HomeArtikelMembongkar Amaliah Hari Asyuro’

Membongkar Amaliah Hari Asyuro’

0 3 likes 240 views share

Menurut orang Jawa, bulan Muharram diberi nama dengan sebutan bulan Suro. Istilah bulan Suro ini diambil karena di dalamnya terdapat hari istimewa yang disebut dengan nama hari Asyuro’. Sebagian ulama berkomentar, hari itu dinamakan dengan nama hari Asyuro’ karena jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Dalam pandangan kaca mata syariat, dikatakan bahwa hari Asyuro’ adalah salah satu hari mulia umat Islam yang memiliki keistimewaan tertentu. Oleh karena itu, dalam memuliakan hari kesepuluh dari bulan Muharram tersebut ada beragam macam amaliah yang sering dilakukan oleh sebagian besar umat Islam di dalamnya.

Begitu juga golongan Syiah, pada setiap hari Asyuro’ mereka melakukan ritual tahunan untuk mengenang pembantaian Sayyid Husain dan Ahlu Bait dalam tragedi Karbala. Dalam realitanya, acara tersebut diisi dengan kegiatan kemungkaran yang berupa atraksi penyiksaan diri. Justru praktek tradisi seperti iitulah yang tidak pernah diajarkan dalam syariat.

Ritus seperti ini sangat bertolak belakang dengan kelompok mayoritas Ahlussunnah wal Jama’ah.  Sebagai satu-satunya golongan yang memegang teguh ajaran salaf, mereka lebih menekankan untuk tetap mengikuti dan melakukan amaliah-amaliah para pendahulunya. Karena bagaimanapun, legalitas hukum dan mata rantai yang terus menyambung sampai Rasulullah Saw telah menguatkan pendirian mereka untuk terus menghayati, mengamalkan, dan mendakwahkan tradisi ibadah tersebut. Diantaranya adalah:

Berpuasa

Melakukan amal ibadah puasa di bulan Muharram sangat dianjurkan menurut syariat. Karena bulan Muharram merupakan salah satu dari beberapa bulan mulia yang memiliki keutamaan keanjuran ibadah puasa sunah di dalamnya. [1] Sebagaimana penjelasan dari hadis Rasulullah Saw:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah, yakni Muharram. Salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat sunah,” (HR. Muslim).[2]

Sebenarnya, mengenai ketentuan hari yang disunahkan puasa tidak ditentukan dalam hadis. Namun anjuran itu akan lebih mendapatkan nilai ibadah lebih ketika dilakukan di hari Tasu’a (9 Muharram). Terlebih lagi jika berpuasa pada hari Asyuro’ (10 Muharram).

Rumusan amaliah semacam ini memiliki legalitas hukum dari sebuah hadis:

عن بن عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari sahabat Ibnu abbas Ra, sesungguhnya Rasulullah saw berpuasa di hari Asyuro’ (10 Muharram), kemudian para Sahabat berkata: “wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani”. Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami berpasa di hari ke sembilan,” belum tiba tahun berikutnya hingga Rasulullah Saw wafat,” (HR. Muslim).[3]

Salah satu keutamaan puasa di hari Asyuro’ tersebut adalah dapat menghapus seluruh dosa selama satu tahun. Hal ini didasari dari sebuah hadis:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Adapun puasa hari Asyuro’, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya,” (HR. Muslim).[4]

Mengusap Kepala Anak Yatim

Salah satu amalan yang lumrah dilakukan  masyarakat adalah mengusap kepala anak yatim dan bersedekah kepadanya. Hal ini bertendensi terhadap sebuah hadis:

مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ أَطْعِمِ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ

“Dari Abi Hurairah Ra, ada seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Saw tentang kekerasan hatinya. Maka Rasulullah Saw berkata kepadanya: “jika engkau ingin melembutkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim,” (HR. Ahmad).[5]

Para ulama sepakat, bahwa yang dimaksud mengusap kepala anak yatim dalam redaksi hadis tersebut adalah menggunakan makna sebenarnya. Sebagaimana dijelakan dalam hadis yang lain, “Barang siapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah, di setiap rambut yang ia usap Allah memberikan sepuluh kebaikan,..”.

