HomeDawuh MasyayikhMemiliki Santri Ibarat Rizki

Memiliki Santri Ibarat Rizki

0 7 likes 444 views share

Dalam pembukaan Bahtsul Masail Kubra (BMK) dan Bahtsul Masail Himasal kemarin (22/03), KH. M. Anwar Manshur, selaku pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo menyampaikan beberapa pesan untuk generasi penerus pendidikan salaf. Menurut beliau, membangun lembaga pendidikan berbasis salaf memiliki “rahasia” tersendiri. Tidak mudah dan tidak bisa sembarangan. Apalagi diteorikan.

“Pondok itu ndak bisa dibangun. Tidak seperti madrasah, kalau madrasah, kita membangun madrasah itu bisa. Kalau membangun pondok pesantren tidak bisa, (sebab itu merupakan) fadhlun minallah. Kalau sudah mendapat jatah mempunyai pondok, dimana saja akan diikuti santri. Beda dengan madrasah, kita bisa mendirikan madrasah (dimana saja). Maka sing nduwe pondok sing tenanan. Sebab itu amanah dari Allah, menyampaikan syari’at agama islam kepada masyarakat kita.” Tutur beliau.

Salah satu kelebihan Indonesia, menurut beliau, adalah mudah dan gampangnya menyebarkan ilmu. Siapapun bisa dan berhak menyebarkan ilmu yang dimiliki tanpa harus mengantongi izin dari pemerintah. Siapapun memiliki kebebasan untuk mengajar di institusi pendidikan yang dibangunnya tanpa ada aadministrasi yang berbelit-belit.

Sing akeh pondok pesantren yo ning Indonesia, sing paling akeh yo ndik Jowo. Di luar negeri jarang (ada) pondok pesantren yang seperti di Indonesia. Alhamdulillah, di Indonesia paling enak. membuat pendidikan di Indonesia paling enak. Tetangga kita saja, Malaysia, Singapura, membuat pendidikan harus ada izin dari pemerintah. Kalau tidak ada izin, dibubarkan. Seperti di Saudi Arabia, ora gampang wong mulang! Makanya kita sangat bersyukur sekali bertempat di suatu negara yang toleransi. Murah, ora enek wong nduwe pendidikan dilarang. Nek dilarang yo malah diperkoro.” (Kalau ada yang membuat pendidikan di Indonesia dan dilarang, justru akan menjadi masalah.) ungkap beliau.

Beliau juga berpesan, kepada segenap pengelola pendidikan untuk bisa menjaga kerukunan dan keharmonisan. Sebab menurut beliau, santri ibarat rizki yang diberikan oleh Allah SWT, dan bukan sesuatu yang bisa dicari. Santri akan datang sendiri, bukan dicari.

“Ojo tukaran! Santri dadi kiai kok tukaran. Kabeh nduwe jatah dewe-dewe. Wis koyo rizki ngoten niku, iki sugih yo ojo didrengkeni, iki ra patek nduwe yo ojo dilok-lokno. Dadi, santri niku koyo rizki, saestu niku. Nek rizkine santri katah, ndeliko nyangdi wae yo diuber kaleh santri.”

(Jangan sampai bertengkar, santri jadi kiai kok bertengkar. Semua sudah memiliki bagian masing-masing. Ibarat rizki, kalau ada yang kaya jangan dengki, dan kalau ada yang kurang mampu jangan dihina. Jadi, memiliki santri ibarat rizki. Kalau rizkinya santri banyak, sembunyi dimanapun akan dicari oleh santri.)

Terakhir, beliau menekankan tentang perlunya mengajar kepada siapapun, walaupun murid yang dididik hanyalah seorang anak kecil. Sebab, justru itulah salah satu yang paling besar pahalanya dimata Allah SWT.

“Min afdholil ‘ibâdah tarbiyyatul banin wal banât. Ngopeni bocah-bocah cilik sing durung iso salat, durung iso moco fatehah. Dibenerno salate, (dibenerno) fatehahe. Niku mni afdholil ‘ibâdah. Ojo disepelekno. Nek (bocah-bocah cilik) niku mboten diramut, dadi nopo niku mangke? Mulane diramut, men dadi wong sing ngerti ngibadah mangke dadi wong apik. Niku kewajiban awake dewe.”

(Termasuk ibadah yang paling utama adalah mendidik anak-anak. Memperhatikan anal-anak yang masih kecil, belum bisa salat, belum bisa membaca fatihah. Salatnya dibetulkan, fatihahnya dibetulkan. Itu termasuk ibafah yang paling utama. Jangan sampai disepelekan. Kalau anak-anak kaecil itu tidak dididik, jadi apa mereka nantinya? Maka dari itu, dididik, agar bisa menjadi orang yang tahu akan ibadah, dan kelak menjadi orang yang baik. Itulah kewajiban kita.)[]