636 views

Nabi Sulaiman, Setan, dan Kubah Putih

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman Alaihissalam terbang menggunakan angin di antara langit dan bumi. Suatu ketika Ia melintasi lautan yang sangat dalam. Ombaknya begitu kencang karena terpaan angin. Saat Ia perintahkan angin itu untuk diam, ombak pun berhenti.

Saat berhenti di tengah lautan, ia memerintahkan Setan untuk menyelam, karena melihat ada sesuatu di dasar laut. Selang berjalannya waktu, dalam penyelamannya, Setan menemukan apa yang mencuri perhatian Nabi Sulaiman; Kubah berwarna putih. Tidak ditemukan pintu di sana.

Nabi Sulaiman pun memerintahkan agar Setan mengeluarkan Kubah Putih tersebut dari dasar laut. Betapa menakjubkannya kubah tersebut, saat timbul di permukaan. Ia berdoa kepada Allah agar kubah itu terbuka.

Setelah kubah tersebut terbelah, terdapat sosok pemuda yang sedang bersujud kepada Allah. Nabi Sulaiman penasaran akan pemuda tersebut.

“Apakah kamu dari golongan malaikat, atau golongan jin?” Sabda Nabi Sulaiman.

“Bukan, aku dari golongan manusia.” Ucap si Pemuda

“Lalu dengan cara apa, engkau bisa mencapai karomah ini?” Nabi Sulaiman masih penasaran akan keadaan pemuda tersebut.

Berbakti Kepada Orang Tua

Pemuda itu menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua,” ucapnya. “Karena aku, memiliki seorang ibu yang sudah tua. Dan aku yang menggendongnya di atas pundakku.” Lanjutnya.

“Karena hal itu ibuku mendoakan aku; Ya Allah, semoga ia selalu mendapatkan keselamatan. Dan semoga kelak saat aku sudah meninggal, ia mendapatkan tempat selain di bumi dan tidak di langit.

Setelah ibuku meninggal, aku berjalan di pesisir lautan. Lalu aku melihat kubah zamrud berwarna putih. Saat aku mendekatinya, pintu kubah tersebut terbuka untukku, lalu aku masuk ke dalamnya.

Kubah itu pun menangkapku atas izin Allah. Saat itu aku tidak mengetahui, apakah aku sedang di bumi, di langit, atau terbang. Allah juga memberikanku rezeki di dalamnya.”

“Bagaimana cara Allah menberikan rezeki kepadamu?” Ujar Nabi Sulaiman.

“Saat aku lapar, ada pohon yang tumbuh di atas batu. Pohon itu menumbuhkan buah-buahan. Juga terdapat sumber air yang putih seperti susu, lebih manis dibanding madu, lebih dingin dibanding salju. Aku makan dan minum dengan itu. Ketika aku sudah kenyang, dua hal itu sirna kembali.” Ujar si pemuda.

“Bagaimana kamu mengetahui waktu siang dan malam?” Ujar Nabi Sulaiman As.

“Saat siang hari, kubah ini berwarna putih dan terang. Lalu saat malam tiba, kubah ini menjadi gelap. Begitulah aku mengetahui siang dan malam.”

Lalu pemuda tersebut berdoa kepada Allah. Selang beberapa saat, kubah tersebut menangkapnya lagi, dan kembali ke tempat semula. WaAllahu a’lam.

Disarikan dari kitab An-Nawadir karya Syaikh Syihabuddin Ahmad bin Salamah al-Mishri al-Qulyubi — Halaman 36

Baca juga; Khutbah Jumat Merasakan Ramadhan di Setiap Bulan

7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.