Manifestasi Pendidikan Pesantren Era 4.0

Sejak dahulu pendidikan pesantren sebagai penopang kemaslahatan umum dan bagi negara secara khusus. Mulai dari zaman walisongo kemudian berlanjut pada masa Pangeran Diponegoro hingga era Khadrotul Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam menopang peletakan dasar-dasar kenegaraan pasca kemerdekaan Indonesia.

Lantas, pada era sekarang masihkah relevan dan urgen pendidikan sebagai kekuatan benteng peradaban? Tentunya tetap masih bisa, bilamana eksistensi pesantren terus berkembang maju mengikuti arus zaman. Berdasar lewat ungkapan Imam Syafe’i:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيِا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barang siapa menginginkan dunia maka harus dengan ilmu, barang siapa menginginkan akhirat maka harus dengan ilmu.”

Di era sekarang ini, bukan waktunya pendikotomian antara ilmu umum dan ilmu agama. Seharusnya antara keduanya harus saling berhubungan sebagai upaya benteng kekuatan bagi negara. Hanya saja, ikatan hubungan di antara keduanya merenggang sejak adanya distorsi sejarah era masa lalu. Menjadikan orang yang berpendidikan pesantren agak disisihkan. Agar hal itu tidak terus-menerus terdikotomi oleh distorsi sejarah, mari buktikan bahwa hubangan antara ilmu agama dan ilmu umum sangat relevan dan urgen dalam menopang di era dimensi 4.0 sekarang ini.

Pendidikan Pesantren Media Pembelajaran Ilmu Agama yang Sangat Kompleks

Sebenarnya pendidikan pesantren salaf sebagai media pembelajaran ilmu agama sangat kompleks dari sisi manapun. Dalam artian keilmuan di dalamnya memenuhi segala bidang aspek kebutuhan. Salain itu, metode pendidikan pesantren sifatnya menyeluruh yang perannya mampu menyentuh kepekaan dalam memahami keilmuan, kemudian dialokasikan pada praktek kehidupan sesuai dengan kadarnya.

Selain dalam metode ngaji bandongan dan sorogan, ada juga yang terfokus pengajaran dalam ruang kelas. Sehingga tingkat keilmuan akan diasah lewat metode ini. Kemudian metode syawir (tukar sudut pandang) sebagai upaya penyelarasan kepahaman antara satu orang dengan yang lainnya atas hasil ilmu yang didapat dari guru.

Dengan begitu, manivestasai keilmuan dapat sempurna. Belum lagi metode hafalan sebagai ciri khas pendidikan pesantren salaf yang bertujuan untuk kuatnya daya ingat ilmu. Melihat hal ini, lumrah sekali bahwa banyak santri yang hafal terhadap ilmunya di luar kepala, sesuai teks dari kitab hasil penukilannya dan kontekstual dari gurunya. Ketika santri hafal ilmu maka dalam memahaminya akan mudah. Begitupun sebaliknya.

Menengok metode tersebut, apabila dilakukan di era sekarang sangat ralevan sekali. Karena pola pemahaman ilmu yang terus dituntut bergerak cepat agar mengikuti problem zaman, yang mengharuskan tingkat pikiran terus diasah. Apabila tidak hafal di luar kepala, seseorang akan sulit mengejar ketertinggalan.

Perwujudan dari metode seperti di atas, tertuju pada tarbiyah, ta’bid, dan ta’lim. Tarbiyah sebagai pola pengembangan dan pertumbuhan karakter dari tahapan awal hingga akhir. Ditambah dengan ta’bid sebagai pengatur emosional pada diri seseorang agar bisa memerankan etika moralitas yang baik. Sedangkan sentralnya yaitu ta’lim menunjukan proses pemberian berbagai macam ilmu.