Hukum Wanita Memakai Celana

Dalam masalah menutup aurat, perempuan memiliki aturan yang lebih ketat dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini wajar demi menjaga kehormatannya. Sehingga syariat mengaturnya dengan sangat rinci, salah satunya hukum menggunakan celana bagi perempuan.

Untuk itu, Imam Ibn Hajar menjelaskan:

وَشَرْطُ السَّاتِرِ فِي الصَّلَاةِ وَخَارِجَهَا أَنْ يَشْمَلَ الْمَسْتُوْرَ لَبْسًا وَنَحْوَهُ مَعَ سَتْرِ اللَّوْنِ فَيَكْفِي مَا يَمْنَعُ إِدْرَاكَ لَوْنِ الْبَشَرَةِ وَلَوْ حَكَى الْحَجْمَ كَسِرْوَالٍ ضَيِّقٍ لَكِنَّهُ لِلْمَرْأَةِ مَكْرُوْهٌ وَخِلَافُ الْأَوْلَى لِلرَّجُلِ

“Syarat penutup aurat di dalam maupun di luar salat ialah ialah harus meliputi seluruh anggota tubuh yang hendak ditutup serta menutupnya. Artinya mencukupi dengan sesuatu yang mencegah terlihatnya warna kulit, meskipun menampakkan lekuk tubuh seperti celana ketat. Akan tetapi yang demikian makruh bagi perempuan dan khilaful aula bagi laki-laki.” (Al-Minhaj al-Qawim, hlm. 115)

Dengan demikian, perempuan boleh menggunakan celana dengan syarat yang umum berlaku, yakni menutup aurat, kain tidak terlalu tipis atau transparan, serta tidak terlalu ketat, dan tidak menggunakan celana yang hanya dikhususkan untuk laki-laki. (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 604)

Pada prakteknya, hukum tersebut bisa menjadi haram apabila ada dugaan kuat atau keyakinan akan menyebabkan lawan jenis tergoda. (I’anah at-Thalibin, III/30) []waAllahu a’lam

Cerpen: SUMPAH SERAPAH DI MALAM BUTA

Oleh: Rozzaaq Imam

“Brak …!” suara pintu ditutup dengan keras. Semua orang yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu yang dari balik daunnya Kimi muncul dengan wajah gugup.

“Pelan-pelan nutupnya, Mi. Kayak habis kejar-kejaran sama keamanan aja,” kata Iyung.
Kimi tidak menggubris omongan Iyung. “Mana Rozi? Mendesak banget nih.”
“Apa?” orang yang dicari Kimi menjawab.
“Tadi sore aku udah bilang kan, Zi, kalau hapemu ilang?”
“Iya, terus?”
“Barusan aku telepon nomormu, aktif loh!”
“Eeeh …,” semuanya heran, maling macam apa yang
mencuri hape, tapi nomor pemiliknya masih dipakai.
“Kapan kamu telepon nomorku, Mi?” Rozi penasaran.
“Barusan, nggak ada lima menit. Kalau sekarang kita
telepon lagi gimana?” kata Kimi.
“Bentar dulu, Mi, tadi pas kamu telepon diangkat, nggak?”
“Nggak sih, soalnya tadi aku coba-coba missed call, gitu.”

Kiki yang dari tadi tak kebagian kesempatan bicara, akhirnya bicara juga, “Emang kalau entar diangkat, kamu mau ngomong apa, Zi?”
“Ya, tinggal tanya aja: „Kamu siapa?‟, gitu.” Alfa juga angkat bicara.
“Fa, Alfa, selama ini kukira kamu wahwoh,” Iyung menyahut.
“Emangnya gimana, Yung?”
“Ya, ternyata superwahwoh!” jawab Iyung sekenanya,
“Mana ada maling mau ngaku gitu aja?”
“Hahaha …,” tiba-tiba tawa semua orang pecah di dalam ruangan itu.

Beberapa detik kemudian sepi menyerang ruangan itu. Semua orang diam. Kimi bingung dengan teman-temannya yang semuanya diam. “Kok pada diam, gimana nih hapenya Rozi? Gimana menurut kamu, Ki?” tanya Kimi pada Kiki.

