Menghargai Perbedaan Pendapat

Menghargai Perbedaan

Menghargai Perbedaan Pendapat: Refleksi Keteladanan Ulama Salaf
Penulis: A. Zaeini Misbaahuddin Asyu’ari*

            Perbedaan adalah keniscayaan hidup. Merasa kekurangan juga adalah sifat yang melekat pada makhluk. Semua perbedaan bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan pertentangan. Semua kekurangan bila tidak dilengkapi, akan menimbulkan kepincangan. Sebaliknya, bila ditangani dengan bijaksana, perbedaan itu akan melahirkan keharmonisan yang pada gilirannya dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang dirasakan.

            Salah satu perbedaan yang merupakan keniscayaan adalah perbedaan pendapat dalam berbagai bidang, termasuk agama dan pemahamannya, tidak terkecuali agama Islam. Para Ulama dan pemikir Islam semuanya merujuk pada sumber otoritatif yakni al-Quran dan hadis. Kendati kedua sumber primer tersebut diakui kebenarannya, tetapi banyak ayatnya yang multi tafsir. Hadis Nabi Saw. pun demikian ada yang diterima kesahihannya dan ada yang tidak. Oleh karena itulah, ini semua pasti menimbulkan perbedaan  yang bila tidak disikapi dengan bijak akan melahirkan perpecahan, bahkan permusuhan dan pengafiran.

            Di era kini, masih banyak kita jumpai kalangan yang menentang kebijakan seorang pemimpin, seolah semua yang berasal darinya dianggap salah semua. Adapula yang mencemooh pendapat seorang ulama, hanya karena satu atau dua fatwanya tidak ia setujui, semua fatwanyapun ditolak, semua karya maupun ceramahnya diacuhkan, bahkan mendengar namanya saja sudah membikin tensi darah naik. Ada lagi teman sebaya yang kalau sudah berbeda pandangan dengan kita entah karena obrolan ringan mengenai pilkada ataupun debat panas soal agama langsung dimasukkan ke hati. Akhirnya, orang jadi takut untuk berbeda pandangan karena akan merusak ikatan pertemanan yang sudah terjalin. Terlalu terbawa perasaan jadinya.

            Maka dari itu, perlu kiranya untuk merefleksikan kembali potret keteladanan sikap yang dicontohkan oleh para ulama generasi salaf, ketika terjadi perbedaan pendapat.

Refleksi

            Alkisah, saat Imam asy-Syafii berziarah ke makam Imam Abu Hanifah, dan tiba waktunya salat, asy-Syafii tidak mengangkat tangannya saat takbir. Atau, dalam riwayat lain dikatakan bahwa ini kejadian ketika salat subuh sehingga Imam asy-Syafii tidak membaca doa qunut. Ini jelas menyalahi pendapatnya sendiri yang menyunahkan membaca qunut. Alasannya ialah menghormati shahibul maqam yakni Imam Abu Hanifah yang tidak membaca qunut. “Kita bisa tetap bersaudara meski kita berbeda pendapat.” Ujar asy-Syafii.

            Imam asy-Syafii Rahimahullah begitu menghormati ragam perbedaan pendapat, beliau pada suatu kesempatan pernah berujar:

رَأْيِيْ صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِيْ خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَوَابَ.

Pendapatku benar, namun masih ada potensi salah. Dan pendapat selainku salah tapi masih ada kemungkinan benar.

            Imam Malik Rahimahullah juga pernah menolak keinginan penguasa pada masanya yang hendak mewajibkan karya monumentalnya al-Muwatha sebagai satu-satunya rujukan. Bahkan ulama yang selama puluhan tahun meneliti itu, bersedia mengamalkan pendapat ulama lain.

            Pada suatu ketika, pernah dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz: “Seandainya saja kamu satukan manusia dalam satu paham.” Ia pun berkata: “Tidaklah menggembirakanku jika mereka tidak berbeda pendapat.” Lantas ia menulis surat ke seluruh penjuru daerah agar setiap kaum menggunakan hukum dengan apa yang disepakati oleh para ahli fikih daerah masing-masing.

            Seorang pembaharu (mujaddid) Islam asal Mesir, Syaikh Rasyid Ridha (w. 1354 H) mengungkapkan perkataan indah: “Mari kita bekerja sama pada hal-hal yang kita sepakati, dan saling menghormati pada hal-hal yang kita berbeda pandangan.”

Kesimpulan

            Perbedaan merupakan sunnatullah, karenanya perkhilafan dan perbedaan pendapat di kalangan ummat maupun ulama adalah suatu kewajaran dan keniscayaan, tidak perlu untuk di besar-besarkan, setiap persepsi dan polemik harus kita redam sebisa mungkin. Sebagaimana sabda Nabi Saw.:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.