HomeDawuh MasyayikhMengenang Kiai Abdul Aziz Manshur

Mengenang Kiai Abdul Aziz Manshur

0 3 likes 1.9K views share

KH. Ahmad Mustofa Bisri menulis dalam akun Facebooknya, “Usianya kira-kira sepantaran denganku. Pernah sebentar akrab di Pesantren Lirboyo Kediri, sebelum aku pulang dan pindah ke Krapyak Yogja. Orangnya ganteng. Pintar. Lembut. Belakangan sering ketemu sudah menjadi tokoh ulama yang kiprahnya tidak terbatas sekitar pesantren. Terakhir menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Hari ini aku kaget mendengar KH. Abdul Aziz Mansur, adik KH. Anwar Mansur Lirboyo itu wafat. Innã liLlãhi wainnã ilaiHi rãji’ün. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzuulahu wa wassi’ madkhalahu waja’alil jannata matsaah… Al-Faatihah.”

“Kiai A. Aziz Mansur, seorang kiai pengasuh pesantren Paculgowang, Jombang yang polos dan ‘terjebak’ menjadi politisi demi kemaslahatan umat sesuai ijtihadnya.”

Salah seorang menantu KH. M. Abdul Aziz Manshur menulis:

Semasa kecilnya, saat Kiai Abdul Aziz Manshur di Lirboyo sering memperhatikan kakek sekaligus gurunya, KH. Abdul Karim atau Mbah Manaf. Dilihatnya sang kakek tidak pernah tidur di malam hari. Selesai memberikan pengajian kepada para santri, sang kakek selalu saja menghabiskan malamnya dengan shalat sunnah dan berdzikir hingga pagi. Jika pun tidur, sangat sebentar.

Karena penasaran lalu Aziz kecil pun dengan polos bertanya kepada ibunya, Nyai Salamah, yang merupakan putri KH. Abdul Karim. “Mak, Mbah iku nek mbengi kok gak tau turu to Mak? (Mak, Kakek kalau malam kok tidak pernah tidur)”.

“Iyo Le, Mbahmu eling oleh titipan anake wong sak pirang-pirang. Gak wani turu nek durung ndongakno santri-santri. (Iya Nak, Kakekmu selalu ingat mendapat titipan anaknya orang banyak. Tidak berani tidur kalau belum mendoakan santri-santri)”, jawab sang bunda.