“Ini semuanya juga pada mikir, Mi. Liatin aja mukanya pada kayak anak-anak yang ditanya jumlah hafalan nadhom sama mustahiq.”
“Serius dikit bisa nggak?” Kimi nggak terima sejak tadi teman-temannya bercanda terus.
“Telepon sekarang aja, Mi, biar aku yang ngomong,” Rozi memutuskan.
“Siap,” jawab Kimi sambil mengambil hapenya, “ini udah masuk, Zi.”
“Tut … tut … tut …,”
“Nomor yang Anda tuju …,” lalu Rozi menutup teleponnya.
“Nggak diangkat nih,” keluh Rozi.
“Udah malam sih, ya,” kata Alfa sambil manggut-manggut,
“udah, Zi, besok lagi aja.” 

“Kan si Alfa mulai lagi,” Iyung lagi-lagi mau menyerang Alfa,
“kalau besok, keburu dibuang sim card-nya sama si maling, Fa.”
Lagi-lagi tawa semua orang pecah, kecuali Rozi yang masih belum menyerah. Dengan sekuat tenaga ia usap-usap hape Kimi dan mencari namanya di daftar kontak.
“Tut … tut … tut …,”
“Halo,” suara wanita dari seberang telepon.
“Ha-halo,” Rozi sedikit gagap, karena bingung harus bagaimana ia memulai percakapan. Sedangkan yang lain mulai tenang demi memerhatikan percakapan.
“Iya …?” tanya suara di seberang.
“Ini siapa, ya?” Rozi balik bertanya.
Wanita di sana menjawab, “Loh …,” dan tiba-tiba berganti suara lelaki, “Halo?”
“Ini siapa, ya?” tanya Rozi lagi.
“Loh, kok malah tanya? Bukannya situ yang telepon?”
“Pak, itu nomor yang lagi Bapak pakai punya saya. Kok bisa sekarang di tangan Bapak?”
“Ini nomor saya kok,”
“Bapak ini dikasih tahu, malah ngeyel. Itu nomor saya, Pak, dan sudah terdaftar atas nama KTP saya. Atau Bapak mau saya lapor polisi?”
“Ya, sama, saya juga sudah daftarkan nomor ini ke operator bersangkutan. Silakan saja lapor polisi kalau mau.”

Rozi mulai bingung karena hujjah-nya ternyata tidak berhasil menakuti orang yang diduga maling itu. Ia pun melunak. Dia bilang, “Pak, hape saya hilang, dan nomornya katut. Waktu barusan saya telepon, ternyata masih aktif dan sekarang dipegang Bapak. Jadi, kalau memang Bapak merasa tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, saya mohon kerjasamanya.”

Sebentar kemudian Rozi melirik ke arah Iyung. Di mata Iyung, lirikan itu isyarat butuh bantuan; semacam ratapan pengemis di pinggir jalan. “Tanya posisinya, Zi.” Iyung memberi komando.

Tanpa membalas omongan Iyung, Rozi meneruskan bicaranya, “Gini aja, Pak, bagaimana kalau kita ketemuan saja. Bapak sekarang posisinya di mana?”

“Katanya mau lapor polisi? Sana lapor saja. Lagian sejak awal situ sudah nggak percaya sama saya. Sekarang, mau saya bilang saya lagi di Jakarta, situ juga nggak akan percaya.”
“Fa, Alfa, jangan-jangan itu keamanan,” Kiki berbisik ke Alfa yang duduk di sebelahnya.
“Iya, Ki. Bisa aja itu keamanan mau mancing biar yang punya hape mau ngaku,”

“Sssttt …,” Iyung menyela obrolan mereka berdua, “nggak mungkin itu keamanan. Kalau memang iya dia keamanan, pastinya dia udah dari kemarin menciduk Rozi. Di hapenya kan ada foto-fotonya dia. Lagian, tadi yang ngangkat telepon pertama kali cewek kan. Pikir coba, keamanan macam apa yang malam-malam begini lagi sama cewek.” Iyung mengakhiri presentasi analisisnya dengan membenarkan posisi kacamatanya.

“Dia mulai gugup itu, Zi. Omongannya mulai ngawur,” Iyung lagi-lagi mengomando Rozi.

Rozi yang sebenarnya juga cukup gugup—terlihat dari tangannya yang gemetaran memegang hape Kimi, berusaha tegar dan berkata, “Ah, Bapak ini mulai ngawur omongannya. Sudah, Pak, nggak usah gugup. Santai saja bicaranya.”

