HomeAngkringLebih Jauh Tentang Salat Gerhana

Lebih Jauh Tentang Salat Gerhana

0 4 likes 177 views share

Fenomena alam merupakan sebuah keniscayaan yang tidak pernah terlepas dalam siklus kehidupan. Menurut sebagian kalangan yang masih berpegang teguh dengan mitos atau dongeng orang-orang zaman dahulu, kejadian dan fenomena alam sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang berbau gaib. Namun semenjak mendapatkan sentuhan syariat, paradigma yang mencuat di tengah-tengah masyarakat tersebut sedikit demi sedikit berubah menjadi pandangan positif yang lebih bernuansa islami. Dalam konteks ini, salah satu yang menjadi bukti nyata adalah fenomena gerhana.

Allah Swt telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fusshilat: 37)

Bentuk representasi dari ayat tersebut adalah adanya syariat berupa kesunahan salat Khusufaian (dua gerhana) yang mencakup salat gerhana bulan (Khusuf) dan salat gerhana matahari (Kusuf). Apabila merujuk dalam khazanah fiqih ibadah, salat yang satu ini sedikit berbeda dengan yang lainnya. Dikatakan berbeda karena dalam segi praktek, ibadah salat gerhana ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, yakni di setiap rokaatnya terdapat dua kali berdiri, dua kali ruku’ dan dua kali I’tidal.

Dalam penulusuran sejarah, ternyata salat gerhana ini merupakan salah satu ibadah yang hanya dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad Saw. Salat gerhana matahari (Kusuf) pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Sementara untuk salat gerhana bulan (Khusuf) baru disyariatkan sekitar tiga tahun setelahnya, yakni bulan Jumadil Akhiroh di tahun kelima Hijriyah.[1]

Hukum Salat Gerhana

Mengenai tuntutan hukumnya (taklifi), salat gerhana termasuk kategori salat sunah yang mukkaadah (kokoh). Artinya, salat gerhana merupakan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, baik secara Munfarid (sendirian) ataupun berjamaah. Namun, yang lebih utama adalah dilakukan secara berjamaah.

Waktu Salat Gerhana

Karena tergolong salat yang digantungkan dengan adanya sebab tertentu yang berupa waktu, maka salat gerhana memiliki kaitan yang sangat erat dengan waktu terjadinya gerhana itu sendiri. Salat gerhana bulan dan gerhana matahari dimulai sejak awal mula terjadinya gerhana. Kesunnahan ini akan berakhir apabila proses gerhana telah usai (injila’). Secara spesifik, salat gerhana matahari (Kusuf) akan berakhir dengan selesainya proses gerhana atau terbenamnya matahari. Begitu juga salat gerhana bulan (Khusuf) akan berakhir dengan selesainya proses gerhana atau terbitnya matahari.[2]

Tata Cara Salat Gerhana

Sebenarnya, salat gerhana dapat dilakukan sebagaimana salat sunah yang lain, yakni dua rokaat tanpa menggandakan berdiri, ruku’, dan i’tidal di setiap rokaatnya. Namun para ulama berpendapat, praktek yang demikian merupakan pelaksanaan paling minimalis dan kurang utama untuk dilakukan (khilaful afdhol).[3]

Adapun tata cara pelaksanaan salat gerhana yang lebih utama adalah sebagai berikut:

1.Niat sholat gerhana;

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

“saya niat (melaksanakan) salat sunah gerhana bulan 2 rokaat karena Allah ta’ala”.

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالىَ

“saya niat (melaksanakan) salat sunah gerhana matahari 2 rokaat karena Allah ta’ala”.

2.Takbiratul ihram;

3.Membaca do’a iftitah dan ta’awudz, kemudian membaca surat al-Fatihah dan membaca surat;

4.Ruku’;

5.Bangkit dari ruku’ (i’tidal);

6.Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat al-Fatihah (berdiri kedua);

7.Ruku’ kembali (ruku’ kedua);

8.Bangkit dari ruku’ (i’tidal);

9.Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali;

10.Bangkit dari sujud lalu mengerjakan rokaat kedua sebagaimana rokaat pertama;

11.Setelah sujud kedua di rokaat kedua, diakhiri dengan duduk tahiyyat akhir;

12.Salam.[4]

Pelaksanaan ibadah salat gerhana akan lebih sempurna apabila dilakukan sesuai urutan dan tata cara sebagaimana yang telah disebutkan di atas dan menambahkan hal-hal berikut:

a. Pada rakaat pertama, setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri pertama membaca surat al-Baqarah atau jumlah ayat yang menyamainya. Dan setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri kedua membaca sekitar 200 ayat. Pada rokaat kedua, setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri pertama membaca sekitar 150 ayat. Dan setelah membaca surat al-Fatihah saat berdiri kedua membaca sekitar 100 ayat. Menurut pendapat lain, secara berturut-turut empat kali berdiri dalam dua rokaat itu disunnahkan membaca surat al-Baqarah atau jumlah ayat yang menyamainya, Ali ‘Imran atau jumlah ayat yang menyamainya, an-Nisa’ atau jumlah ayat yang menyamainya, dan al-Maidah atau jumlah ayat yang menyamainya.

b. Dalam 2 rokaat tersebut terdapat empat kali ruku’. Secara berturut-turut disunahkan membaca bacaan tasbih dengan kadar menyamai membaca surat al-Baqarah sebanyak 100 ayat, 80 ayat, 70 ayat, dan 50 ayat.

c. Bacaan al-Fatihah dan surat dibaca secara lirih (Sirri) di waktu salat gerhana matahari dan dibaca secara keras (Jahr) di waktu salat gerhana bulan.

d. Apabila dilakukan secara berjamaah, bagi imam disunahkan membaca dua khutbah setelah salat gerhana. Adapun syarat dan rukunnya sama persis dengan khutbah jum’at. Adapun substansi khutbah yang disampaikan dalam salat gerhana ditekankan berupa ajakan untuk berbuat baik, seperti taubat, sedekah, dan lain-lain.[5]

[]waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:

[1] Tarsyih al-Mustafidin, hlm 97, cet. Al-Haromain.

[2] Hamisy Fathil Qorib, hlm I/230, cet. Dar al-‘Ilmi.

[3] Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, I/361, cet. Al-Hidayah.

[4] Kifayatul Akhyar, I/151, Maktabah Syamilah.

[5] Syarah al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, I/361-363, cet. Al-Hidayah.