Pada malam Jum’at, 23 April 2026 acara Haul ke 68 Almarhumah Almaghfurlaha Nyai Hj.Dlomroh Abdul Karim binti KH. Soleh berlangsung di Aula Al-Muktamar Ponpes Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur. Dalam acara tersebut ada sesi manaqib Nyai Hj. Dlomroh oleh KH. M. Anwar Manshur dan KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Berikut adalah beberapa manaqib yang merekam jejak kisah keteladanan beliau.
Manaqib Nyai Dlomroh yang Pertama
Oleh: KH. Abdullah Kafabihi Mahrus
KH. Abdul Karim itu sosok yang selalu bersyukur. Sedangkan Nyai Dlomroh adalah sosok yang sabar
Sabar tambah syukur kalau digabung maka hidupnya akan barokah. Sebab orang tidak lepas dari mendapatkan nikmat, mendapat cobaan. Hanya saja kita yang tidak bisa mengerti kalau di situ ada kebaikan.
Baca juga: Sejarah Pensyariatan dan Keutamaan Ibadah Haji
Nyai Dlomroh itu sosok yang penyabar. Saking sabarnya, suatu hari beliau hendak mencari ekonomi ke pasar. Namun, Nyai Yuhanid sang ibu menasehati
“Kamu jangan repot-repot cari ma’isyah. Kelak nanti menantumu adalah orang yang alim-alim”.
Mendengar hal itu akhirnya beliau tidak jadi berbisnis dan memilih tetap istiqomah mendampingi KH. Abdul Karim dan santri-santrinya. Dan benar saja, di kemudian hari beliau mendapatkan menantu yang alim-alim.
Menantu pertama beliau adalah K. Abdullah Siroj, kemudian Kiai Mansur, Kiai Jauhari, Kiai Marzuqi, Kiai Mahrus Aly dan Kiai Zaini Krapyak.
Bahkan yang mencari menantu adalah Mbah Nyai Dlomroh langsung. Beliau juga di antara maisyah-nya itu, di lirboyo dulu ada banyak pohon kelapa. Tanah Lirboyo itu tirkah (harta tinggalan) dari Mbah Nyai Dlomroh yang kemudian diwarisi putri-putrinya dan diwakafkan menjadi Pondok Lirboyo.
Baca juga: KH. Nurul Huda: Wasiat KH. A. Idris kepada Pengajar
Nyai Dlomroh, Teladan Bermasyarakat
Dalam bermasyarakat Nyai Dlomroh itu senang bersosialisai dengan masyarakat. Hal ini senada dengan sebuah hadits yang bunyinya
عليكم بالجماعة
“Berpegang teguhlah pada jama’ah”
Ini supaya kalian senantiasa berkumpul dengan ahlul khoir (orang baik), dengan orang-orang yang bertakwa. Dalam keterangan selanjutnya mengatakan:
أي لأن أمان الله و خفظه و رعايته في الجماعة
“Yakni sebab perlindungan, penjagaan dan pertolongan Allah itu ada di dalam jama’ah”
Sebab itulah kita mendapat perintah bersosialisasi kepada orang soleh, muttaqin. Mudahnya, karena pertolongan Allah diperuntukkan bagi orang-orang yang mau berkumpul, rukun dan hidup gotong royong.
Mbah Nyai Dlomroh meninggalkan jariyah yang amat besar yaitu Ponpes Lirboyo yang sampai saat ini terus berkembang diteruskan anak cucunya. Ini merupakan anugerah Allah Swt. Dan santri-santri Lirboyo itu bisa memberi manfaat kepada orang lain. Pun sebaliknya, banyak juga orang-orang yang merasakan manfaat dari keberadaan Lirboyo. Santrinya KH. Abdul Karim itu ada di mana-mana.
Kemudian, di antara haibah atau wibawanya KH. Abdul Karim, orang tua saya, KH. Mahrus Aly itu sampai tidak berani apabila meninggal kemudian dimakamkan dengan makam beliau. Beliau takut. Sebenarnya tidak berani.
Semoga kita semuanya kelak berkumpul bersama beliau dan diakui sebagai santrinya.
Baca juga: Keutamaan Asmaul Husna: Dzikir Seribu Manfaat
Manaqib Nyai Dlomroh yang kedua
Selanjutnya, manaqib kedua Nyai Dlomroh oleh KH. M. Anwar Manshur besertaan dengan doa penutup.
Mbah Nyai Dlomroh itu ketika ngopeni (merawat) santri sangat sungguh-sungguh.
Seingat saya, dulu itu Mbah Nyai Dlomroh tidak pernah tidur malam. Beliau selalu berjaga di bagian depan ndalem. Zaman itu banyak maling. Beliau malah yang justru jaga maling sampai subuh menjelang. Dengan keprihatinan semacam inilah beliau nirakati pondok dan anak cucunya.
Dan masih banyak lagi kisah beliau yang tidak bisa saya sampaikan.
Dan juga tidak lupa, Pondok Pesantren Lirboyo sekarang bisa sebesar ini pun adalah karena jasa beliau.
Teruntuk beliau, Nyai Hj. Dlomroh, laha Al-Fatihah…
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo
