HomeArtikelMenyambut Rabi’ul Awwal; Menyambut Lahirnya Nabi

Menyambut Rabi’ul Awwal; Menyambut Lahirnya Nabi

0 6 likes 711 views share

Datang satu lagi bulan yang penuh berkah. Bukan hanya bagi umat islam, berkah juga terasa bagi bagi non muslim; datangnya bulan Rabi’ul Awwal. Bulan Rabi’ul Awwal adalah salah satu bulan yang penuh sejarah. Dimana pada bulan tersebut, nabi besar Muhammad SAW dilahirkan. Beliau lahir pada 12 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tahun 570 M. Kesaksian bahwa beliau hadir membawa keberkahan kepada semesta alam tertera dalam firman Allah SWT, QS. Al-Anbiya ayat 107, “Aku tidaklah mengutus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam”.

Tidak disebutkan amalan dan doa khusus pada bulan Rabi’ul Awwal. Kita hanya tetap dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak bacaan sholawat, mengenang jasa-jasa beliau nabi, dan membacakan berbagai macam kitab maulid. Seperti yang biasa terlaku di masyarakat Indonesia, adalah pembacaan kitab Maulid Al-Barzanji, dan Maulid Al-Dibâ’i.

Bacaan Maulid bukanlah termasuk perbuatan bid’ah yang tercela. Justru bacaan Maulid termasuk bid’ah hasanah. Imam Ibn Hajar pernah ditanyai perihal maulid. Beliau menjawab, “Hukum asal maulid memang bid’ah, tidak pernah dilakukan ulama salaf sejak abad ke tiga. Akan tetapi maulid memiliki kebaikan-kebaikan, dan sebaliknya. Barang siapa yang bisa memiliah melakukan maulid dengan tujuan kebaikan-kebaikannya, maka termasuk tindakan yang bid’ah hasanah.”[1] Yang dimaksud “dan sebaliknya” dibalik kutipan Imam Ibn Hajar adalah kemungkaran dalam acara maulid. Bukan karena apa-apa, namun karena dalam pembacaan maulid mempergunakan alat-alat musik yang diharamkan. Artinya, jika maulid yang kita lakukan adalah tanpa menggunakan alat musik yang dilarang agama, maka sah-sah saja. Bahkan baik, menurut Imam Ibn Hajar.

Kita tentu ingat kisah Abu Lahab, salah satu musuh besar islam. Ada seorang yang pernah bermimpi bertemu dengannya. Orang tersebut menanyakan kabar Abu Lahab, “Didalam neraka” jawab Abu Lahab, “akan tetapi siksaanku diringankan setiap malam senin. Dan aku bisa menyesap air yang keluar dari sela-sela ujung jariku. Hal ini disebabkan aku dulu memerdekakan Tsaubiyah ketika dia memberiku berita bahagia kelahiran Nabi Muhammad, dan ia menyusuinya”. Ibn Jazari berkomentar, “Kalau Abu Lahab yang kafir, dan Alquran turun mencelanya saja diringankan siksanya di neraka karena bahagia ketika malam kelahiran nabi,maka bagaimana keadaan umat muslim yang senantiasa bertauhid? Ia berbahagia akan kelahiran nabi, dan melakukan apa yang ia mampu untuk menunjukkan kecintaannya. Demi umurku, balasannya dari Allah adalah atas karunia-Nya, dimasukkan kedalam surga”.[2]

Sejarah kitab maulid tidak bisa dilepaskan dengan kitab Tanwîr: Fî Maulid Al-Sirâj Al-Munîr. Konon, kitab tersebut adalah kitab maulid yang pertama kali ada. Menurut cerita, kitab itu khusus dihadiahlan kepada Malik Mudhoffar Abu Sa’îd yang menguasai tanah Irbil[3]. Pengarangnya, Al-Hafidz Ibn Dahiyyah. Seorang ulama yang hidup sekitar 850 tahun silam. Beliau menyusun dan menghadiahkan kitab tersebut, karena tahu Malik Mudhoffar amat bahagia  dengan perayaan maulid nabi. Beliaulah yang membacakan sendiri kitab ini dihadapan Malik Mudhoffar. Syahdan, saking bahagianya, Malik Mudhoffar menghadiahkan untuk Ibn Dahiyyah uang sebesar seribu dinar. Jumlah yang saking besarnya, menurut pengarang kitab Kasyf Dzunûn, tak pernah dihadiahkan olehMalik Mudhoffar kepada siapapun selain Ibn Dahiyyah.

Dus, akhirnya banyak yang mengikuti jejak Ibn Dahiyyah. Orang-orang mulai berbondong-bondong menyusun kitab maulid. Ada yang hadir dalam bentuk untaian nadzam, kalam natsar, ada yang bentuknya panjang, dan ada yang ringkas. Mereka membacakan kitab-kitab maulid tersebut pada malam kelahiran nabi, tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Lalu, karena mengharap berkah, lama kelamaan kitab-kitab maulid dibaca tidak hanya pada malam maulid saja, tapi juga terus dibaca sepanjang bulan Rabi’ul Awwal. Bahkan ada yang membacanya sepanjang tahun, tanpa mengenal bulan.[4]

Guru Imam Nawawi, Syaikh Abu Syâmah, juga menyinggung mengenai maulid nabi. “Sebagian diantara bid’ah hasanah di zaman kita, adalah apa yang biasanya dilakukan setiap tahun, pada waktu yang bertepatan dengan hari kelahiran nabi. Seperti sedekah, berbuat baik, berhias, dan berbahagia. Hal tersebut, selain memiliki dampak positif bagi orang-orang faqir, tapi juga menjadi isyarat atas bukti kecintaan terhadap nabi, bukti mengagungkan nabi dihati, dan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah atas salah satu anugrah-Nya, megutus serorang rasul. Rasul yang menjadi rahmat bagi semesta alam.[5]

Ditambahi oleh Ibn Jauzi, “Sebagian dari khususiyyah maulid, adalah terciptanya aman ditahun tersebut, dan disegerakan mendapat kebahagian dengan tercapainya tujuan[6].[]

 

[1] Husnul Maqshad fi ‘amalil maulid. Hal 18.

[2] Ibn Jazary, ‘Urfu Ta’rîf bil maulid al-syarîf.

[3] Sebuah kota yang berjarak 80 KM dari barat Mosul.

[4] Periksa : Kanzun Najah wa Surûr. Hal 131-132. Dan Wafiyâtul A’yan hal 449 jilid 3.

[5] Al-Bâ’is ‘ala Inkâri Al-Bida’ wal Hawadis.

[6] Ibn Jauzi, Sabilul Huda wa Al-Rosyad, jilid 1. Hal 439.