Dalam konteks ini, kepala menjadi hal yang istimewa untuk disebutkan dalam beberapa hadis di atas. Karena mengusap kepala mengandung pengertian adanya kasih sayang, mengayomi, dan rasa cinta  terhadap seseorang yang diusap. Sehingga bukan menjadi hal yang aneh lagi apabila semuanya dilakukan pada anak yatim akan menuai pahal yang sangat besar.[6]

Melapangkan Nafkah Keluarga

Dalam kitab I’anah At-Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Muhammad Syata ad-Dimyati, dijelaskan mengenai kesunahan memperlonggar nafkah keluarga pada hari Asyuro’ yang berasal dari hadis Rasulullah Saw:

إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ صَوْمَ يَوِمٍ فِي السَّنَةِ، وَهُوَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَهُوَ الْيَوْمُ الْعَاشِرُ مِنَ الْمُحَرَّمِ – فَصُوْمُوْهُ وَوَسِّعُوْا عَلَى عِيَالِكُمْ فِيْهِ، فَإِنَّهُ مَنْ َوَسَّعَ فِيْهِ عَلَى عِيَالِهِ وَأَهْلِهِ مِنْ مَالِهِ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menfardhukan kepada bani Israilpuasa satu hari dalam setahun pada hari Asyuro’, yaitu hari ke sepuluh dari bulan Muharram. Maka dari itu hendaklah kalian berpuasa Asyuro’ dan lapangkanlah nafkah kalian pada hari itu. Karena sesungguhnya barang siapa yang melapangkan nafkah dirinya dan keluarganya dari hartanya sendiri pada hari Asyuro’ niscaya Allah akan melapangkan rizkinya di sepanjang tahun” (HR. Al-Baihaqi).[7]

Di dalam kitab I’anah At-Thalibin pula menyebutkan ada sekitar dua belas amal kebaikan yang dapat dilakukan untuk memuliakan hari Asyuro’, yakni salat, puasa, silaturrahim, sedekah, mandi, memakai celak, mengunjungi ulama, menjenguk saudara yang sakit, memberi kelonggaran nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat Al-Ikhlas seribu kali.

Namun dalam kelanjutannya, imam Al-Ajhuri berkomentar bahwa apa yang diriwayatkan berupa amalan-amalan yang dilakukan di hari Asyuro’ tidak ada yang Shahih kecuali hadis tentang puasa dan melonggarkan nafkah keluarga. Namun meskipun demikian, amaliah-amaliah tersebut tetap boleh dilaksanakan dengan memandang keumuman dalil yang menjadi dasar masing-masing. Karena kajian ini berputar dalam konteks Fadoilul a’mal (keutamaan-keutamaan beberapa amal), seandainya hadis yang digunakan adalah hadis Dhaif (lemah), hal itu tidak perlu dipermasalahkan.

Walhasil, sebagai hari yang mulia dan dimuliakan oleh syariat, sepatutnya umat Islam mengisi hari Asyuro’  dengan kegiatan positif yang mengandung unsur nilai ibadah. Berbagai macam amalan ibadah pun dapat dilakukan di hari tersebut. Karena yang terpenting adalah bagaimana bentuk penghormatan mereka terhadap sebuah kemuliaan yang sudah jelas dari syariat. Karena di dalam sikap mereka untuk menghormati dan memuliakan hari Asyuro’, Allah telah menjanjikan kemuliaan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.  [] waAllahu a’lam.

__________________

Referensi:

[1] Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 6 hal 439.

[2] Syarah An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, juz 1 hal 143.

[3] Syarah Az-Zirqani ‘ala Al-Muwattha’, juz 2 hal 262.

[4] Asna Al-Mathalib, juz 3 hal 73, cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.

[5] Fath Al-Bari, juz 11 hal 151.

[6] Al-Fatawa Al-Haditsiyyah, juz 1 hal 43.

[7] I’anah At-Thalibin, juz 2 hal 302.