Hukum Melantunkan Dzikir saat Mengiringi Jenazah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, mohon maaf. Apa hukumnya mengiringi jenazah ke kuburan dengan bacaan tahlil? Bukankah yang lebih baik adalah diam untuk tafakur dan mengambil pelajaran atas peristiwa kematian? Mohon penjelasannya terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wb. Wb.

(Sofi, Surakarta)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Al-Baihaqi disebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai perilaku mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika zikir. Atas dasar itu, para ulama mengatakan bahwa hukum beramai-ramai ketika mengiringi jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian masuk di dalamnya, tak terkecuali bacaan Alquran, dzikir, atau bacaan sholawat. Karena pada dasarnya, yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian. (Nihayah al-Muhtaj, III/23)

Meskipun demikian, sebagian umat Islam seperti yang biasa terlaku di Indonesia memiliki kebiasaan berdzikir “Laa ilaha illallah” selama proses pengiringan jenazah dengan suara keras. Untuk itu, Syekh Nawawi Banten menjelaskan permasalahan ini dalam kitab Nihayah az-Zain:

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

“Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian setelahnya. Al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.” (Nihayatuz Zain, h. 153)

Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

“Adapun pendapat yang dipilih sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.” (Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183)

Dengan demikian, membaca dzikir “Laa Ilaha illa Allah” dengan suara keras ketika mengiring jenazah adalah hal yang diperbolehkan bahkan menurut sebagian ulama lebih utama. []waAllahu a’lam

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

Fanatik Kebangsaan, Basis Militansi Santri Membela Negeri

Telah mainstream di negeri ini bahwa sikap “fanatik” teridentifikasi sebagai tindakan yang tidak baik. Padahal sebagian besar warga Indonesia memiliki kecenderungan terhadap jargon “NKRI Harga Mati” atau “Ideologi Pancasila sudah Final”. Meskipun pada hakikat yang sebenarnya, hal sedemikian ini juga menunjukkan sebuah kefanatikan. Buya Hamka dalam salah satu bukunya menyebutkan:

“Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Tengku Cik Ditiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati bertimbun mayat, menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik. Kalau tak ada lagi orang-orang fanatik di negeri ini, maka segala sampah, segala kurap akan masuk kemari, tidak dapat ditahan-tahan”.

Pernyataan demikian hendak menegaskan bahwa Indonesia dapat merdeka dan berdaulat tidak lain lantaran perjuangan mati-matian para pejuangnya. Jika tanpa perjuangan fanatik para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan, mungkin negeri ini telah jatuh kembali pada genggaman penjajah. Sebab secara logistik, kekuatan penjajah berlipat-lipat lebih kuat daripada kekuatan para pejuang. Para pahlawan bangsa ini yakin seyakin-yakinnya bahwa bumi pertiwi harus merdeka, kemanusiaan harus dibela, penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi.

Walhasil, sejarah telah mencatat perihal kunci keberhasilan para pejuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah keyakinan yang teramat kuat, serta tekad yang bulat bahwa Indonesia akan menjadi lebih baik jika merdeka. Kemanusiaan pribumi akan lebih terjaga jika penjajah terusir dari negeri ini.

Di masa penjajahan yang begitu panjang, santri muncul sebagai sosok yang memiliki andil besar bagi keberhasilan Nusantara dalam menjaga budayanya. Walaupun telah ratusan tahun dijajah, dijarah oleh Belanda—budaya Nusantara tetap berhasil dipertahankan dan mayoritas penduduknya masih Islam. Berkat sikap kalangan pesantren yang non koperatif total terhadap semua budaya Belanda—jati diri dan tradisi Nusantara tetap terjaga. Baik dalam sistem pengetahuan, kepercayaan, hukum, dan politik juga tetap lestari.

Militansi Santri

Militansi santri dalam membela Indonesia, dapat diselidiki dari keberhasilannya membangun tradisi perlawanan terhadap berbagai pihak yang berniat menghancurkan Indonesia. Santri selalu hadir dalam berbagai perlawanan melawan penjajah. Perlawanan-perlawanan sporadis terhadap penjajahan tak pernah berhenti, yang berlangsung sepanjang 3 abad. Di tanah Jawa, jejak perlawanan besar terjadi pada tahun 1825-1830. Kolonial Belanda menyebutnya sebagai perang Jawa. Saat itu jejak perlawanan umat Islam terhadap hegemoni kolonial dipimpin oleh Pangeran Diponegoro (seorang bangsawan Mataram yang berlatar belakang santri).

