HomeAngkringMuallaf Berkat Asyura’

Muallaf Berkat Asyura’

0 0 likes 188 views share

Salah seorang ulama, yaitu Imam Al-Yafi’I menceritakan:

Sesungguhnya di kota Ray (kota tertua di provinsi Tehran, Iran) terdapat seorang Qadhi (Hakim) yang sangat kaya raya.

Pada suatu hari yang bertepatan dengan hari Asyura’ (10 Muharram), datanglah seorang fakir miskin kepadanya. “Semoga Allah memuliakan anda. Wahai tuan Qadhi, saya adalah orang fakir yang memiliki tanggungan keluarga. Dan demi kumuliaan hari ini, saya meminta tolong kepada engkau agar memberiku sepuluh buah roti, lima potong daging, dan dua dirham,”. Kata orang fakir itu memulai pembicaraan.

Kemudian sang Qadhi menjanjikan akan memberinya di waktu Dhuhur. Orang fakir itu pun kembali pada sang Qadhi pada waktu Dhuhur. Namun, sang Qadhi kembali menjanjikan akan memberinya di waktu Ashar. Saat waktu Ashar tiba, sang Qadhi masih belum memberikan sesuatu apapun. Maka, orang fakir itu pun pergi dalam keadaan patah hati.

Kemudian, dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang Nasrani yang sedang duduk di depan pintu rumahnya. Orang fakir itu berkata pada orang Nasrani tersebut, “Demi keagungan hari ini (hari Asyura’), berilah aku sesuatu,”.

“Hari apakah sekarang ini?,” tanya Nasrani tersebut.

Maka orang fakir itu menjelaskan tentang keutamaan hari Asyura’. Mendengar penjelasan itu, orang Nasrani tersebut berkata, “Katakanlah apa kebutuhanmu, karena engkau telah bersumpah dengan keagungan hari ini,”.

Lantas, orang fakir itu akhirnya menyebutkan seluruh kebutuhannya kepada sang Nasrani, yaitu sepuluh buah roti, lima potong daging, dan dua dirham. Tanpa pikir panjang, orang Nasrani itu memberinya sepuluh gandum dalam suatu takaran tertentu, seratus potong daging, dan dua puluh dirham.

“Ini semua untuk dirimu dan keluargamu. Selama aku masih hidup, akan kuberi setiap bulan demi kemulian hari ini,” ucap orang Nasrani tersebut.

Setelah menerima pemberian dari orang Nasrani, akhirnya orang fakir itu pulang membawa pemberian tersebut ke rumahnya.

Ketika waktu malam telah tiba, sang Qadhi tertidur dengan pulasnya. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar suara yang tidak diketahui asalnya. “Angkatlah kepalamu,” begitulah terdengar dari suara itu.

Sang Qadhi pun mengangkat kepalanya. Tiba-tiba dia melihat dua bangunan istana yang dibangun dari batu bata emas perak dan satunya lagi dibangun dari batu permata Yaqut merah. Dia bertanya, “Wahai tuhanku, apa dua istana ini,?”.

“Kedua istana ini adalah milikmu, seandainya engkau memenuhi kebutuhan orang fakir itu. Ketika kamu menolaknya, maka kedua istana itu milik seorang Nasrani,” terdengar sebuah jawaban.

Keesokan harinya, sang Qadhi pergi menemui orang Nasrani yang disebut di dalam mimpinya tersebut.

“Amal kebaikan apa yang kau perbuat tadi siang?” tanya sang Qadhi.

Mendengar pertanyaan itu, orang Nasrani membalikkan pertanyaan, “Ada apa dengan itu?”.

Akhirnya, sang Qadhi menceritakan semua apa yang ada dalam mimpinya. Sang Qadhi kemudian berkata, “Juallah amal baik yang telah kau lakukan kepada orang fakir itu kepadaku dengan harga seratus dirham,”.

“Wahai Qadhi, setiap amal yang diterima itu harganya mahal. Aku tidak akan menjualnya sekalipun dengan harga bumi dan isinya. Apakah engkau menyayangkan kedua istana itu untukku?” jawab orang fakir itu.

“Bukankah engkau bukan orang Islam?” sang Qadhi balik bertanya.

Saat itu juga orang Nasrani tersebut memotong ikat pinggangnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dan sesungguhnya agama Muhammad adalah agama yang benar,”.

[Disarikan dari kitab Irsyad Al-’Ibad, karya Syaikh Abdul ‘Aziz Muhammad As-Salman.]