HomeAngkringMenyambut Dzulhijjah

Menyambut Dzulhijjah

0 0 likes 183 views share

Berlalunya bulan Dzulqa’dah, dan datangnya bulan Dzulhijjah menjadi kebahagaiaan tersendiri. Bulan Dzulhijjah dikenal sejak dulu sebagai bulan haji. Orang berbondong-bondong menuju tanah suci dalam satu gerakan, untuk merengkuh satu harapan yang sama. Memasrahkan diri kepada pemilik semesta dengan segala kelemahan diri, dan berharap cucuran rahmat, terkabulnya segala doa, serta tak lupa diampuninya segala dosa.

Bulan Dzulhijjah memiliki banyak keistimewaan tersendiri, selain karena hitungan hari didalamnya disebut oleh Allah SWT dalam Alquran, wal fajr, wa layalin ‘ashr, bulan Dzulhijjah juga memiliki hari istimewa, hari Arafah. Hari yang disebut-sebut sebagai hari terbaik dalam setahun. Hari dimana didengarkannya beragam keluh kesah, dan diijabahinya beragam doa. Hari dimana para jemaah haji mencapai puncak ibadah haji mereka. Mereka dikumpulkan dalam satu tempat, dalam satu padang, penuh harap apa yang menjadi keinginan dan harapan segera menjadi kenyataan.

Allah SWT berfirman, dalam surat At-Taubah:36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Banyak peristiwa besar terjadi pada bulan Dzulhijjah. Seperti diampuninya Nabi Adam AS, dikabulkannya doa Nabi Yunus AS ketika berada dalam perut ikan paus, ditutupnya pintu neraka jahannam hingga melewati hari kesepuluh, kelahiran Nabi Isa AS, dan Nabi Musa AS. Serta masih banyak lagi peristiwa besar dan bersejarah lain yang terjadi pada bulan ini.

Amaliah Puasa pada Bulan Dzulhijjah

Banyak sekali amalan khusus yang dapat dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Baik berupa doa, takbir pada malam hari raya, ataupun yang sangat identik adalah haji dan berkurban. Salah satu amalan lain yang juga sangat dianjurkan adalah puasa. Puasa sunnah dilakukan sejak hari pertama memasuki bulan Dzulhijjah, hingga tiba hari Arafah. Puasa yang dilakukan berturut-turut selama sembilan hari ini memiliki pahala yang sangat besar. Sabda Nabi Muhammad SAW, setiap puasa satu hari sebanding dengan pahala satu tahun. Sementara qiyamul lail, atau menghidupkan malam hari dengan beribadah pada malam-malam tersebut ibarat qiyamul lail pada malam lailatul qadr.

(مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الترمذي، والبزار، وابن ماجه من طريق أبي بكر بن نافع البصري

“Tidak ada hari yang lebih disukai Allah untuk beribadah kepada-Nya kecuali sepuluh hari bulan Dzilhijjah. Puasa tiap hari didalamnya sama dengan puasa selama satu tahun. Dan menghidupkan malam-malam dengan beribadah didalamnya sama dengan menghidupkan malam lailatul qadr.” (HR. Turmudzi, Bazzar dan Ibn Majah)

Ada pula ulama yang mampu menyingkap sepuluh rahasia dari puasa pada permulaan hari bulan Dzulhijjah ini, yaitu diberi keberkahan didalam umur, bertambahnya harta yang dimiliki, terjaganya sanak keluarga, terleburnya keburukan-keburukan, dilipat gandakannya kebaikan-kebaikan, dimudahkan dalam sakaratul maut, diterangi saat gelapnya kubur, memberatkan timbangan amal kelak, diberi keselamatan kelak, dan dinaikkan derajatnya.[1]

Ada pula hari tarwiyyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah, dimana berpuasa pada hari itu sama bisa menghapus dosa selama setahun penuh. Dan puasa hari Arafah yang mana puasa pada hari hari  tersebut bisa mengapus dosa-dosa selama dua tahun penuh.  Sesuai sabda Nabi,

(صَوْم يَوْم عَرَفَة يكفِّر سنتَيْن مَاضِيَة ومستقبلة، وَصَوْم يَوْم عَاشُورَاء يكفر سنة مَاضِيَة (أخرجه مسلمٌ في «الصيام»  مِنْ حديثِ أبي قتادة الأنصاريِّ رضي الله عنه

“Puasa pada hari Arafah bisa menghapus dosa selama dua tahun yang telah lalu dan yang akan datang. Dan puasa hari ‘Asyura bisa menghapus dosa selamaaa satu tahun.” (HR. Muslim)

Namun hadis tentang puasa tarwiyah oleh para ulama derajatnya dinilai maudhu’ (hadis buatan). Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Dailami di kitabnya Musnad Firdaus (2/248).  Namun kita masih tetap sunnah berpuasa pada hari tersebut, mengingat hadis puasa tarwiyyah hanya sebatas fadhoilul a’mal. Ditambah lagi pada hadis sebelumnya, Rasulullah menganjurkan untuk berpuasa penuh selama sembilan hari. Termasuk hari tarwiyyah.

 

 

[1] Durratun nashihin 280, dar ihya kutub ‘arobiyyah.