Dalam sejarah perlawanan bersenjata terhadap kolonial Belanda di Indonesia, hampir tidak ada perlawanan yang tidak melibatkan pemimpin tarekat (tokoh pesantren). Dalam Koloniaal Archive yang mencatat kasus-kasus pemberontakan yang berlangsung antara tahun 1800-1900, terjadi tidak kurang dari 112 kali pemberontakan yang dipimpin tokoh pesantren tarekat.

Dalam membuktikan loyalitas untuk negeri, konsolidasi nasionalisme kaum santri menjadi tren utama pendidikan pesantren saat itu. Bahkan, sejumlah ulama menjadikan Mekkah sebagai kota transit pemantapan ideologi nasionalisme keIslaman santri. Di tanah suci, selain menuntut ilmu—jamaah haji asal Indonesia juga melakukan konsolidasi pengembangan jaringan perlawanan terhadap kolonialisme. Dengan harapan, jika tiba di tanah air, mereka dapat memimpin umat untuk secara perlahan dan pasti mengumandangkan anti kolonialisme.

Catatan sejarah ini seakan menjadi latar belakang dari apa yang pernah disampaikan oleh salah satu ulama Nusantara generasi saat ini, Maulana Habib Muhammad Lutfi bin Yahya: “Fanatik kebangsaan itu melebihi nuklir. Nuklir itu bisa meledakan mana saja, tapi tidak akan bisa melenturkan keIndonesiaan”.
Pernyataan ini, menarik untuk direnungkan secara adil oleh setiap bangsa Indonesia. Sebab, bukanlah hal yang bijak jika sikap “fanatik” mutlak dianggap sebagai hal yang salah. Untuk membuka cakrawala berfikir, Ibnu Khaldun menawarkan buah pemikiran seperti berikut: “Negara dan pemerintahan tidak akan mewujud tegak tanpa pertolongan jamaah dan sikap fanatik para pembelanya. Sikap fanatik adalah faktor kunci tercapainya dominasi sebuah negara dalam menaklukkan berbagai ancaman musuh. Sebab, lantaran fanatiklah seseorang akan rela mengorbankan nyawa sekalipun”.

Ashabiyyah yang Dilarang

Memang benar dalam perspektif ajaran Islam terdapat larangan ashabiyyah (fanatik). Namun larangan tersebut tidak lantas difahami ashabiyyah harus dibuang secara keseluruhan. Akan tetapi menurut Ibnu khaldun, fanatisme harus diarahkan pada porsi yang tepat dalam menegakkan kebenaran dengan sekuat tenaga. Bahkan dalam hadits shahih disebutkan:

ما بعث الله نبياً إلا في منعة من قومه

“Allah tidak mengutus Nabi kecuali Ia berada dalam naungan pembelaan fanatik kaumnya”.

Tidak hanya Ibnu Khaldun, Imam al-Mawardi pun turut memaparkan pemikirannya tentang ashabiyyah. Menurut beliau, ashabiyyah adalah “kesetiaan tinggi terhadap sebuah bangsa dalam menghadapi bangsa lain”. Sikap tersebut dilarang oleh syariat jika mendorong sebuah bangsa terhadap pembelaan yang membabi buta, tanpa memilah—apakah dalam posisi benar atau salah. Namun jika ashabiyyah tersebut menjadi semangat membela kebenaran, maka statusnya tidak lagi dilarang bahkan menjadi sebuah anjuran (mustahab). Semua itu berdasar pada firman Allah Swt:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan. dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan kedzaliman”.

Dengan demikian, santri bisa dianggap berhasil memahami fanatisme kebangsaan dalam arti dan porsi yang tepat, juga dalam implementasi yang diukur oleh neraca maslahat dan mafsadah. Fanatisme kebangsaan santri—bukan dalam arti semangat merendahkan bangsa lain. Justru fanatik kebangsaan dalam perspektif santri adalah kukuhnya pendirian menolak siapapun yang hendak menghancurkan Indonesia, sekalipun mengatas-namakan Islam. Jika para santri millenial berhasil mempertahankan prinsip ini, maka santri akan senantiasa berada di garda terdepan untuk membela NKRI.[]

penulis: Firdaus Asrori Ma’shum

Artikel Terkait:
CAKRAWALA SANTRI INDONESIA

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Fanatik Kebangsaan # Fanatik Kebangsaan

Cakrawala Santri Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai nation-state (negara-bangsa) dengan asas Pancasila, adalah hasil kesepakatan para founding fathers (pendiri bangsa) termasuk para ulama Nusantara. Kesepakatan ini merupakan sebuah negara berdaulat yang mengayomi seluruh rakyatnya yang majemuk, dengan beragam suku, bangsa, dan agama.

