HomePojok LirboyoMalam Takdzim Maulidun Nabi

Malam Takdzim Maulidun Nabi

0 0 likes 613 views share

LirboyoNet, Kediri – Malam itu (23/12), ribuan tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Dan perayaan maulid, kelahiran beliau, senantiasa diperingati sepanjang tahun dengan beragam cara dan tradisi yang berbeda-beda di seluruh penjuru dunia. Ada yang membacakan Maulid Al-Barzanji, ada yang melantunkan Maulid Al-Diba’i, dan berbagai macam perayaan lainnya. Segala macam perayaan ini adalah wujud dari kegembiraan atas lahirnya Nabi, Sang Pemberi Syafa’at.

Di malam itu pula, Pondok Pesantren Lirboyo kembali memperingati hari lahir Baginda Nabi dengan perayaan sederhana di serambi Masjid Lawang Songo. Peringatan maulid di sini memang selalu sederhana. Tidak dengan gegap gempita, dekorasi sana-sini, maupun penceramah kondang. Namun kesederhanaan inilah yang membuat acara menjadi lebih khidmat.

Diliputi suasana antusias dari santri yang tidak pulang liburan maulud lalu, serambi masjid nampak penuh sesak dipadati oleh mereka. Peringatan maulid dengan tema, “Malam Takdzim” ini dihadiri oleh segenap masyayikh dan dzuriyyah Pondok Pesantren Lirboyo, seperti KH. M. Anwar Manshur, KH. Habibullah Zaini, dan KH. Atho’illah S. Anwar.

Acara dimulai dengan beberapa kasidah oleh “Antadulla”,  sebuah grup rebana dari komunitas santri Luar Jawa. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tawassul. Setelah dibacakan Maulid Al-Diba’i, acara ditutup dengan doa oleh KH. M. Anwar Manshur.

Di tengah-tengah acara, Mbah War, sapaan akrab KH. M. Anwar Manshur, menyampaikan bahwa kita patut bahagia dan bersyukur bisa terlahir menjadi umat Nabi Muhammad SAW. “Wong sing atine bungah kaleh lahire kanjeng nabi mbenjing bakal disyafa’ati (Orang yang berbahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad nanti akan mendapat syafa’at).” Lebih-lebih, kita sebagai santri yang seharusnya dapat senantiasa meneladani perilaku keseharian dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menambahkan, “Senajan wes sak menten dangune, tetep saget melu nopo sing didawuhne Nabi Muhammad. (Walaupun sudah terpaut sekian lama, kita tetap bisa ikut apa yang diperintahkan Nabi Muhammad dulu.)”

Kita yang hidup di zaman yang jauh dari zaman Rasulullah, harus bisa mempertahankan apa yang telah digariskan oleh Nabi. “Ganjarane podo karo seket shohabat (Pahala hidup di zaman seperti ini ibarat pahalanya limapuluh sahabat),” tekan beliau, mengingat betapa beratnya perjuangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam sekarang.

Setelah ditutup, segenap yang hadir malam itu menikmati suasana kebersamaan dengan ngeblek bersama. Meskipun dengan lauk “ala kadarnya”, puluhan eblek yang dikeluarkan oleh panitia habis tidak tersisa. Bahkan saking banyaknya santri yang hadir, ada beberapa yang tidak mendapat bagian.][