HomeAngkringNgalap Barokah

Ngalap Barokah

0 2 likes 231 views share

Ada dua pesan penting yang tertulis di kaca maqbaroh Imam Syafi’i. dua lembar kertas sebagai bahan renungan untuk banyak orang, karena makam beliau adalah salah satu makam yang ramai dikunjungi. Salah satu bunyi pesan tersebut memberikan kita legalitas bahwa tabarruk, atau ngalap barokah itu tidak dilarang.

“Bolehnya bertabarruk dengan bekas peninggalan rasul .

Imam Ahmad bin Hanbal selalu membawa tiga helai rambut rambut Nabi SAW. Beliau menciumnya dan meletakkannya di atas kepala beliau. Beliau mencelupkan tiga helai rambut tersebut ke dalam air kemudian meminumnya berharap kesembuhan dan keberkahan. Beliau berwasiat agar tiga helai rambut tadi di letakkan satu helai di mulut beliau dan dua helai di kedua mata beliau tatkala beliau wafat.” setidaknya demikian bunyi tulisan yang diriwayatkan al-Hafidz al-Dzahabi dan Ibn Jauzi tersebut bila diterjemahkan secara bebas.

Barokah, atau berkah, itu memang ada. Allah SWT sendiri yang telah memfirmankannya dalam Alquran.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبارَكاً وَهُدىً لِلْعالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran: 96)

وَنَزَّلْنا مِنَ السَّماءِ مَاءً مُبارَكاً فَأَنْبَتْنا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa’atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaf: 9)

Ia memiliki arti bertambah. Bisa diartikan juga, bertambahnya kebaikan. Tabarruk atau mencari berkah sudah dilakukan sejak dahulu. Bahkan sejak zaman para sahabat nabi. Banyak sahabat berebut air bekas wudhu nabi. Dan banyak sahabat berebut rambut nabi selepas beliau tahallul ketika umrah dan haji wada’. Konon, salah satu sahabat yang setia menyimpan helai rambut nabi tersebut adalah Khalid bin Walid RA. Beliau selalu membawa serta rambut tersebut dengan cara disembunyikan dalam penutup kepala beliau, hingga ketika beliau diangkat menjadi panglima tertinggi pasukan muslim, pasukan yang beliau pimpin tak pernah mengalami kekalahan[1].

Tabarruk tidak dilarang. Para ulama salaf banyak melakukannya. Jika kita melihat banyak kisah-kisah hikmah, kita akan temukan dalil tersirat kebolehan bertabarruk. Dikisahkan, Imam Syafi’i suatu ketika mengutus salah satu muridnya, Rabi’ bin Sulaiman untuk berkirim surat kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Dari Mesir, Rabi’ melakukan perjalanan menuju Baghdad membawa surat tersebut. Sesampainya di tempat Imam Ahmad, surat itu diserahkan. “sudahkah kau membacanya?” Tanya Imam Ahmad. “Tidak” jawab Rabi’. Ketika surat tersebut dibaca, Imam Ahmad menitihkan air mata. “Wahai Abu Abdillah, apa yang tertulis disitu?” Tanya Rabi’. “Imam Syafi’i menyebut, bahwa beliau berjumpa Rasulullah SAW dalam mimpi. Rasul berkata, kirimlah surat kepada Abdullah Ahmad bin Hanbal, dan bacakan salamku untuknya. Lalu katakan padanya, ‘engkau akan diuji dengan pendapat yang mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk, maka jangan ikuti pendapat tersebut. Dan Allah tidak akan mengangkat ilmumu hingga tiba hari kiamat.’” Imam Ahmad lantas menghadiahi Rabi’ sebuah baju gamis yang sedang beliau kenakan. Sepulang kembali ke Mesir, diceritakanlah semua itu pada gurunya. Baju gamis pemberian Imam Ahmad tidak diminta oleh Imam Syafi’i,  tapi beliau hanya meminta Rabi’ mencuci baju tersebut. Dan air yang menets dari baju tersebut diminum oleh Imam Syafi’i sebagai wujud tabarruk kepada Imam Ahmad.[2]

Hakikat tabaruk menurut Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sebenarnya sama dengan tawassul. Kita bertawassul kepada Allah SWT dengan perantara orang atau sesuatu yang diberkahi. “Tabarruk maknanya tidak lain adalah sebagai media tawassul kepada Allah SWT dengan lantaran sesuatu yang diberkahi tadi. Entah itu barang-barang peninggalan, tempat, atau seseorang.”[3]

Bukan karena orangnya kita ngalap barokah, namun karena kedekatan orang tersebut kepada Allah SWT dan nilai tinggi derajat orang tersebut dimata Allah SWT. Sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang nihil. Tak memiliki arti apa-apa jikalau tak pernah ada istilah takwa. Tak layak punya sejarah yang dikenang jika bukan karena ilmu atau jasa. Bukan karena peninggalan seseorang kita bertabarruk, sebab peninggalan seseorang hanyalah benda mati yang tak bernilai apapun jika tak pernah disentuh oleh orang-orang seperti Nabi Muhammad SAW. Tak lebih dari sekedar seonggok makhluk yang hening pada hakikatnya. Dan bukan karena tempatnya kita bertawassul –dalam bahasa Sayyid Muhammad-, sebab tempat adalah bagian dari bumi yang oleh Allah SWT dianggap sesuatu yang amat hina, begitu tak berharga, dan maha kecil, dibandingkan kekuasaan Allah SWT itu sendiri.

Pada titik kesimpulannya, masih menurut Sayyid Muhammad, sebenarnya jika kita mengerti sejarah, itu sudah menjadi cukup bukti bahwa tabarruk tidak dilarang. Cukup kiranya kita melihat cermin yang tak retak, melihat dengan kacamata yang jernih. “Bertabarruk dengan Nabi SAW, dengan peninggalan-peninggalan beliau, dan dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan beliau hukumnya sunnah, dan termasuk jalan yang terpuji. Cukuplah kiranya untuk membuktikan hal tersebut banyak hal-hal yang telah dilakukan para sahabat terpilih, dan pengukuhan dari Nabi SAW atas hal tersebut.”[4]

Pada akhirnya terserah pada kita, masihkah kita menyombongkan perasaan “merasa dekat dengan Sang Pencipta”? Perasaan semu, yang disadari atau tidak telah menumpahkan keegoisan dalam diri. Ataukah kita lebih menyadari, mungkinkah orang seperti kita lebih mulia dari para sahabat? Atau lebih sadar lagi, mungkinkah orang macam kita lebih mulia daripada sehelai rambut Nabi yang turut dimakamkan bersama jasad Imam Ahmad?

 

 

[1] Lihat Majma’ Zawaid Juz 9 Hal 349.

[2] Bidayatul Hidayah. Juz 10, Hal 231.

[3] Mafahim Yajbu An Tushohhaha. Hal. 232.

[4] Ibid. Hal. 257.