Namun dalam perjalanan sejarahnya, perjanjian luhur yang telah diikrarkan atas dasar kearifan dan kebijaksanaan para pendiri bangsa ini, tidak henti-hentinya mendapat rongrongan dari kelompok fundamentalis Islam yang memaksakan kehendaknya. Kelompok ini hendak mengkonversi NKRI sebagai negara-bangsa menjadi negara-agama, dengan mengabaikan kenyataan pluralitas bangsa Indonesia.
Benih ideologi kelompok fundamentalis Islam ini sebenarnya sudah ada sejak awal kemerdekaan tahun 1945. Baik yang bersifat konstitusional, seperti aspirasi-aspirasi yang disuarakan dalam majelis konstitute, atau bersifat militer Seperti dalam kasus DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) tahun 1949, yang berusaha mendirikan negara Islam dan menolak Pancasila. Kelompok ini kemudian ‘tiarap’ selama beberapa dekade pada era Orde Lama dan Orde Baru. Era Reformasi yang memberikan ruang kebebasan politik, menjadi momentum bagi mereka untuk ‘bangun dari tiarap’ dan mengampanyekan kembali ide-ide mendirikan negara Islam Indonesia.

Dalam pandangan kelompok ini, NKRI sebagai negara dengan asas Pancasila, yang merupakan hasil ijtihad politik ulama Nusantara, dianggap tidak sesuai dan bertentangan dengan Islam.

Pandangan demikian, menjadikan mereka tidak segan mengatakan Indonesia adalah negara kafir dan Pancasila thaghut (setan) yang harus ditolak oleh umat Islam.

Kelompok ini juga merasa mendapat pembenaran normatif manakala merujuk kepada teks-teks dalam literatur khazanah Islam klasik (turats atau kitab kuning), yang mewajibkan negara Islam (khilafah) dan menerapkan hudud (hukum-hukum Islam) sebagaimana yang dikonseptualisasikan fuqoha terdahulu dalam fikih klasik. Mereka menganggap, konsep-konsep yang telah dirumuskan dalam fikih klasik itulah satu-satunya interpretasi yang mempresentasikan politik dan hukum Islam—sehingga harus diterapkan kapanpun dan di manapun. Segala sistem pemerintahan, bentuk negara, atau hukum-hukum positif yang tidak sesuai dengan rumusan fikih klasik itu, akan mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak islami atau tidak syar’i.

Dengan pandangan dan anggapan seperti ini, maka praktis kalangan pesantren akan mereka plot sebagai “penghianat khazanah sendiri”. Pesantren merupakan basis dan pusat literatur khazanah Islam klasik, namun sejak awal—melalui tokoh-tokohnya di NU—justru menerima, mendukung, bahkan berada di garda terdepan dalam menjaga dan mempertahankan NKRI sebagai negara-bangsa dan Pancasila sebagai asas negara, serta menolak bentuk negara-agama (khilafah). Pilihan (baca: ijtihad) politik kalangan pesantren yang menolak bentuk negara-agama dan menerima bentuk negara-bangsa ini, mereka anggap menghianati literatur sendiri. Karena teks-teks literatur khazanah pesantren tidak sesuai dengan ide dan agenda politik yang diperjuangkan dan diamalkan oleh kelompok mereka.

Bagi mereka, ini merupakan sebuah ironi. Kalangan pesantren yang notabe sebagai pewaris literatur khazanah Islam klasik, justru tidak mengamalkan isinya—sedangkan mereka yang tidak memiliki basic pesantren justru berjuang mati-matian untuk mengamalkan isi kitab kuning. Dan lantaran itulah, menurut anggapan mereka, kalangan (NU) tidak memiliki landasan dalil normatif, bahkan landasan historis—dalam memilih, menerima, membela, untuk tetap mempertahankan NKRI dan Pancasila.

