Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Oleh: A. Zaeni Misbaahuddin A*

Kajian tafsir di pesantren bukanlah hal yang asing bagi kita, terlebih di Pondok Lirboyo tercinta ini. Bagaimana tidak? Sejak tingkatan Aliyah kita sudah dijejali dengan Itmam al-Dirayah gubahan Imam as-Suyuthi. Meski kitabnya tergolong tipis tapi tidak dengan isinya.

Para Masyayikh pun turut serta membacakan Tafsir al-Jalalain karya monumental dari dua “Jalal”—guru dan murid—yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi. Hal ini merupakan tradisi yang sudah mengakar di pesantren, mengaji dengan sistem bandongan; yakni sang Kyai membaca dan santri memaknai kitabnya dengan makna gandul. Ini menandakan bagitu eratnya hubungan santri dengan kitab-kitab tafsir.

Di tingakatan Ma’had Aly yang notabene merupakan jenjang tertinggi di Lirboyo, kita dikenalkan dengan mustholahah tafsir yang lebih konkret dan komprehensif yaitu at-Tahbir fi Ilmi Tafsir karangan Jalaluddin as-Suyuti. Di dalamnya dijelaskan apa itu muthlaq, muqoyyad, munasabah, dan apa itu muthobaqoh beserta contoh-contohnya secara rinci.
Kemudian terdapat kitab Mukhtasor Tafsir Ayat al-Ahkam yang biasa disingkat MTA. Ini adalah ringkasan dari Rawa’i al-Bayan karya mufassir kontemporer kenamaan asal Makkah, Ali al-Shabuni. Kitab ini bisa dikatakan paling lengkap dan sistematis dalam penulisannya. Sebab, isinya tidak hanya menafsiri ayat al-Qur’an secara tekstual, melainkan ada uraian lafadh (tahlil al-Lafdzi), sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) yang diselaraskan dengan dalil-dalil hukum fikih. Terkadang juga menanggapi isu-isu kekinian. semisal teori evolusinya Charles Darwin, isu poligami, dan lain-lain.

Definisi Tafsir

Menurut Ibn ‘Athiyyah dalam kitabnya al-Muharrar al-Wajiz, ilmu tafsir secara etimologi adalah derivasi dari masdar ‘fassara’ yang bermakna ‘jelas’ (idloh) dan ‘menjelaskan’ (al-Bayan). Sedangkan menurut terminologi adalah disiplin ilmu yang membahas teknis mengucapkan lafad-lafad al-Qur’an, madlul, hukum, tarkib, serta maknanya.
Az-Zarkasyi, sebagaimana dikutip dalam Majma’ al-Zawaid mendefinisikan ilmu tafsir dengan ilmu yang digunakan untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna dan hukum-hukumnya. Berlandaskan ilmu bahasa, nahwu, shorof, ilmu balaghah, ushul fikih, qiraat, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, dan seperangkat disiplin ilmu lainnya.

Corak Metode Penafsiran

Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D (Rais Syuriah PCINU Australia dan New Zealand serta Dosen Senior di Monash Law School Australia), atau yang akrab dengan sapaan Gus Nadir ini, dalam bukunya: Tafsir al-Qur’an di Medsos, memberikan gambaran kepada kita secara umum terdapat dua metode tafsir dalam Islam. Yakni tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra’yi.

1. Tafsir bir Riwayah

Tafsir bir riwayah maksudnya adalah tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadis. Isi tafsir dengan metode ini penuh dengan riwayat hadis dan jarang sekali pengarang tafsir menaruh pemikirannya. Tafsir ath-Thobari misalnya, dianggap mewakili corak penafsiran model ini.
Dari model tafsir bir riwayah dikelompokkan lagi menjadi dua macam bentuk penafsiran; yakni tafsir at-tahlili, artinya mufassir (ahli tafsir) memulai kitab tafsirnya dari al-Fatihah sampai surah an-Nas. Ia uraiankan sesuai urutan surah dalam al-Qur’an. Selanjutnya adalah tafsir maudhu’i (tematik). Artinya mufassir tidak memulai dari surah pertama sampai surah ke-114, tetapi memilih satu tema dalam al-Qur’an untuk kemudian menghimpun seluruh ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tersebut.