“Ngawur gimana? Sudahlah, jangan suka ngerjain orang malam-malam. Situ juga nggak usah gugup.”

Tidak hanya tangannya yang gemetaran, sekarang tingkat kegugupan Rozi bahkan membuat pori-pori kulitnya memeras keringat.

Melihat muka Rozi sudah mirip peserta Muhafadhah Akhirussanah yang tidak bisa melanjutkan bacaannya, Iyung mengambil hape di tangan Rozi.

Dengan nada suara sedikit mengancam, Iyung berkata, “Pak, kalau Bapak memang nggak merasa bersalah, jujur saja. Bapak sekarang posisinya di mana? Nanti kita bisa ketemuan dan bicara baik-baik. Sebelum kami lapor polisi.”

“Kan saya sudah bilang, kalaupun saya bilang posisi saya sekarang di Jakarta, situ juga nggak percaya.”
“Kalau Bapak tetap nggak jelas, nanti saya laporin Gus Miftah!”
“Gus Miftah siapa?”
“Gus Miftah ketua GASMUN”

Orang di seberang telepon tidak segera menjawab, barulah setelah lima detik dia berkata, “Ya, nggak apa-apa lapor saja. Saya nggak salah kok.”

“Zi, dari logatnya sih, ini kayaknya orang Madura,” bisik Iyung pada Rozi. Iyung yang masih keturunan Madura itu punya ide baru.

Dalam bahasa Madura, Iyung bertanya, “Pak, Sampean Madhuráh, ghi?” Benar apa kata Iyung. Orang itu membalasnya juga dengan bahasa Madura, “Engghi,” dan sepertinya ia mulai melunak.

Masih dalam bahasa Madura, Iyung merayu, “Ayolah, Pak, kalau memang Bapak orang baik-baik pasti mau bantu kami.”

“Gini saja. Coba sebutkan nomornya berapa.”
“Zi, Rozi, cepetan!” Iyung mendekatkan hape Kimi ke bibir Rozi.
Dengan cepat Rozi menyebutkan nomornya, “08789XXXXXXX”
“Salah! Hahaha …, bukan itu nomornya. Situ salah sambung!”

Buru-buru Rozi memeriksa nomor yang bertulis-kan namanya itu. Ternyata memang bukan nomornya yang tertera di sana. Dipencetnya tombol warna merah yang bergambar telepon menutup di hape Kimi. Wajahnya yang memang cocok jadi karakter antagonis anime itu segera menyerang Kimi.

“Aku oleh seko In’am, Zi,” Kimi membela diri.
“Wah …! Terus piye iki, rek? Jaluk sepuro ae, yo?!”
Entah berapa kali air muka Rozi berubah-ubah dari tadi, tapi sekarang semacam ada rasa bersalah yang membebani air mukanya.

Rozi memutuskan meneleponnya lagi.
“Tut … tut … tut …,” dan telepon pun diangkat.

Tanpa berucap salam atau menunggu orang di seberang telepon berbicara, Rozi yang memang asli Madura langsung meminta maaf. Dalam bahasa Madura ia berkata, “Pak, maafkan saya, ya. Sungguh saya mohon maaf yang tiada batasnya. Maafkan saya, maafkan, ma-af-kan ….”

Bukannya memaafkan, orang di seberang telepon justru tertawa, “Hahaha …, salah nomor kan.” Percakapan antara keduanya berlanjut dalam bahasa Madura,
“Maafkan saya, Pak, tadi teman saya salah kasih nomornya”

“Kamu sih, nggak dibenerin dulu nomornya, hahaha …,” orang itu masih dengan tawa kemenangannya dan Rozi baru menyadari sesuatu.

“Rek, rek,” seraya berbisik, Rozi meminta perhatian teman-temannya, “iki bapakku,” lanjut Rozi dengan nada suara yang tak jelas tangga nadanya.

Teman-temannya melongo mendengar apa yang barusan Rozi katakan. Mulut mereka otomatis dalam mode senyap.

Dengan seluruh sisa tenaga yang nyaris habis karena pembicaraan dari tadi yang melelahkan, pada orang yang dicurigai sebagai bapaknya itu, Rozi berkata, “Abi, ariah ngko’, Bi,” Rozi memanggilnya dengan sebutan akrabnya pada bapaknya: ’Abi’.