Idiologi politik kelompok fundamentalis Islam di atas, di era reformasi ini, mereka memperjuangkan secara masif dan militan—baik melalui opini, pemikiran, pendidikan, gerakan, bahkan melalui parlemen dan infiltrasi-infiltrasi kesejumlah organisasi kemasyarakatan dan lain-lain. Propaganda yang paling intens mereka kampanyekan adalah melalui sentimen agama, dengan menggunakan simbol-simbol Islami (baca: Arab) dan jargon-jargon religius. Sehingga sangat mempesona bagi tidak sedikit umat Islam—lebih-lebih masyarakat awam. Sampai-sampai banyak yang terpedaya dan terpengaruhi dengan ide dan agenda-agenda politik mereka.

Bagi bangsa Indonesia, ideologi kelompok fundamentalis Islam tentu saja sangat berbahaya. Karena ide-ide dan agenda-agenda politik mereka bukan hanya akan merusak dan menghianati perjanjian luhur (mu’ahadah) bangsa ini, melainkan sangat potensial akan membawa Indonesia ke dalam kondisi chaos dan konflik horizontal sebagaimana yang terjadi di negara-negara Timur Tengah belakangan. Dalam konteks seperti inilah, penting bagi pemerintah mewaspadai dan membendung gerakan mereka, serta tidak melakukan pembiaran. Sebab setiap usaha mengkonversi suatu bentuk negara, memiliki dhoror (resiko) yang sangat besar dan cost politik yang mahal.

Bagi kalangan pesantren, anggapan atau plot “menghianati khazanah sendiri” dan pilihan (ijtihad) politik yang tidak memiliki dalil normatif seperti tuduhan di atas, sangat mendesak untuk direspon dan diberikan jawaban sebagai bentuk tanggung jawab moral dan intelektual para santri. Karena sebagai ‘manusia’ pesantren, santri memiliki amanah untuk menjaga dan merealisasikan warisan literatur khazanah Islam klasik tersebut.

Memang harus diakui, bahwa teks-teks dalam literatur khazanah klasik, khususnya bab siyasah, yang mayoritas dikarang oleh ulama Timur Tengah pada abad pertengahan, di mana realitas sosial-politik umat Islam ketika itu menghegemoni dunia. Kajiannya cenderung mewacanakan negara-agama (khilafah)—dan menerapkan atau memformalisasikan hukum-hukum siyasah (hudud). Namun dalam konteks Indonesia, ketika ulama pesantren melakukan ijtihad politik yang direlevansikan dengan realitas sosial dan geo-politik Nusantara di abad modern ini, dan menghasilkan keputusan politik yang tidak sesuai dengan teks-teks kitab kuning, maka apakah kalangan pesantren lantas bisa diplot menghianati literatur khazanah sendiri? Di sinilah jawaban dari tanda tanya yang menjadi persoalan tidak sederhana. Karena dalam memahami literatur khazanah turats, tidak cukup hanya dengan pembacaan secara tekstual melalui pendekatan metodelogis (manhaji). Sehingga bisa dipahami pula kronologi dan latar belakang (‘illah) sebuah hukum fikih dirumuskan.

Tuduhan bahwa keputusan (ijtihad) politik kalangan pesantren yang tidak memiliki landasan normatif, kendatipun tidak benar—namun bisa dimengerti dan dimaklumi. Sebab harus diakui juga bahwa, sampai sejauh ini memang belum banyak tersedia kajian-kajian siyasah Islam yang progresif dan kotekstual. Sehingga literatur siyasah yang dikaji di pesantren-pesantren pun, hingga saat ini juga masih merujuk pada rumusan-rumusan dan konsep-konsep siyasah Islam konvensial itu; seperti karya Syihabuddin Ahmad bin Abni al-Rabi yang dikenal sebagai Ibn Rabi’ (wafat 855 M. / 272 H.), Abu Nashir al-Faraby (870-950 M. / 364-450 H.), Abu Hasan Ali bin al-Mawardi (976-1059 M. / 450-564 H.), dan ulama-ulama fikih abad pertengahan lainnya. Di lingkungan pesantren, nyaris belum ditemukan rujukan-rujukan referensial yang diakui (mu’tabar) yang bisa dijadikan sebagai rujukan, landasan, atau hujah normatif yang benar-benar holistik bagi ijtihad politik ulama Nusantara.

