HomeArtikelMenyimak Sisi Kemunduran Islam

Menyimak Sisi Kemunduran Islam

0 1 likes 246 views share

Zaman kejayaan Islam, yang kalau di hitung-hitung di mulai pada tahun 750 hingga 1258 masehi. Di kurun  tahun tersebut, lingkungan kehidupan dunia islam begitu gegap gempita dalam semarak laku agama, sosial, keilmuan, politik dan sebagainya. Berlomba dalam kebaikan sangat di prioritaskan, bebas dalam berpikir dan berpendapat mendapatkan tempat yang nyaman, sehingga tak heran sempalan islam pada waktu ini amat riuh bertumbuhan.

Di zaman ini Kontribusi islam dan sumbangsihnya dalam berbagai bidang menghiasi catatan sejarah. Pemberdayaan kualitas umatnya dalam hal keilmuan sangat di perhatikan. hasilnya, sampai sekarang, di dunia modern, pondasi-pondasi keilmuan masih banyak berpijak dari polesan awal pemikiran cendekiawan muslim.

Setelah berakhirnya  masa kejayaan ini, dalam konteks yang sama, umat islam bisa di bilang mati suri,  hingga sekarang umat islam masih terpesona dan silau dengan produk-produk pemikiran dan hasil karya barat. Impor besar-besaran masih menguasai perilaku kita. Tak tanggung-tanggung, Dalam segala hal.

Termasuk yang tidak bisa kita pungkiri, tentang pengimporan produk dari barat ini, adalah budaya. Yang meliputi nilai-nilai etikanya, norma-norma sosialnya, politik, hingga agama.

Sebenarnya tidaklah mengapa mencontoh negara lain dari segi budayanya. Katakanlah semisal kita meniru bangsa barat yang on time dalam hal perkara apapun. Hanya saja ketika yang di comot adalah  hal negatifnya menurut budaya lokalnya, dan  di benturkan dengan  corak lingkungannya, dalam hal ini berarti bangsa  Timur, yang tidak hanya berbeda dari sudut geografisnya, tapi juga salah satunya, bangsa timur di kenal dengan hospitality atau keramahtamahannya, akan menimbulkan kerancauan dan memburamkan identitas pencomotnya.

Imbasnya, -setidaknya menurut saya- orang akan kurang mengenal jati dirinya, yang tidak hanya dari internalnya saja, tapi juga ekternalnya (lingkungan), Ruh kebangsaannya akan keropos, dan yang lebih menghawatirkan, laku peribadatannya tidak sampai menyentuh pada karakter pemeluknya.

Mengamati kemunduran umat islam, yang kita tahu, hal ini terjadi di semua lini kehidupan dan zamannya.

Tahun masa keemasan islam di atas bertolak pada zaman kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang mana jelas sekali sejarah mencatatkan prestasi gemilang daulah yang di dirikan Abu al-Abbas ini.

Lebih-lebih pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan al-makmun. Semua sektor dari kehidupan rakyatnya di perhatikan. Dari sisi pendidikan, mereka tidak segan menyewa tenaga ahli dari luar islam untuk penerjemahan besar-besaran karya-karya dari bangsa lain. ekonomi, kesejahteraan rakyat, militer dan banyak hal lainnya yang tidak luput menjadi perhatian penguasa kala itu.

Setelah hancurnya khilafah Abbasiyah ini, tepatnya di tahun 1258 M dengan banyak faktor yang melemahkannya, surut pulalah peran islam dalam kiprahnya di kancah dunia.

 

 

Di sini tidak hendak memperpanjang mengulas masa jaya islam tempo lalu –yang mungkin bikin sesak saja — sekadar cerminan untuk kita yang hidup berabad kemudian, yang di kata orang adalah zaman modern.zaman yang menjadikan pemodal sebagai rajanya. Raja yang tidak bermahkota. Namun kekuasaannya ada meliputi dunia manapun dan kehendak bagaimanapun.

Mengulang menceritakan dan mendendangkan lagu kejayaan tempoe doeloe meski juga bisa mendorong kita untuk berkembang namun juga menjadi pemanis buatan, guna menghilangkan rasa pahit yang cekat di tenggorokan. Manisnya, jika di gunakan pada taraf tidak sewajarnya  akan membahayakan tubuh. Pun pula dengan kondisi seperti sekarang ini. Jika terlalu lama terlena, atau bahkan bersikap apatis dengan keadaan, kita lihat di kemudian hari efek negatifnya.

Bangsa kita sebagai bangsa yang Bhineka sudah berpuluh tahun hidup dengan menentukan nasibnya sendiri –katanya-,  setelah ber-abad lamanya berada dalam cengkeraman penjajah.