Seolah tidak ada pembicaraan apa-apa sebelumnya, orang itu menjawab, “Oh, bá’nah, Zi,” (“Oh, kamu, Zi,”) tapi setelah itu, “eh, antos ghálluh, bá’nah sapah?” (“eh, tunggu dulu, kamu siapa?”) orang itu bertanya lagi. Bukan karena ragu apa benar itu suara anaknya, tapi lebih karena bingung. Bingung yang disertai kagum, karena humoristis Tuhan sama dengan hikmah kebijaksanaan-Nya; bisa dijumpai di mana saja dan kapan saja, bahkan pada waktu tengah malam di mana jarum pendek jam dinding sudah hampir lurus dengan angka 12.

“Ngko’, Bi.” (“Aku, Bi,”)

Bapaknya menjawab, “Oh …,” dan semua orang pun tertawa terpingkal-pingkal. Mulut mereka yang sedari tadi dalam mode senyap, sekarang dalam mode outdoor ala hape Cina.

Dari sepiker hape Kimi itu juga terdengar tawa wanita yang pertama kali mengangkat telepon; wanita yang ternyata ibunya Rozi. Dia hanya bilang, “Zi,” dan tertawa lagi.

Aku, yang sejak tadi hanya mengamati apa yang terjadi dengan teman-temanku dari jarak tiga meter, juga tertawa. Membayangkan andai hal semacam itu juga menimpaku. Kuperhatikan Rozi masih asyik bergurau dengan Abi-Umminya.

“Eh, Afid, lo dari tadi di sini? Dari tadi diam aja sih,” semua orang—kecuali Rozi—mengarahkan kalimatnya padaku dengan suara terputus-putus bercampur gelak tawa yang sepertinya akan bertahan sampai fajar.

Akhirulkalam, “sialan!” teriakku pada mereka semua.

Kapankah Hari Kiamat Datang?

Masyarakat sempat dihebohkan dengan munculnya tagar #kiamat yang sempat trending di Twitter. Isu kiamat yang demikian bukanlah yang pertama kali di tanah air. Sehingga wajar jika umat Islam sudah cukup mengerti bahwa isu-isu yang tidak memiliki tendensi yang kuat hanya akan berlalu. Apalagi isu kiamat merupakan peristiwa rahasia yang hanya diketahui oleh Allah SWT.

Di dalam Alquran, banyak bertebaran ayat yang menjelaskan tentang hari kiamat. Bahkan ketika ditanya mengenai waktunya, Rasullullah SAW sendiri tidak mengetahui kapan waktunya akan tiba. Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari kiamat. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al-Ahzab: 63)

Dalam ayat lain disebutkan:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ”

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: Bilakah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat hanya ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat hanya ada di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”. (QS. Al-A’raf: 187)

Walau demikian, sebelum kedatangan hari kiamat akan didahului datangnya tanda-tanda, baik tanda kecil (sughra) seperti yang telah ada saat ini, maupun tanda besar (kubra) seperti munculnya al-Mahdi, keluarnya dajal, turunnya Isa, keluarnya yakjuj makjuj, keluarnya hewan yang dapat berbicara kepada manusia, matahari terbit dari barat, timbulnya asap selama empat puluh hari yang menimpa orang kafir sehingga ia menjadi seperti orang yang mabuk dan menimpa orang beriman sehingga ia menjadi seperti orang yang flu, runtuhnya Ka’bah oleh orang habasyah setelah Isa wafat, diangkatnya Alquran dari mushhaf dan dada, serta kembalinya penghuni bumi pada kekufuran. []waAllahu a’lam

Hukum Memfasilitasi Anak dengan Smartphone dan Sejenisnya

Di era kemajuan teknologi, tak jarang banyak orang tua memfasilitasi anaknya dengan smartphone, tablet, dan sejenisnya. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai motif, dari yang bertujuan sebagai media edukasi hingga media hiburan untuk menghilangkan kejenuhan belajar.