Untuk menjawab kelompok fundamentalis Islam yang menuduh kelangan pesantren sebagai “pengianat khazanah sendiri”, dan untuk mengisi kekosongan referensial (dalil-dalil normatif), justru posisi santri sangat berperan untuk terus menjaga keutuhan NKRI dengan menjadikan ulama-ulama Nusantara sebagai rujukan dan pedoman (i’tibar). Sebab, beliau-beliau mampu menjawab tuduhan-tuduhan tersebut sekaligus memberikan argumentasi dan hujah-hujah fiqhiyah terhadap ijtihad politk ulama pesantren yang menerima NKRI sebagai negara-bangsa dan Pancasila sebagai asasnya. Lebih dari itu, ulama Nusantara juga memberi arahan secara metodelogis tentang wacana formalisasi hukum-hukum Islam, isu-isu politik global-modern, kajian kebangsaan ke-Nusantaraan, dan lain sebagainya, untuk membumikan fikih siyasah Islam dalam pangkuan Ibu Pertiwi, Nusantara.

Metodelogi ulama Nusantara pastinya menggunakan pendekatan maqoshid syariah (nilai-nilai universal agama). Pendekatan ini dipilih setidaknya karena tiga alasan:

Pertama, maqoshid syariah merupakan filosofi kemaslahatan yang menjadi cita-cita esensial dari persyariatan seluruh hukum agama. Karena itu, setiap produk hukum, perlu dicek melalui maqoshid syariah untuk menjamin produk hukum tersebut apakah sejalan dengan filosofi kemaslahatan yang dicita-citakan syariat.

Kedua, ia lebih bersifat metodelogis (manhaji), karena diproyeksikan untuk membangun argumen normatif dan filosofis bagi ijtihad politik Islam dalam konteks Nusantara. Kajian yang bersifat manhaji, praktis akan menjadikan maqoshid syariah sebagai basis atau landasan epistemologinya.

Ketiga, teori-teori, isu-isu atau produk-produk pemikiran dunia modern seperti demokrasi, sekuler, pluralisme, HAM, dan lain sebagainya, hampir belum pernah disinggung dalam literatur khazanah Islam klasik. Sehingga untuk memberikan respon ilmiah, harus diuji melalui maqoshid syariah.

Pasca Rasulullah saw wafat, teks-teks agama (al-Qur’an dan hadits) secara praktis juga berhenti, dan mencapai titik sempurna sebagai pedoman hidup manusia. Hal ini telah ditandaskan sendiri di dalam al-Qur’an yang turun ketika Nabi melaksanakan ritual haji wada’ atau haji perpisahan di akhir hayatnya.

آليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلام دينا ( الما ئدة: 3
“Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah aku ridhai Islam menjadi agama bagimu”. (QS. al-Maidah:3)

Akan tetapi, kesempurnaan teks-teks agama ini, tentu harus dipahami sebagai kesempurnaan yang besifat potensial, bukan faktual. Artinya, al-Qur’an dan hadits akan senantiasa relevan disetiap ruang dan waktu (shalih likulli zaman wa makan) menjadi dasar kehidupan. Namun dalam pengertian sebagai sumber inspirasi dalam merumuskan setiap hukum, bukan dalam pengertian sebuah produk hukum kehidupan yang telah ada di dalam al-Qur’an dan hadits. Karena itulah dibutuhkan kerja intelektual (ijtihad) dari santri untuk menggali butir-butir inspirasi yang terpendam di dalamnya. Kerja ijtihad mutlak diperlukan untuk membumikan “pesan-pesan langit” ke dalam ranah profanitas kehidupan manusia. Al-Qur’an dan hadits akan senantiasa “diam” apabila tidak dilakukannya upaya-upaya interpretasi. Tanpa usaha keras mengali butir-buti inspirasi ini, problem-problem kehidupan yang berkembang secara cepat dan dinamis tidak akan pernah bisa diketahui hukumnya. Ibn Rusdy dalam pembukaan kitabnya, Bidayah al-Mujtahid menguraikan:

أنّ الوقائع بين أشخاص الأنامى غير متناهية، والنصوص والأفعال والإقوارات متناهية ومحال أن يقابل ما لا يتناهى

“Persoalan-persoalan kehidupan terus berkembang secara tak terbatas, sementara teks-teks agama sangat terbatas. (tanpa kerja ijtihad yang terus-menerus), tidak mungkin sesuatu yang tak terbatas bisa dijawab dengan sesuatu yang terbatas”.