Hidup dengan pilihannya sendiri tidaklah seharusnya  berarti hidup yang tak perlu campur tangan orang lain ia akan bisa hidup, akan tetapi hendaknya berarti sebuah pola laku hidup yang ‘asing’  bisa masuk untuk hanya sebagai mitra keberhasilannya belaka, bukan menjadikannya layaknya nafas sebuah kehidupan, sehingga akan ‘mati’ siapa yang tak menghirupnya.

Sudah sejak berabad lamanya   kita – orang islam- dalam kelezatan menikmati hasil keringat karya  orang di luar golongannya, seakan produk pemikiran mereka menjadi candu bagi kita yang ternyata dengan suka rela sebagai konsumen tetapnya.

Menyangkut hal ini, ahli bidang tafsir ternama kepunyaan indonesia, Dr. M Quraish shihab, dalam kumpulan makalah dan ceramahnya yang telah di bukukan, Membumikan Al-Quran,  mencoba meniti jalur perjalanan kiprah umat islam dan pengaruhnya yang mulai mengendor, di sertai dengan praduga kemerosotannya.

Beliau mengawali dengan mengatakan bahwa umat ini mengalami kemunduran dan tantangan terberatnya pada kisaran awal  abad 19, di mana pada tahun ini terjadi kemunduran ekstrim pada umat islam dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi, militer, budaya dan banyak hal lain terutama keilmuan. Yang mana penyebab kuatnya di mulai dari konflik hebat yang di alami oleh Gereja dan Ilmuan.

Gereja yang selalu memaksakan apapun  pendapatnya kepada seluruh umatnya, dengan berpijak pada penafsiran al-kitab yang di buat-buat sendiri. Sehingga kewenangan mutlaknya akan menjatuhkan hukuman kepada siapapun yang menentang atau tidak sepaham dengan gereja.

Tak pelak,para Ilmuan yang selalu melakukan riset dan mengutamakan pembenaran nalar-ilmiah menjadi korban sikap keras pihak gereja, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer dan lainnya. Yang ternyata temuan Ilmuan-Ilmuan tadi banyak yang berseberangan dengan pendapat yang di demonstrasikan oleh gereja.

Seperti permasalahan badai, petir ataupun halilintar, pihak gereja berpendapat kalau bahwa semua itu merupakan ulah iblis, mereka meyakini, dengan memukul loncengmerupakan senjata ampuh untuk menangkan iblis yang berulah ini. Kemudian pada tahun 1752 muncul Benjamin Franklin yang menemukan teori bahwa petir itu hanyalah percikan listrik di angkasa.

Hal demikian ini agaknya sedikit banyak juga masuk dan mempengaruhi pikiran cendekiawan muslim. Mereka bertindak sangat hati-hati dalam riset. Kalau ternyata mencapai sebuah titik temu, segera akan di carikan ayatnya untuk pendukung,

 

Betapapun, tidak menyadari atau lupa untuk menyadari, hingga sekarang kita masih berada dalam kondisi ini. Bagaimana tidak, setiap harinya kita masih bergantungan ciptaan luar, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tak peduli itu kebutuhan primer lebih-lebih sekunder. Di sana-sini rasa lemah diri selalu membayangi umat ini. Perasaan inferior masih begitu kuatnya untuk di cabut. Penyakit semacam ini akan berdampak begitu buruk jika terlalu lama kita idap. Kematian pikiran akan semakin kuat membayangi. Kendali dan peran asing terhadap kita terlampau untuk di cegah.

Di lain sisi ada semangat luar biasa dari golongan tertentu untuk mencoba mengajak umat untuk terus maju dan mencoba mengimbangi dominasi barat. Ada juga yang dengan rela melepas-totalkan kemampuannya dan dengan santainya menikmati posisinya  tanpa ada tekanan batin. Atau sikap yang sedang-sedang saja, mengajak untuk tetap menerima apupun yang masuk dari luar selagi baik  dan tetap memegang kendali sosial-budayanya.

Kita hendaknya jangan menjadikan hadis yang menerangkan bahwa “sebaik-baiknya kurun adalah kurunku dan para sahabatku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya” sebagai alasan semua ini. Karena sangat tidak bijak serlkali. Yang berarti juga mengesampingkan ayat “ allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubahnya sendiri”.

Meskipun toh tembok pemisah dalam hal prestasi dan capaian antara kita dan mereka begitu tebal, tapi bukan halangan untuk mendobraknya. Kita hanya mungkin masih menunggu formula jitu untuk membalik  semua kondisi ini.

Jawaban sementara yang kiranya pas, seperti yang di sitir Qurais Shihab, untuk menanggapi temuan-temuan baru Barat, ketika di cari ada keterangan ayat yang mendukungnya adalah : “Al-quran sudah sejak lama mengemukakan, sejak sekian abad yang lalu.”

Sekalipun ini akan membuat penemunya tersenyum getir, dan berakata “ kenapa tidak dari dulu tuan-tuan katakan kepada kami, sehingga kami tidak perlu capek-capek meneliti bertahun-tahun?”

 

di telaah ulang dari berbagai referensi