HomeArtikelMengenal Ciri-ciri Haji Mabrur

Mengenal Ciri-ciri Haji Mabrur

Artikel 0 4 likes 833 views share

Sebagai penyempurna rukun Islam, semua orang yang telah melaksanakan ibadah haji juga menginginkan hajinya menjadi haji yang mabrur. Sebuah predikat yang menjadi hak prerogatif Allah untuk hambanya yang telah menunaikan ibadah haji. Dalam beberapa hadisnya, Rasulullah Saw. pernah menjelaskan keutamaan-keutamaan haji mabrur. Seperti hadis populer yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari:

وَالحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ

Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur selain surga”. (HR. al-Bukhari)[1]

Pakar hadis kenamaan, Ibnu Hajar al-‘Asqolani, mengartikan haji mabrur sebagai bentuk ibadah haji yang diterima atau haji yang tidak tercampur dengan perbuatan dosa.[2] Sehingga tak heran Rasulullah Saw. menjelaskan apabila Allah Swt. membalas ibadah haji yang  mabrur dengan surga.

Namun pada kenyataannya, tidak semua orang yang pernah berhaji memiliki predikat haji mabrur. Karena ada beberapa ketentuan dan ciri-ciri khusus yang dimilikinya. Adapun ciri-ciri haji mabrur adalah terbentuknya akhlak yang terpuji dan meningkatnya rasa takwa bagi seseorang yang telah menunaikan haji. Sebagaimana penjelasan imam al-Khawash yang dikutib al-Habib Abdurrahman al-Masyhur dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin:

 قَالَ الْخَوَّاصُ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ عَلَامَاتِ قَبُوْلِ حَجِّ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ خُلِعَ عَلَيْهِ خِلْعَةَ الرِّضَا عَنْهُ أَنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْحَجِّ وَهُوَ مُتَخَلِّقٌ بِالْأَخْلَاقِ الْمُحَمَّدِيَّةِ لَا يَكَادُ يَقَعُ فِيْ ذَنْبٍ وَلَا يَرَى نَفْسَهُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللهِ وَلَا يُزَاحِمُ عَلَى شَيْئٍ مِنْ أُمُوْرِ الدُّنْيَا حَتَى يَمُوْتَ

Imam al-Khawash berkata, di antara tanda-tanda seseorang yang ibadah hajinya diterima ialah bahwa dirinya telah membuka pintu ridho, sehingga ia kembali (dari haji) dengan memiliki perilaku terpuji, tidak mudah melakukan dosa, tidak menganggap dirinya lebih baik atas makhluk Allah yang lain, dan tidak berlomba-lomba dalam urusan dunia sampai ia meninggal dunia”.[3]

Dengan demikian, tak diragukan lagi bahwa predikat haji mabrur bukanlah hal yang remeh. Tak heran semua orang yang telah menunaikan ibadah haji berlomba-lomba memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, baik yang berkaitan dengan amal ibadah maupun etika sosial kemasyarakatan. Karena pada dasarnya, haji mabrur tidak hanya memberikan kebaikan untuk orang yang mendapatkannya. Akan tetapi juga memberi dampak kebaikan untuk masyarakat di sekitarnya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Bukhari,Shahih al-Bukhari, vol. 3 hal. 2

[2] Ibnu Hajar al-‘Asqalani,Fath al-Bari, vol. 1 hal. 87, Maktabah Syamilah

[3] Abdurrahman al-Masyhur,Buhyah al-Mustarsyidin, hal. 187 cet. Darul Fikr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.