Dalam kerja ijtihad, al-Qur’an dan hadist harus dibaca secara kontekstual, agar bisa menangkap prinsip-prinsip dan nilai-nilai universal yang dicita-citakan syariat (maqoshid syariah). Prinsip nilai-nilai universal yang dicita-citakan syariat lewat al-Qur’an dan hadits adalah menciptakan kemaslahatan bagi kehidupan semesta. Sebagaimana misi dari diutusnya Nabi Muahammad Saw. Allah Swt. berfirman:

وما أرسلناك إلاّ رحمة للعالمين (الأنبياء: 107

“Dan tidakkah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya’: 107)
Seluruh produk hukum yang digali melalui proses ijtihad, harus mengusung muatan kemaslahatan yang selaras dengan nilai-nilai universal syariat. Rumusan-rumusan hukum yang tidak sejalan dengan muatan kemaslahatan, maka harus dibatalkan. Karena sudah tidak sejalan dengan cita-cita syariat (maqoshid syariah).

Dalam mengartikulasikan kemaslahatan yang menjadi maqoshid syariah ini, statemen al-Ghozali agaknya yang paling representatif. Dalam al-Mustashfa, beliau mengatakan:

أماالمصلحة فهي عبارة فى الأصل عن جلب منفعة أو دفع مضرّة ولسنا نعنى به ذلك فإنّ جلب المنفعة ودفع المضرّة مقاصد الخلق وصلاح الخلق في تحصيل مقاصدهم لكنّا نعنى بالمصلحة المحافظة على مقصود الشرع ومقصود الشرع من الخلق خمسة
وهو أن يحفظ عليهم دينهم ونفسهم وعقلهم ونسلهم ومالهم فكل ما يتضمّن حفظ هذه الأصول الخمسة فهو مصلحة وكلما يفوّت هذه الأصول فهو مفسدة ودفعها مصلحة

“Maslahat adalah sebuah istilah untuk meraih kemanfaatan dan menghindari resiko kerusakan. Namun bukan ini yang kita maksudkan (dengan maslahat), karena meraih kemanfaatan dan menghindari keburukan merupakan tujuan dan kepentingan mahluk.

Yang kita maksudkan dengan maslahat ialah, menjaga tujuan-tujuan syariat. Tujuan syariat demi kepentingan mahluk ada lima, yaitu menjaga agama, nyawa, akal, keturunan, dan harta mereka. Setiap tindakan yang memiliki muatan penjagaan terhadap lima prinsip dasar ini, maka itulah maslahat. Dan setiap tindakan yang dapat merusak lima prinsip dasar ini, maka itulah mafsadah. Sedangkan mencegahnya, berarti maslahat (pula)”.

Dari sini, kemaslahatan yang bersifat duniawi (mu’amalah ath-thab’i wal iqob) disepakati dan bisa diketahui melalui penilaian akal menurut wacana ulama ushul fikih dan teolog. Namun kemaslahatan yang bersifat ukrowi, terjadi perselisihan antara kelompok Asya’iroh dan Mu’tazilah. Bahkan menurut asy-Syaukani, relevansi perselisihan tersebut hanya dalam periode pra Nubuwwah (qabl al-bi’tsha). Sedangkan untuk kemaslahatan yang besifat duniawi, baik pra atau pasca kenabian, kedua kelompok sepakat. Akal manusia memiliki kemampuan dalam menilai baik dan buruk (kemaslahatan). Hal ini sesuai hadits Nabi Saw;

فما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رأوا سيّئا فهو عند الله سيّئ

“Sesuatu yang dinilai baik oleh muslim, maka baik pula menurut Allah. Dan (sebaliknya), sesuatu yang dinilai buruk oleh muslim, maka buruk pula menurut Allah”.

Dalam menjelaskan makna maslahat, banyak redaksi ulama yang berbeda-beda. Namun secara esensial, para ulama sepakat—maslahat harus selaras dengan maqashid syariah (nilai-nilai universal agama). Artinya, maslahat yang diakui (mu’tabar) sebagai pertimbangan dalam penetepan hukum adalah maslahat yang diartikan dari syariat. Sampai di sini, ulama sepakat. Sedangkan jika maslahat yang disarikan dari maqoshid syariah tersebut bertentangan dengan nash syariat, maka ulama berbeda pendapat. Menurut sebagian ulama, maslahat demikian dianggap mulghoh (tidak berlaku). Karena menurut al-Ghozali, kemaslahatan pada dasarnya merupakan domain syariat, bukan domain akal. Al-Ghozali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengatakan;

لا نبتدع المصالح بل نتّبع فيها

“Kita (tidak memiliki otoritas untuk) mengkreasikan maslahat, tapi (hanya dituntut) mengikutinya”.

