Mengenang Romo KH. Ahmad Idris Marzuqi Lirboyo

Mbah Idris Lirboyo

Oleh: Dr. KH. A. Fahrur Rozi, S.Ag, M.Pd.I

Menjelang haul guru mulia almarhum Romo KH Ahmad Idris Marzuqi yang wafat pada tanggal 10 Sya’ban 1435 Hijriah. Saya ingin menuliskan sebagian kenangan indah hidup bersama almarhum sejak pertama bertemu ketika di awal mondok di Lirboyo tahun 1986 dan berkhidmat melayani almaghfurlah hingga akhir hayatnya.

Bermula dari ketika saya usai menamatkan pendidikan di MTs Annur Bululawang Malang, ayah memutuskan agar saya melanjutkan mondok di pesantren diniyah salafiyah saja. Meskipun sesungguhnya saya ingin mondok dan sekolah formal di Pondok Pesantren Almunawwir Krapyak Yogjakarta, ayah saya memberikan pilihan hanya tiga pesantren; Lirboyo, Ploso dan Sidogiri Pasuruan.

Takdir ternyata menuntun saya memilih mondok di Lirboyo sesuai istikharah ibunda. Sehingga kemudian diputuskan untuk berangkat mondok ke Lirboyo Kediri dengan diantar oleh almarhum ayah dan kakek saya sowan kepada RKH Ahmad Idris Marzuqi, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo saat itu dan para pengasuh lain.

Pertama kali bertemu Kiai Idris di ndalem sepuh, saya melihat sosoknya sebagai kiai yang ramah, sederhana, khusu’ dan tawadlu. Almaghfurlah menggunakan bahasa Jawa halus dan sangat menghormati tamu. Ciri khas sederhana itulah penampakan Pesantren Lirboyo yang pertama saya lihat, sungguh di luar ekspektasi; ketika harus mandi menimba sendiri di sumur senggot, selalu memakai sarung, tidak pernah pakai celana atau bersepatu. Sekolah pun duduk di lantai tanpa meja dan bangku.

Ayah saya sangat memegang tradisi menghormati kiai. Saat kembali ke pondok di awal tahun ajaran baru, selalu menyempatkan diri untuk mengantar saya kembali ke pondok pesantren dan sowan kepada kiai. Pernah suatu ketika ayahanda sakit dan saya mohon izin untuk kembali ke pondok pesantren sendiri, tapi dilarang dengan berkata: “Jangan nak, kamu harus saya antar sendiri sowan kepada kiai. Saya pasrahkan agar di doakan oleh kiai.”

Karena itulah hubungan keluarga saya menjadi sangat dekat dengan kiai,  hingga kemudian bertakdir dijodohkan dengan salah satu keponakan kiai, dan adik kandung saya juga menjadi salah satu menantu keponakan.

Hubungan yang lebih dekat lagi ketika Muktamar NU di Lirboyo tahun 1999. Ketika itu saya berhasil membawa 15 unit mobil sedan baru untuk membantu akomodasi muktamar yang dipinjamkan oleh sebuah perusahaan otomotif kenalan dari Jakarta. Kala itu muktamar memilih KH A Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kebetulan Kiai Hasyim adalah murid kesayangan almarhum kakek, RKH Anwar Nur, Pendiri Pondok Pesantren Annur Bululawang Malang. Dan hal ini membuat saya sering diperintah menjadi penghubung antara beliau selaku Ketum PBNU dengan guru saya alm RKH Ahmad Idris Marzuki dan para kiai sepuh pengasuh pesantren salaf lain.

Dulu, setelah dari tamat dari Pesantren Gontor, Kiai Hasyim dititipkan oleh KH Muchith Muzadi kepada Mbah Anwar kakek saya di Bululawang. Mbah Kiai Muchit Muzadi  pernah guyonan kepada saya: “Dulu kalau Hasyim ngga aku titipkan kepada kakekmu mungkin sudah menjadi Muhammadiyah.”

Alhamdulillah, sejak setelah muktamar itu saya sering diutus menyertai berbagai perjalanan Kiai Idris baik di dalam maupun luar negeri. Saat almarhum Romo Kiai  Idris menjadi Rais PBNU, Wakil Ketua Dewan Syuro Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan terakhir sebagai Musytasyar PBNU, saya dengan senang hati sering menjadi khadim perjalanannya. Seringkali kami tinggal menginap sekamar bersama berhari-hari bahkan kadang beberapa pekan. Dalam perjalanan rutin tugas di Jakarta dan juga di berbagai kota dan negara lain di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, China, Hongkong, Mesir, Saudi Arabia, Yaman, Maroko, Dubai, Yordania dan Palestina.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.