalan-kejanggalan Adrian.

Adrian sekarang paham maksud Ibu dan Bapak ngirim Adrian ke pesantren. Mungkin mondok terlihat begitu sepele, tapi faedah dibalik semua itu begitu besar. Begitu luar biasa.

Pesantren  itu tempat pelatihan, tempat pembelajaran. Belajar menjadi pribadi yang bertakwa, berakhlak, pribadi yang kelak menjadi contoh ketika hidup di masyarakat. Faedahnya banyak, Bu! Diajari tentang pentingnya ilmu agama, elajar bersosialisasi dan masih banyak yang gak bisa Adrian sebutin satu persatu.

Di dalam pesantren, kata Mbah Yai, juga termasuk ibadah, membantu orang tua, menegakkan agama, juga berperang melawan kebodohan. Sungguh bodohnya Adrian pernah menolak belajar di pesantren. Adrian sekarang paham. Adrian mengerti. Adrian bersyukur bisa mendapatkan kesempatan belajar di sini, Bu. Apalagi tidak ada yang tahu kapan detak jantung akan berhenti.

Maaf ya, Bu. Terimakasih. Mulai sekarang Adrian akan rajin belajar dan bersungguh-sungguh.

Hari ke-91 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Maaf, Adrian gak ngabarin Ibu. Adrian sudah betah di sini. Banyak teman, berdiskusi keilmuan, belajar hal-hal baru, banyaklah pokoknya. Kalau pulang sih pasti pengen. Tapi Adrian sudah bertekad buat pulang kalau sudah tamat, sudah berilmu. Adrian masih belum berilmu.

Oh iya, sekarang yang Adrian bingungkan gimana ngirim surat-surat ini ke Ibu? Apa tanpa dikirim Ibu sudah tahu? Sudah baca? Bagaimana ngirimnya? Bu, Adrian kangen Ibu. Bapak di rumah juga pasti kangen sama Ibu. Ibu baik-baik ya di sana! Adrian sayang Ibu.

Hari ke-237 di pesantren:

Bu, Adrian sedih kenapa Paman sama Bibi gak jujur sama Adrian? Kenapa Ibu gak bilang kalau Bapak pergi ke tempat Ibu juga? Bahkan Adrian belum mengucapkan maaf… dan terimakasih. Kenapa Bapak gak pamit sama Adrian? Kenapa begitu cepat? Kenapa Bapak dan Ibu pergi ninggalin Adrian?

Sudah lebih dari tujuh hari Bapak pergi. Ibu gak ngasih tau Adrian. Paman dan Bibi baru ngasih tau tadi. Rasanya sepi, Bu. Sedih….

Hari ke-245 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kabarnya Ibu? Di situ ada Bapak juga kan? Bapak juga baik-baik saja kan, Bu? Adrian di sini baik-baik saja. Semoga semuanya baik juga. Amin.

Semenjak Bapak pergi ke tempat Ibu, Paman dan Bibi yang biayain adrian. Sebenarnya Adrian ngerasa gak enak. Tapi mau bagaimana lagi? Adrian gak boleh pulang sam Paman dan Bibi. Kata Paman dan Bibi, selama Paman dan Bibi masih sanggup buat biayain, Adrian harus terus belajar di pesantren. Adrian tidak ingin menolak kebaikan untuk kedua kalinya. Walaupun rasa membebani itu masih ada dan terus ada.

Hari ke-1175 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu! Sudah gak kerasa Adrian sudah Tsanawiyah. Memang mencari ilmu itu menyenangkan, ketika dibarengi kesungguhan dan rasa haus akan ilmu. Seolah rasa haus itu tak kunjung reda.

Bu, hari ini Adrian putuskan untuk berkhidmah di ndalem. Ngalap barokah Mbah Yai, ikut bantu-bantu pondok, belajar praktek di masyarakat. Juga tidak lupa untuk terus belajar.

Beberapa hari lalu, Adrian sudah bicara sama Paman dan Bibi. Katanya kalau keputusan Adrian sudah bulat, terserah Adrian maunya bagaimana.

Oh iya, ada satu pesan Bapak yang selalu Adrian ingat. Kata Bapak, kita harus selalu semangat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Adrian akan terus semangat dan bersungguh-sungguh selagi ada kesempatan untuk Adrian berkhidmah. Doakan Adrian ya, Bu…!

Hari ke-2915 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Bu, ini tahun terakhir Adrian di Aliyah. Ketika dibayangkan, rasanya begitu lama. Namun, ketika dijalani dengan sepenuh hati seakan-akan semuanya cepat berlalu.

Hari ke-3247 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Ibu, Bapak, dan Nenek baik-baik saja kan? Alhamdulillah Adrian juga sehat.

Tadi pagi adalah acara terakhir. Semacam acara kelulusan atau akhirussanah. Tadi, waktu acara berlangsung, Adrian sempat terbawa suasana haru. Teringat hari-hari pertama masuk sekolah, musyawaroh, muskub, jalan jongkok di depan lokal, berdiri di kelas, dan banyak lainnya.

Semua kenangan itu tiba-tiba hadir bergantian, membuat Adrian tak mampu lagi menahan air mata. Seolah proyektor yang menampilkan sebuah perjuangan panjang. Sembilan tahun, bukanlah secepat kedipan mata. Berawal dari keengganan masuk pesantren sampai akhirnya dapat menghatamkan Aliyah.

Terimakasih ya Rob! Terimakasih ya Bu!

Hari ke-3250 di pesantren:

Assalamua’alaikum Bu, Bapak, Nenek, terimakasih atas doa-doanya. Sehingga Adrian bisa tamat peantren ini.

Bu, Adrian putuskan untuk mengabdi di sini. Adrian masih betah di sini. Mungkin hanya setahun saja. Ya, mungkin….

Hari ke 3615 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Tidak terasa sudah satu tahun telah terlewati, besok Adrian akan pulang. Sudah lama Adrian membebani Paman dan Bibi. Sekarang saatnya Adrian yang membantu Paman dan Bibi. Saatnya Adrian untuk terjun ke masyarakat. Menerapkan dan mengamalkan imu yang telah Adrian peroleh.

Malam ini adalah malam terakhir, terbayang semua yang telah terjadi di tempat yang penuh kenangan ini. Canda, tawa. Tangis, semua bercampur menjadi satu. Tidak terasa air mata ini menetes. Ibu, Adrian akan selalu merindukan tempat ini.{}

 

Oleh : Bashori

Sabtu, 24 oktober 2015. Penulis adalah Santri kamar HMC asal Mojokerto