HomePojok LirboyoMengubah Pancasila, Pergi Saja!

Mengubah Pancasila, Pergi Saja!

0 4 likes 891 views share

LirboyoNet, Kediri – Pemuda, oleh siapapun ia dilahirkan, adalah harapan bagi bangsanya.  Ketika ia baik, cerahlah masa depan bangsanya. Ketika ia tumbuh menjadi apatis -acuh tak acuh dan tak peka terhadap alur hidup masyarakatnya- bangsanya jelas sedang mengalami masa kritis.  Milla, salah satu aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kediri meresahkan hal ini.

KH. M. Anwar Iskandar juga sempat merasa pesimis. Beliau melihat jauhnya anak-anak muda sekarang dengan wawasan kebangsaan. Faktanya, banyak ditemukan para pelajar maupun tokoh terpandang yang tidak hafal dasar-dasar negara, bahkan Pancasila.

“Namun, saat Gus Said (Agus Said Ridlwan, salah satu dzuriyah PP Lirboyo, -red) mendatangi saya, saya optimis. Dialog kebangsaan yang beliau tawarkan perlu dikembangkan dengan serius. Terutama, karena Indonesia sekarang digerogoti aliran-aliran radikal. Ini sangat mengkhawatirkan,” terang beliau saat memberikan ceramah ilmiah di Masjid Agung Kota Kediri, Rabu kemarin (18/05).

Pemuda sekarang, sebut Yai War (sapaan karib beliau), harus mendewasakan diri dalam melihat dirinya sebagai bangsa. Mereka harus aktif dalam forum-forum perdamaian. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), semisal. “Dengan selalu aktif, pada saatnya kalian akan menjadi besar dan berguna bagi bangsa,” harap beliau.

Mereka harus sadar, bahwa dalam berbagai hal mereka boleh berbeda. “Warna kulit, asal daerah, kaya-miskin, latar belakang pendidikan, agama bahkan, boleh kalian tidak sama. Tapi bangsa harus diperjuangkan bersama. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika mutlak harus disepakati bersama,” tegas pengasuh PP Al-Amin, Ngasinan Kediri itu.

Bela bangsa berada pada posisi tertinggi dalam Islam. Terlepas dari maudlu’ tidaknya, hadits ‘hubbul wathan minal iman,’ banyak mendapat respon positif dari ulama salaf dalam diskursus yang mereka tawarkan, baik lewat turats (kitab-kitab) mereka maupun pendapat para murid. Ketika ia menjadi bagian dari syarat keimanan, maka bela bangsa juga berarti bagian dari ibadah. Dalam tingkat yang lebih serius, ia menjadi inti dari ibadah.

“Ini (bela bangsa) telah dielaborasi oleh sayyid Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi dalam kitabnya, Bughyatul Mustarsyidin. Allah mewajibkan hambanya untuk menjaga kulliyatul khoms,” lanjut beliau. Kulliyatul Khoms (Lima Tema Besar) itu adalah: al dien (agama); al ‘aql (akal); al maal (harta); al nasl (keturunan); dan al ‘irdl (harga diri).

Dalam syarahnya, harta paling berharga yang dimiliki seorang muslim adalah bangsanya. Dan harga diri yang paling mahal adalah harga diri sebagai anak bangsa. Dengan berpegangan kepada tema besar ini, muslim Indonesia sudah mempunyai alasan yang lebih dari cukup untuk memperkukuh Nusantara.

Alasan ini juga yang membuat para ulama Nusantara dahulu mempertaruhkan nyawa dalam perang melawan penjajah. “Kiai dahulu, melempar segenggam kacang hijau, berubah jadi tentara, senjata, peluru. Kiai Abbas Buntet Cirebon dahulu, nyebul (meniup) ke arah pesawat, langsung jatuh. Kalau kiai sekarang? Tidak ada. Sudah kebanyakan main HP semua,” canda beliau.

Jihad yang dilakukan ulama dahulu, memang orientasinya pertaruhan nyawa. Itu lebih karena Indonesia dalam suasana darul harbi, daerah yang sedang dilanda perang. Maka perjuangan yang dilakukan mau tak mau harus dengan mengangkat senjata.

Indonesia sekarang memerlukan banyak pejuang dalam banyak ranah. Perang bukan lagi jalan untuk berbenah. Pendidikan, ekonomi, kesehatan dan puluhan spektrum lainnya membutuhkan peran dari para pemuda. “Jangan mudah tersulut ide-ide anarkis. Khilafah dan semacamnya adalah ide yang harus ditolak. Jangan tersibukkan dengan hal-hal seperti itu. Arah pandang kalian harus lebih jauh dari itu.”

Dialog kebangsaan siang itu bertema “Bersama Meneguhkan Bela Negara untuk Memperkokoh NKRI”. Dua tokoh diundang sebagai pemateri, yakni KH. M. Anwar Iskandar dan Kapolres Kota Kediri, AKBP Bambang Widjanarko, S.IK, M.Si.

Keduanya mencoba memberikan pengertian kepada peserta, bahwa radikalisme adalah racun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak masuk akal jika mereka, pembawa paham radikal itu, menolak Pancasila berdasar pada Alquran. “Dari sila pertama sampai sila kelima, samasekali tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Justru kelima-limanya selaras dengan ayat-ayat ‘Alquran. Sila keempat misalnya. ‘Wa amruhum syuraa bainahum’. Yang lain masih banyak.”

“Keadilan sosial juga disinggung oleh Rasulullah. ‘wa man kafar? Ya Allah, apakah rizki juga untuk orang kafir?’. ‘Benar. Qalilun umatti’uhum. Tapi sedikit yang aku berikan kepada mereka.’ Jangan iri kepada mereka yang kaya. Wong mereka mau bekerja keras. Kalau malas saja, ya jangan protes,” imbuh Yai War. Dalam sebuah atsar (cerita shahabat), terang bahwa rizki yang besar adalah keberuntungan di akhirat kelak. Sementara segala kenikmatan yang ada di dunia hanya dianggap sedikit, bahkan hina.

Seminar ini diadakan oleh Yayasan Sosial Kemasyarakatan Mujtaba, dengan Agus Sa’id Ridlwan sebagai penasehatnya. Para tokoh muda Kota Kediri hadir dalam acara itu, termasuk santri pondok di Kota Kediri perwakilan IPNU-IPPNU, GP Ansor, Banser, pengurus PCNU dan beberapa anggota polisi.

Di akhir pertemuan, tokoh yang sering berkunjung ke berbagai pelosok Nusantara untuk memperkuat kebangsaan masyarakat Indonesia ini berpesan, “Negara Indonesia dan Pancasila sudah final. Jangan coba-coba mengubah Pancasila. Jika sudah tidak ingin menghargai Pancasila, pergi saja dari Indonesia!”][