2. Tafsir bir Ra’yi

Dari namanya saja terlihat jelas bahwa tafsir model ini kebalikan dari tafsir bir riwayah, ia lebih menitikberatkan pada pemahaman akal (ra’yu) dalam memahami kandungan nash. Tetap saja ia memakai ayat dan hadis, tetapi porsinya lebih pada akal. Contoh tafsir model ini adalah Tafsir al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari dari kalangan Mu’tazilah, Tafsir al-Manar karangan Rasyid Ridho dan lain-lain.

Jika ingin kita pilah lagi, maka tafsir model ini terbagi menjadi tiga. Pertama, tafsir bil ‘ilmi (seperti menafsirkan fenomena alam dengan merujuk ayat al-Qur’an). Kedua, tafsir falsafi (menggunakan pisau filsafat untuk membedah ayat al-Qur’an). Ketiga, tafsir sastra (lebih menekankan aspek sastra dari ayat al-Qur’an). Ketiga model penafsiran ini dapat kita temukan di kalangan kontemporer baru-baru ini.

Pengelompokkan Kitab-Kitab Tafsir

Secara garis besar, ada dua pengelompokkan kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh kalangan mufassirin. Pertama, salaf (klasik). Kedua khalaf (modern).

Salaf

Corak penafsiran dengan gaya salaf bisa kita temukan dalam Tafsir ar-Razi karya Fakhruddin ar-Razi, Tahrir wa at-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur, Tafsir Ibn Katsir karya Ibu Katsir, Tafsir al-Qurtubhi karya al-Qurtubhi, Tafsir al-Khozin karya al-Khozin, Tafsir Fathul Qodir karya al-Syaukani, Tafsir al-Baidhowi karya al-Baidhowi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir ibn Abbas karya Ibn Abbas, Tafsir ath-Thobari karya ibn Jarir ath-Thobari, Tafsir at-Tsa’labi karya at-Tsa’labi, Tafsir al-Qosimi karya Al-Qosmi, Tafsir al-Mawardi karya Abu Hasan Ali al-Mawardi, Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir Ruh al-Ma’ani karya al-Alusi, Tafsir Bahrul Ulum karya al-Samarqandi, dan masih banyak yang lainnya.

Khalaf

Sedangakan corak penafsiran dengan gaya khalaf (modern), bisa kita temukan dalam Tafsir al-Munir, karangan ulama kenamaan asal Syiria, Wahbah al-Zuhaili, dan Tafsir al-Wasit yang berdasarkan kajian tafsir beliau lewat radio di Damaskus, Suriah. Dapat kita temukan pula dalam Shafwatut Tafaasir karya Ali as-Shobuni, Zahrat at-Tafsir-nya Muhammad Abu Zahrah, seorang ulama terkemuka dari Mesir. Tafsir al-Wasit gubahan Sayyid Thantowi yang semasa hidupnya pernah menjadi Grand Syaikh Al-Azhar, serta Tafsir as-Say’rawi karya Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi. Di Indonesia sendiri ada Tafsir al-Misbah karya Habib Prof. Dr. Quraisy Shihab dan lain sebagainya.

Demikian sederet kitab-kitab tafsir yang dipelajari di pesantren. Ini menandakan luasnya khazanah keilmuan pesantren. Khususnya dalam bidang mustholahah tafsir al-Qur’an. Terlebih di pesantren tidak hanya mempelajari tafsirnya saja, melainkan juga nahwu shorof, balaghoh dan ushul fikih sebagai piranti untuk memahami al-Qur’an.

Kesimpulan

Walhasil, kaum sarungan dalam hal ini memiliki transmisi keilmuan yang jelas serta kredibilitasnya tak perlu diragukan lagi. Fenomena munculnya ustadz-ustadz virtual yang serampangan dalam menafsiri serta menjelaskan al-Qur’an patut kita sayangkan. Mereka tidak pernah mengenyam bangku pesantren, bahkan hanya bermodalkan terjemahan saja. Konten-konten dakwah yang semestinya diisi oleh orang yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas yang mumpuni seperti kalangan santri ini malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, sudah saatnya santri mengisi dan meramaikan konten-konten di medsos guna men-counter ideologi yang tidak sesuai dengan manhaj ulama nusantara.

*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester III-IV bagian C 02, asal Purwakarta, Jawa Barat yang juga menjabat sekretaris tim FKI.

Baca juga:
NGAJI TAFSIR; MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT

Simak juga:
Dawuh Masyayikh

# Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren # Mengenal Studi Tafsir di Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.