Menyimak Sisi Kemunduran Islam

Zaman kejayaan Islam, yang kalau di hitung-hitung di mulai pada tahun 750 hingga 1258 masehi. Di kurun  tahun tersebut, lingkungan kehidupan dunia islam begitu gegap gempita dalam semarak laku agama, sosial, keilmuan, politik dan sebagainya. Berlomba dalam kebaikan sangat di prioritaskan, bebas dalam berpikir dan berpendapat mendapatkan tempat yang nyaman, sehingga tak heran sempalan islam pada waktu ini amat riuh bertumbuhan.

Di zaman ini Kontribusi islam dan sumbangsihnya dalam berbagai bidang menghiasi catatan sejarah. Pemberdayaan kualitas umatnya dalam hal keilmuan sangat di perhatikan. hasilnya, sampai sekarang, di dunia modern, pondasi-pondasi keilmuan masih banyak berpijak dari polesan awal pemikiran cendekiawan muslim.

Setelah berakhirnya  masa kejayaan ini, dalam konteks yang sama, umat islam bisa di bilang mati suri,  hingga sekarang umat islam masih terpesona dan silau dengan produk-produk pemikiran dan hasil karya barat. Impor besar-besaran masih menguasai perilaku kita. Tak tanggung-tanggung, Dalam segala hal.

Termasuk yang tidak bisa kita pungkiri, tentang pengimporan produk dari barat ini, adalah budaya. Yang meliputi nilai-nilai etikanya, norma-norma sosialnya, politik, hingga agama.

Sebenarnya tidaklah mengapa mencontoh negara lain dari segi budayanya. Katakanlah semisal kita meniru bangsa barat yang on time dalam hal perkara apapun. Hanya saja ketika yang di comot adalah  hal negatifnya menurut budaya lokalnya, dan  di benturkan dengan  corak lingkungannya, dalam hal ini berarti bangsa  Timur, yang tidak hanya berbeda dari sudut geografisnya, tapi juga salah satunya, bangsa timur di kenal dengan hospitality atau keramahtamahannya, akan menimbulkan kerancauan dan memburamkan identitas pencomotnya.

Imbasnya, -setidaknya menurut saya- orang akan kurang mengenal jati dirinya, yang tidak hanya dari internalnya saja, tapi juga ekternalnya (lingkungan), Ruh kebangsaannya akan keropos, dan yang lebih menghawatirkan, laku peribadatannya tidak sampai menyentuh pada karakter pemeluknya.

Mengamati kemunduran umat islam, yang kita tahu, hal ini terjadi di semua lini kehidupan dan zamannya.

Tahun masa keemasan islam di atas bertolak pada zaman kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang mana jelas sekali sejarah mencatatkan prestasi gemilang daulah yang di dirikan Abu al-Abbas ini.

Lebih-lebih pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-makmun. Semua sektor dari kehidupan rakyatnya di perhatikan. Dari sisi pendidikan, mereka tidak segan menyewa tenaga ahli dari luar islam untuk penerjemahan besar-besaran karya-karya dari bangsa lain. ekonomi, kesejahteraan rakyat, militer dan banyak hal lainnya yang tidak luput menjadi perhatian penguasa kala itu.

Setelah hancurnya khilafah Abbasiyah ini, tepatnya di tahun 1258 M dengan banyak faktor yang melemahkannya, surut pulalah peran islam dalam kiprahnya di kancah dunia.

 

 

Di sini tidak hendak memperpanjang mengulas masa jaya islam tempo lalu –yang mungkin bikin sesak saja — sekadar cerminan untuk kita yang hidup berabad kemudian, yang di kata orang adalah zaman modern.zaman yang menjadikan pemodal sebagai rajanya. Raja yang tidak bermahkota. Namun kekuasaannya ada meliputi dunia manapun dan kehendak bagaimanapun.

Mengulang menceritakan dan mendendangkan lagu kejayaan tempoe doeloe meski juga bisa mendorong kita untuk berkembang namun juga menjadi pemanis buatan, guna menghilangkan rasa pahit yang cekat di tenggorokan. Manisnya, jika di gunakan pada taraf tidak sewajarnya  akan membahayakan tubuh. Pun pula dengan kondisi seperti sekarang ini. Jika terlalu lama terlena, atau bahkan bersikap apatis dengan keadaan, kita lihat di kemudian hari efek negatifnya.

Bangsa kita sebagai bangsa yang Bhineka sudah berpuluh tahun hidup dengan menentukan nasibnya sendiri –katanya-,  setelah ber-abad lamanya berada dalam cengkeraman penjajah.

Hidup dengan pilihannya sendiri tidaklah seharusnya  berarti hidup yang tak perlu campur tangan orang lain ia akan bisa hidup, akan tetapi hendaknya berarti sebuah pola laku hidup yang ‘asing’  bisa masuk untuk hanya sebagai mitra keberhasilannya belaka, bukan menjadikannya layaknya nafas sebuah kehidupan, sehingga akan ‘mati’ siapa yang tak menghirupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.