HomeAngkringKurban bukan hanya Tradisi Muslim

Kurban bukan hanya Tradisi Muslim

0 1 likes 235 views share

Saat merayakan Raya Idul Adha seperti ini, semua dari kita akan mengenang dan mencoba untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim as. yang bermimpi diperintah Allah swt. untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail as.

Meski pada akhirnya Allah swt. mengganti posisi putranya yang sudah terlentang siap untuk disembelih dengan kambing, kita bisa melihat betapa Nabi Ibrahim begitu sepenuhnya taat dan patuh atas perintah Tuhan sekalian alam, sekalipun diperintah untuk menyembelih putranya.

Berkurban, yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukanlah sebuah ritual yang hanya di jalankan oleh umat agama samawi belaka. Dalam beberapa literatur, disinyalir umat-umat terdahulu pun juga mempunyai tradisi serupa. Hanya, mereka memiliki cara dan jenis kurban yang berbeda-beda.

Jika kita tengok jauh ke belakang, di masa-masa awal kehidupan manusia, kita dapat menemukan peristiwa kurban yang dilaksanakan oleh dua putra Nabi Adam as. Mereka berdua diperintah oleh ayahnya untuk menghaturkan kurban.

Qobil yang petani berkurban dengan gandumnya yang buruk, sedangkan Habil yang peternak menghaturkan seekor domba sehat lagi baik. Maka kemudian, kurban milik Habil inilah yang diterima oleh Allah swt.  Pertanda diterimanya kurban ini adalah dengan turunnya api dari langit yang mengambil kurban yang diterima.

Di masa yang setelahnya, Nabi Nuh as setelah surutnya air bah, beliau membangun sebuah tempat untuk berkurban, lalu membakar hewan-hewan kurbannya di sini. Nabi Ibrahim AS berkurban denga roti dan lain sebagainya, anak keturunan beliau berkurban dengan hewan yang selanjutnya mereka membakarnya, tradisi ini terus berlanjut hingga di utusnya Nabi musa AS.

Di zaman jahiliyyah, orang arab berkurban dengan cara melepaskan hewan kurbannya ke daratan yang mereka tujukan bagi berhala-berhala.

Orang-orang dulu dalam berkurban tidak melulu dengan hewan, makanan atau tetumbuhan. Bahkan ada sebagian kaum yang berkurban dengan menyembelih manusia, seperti bangsa Romawi, Persia, Mesir kuno dan sebaginya, kebiasaan demikian ini begitu kental dan masyhur di kalangan penduduk Eropa.

Riwayat lain menuturkan bahwa masyarakat Mesir dulu pada setiap tahunnya di awal bulan Qibthy ( kalender Mesir) menghadiahkan  gadis yang masih perawan, yang sebelumnya mereka meriasnya dengan sangat menawan, kemudian mereka melarung dan menenggelamkannya ke Sungai Nil yang menjadi salah satu sesembahan mereka. Ritual semacam ini berlarut sangat lama, hingga akhirnya amirul mukminin Umar Bin Khathab melalui Gubernur ‘Amr Bin ‘Ash melarangnya.

Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha.