HomeAngkringMenuju Haul Mbah Yai A. Idris Marzuqi

Menuju Haul Mbah Yai A. Idris Marzuqi

0 9 likes 136 views share

Diantara ketawadluan Syaikhuna KH.Ahmad Idris Marzuqi adalah kebiasaan beliau yang selalu menggunakan bahasa Jawa halus saat berdialog langsung dengan santri, bahkan dengan santri yang junior sekalipun.

Saat sidang kwartal MHM yang dihadiri para asatidz, pernah beliau mengajak para ustadz untuk mengikuti manhaj Imam Algozali dalam memandang murid. yakni seoarang guru juga harus bisa menghormati siswanya karena : “Kalau tidak ada mereka, kita itu bukan apa-apa”, bukankah seseorang bisa terhormat dengan sebutan dan kehormatan sebagai Guru, Ustadz dll juga karena ada murid.

Saat didawuhi noto kitab-kitab di ndalem,Pernah ada seseorang yang sowan meminta arahan tentang keinginan untuk mengikuti dalam amalan yang jelas-jelas dilarang secara tertulis oleh masyayikh lirboyo. Beliau tidak marah dan bersikap keras, tapi  Beliau melarang dg halus  “Nek sholawat niku sae, sing boten sae niku iftiro’e” (kebohongan/ pengakuan) sambil mencontohkan diantara beberapa iftiro’nya. Mungkin sikap halus dan ketawaduan terhadap tamu yang dahaga pencerahan inilah yang membuatnya bisa taslim dan menerima dengan legowo arahan dari Beliau.

Biasanya saat awal tahun ajaran kami bersama sahabat-sahabat mustahiq seangkatan selalu sowan halal bi halal sekaligus memohon doa restu dan arahan, diantara yg sering Beliau pesankan saat sowan adalah agar kami lebih perhatian terhadap siswa-siswa yang lemah akalnya tapi punya semangat kuat dan Istiqomah dalam belajar. Siswa seperti itu harus dinaikan kelas walau nilainya minim, harus dibesarkan hatinya, kalau perlu nilainya dalam rapot ditambah biar senang. Beliau meyakinkan kepada kami bahwa santri yang seperti itu saat dirumah kadang lebih berkah/manfaat ilmunya dibanding yang pinter-pinter.

Itulah diantara ketawadluan Beliau terhadap para santri, orang yang bertanya mencari pencerahan dan santri yg lemah kefahaman/santri jimat.

Sikap Beliau ini,mengingatkan kita pada salah satu syamail Nabawiyah :

كان رسول الله صلى الله عليه واله وسلم أتم ما يكون تواضعا للمتعلم والسائل المستفيد والضعيف الفهم

“Keadaan tawadluk Rosululloh SAW yang paling sempurna adalah terhadap orang yang mencari ilmu, orang yang bertanya meminta pencerahan dan orang yang lemah kefahaman”

Imam Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dawuh :

فما من خلق في البرية محمود إلا وهو متلقى عن زين الوجود

“Tiada akhlaq indah dalam diri manusia kecuali diwariskan dari Nabi Sang Perhiasan alam semesta”

صلى الله عليه واله وصحبه وسلم .

Cerita dari Kiyai Ali Khidir Mustahiq Tamatan MHM 2014