Kupas Tuntas Kandungan Alkohol dalam Handsanitizer

Kupas Tuntas Pandangan Ulama Kontemporer tentang Penggunaan Alkohol sebagai Komposisi Hand Sanitizer

Di tengah pandemi Covid-19, membiasakan pola hidup sehat secara disiplin dinilai efektif dalam mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus Corona. Untuk itu, himbauan kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan dilakukan secara masif.

Salah satu cara menerapkan pola hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 ialah penggunaan cairan antiseptik pembersih tangan atau dikenal dengan nama hand sanitizer. Kendati hand sanitizer dapat dibuat dengan berbagai macam jenis bahan dasar, namun zat alkohol menjadi komposisi utama dengan kadar di atas 60 persen. Realita tersebut masih menyisakan pertanyaan, khususnya terkait hukum penggunaan zat alkohol serta status kesuciannya sebagai bahan baku utama pembuatan hand sanitizer.

Dalam sudut pandang syariat, pada dasarnya tidak ada keterangan definitif nash Alquran, Sunnah, dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai status alkohol. Dalam fikih klasik, persoalan semacam ini diklasifikasikan ke dalam pembahasan arak (khamr), yaitu zat cair yang dapat memabukkan (muskir) serta dihasilkan dari ekstrak anggur basah. Sebagaimana penjelasan Sayyid Abi Bakr Syato ad-Dimyati dalam kitab I’anah at-Thalibin berikut:

إِنَّ الْخَمْرَ هِيَ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ عَصِيْرِ الْعِنَبِ، وَهَذَا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا اللُّغَوِيَّةِ. وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا الشَّرْعِيَّةِ فَهِيَ كُلُّ مُسْكِرٍ وَلَوْ مِنْ نَبِيْذِ التَّمْر أَوِ الْقَصْبِ أَوِ الْعَسَلِ أَوْ غَيْرِهَا، لِخَبَرٍ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

Sesungguhnya khamr merupakan sesuatu yang diambil dari perasan anggur basah. Pengertian ini menimbang sudut pandang kata. Adapun apabila menimbang sudut pandang syariat, khamr merupakan setiap sesuatu yang memabukkan walau berasal dari perasan kurma, tebu, madu atau selainnya. Berdasarkan hadis: setiap perkara yang memabukkan termasuk khamr dan setiap khamr hukumnya haram.” (Al-Bakri, I’anah at-Thalibin, vol. I hlm. 110)

Pada titik ini, ketika zat alkohol dianalogikan dengan khamr dengan illat (alasan) hukum berupa kemampuannya yang dapat memabukkan, maka menurut teori ini alkohol dihukumi najis menurut madzhab Syafi’i. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji:

اَلْخَمْرُ وَكُلُّ مَائِعٍ مُسْكِرٍ نَجِسٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ وَدَلِيْلُ ذَلِكَ قَوْلُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلّ: [إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ]

Khamr dan setiap benda cair yang memabukkan statusnya najis dalam madzhab Syafi’i. Dalilnya ialah firman Allah, sesungguhnya (minum) khamr, judi, (berkorban untuk) berhala dan mengadu nasib dengan panah adalah dosa.” (Tim, Al-Fiqh al-Manhaji, vol. III hlm. 77)

Keterangan mengenai pembahasan alkohol secara langsung baru ditemukan dalam beberapa literatur fikih kontemporer yang mana keberadaan zat alkohol sudah ditemukan. Dan tentu saja para ulama masih berbeda pendapat dalam kasus ini. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori zat yang memabukkan (muskir) karena digolongkan khamr yang haram dikonsumsi serta berstatus najis. Tetapi sebagian ulama lain tidak menggolongkannya sebagai khamr memandang khamr hanya tertentu untuk ekstrak anggur basah, sebagaimana pandangan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu:

مَادَةُ الْكُحُوْلِ غَيْرُ نَجِسَةٍ شَرْعًا بِنَاءً عَلَى مَا سَبَقَ تَقْرِيْرُهُ مِنْ أَنَّ الْأَصْلَ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَة، سَوَاءٌ كَانَ الْكُحُوْلُ صَرْفًا أَمْ مُخَفَّفًا بِالْمَاءِ تَرْجِيْحًا لِلْقَوْلِ بِأَنَّ نَجَاسَةَ الْخَمْرِ وَسَائِرِ الْمُسْكِرَاتِ مَعْنَوِيَّةٌ غَيْرُ حِسِّيَّةٍ لِاِعْتِبَارِهَا رِجْسًا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ. وَعَلَيْهِ فَلَا حَرَجَ شَرْعًا مِنِ اسْتِخْدَامِ الْكُحُوْلِ طِبِّيًّا كَمُطَهِّرٍ لِلْجِلْدِ وَالْجُرُوْحِ وَالْأَدَوَاتِ وَقَاتِلٍ لِلْجَرَاثِيْمِ

Zat alkohol tidak najis menurut syariat dengan pertimbangan ketetapan yang telah lewat, yaitu segala hal yang asalnya suci baik berupa alkohol murni atau alkohol yang dikurangi kadar kandungannya menggunakan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua yang memabukkan bersifat maknawi, bukan yang terlihat secara kasat mata, dengan memperhatikan bahwa khamr itu kotor serta sebagian dari perbuatan setan. Maka tidak ada kesalahan menurut syariat atas pemanfaatan alkohol dalam dunia medis, seperti pembersih kulit, luka, obat-obatan, dan pembunuh kuman.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 2564)

Bahkan apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan dan kebutuhan medis lain, maka hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Secara tegas, Dr. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan dalam keterangan lain:

لِلْمَرِيْضِ الْمُسْلِمِ تَنَاوُلُ الْأَدْوِيَّةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى نِسْبَةٍ مِنَ الْكُحُوْلِ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ دَوَاءٌ خَالٍ مِنْهَا، وَوَصَفَ ذَلِكَ الدَّوَاءَ طَبِيْبٌ ثِقَّةٌ أَمِيْنٌ فِيْ مِهْنَتِهِ

Diperbolehkan bagi orang muslim yang sakit untuk menggunakan obat medis (antiseptik) yang mengandung alkohol apabila sulit menemukan obat nonalkohol. Dan obat (antiseptik) tersebut merupakan rekomendasi dokter ahli yang berkompeten di bidangnya.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 5111)

Senada dengan apa yang disampaikan di atas, dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Syekh Abdurrahman al-Jaziri juga menjelaskan:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنْ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ

Termasuk bagian barang najis yang ditolerir adalah cairan najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan menjaga kelayakannya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup sesuai kadar yang dipakai untuk menjaga kelayakannya.” (Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/21)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa penggunaan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk menjaga kebersihan serta upaya mencegah dan mengantisipasi penularan virus Corona atau Covid-19 dapat dibenarkan (tidak haram) serta status kenajisannya ditolerir (ma’fu).
[]waAllahu a’lam

Penulis : Nasikhun Amin, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.