HomeSantri MenulisMembongkar Permasalahan Cadar

Membongkar Permasalahan Cadar

0 12 likes 189 views share

Akhir-akhir ini perdebatan publik mengenai hukum bercadar untuk perempuan kembali muncul di permukaan. Polemik itu kembali mengemuka setelah beredarnya mengenai berita larangan bercadar yang dikeluarkan oleh salah satu perguruan tinggi islam ternama terhadap para mahasiswinya. Lazimnya kontroversi yang mencuat di jagad dunia maya, peraturan tersebut menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Perang pendapat argumentatif bertebaran dimana-mana, mulai dari ceramah, seminar, hingga postingan di media sosial. Sebagai pihak yang menjadi bahan perbincangan publik, perguruan tinggi Islam tersebut tak tinggal diam. Setalah melangsungkan rapat koordinasi universitas yang dilaksanakan pada sabtu kemarin (10/03), akhirnya peraturan tersebut dicabut demi menjaga iklim akademik yang kondusif.

Sungguh menjadi petaka besar, ketika masyarakat tidak bijaksana dan cerdas dalam menyikapi problematika seperti itu. Pasalnya, perdebatan argumen yang semacam ini ini sering kali dimasuki oleh kelompok-kelompok yang melontarkan pernyataan provokatif bahkan ujaran kebencian. Mereka memanfaatkan momentum ini untuk dijadikan tunggangan demi melancarkan misi memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat.

Maka dari itu, sangat diperlukan adanya kebijaksanaan dalam menanggapi permasalahan dan menghargai pendapat orang lain yang berseberangan, apalagi dalam persoalan khilafiyah. Karena yang menghadapi persoalan yang berskala demikian jangan sampai membawa dampak buruk di tengah-tengah masyarakat. Terlebih lagi sampai meruntuhkan rasa toleransi saling menghargai serta mengikis persatuan bangsa Indonesia.

Apakah Wajah Wanita Termasuk Aurat?

Pada dasarnya, perdebatan hukum di kalangan ulama mengenai bercadar ini mengekor pada perbedaan pendapat mengenai status aurat untuk perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Pendapat pertama mengatakan bahwa aurat perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya ialah seluruh tubuh. Pendapat ini adalah pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi’i. Sebagaimana ungkapan imam Khatib as-Syirbini dalam kitabnya, al-Iqna’:

أمَّا عَوْرَتُهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجْنَبِيِّ إلَيْهَا فَهِيَ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ، وَلَوْ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ

Sedang aurat perempuan di luar salat dari sudut pandang penglihatan lelaki lain kepada dirinya adalah seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, meskipun saat aman dari fitnah”. (lihat: al-Iqna’, I/450)

Pendapat ini juga didukung oleh madzhab Hanbali sebagaimana dalam sebuah keterangan:

وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهَا عَوْرَةٌ حَتَّى الظُّفْرَ

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya”. (lihat: al-Furu’, II/459)

Adapun pendapat lain mengatakan seluruh tubuh termasuk aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Ini adalah pendapat sebagian madzhab Syafi’i. Sebagaimana penjelasan lain yang dikemukakan oleh imam Khatib as-Syirbini dalam kitabnya, al-Iqna’:

وَقَالَ الرَّافِعِيُّ يَجُوزُ النَّظَرُ مِنْ الْأَجْنَبِيَّةِ لِوَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ وَكَذَا مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ

Imam ar-Rofi’i berkata: Boleh melihat wajah dan telapak tangan wanita lain dengan tanpa disertai gejolak syahwat, yang demikian juga merupakan madzhab Malikiyyah”. (lihat: al-Iqna’, I/449)

Pendapat yang mengatakan bahwa wajah perempuan tidak termasuk aurat ini juga didukung dalam madzhab Hanafiyah. Sebagaimana penjelasan:

وَجَمِيعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهَهَا وَكَفَيْهَا بَاطِنَهُمَا وَظَاهِرَهُمَا فِي الْأَصَحَّ وَهُوَ الْمُخْتَارُ

Seluruh bagian tubuh wanita merdeka termasuk aurat kecuali wajahnya dan kedua telapak tangan bagian dalam dan bagian luarnya, ini adalah pendapat paling shahih yang menjadi pilihan dalam madzhab kami”. (lihat: Maroqi al-Falah, hlm 91)

Hukum Cadar

Sebagian orang menilai, bercadar merupakan budaya arabisasi, terlalu ekstrim bahkan diklaim sebagai penganut paham radikal. Berbagai asumsi tersebut sungguh berlebihan. Karena pada dasarnya, sejak dulu para ulama telah membahas dan memperdebatkan persoalan ini, dan mereka tidak ada yang mengatakan bahwa cadar murni sebuah budaya.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa perdebatan mengenai hukum cadar ini berawal dari perbedaan para ulama mengenai status wajah perempuan di depan laki-laki yang bukan mahramnya, apakah tergolong aurat ataukah tidak. Dari perbedaan mengenai batas aurat tersebut dapat disimpulkan bahwa para ulama yang mengatakan wajah termasuk aurat mengatakan hukum bercadar adalah wajib sebagai langkah untuk menutupi aurat itu sendiri. Bahkan menurut imam Ibnu Qosim al-‘Ubadi yang menukil pendapat imam ar-Ramli dikatakan bahwa menutup wajah dihukumi wajib meskipun bukan aurat:

وَوُجُوبُ سَتْرِهِمَا فِي الْحَيَاةِ لَيْسَ لِكَوْنِهِمَا عَوْرَةً بَلْ لِكَوْنِ النَّظَرِ إلَيْهِمَا يُوقِعُ فِي الْفِتْنَةِ غَالِبًا شَرْحُ م ر اهـ سم

Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah”. (lihat: Hasyiyah as-Syarwani wa al-‘Ubadi, III/115)

Begitu juga sebaliknya, bahwa para ulama yang mengatakan wajah tidak termasuk aurat mengatakan hukum bercadar adalah tidak wajib. Sebagaimana keterangan yang disampaikan dalam kitab as-Syarh al-Kabir:

 (وَ) كُرِهَ (انْتِقَابُ امْرَأَةٍ) أَيْ تَغْطِيَةُ وَجْهِهَا بِالنِّقَابِ وَهُوَ مَا يَصِلُ لِلْعُيُونِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّهُ مِنْ الْغُلُوِّ وَالرَّجُلُ أَوْلَى مَا لَمْ يَكُنْ مِنْ قَوْمٍ عَادَتُهُمْ ذَلِكَ

Makruh bagi seorang perempuan menutup wajahnya dengan cadar yaitu penutup yang sampai mata saat salat, karena hal itu termasuk berlebihan, apalagi bagi lseorang aki-laki. Kemakruhan ini berlaku selama penggunaan cadar bukan bagian dari tradisi masyarakat setempat”. (lihat: as-Syarh al-Kabir, I/218)

Penjelasan tersebut ditegaskan kembali dalam kitab yang mengkomentarinya, yakni hasyiyah ad-Dasuqi. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa kemakruhan memakai cadar tersebut juga berlaku di luar salat. Pendapat mengatakan bahwa memakai cadar termasuk hal yang berlebihan dengan bertendensi bahwa tidak ada hadis yang secara spesifik menganjurkan penggunaan cadar. (lihat: Hasyiyah ad-Dasuqi, I/218).  []waAllahu a’lam

____________________________

Oleh: Nasikhun Amin, santri asal Pasuruan.