HomeArtikelMengapa Harus Fiqih Muamalah?

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

0 1 likes 288 views share

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan kehidupan, seakan tidak memberi peluang celah sedikitpun untuk meloloskan perkara tanpa sentuhan hukum syariat. Selain mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Islam juga mengatur hubungan horisontal antar sesama manusia. Maka dari sinilah muncul istilah Fiqih Muamalah yang merupakan implementasi dari hubungan antar manusia tersebut.

Dalam term Fiqih klasik, Fiqih Muamalah menempati tangga urutan kedua setelah pembahasan mengenai praktek ibadah sehari-hari (‘Ubudiyah). Hal ini bukan berarti tanpa dasar, mayoritas para ulama berargumen bahwa hubungan muamalah antar manusia merupakan kebutuhan sekunder yang paling dibutuhkan setelah kebutuhan primer untuk beribadah kepada Tuhannya. Bahkan seluruh pembahasan Fiqih Muamalah telah mencakup seperempat dari semua pembahasan mengenai Ilmu Fiqih.

Urgensitas Fiqih Muamalah

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”, (QS. An-Nisa’: 29).

Islam memiliki perhatian serius terhadap dinamika sosial dan ekonomi umat. Sebab, aktivitas sosial-ekonomi merupakan salah satu pilar dari enam asas primer kehidupan (Al-Mabadi’ As-Sittah) yang menjadi cita-cita Islam (Maqashid As-Syari’ah), dimana Islam hadir untuk melindunginya. Yaitu perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din), perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs), perlindungan intelektual (Hifdhu Al-‘Aqli), perlindungan garis keturunan (Hifdhu An-Nasli), perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal), dan perlindungan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Proyek dari perhatian serius yang diberikan Islam terhadap aktivitas sosial dan ekonomi adalah melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Secara pengertian sederhana, dapat dipahamai bahwa Fiqih Muamalah merupakan sebuah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (maslahat), serta menjauhkan segala kemadaratan yang akan menimpa mereka.

Esensi dan konsep interaksi sosial-ekonomi (Muamalah) yang ditawarkan oleh Islam bukanlah sistem yang berorientasi pada kalkulasi antara untung dan rugi belaka, seperti esensi dari konsep yang ditawarkan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya melahirkan kesenjangan sosial semata. Namun, konsep muamalah yang diusung Islam adalah konsep hubungan interaksi dalam kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan.

Konsep kajian muamalah ini dapat dibuktikan dengan model kajian dan aturan yang dibahas di dalamnya. Seperti pelarangan praktek riba yang menindas, praktek manipulasi (Gharar) yang merugikan, praktek perjudian (Qimar) yang kotor, serta praktek spekulasi (Majhul) yang tidak jelas. Karena pada dasarnya, Islam melalui kajian Fiqih Muamalah melandaskan legalitas di setiap interaksinya, yang mana hal tersebut didasari atas saling rela dari pihak yang melakukan transaksi (An Taradlin). Sebagaimana sebuah hadis:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya Akad Jual-Beli hanya dilandasi saling rela”, (HR. Ibnu Majah).

Dari uraian tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa pemahaman, pengamalan, dan penyebaran Fiqih Muamalah menjadi suatu yang mendesak untuk saat ini.  Fiqih Muamalah merupakan solusi dan inovasi mutakhir di tengah kegersangan spiritual ekonomi umat. Karena prinsip dasar yang ditanamkan Islam dalam proyek membumikan Fiqih Muamalah adalah sukarela (Taradlin), keadilan (Ta’adul), saling membantu (Ta’awun), dan menciptakan kemaslahatan global (Rahmatan lil ‘alamin).

[]waAllahu a’lam