Nyanyian dan Hal-hal yang Tak Selesai

Umat manusia telah mengenal musik dan nyanyian sejak lama, jauh sebelum Islam datang. Bisa dikatakan musik dan nyanyian adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Ia telah melekat dalam naluri setiap manusia. Musik selalu hadir dalam setiap peristiwa yang dialami oleh manusia, ketika menikah, acara kenegaraan, peperangan, bahkan hingga upacara kematian. Melalui musik, setiap kebahagiaan diekspresikan dan karenanya, kebahagaiaan itu semakin terasa indah. Begitu pun kesedihan. Dengan nyayian yang diiringi musik, kesedihan menjadi semakin ambyar.

Kota Madinah, Tha’if, Khaibar, Daumatul Jandal, dan Yamamah sudah terkenal sebagai pusat kegiatan bermusik sebelum Islam datang. Jazirah Arab merupakan salah satu daerah yang terkenal kesenian ghina’nya. Hal itu sangat wajar karena masyarakat Arab Jahiliyah juga terkenal menyukai musik dan nyanyian. Mereka terbiasa menembangkan syair ketika menggembalakan hewan ternaknya sebagaimana lagu-lagu yang mereka nyanyikan sebagai penghibur disaat mereka melakukan rihlah perdagangan. Mereka juga terbiasa berberang dengan iringan musik dan lagu yang bisa menggerakkan semangat juang di medan perang. Namun juga tak jarang, syair-syair yang menyayat perasaan mereka tembangkan untuk sebuah kematian hingga—dengan tembang itu lahirlah dendam kesumat akibat kesedihan yang berlarut-larut.

Ketika kanjeng Nabi Muhammad saw sampai di depan gerbang kota Madinah dalam rangka hijrah, masyarakat Madinah yang telah lama menunggu kedatangan sang Nabi ramai-ramai menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Mereka dengan kompaknya menyanyikan Thala’a Al-Badru alaina dengan iringan Duff (semacam terbang) yang ditabuh oleh perempuan-perempuan Madinah. Mereka menyambut kedatangan Nabi yang dijanjikan dan meluapkan kebahagiaannya itu dengan nyanyian kebahagian dan tabuhan-tabuhan yang membentuk sebuah orchestra.

Musik dalam pandangan Islam

Namun demikian, dalam Islam, musik dan nyanyian tidak serta-merta menjadi suatu hal yang legal. Hukum bermusik dan nyanyian menjadi hal selalu diperdebatkan semenjak dulu. Ada banyak silang pendapat mengenai hukum memainkan musik. Ada ulama yang mengharamkan secara tegas, ada yang membolehkan dengan catatan tertentu dan lain sebagainya.

Adalah Imam Ibnu Hajar al-Haitamy (899-974 H) yang bernama lengkap Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitamy. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy memiliki banyak karangan dalam berbagai bidang ilmu. Salah satu karya beliau adalah kitab Kaffar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`. Dari namanya saja sudah dapat diketahui apa isi kitab ini, yaitu membahas masalah mendengar lagu dan hukum alat musik.

Kitab Kaffar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima` adalah kitab yang menyanggah pendapatnya Imam Muhammad as-Syadzily at-Tanusi dalam kitab beliau yang berjudul Farah Al-‘Asma’ bi Rukhosis Sima’ yang membolehkan mendengarkan dan memainkan musik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.