Berkaitan dengan permasalahan ini, imam Al-Ghazali menjelaskan:

وَيَنْبَغِي أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ بَعْدَ الِانْصِرَافِ مِنِ الْكُتَّابِ أَنْ يَلْعَبَ لَعِبًا جَمِيلًا يَسْتَرِيحُ إِلَيْهِ مِنْ تَعَبِ الْمَكْتَبِ

“Hendaklah bagi orang tua mengizinkan anaknya setelah pulang dari sekolah untuk bermain dengan media permainan positif sehingga anaknya dapat beristirahat dari kejenuhan belajar namun tidak sampai berlebihan dalam bermain.” (Lihat: Ihya’ Ulum ad-Din, III/73)

Meskipun orang tua boleh memberikan fasilitas permainan semisal menggunakan smartphone atau sejenisnya, namun tetap berkewajiban mengontrol, mengarahkan, dan mengawasinya sebagai upaya agar anak dapat terhindar dari dampak negatifnya. Syekh Husein al-Halimi menegaskan:

وَأَمَّا الصِّبْيَانُ فَكُلُّ لَعْبٍ اشْتَغَلُوْا بِهِ مِمَّا لَا يُخْشٰى عَلَيْهِمْ ضَرَرٌ فِي الْعَاجِلِ وَالْآجِلِ وَيُظَنُّ أَنَّ فِيْهِ لَهُمُ انْشِرَاحُ صَدْرٍ وَتَفَرُّجُ قَلْبٍ فَإِنَّهُمْ لَا يُمْنَعُوْنَ عَنْهُ بِالْاِطْلَاقِ

“Adapun bagi anak kecil, jika suatu permainan dapat menyibukkan mereka dan tidak dikhawatirkan adanya dampak negatif di masa sekarang maupun masa mendatang serta ada potensi menjadikan mereka lapang hati maka mereka tidak bisa dihalangi untuk memainkannya.” (Lihat: Al-Minhaj fi Syu’ab al-Iman, III/97)

Selain pertimbangan manfaat dan harus adanya pendampingan maupun arahan, orang tua harus memiliki dugaan kuat bahwa sang anak dapat menggunakannya dengan baik serta tidak menyalahgunakan smartphone atau sejenisnya untuk hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat. (Lihat: Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 260)
[]waAllahu a’lam

Kunjungan Gubernur Jawa Timur, Pangdam V/Brawijaya & Kapolda Jawa Timur

Lirboyoet, Kediri-Sabtu 06 Juni 2020, Pondok Pesantren Lirboyo dikunjungi Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah
dan Kapolres Kediri Kota AKBP Miko Indrayana beserta jajarannya dalam rangka silaturahim, memastikan kesiapan Pondok Pesantren Lirboyo dengan konsep Pondok Tangguh dalam menghadapi covid-19 menjelang diaktifkannya kembali proses pembelajaran di Pondok Pesantren Lirboyo.

Acara Kunjungan yang diselenggarakan di Gedung Yayasan tersebut diawali dengan sambutan atas nama Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo oleh Romo KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, kemudian dilanjutkan dengan presentasi mengenai konsep Pondok Tangguh oleh Kapolres Kediri Kota. Dalam Pemaparannya, AKBP Miko Indrayana menjelaskan 3 poin penting dalam konsep Pondok Tangguh. Ketiganya itu adalah ketahanan pangan, ketahanan kesehatan dan ketahanan keamanan.

Setelah presentasi selesai, kemudian diisi dengan sambutan dari Gubernur Jawa Timur, lalu sambutan dari Pangdam V/Brawijaya dan diakhiri dengan mau’idzotul hasanah beserta doa oleh Romo KH. M. Anwar Manshur.

Pada akhir acara, Pondok Pesantren Lirboyo memberikan cindera mata untuk Gubernur, Pangdam dan Kapolres. Kemudian Gubernur juga memberikan bantuan peralatan medis untuk Pondok Pesantren Lirboyo.

“Mengenai skenario pemberangkatan santri akan dibagi menjadi beberapa gelombang. Untuk gelombang awal, santri yang datang ke Pesantren dibatasi hanya sepuluh persen saja atau sekitar 2.500 santri dari daerah terdekat. Sejak saat ini santri yang akan datang sudah dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumahnya masing-masing untuk berangkat ke pesantren pada 2 minggu mendatang atau tepatnya pada tanggal 28 Syawal 1441 H. / 20 Juni 2020 M.
Pembatasan jumlah santri yang berangkat ini ditujukan untuk bisa memungkinkan diterapkannya phisical distancing dan protokol kesehatan lainnya. Skenario ini akan terus dievaluasi selaras dengan perkembangan covid Nasional, untuk pengambilan langkah selanjutnya.”
Demikian penjelasan Agus HM. Abdul Mu’id Shohib saat diwawancarai oleh para wartawan.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah