364 views

Menengok Perjuangan Guru sebagai Pemompa Jiwa yang Lesu

Untuk melecutkan semangat dan pemompa gairah bagi para pelajar ilmu, kitab Haulaai’ Masyayikhina karya Ustadz Musa Attamani ini sangat cocok sekali. Kitab ini berisi perjalanan ilmiah dari para kiai Nusantara dan dilengkapi cerita mengenai akhlak mua’lif, serta karomah yang didapatkan di masa-masa belajarnya.

Bermula dari banyaknya pelajar Indonesia yang mencari ilmu di luar negeri kemudian ketika pulang kampung, mereka menulis buku yang memuat kisah ulama dan guru-guru mereka di sana dengan menggunakan bahasa Indonesia, menjadi tantangan mu’alif sendiri untuk mengumpulkan kisah teladan ulama Nusantara dalam sebentuk buku berbahasa Arab.

Tak bisa dipungkiri, kontribusi dan dedikasi ulama Nusantara terhadap negara sangat besar. Maka sudah sepatutnya, perjuangan beliau diabadikan dalam sebuah tulisan agar menjadi cermin masa lalu yang akan membantu menata kehidupan generasi setelahnya.

Disamping itu—diharapkan dengan menuliskannya—cerita tentang ulama Nusantara tidak menjadi usang bagai doa yang kehilangan makna sebab ditinggal oleh kereta waktu.

Salah satu tokoh ulama Nusantara yang mu’alif tulis dalam kitab ini adalah biografi Syaikhona Kholil. Ulama asal Bangkalan, Madura, yang banyak melahirkan ulama-ulama kondang seantero Nusantara ini diungkapkan bahwa beliau mempunyai banyak karomah.\

Kisah dalam kitab Haulaai’ Masyayikhina

Dikisahkan bahwa dulu, setiap hari banyak tamu yang berkunjung ke rumahnya. Pernah pada suatu malam dengan cuaca yang memburuk, yang disertai hujan lebat, tiba-tiba ada orang tua renta yang lumpuh—berjalan merangkak di halaman kediaman beliau, hendak sowan.

Syaikhona yang melihat orang tua itu lantas berkata pada para santri; “Siapa yang ingin menggendong orang tua itu?” Salah satu santri beliau menjawab; “Saya mau menggendongnya, yai.” Lalu santri tersebut menggendong orang tua itu melewati hujan lebat menuju ke kediaman Syaikhona Kholil.

Sesampainya di kediaman beliau, syaikhona Kholil menyambut hangat dan memuliakan tamu tersebut. Setelah selesai berbincang-bincang, orang itu pamit. Lantas syaikhona Kholil berkata lagi pada santrinya; “Siapa yang ingin menggedong orang tua ini sampai kerumahnya?” Salah satu santri yang menggendongnya tadi menjawab; “Saya, yai.”

Sekembalinya santri dari mengantar orang tua tersebut, Syaikhona Kholil dawuh pada para santri; “Saksikanlah, bahwa semua ilmuku telah diserap oleh santri ini.”

Setelah kejadian tersebut, Syaikhona menjelaskan bahwa orang tua yang lumpuh tadi adalah Nabiyullah Khidir as. Sedang santri yang menggendong orang tua itu kelak menjadi Rois Akbar Jam’iyyah Nahdlotul Ulama yang tidak lain adalah Hadratus syaikh Hasyim Asy’ari. (hlm. 9)

Keunggulan kitab Haulaai’ Masyayikhina

Kitab Haulaai’ Masyayikhina merupakan kitab yang sangat bagus, karena penyampaian dalam menuliskan kitab tersebut menggunakan kosa kata yang ringan dan disajikan dengan strukur bahasa yang mudah dipahami oleh para santri.

Kitab ini bisa menjadi sarana dakwah kepada masyarakat umum untuk menularkan kebaikan. Kisah-kisah di dalamnya juga mengajarkan tentang etos dalam belajar dan berbudi pekerti yang baik, apalagi ditambahkan juga tentang kisah hidup ulama yang sudah barang tentu akan memperhalus hati dan kepekaan sosial.

Kitab ini bisa dikatakan ringkas dan praktis, namun sangat kaya dengan hikmah dan teladan.

Judul Kitab: هؤلآء مشايخنا
Penulis: Ustadz Musa Musthofa Attamani
Penerbit: Maktabah Ad-Dhihan
Tebal: 40 Halaman

Peresensi: A. Yusa Zamzami

baca juga: Resensi Kitab Minhaj At-Thalibin
tonton juga: Filosofi Ngadep Dampar KH. Abdul Karim | KH. A. Habibullah Zaini

Menengok Perjuangan Guru sebagai Pemompa Jiwa yang Lesu
Menengok Perjuangan Guru sebagai Pemompa Jiwa yang Lesu

2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.