Sedangkan menurut at-Thufi, lebih dimenangkan hukum yang disarikan dari maslahat. Sebab, menurut at-Thufi, menjaga maslahat merupakan hukum yang disepakati (muttafaq), sementara nash masih berpotensi diperselisihkan (mukhtalaf). Karena sesuatu yang telah disepakati harus didahulukan daripada sesuatu yang masih diperdebatkan.

Teori maslahat versi at-Thufi dikembangkan dari pemahaman mendalam terhadap hadits:

لا ضَرَرَ ولا ضِرَارَ (رواه مالك وإبن ماجة

“Tidak boleh berbuat yang membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh berbuat yang membahayakan (orang lain)”. (HR. Malik dan Ibnu Majah)

Kata ضَرَرَ dan ضِرَارَ dalam hadits tersebut, menurut at-Thufi diartikan sebagai mafsadah yang merupakan antonim dari maslahat. Artinya, apabila syariat melarang berbuat mafsadah, berarti sama dengan syariat memerintahkan berbuat maslahat. Dengan beitu, mendahulukan maslahat daripada nash ketika terjadi kontradiksi dalam teori at-Thufi, tidak berarti menghadapkan maslahat dengan nash. Melainkan menghadapkan satu nash dengan nash lain. Sebab maslahat juga disarikan dari nash. Dalam ushul fikih, ketika satu nash dengan nash yang lain saling berhadapan (ta’adul) atau kontradiksi (ta’arud), maka bisa disikapi dengan beberapa metode seperti; Metode bayan, takhsis, tarjih, jam’u, nasekh, dll.

Dengan demikian, rumusan-rumusan siyasah Islam konversional yang telah kehilangan relevansi bagi kemaslahatan masyarakat kontemporer, harus diijtihadi ulang untuk menjamin relenvensinya. Hanya saja, dalam ijtihad ini harus senantiasa berada dalam koridor maslahat yang menjadi cita-cita besar syariat atau maqoshid syariah.

Maqoshid syariah adalah nilai-nilai universal yang menjadi proyek atau tujuan dan legislasi (pensyariatan) seluruh hukum agama. Nilai-nilai universal ini terangkum dalam lima atau enam prinsip dasar yaitu; hifzh ad-din (perlindungan agama), hifzd an-nafs (perlindungan jiwa), hifzd al-‘aql (perlindungan intelektual), hifzd an-nasl (pelindungan genetik), dan hifzd al-mal (perlindungan properti). Ulama kontemporer (muta’akhirin) menambahkan satu prinsip lagi yakni hifzd al-irdh (perlindungan harga diri).

Nilai-nilai universal syariat ini sangat esensial dan fundamental dalam setiap produk-produk hukum, sebab syariat tidak diturunkan kecuali semata-mata untuk menjamin kemaslahatan bagi manusia, bukan bagi Tuhan.

ومن المتّفق عليه بين جمهور العلماء المسلمين أنّ الله سبحانه ما شرع حكما إلاّ لمصلحة عباده وأنّ هذه المصلحة إمّا جلب نفع لهم وإمّا دفع ضررعنهم فالباعث على تشريع أيّ حكم شرعيّ هو جلب منفعة للناس أو دفع ضررعنهم وهذا الباعث على تشريع الحكم هو الغاية المقصودة من تشريعه وهو حكمة الحكم.

“Diantara yang menjadi konsensus mayoritas ulama adalah bahwa Allah swt tidak menurunkan syariat kecuali untuk kemaslahatan hamba-Nya. Kemaslahatan ini ada yang berupa menarik kemanfaatan dan ada yang berupa mencegah kerusakan bagi manusia. Maka motif persyariatan setiap hukum adalah menciptakan kemanfaatan dan menolak kerusakan bagi manusia. Motif ini merupakan tujuan puncak dari persyaratan hukum dan itulah filosofi (hikmah) sebuah hukum”.

Sampai di sini kiranya ditegaskan bahwa, penerimaan dan dukungan kaum pesantren terhadap NKRI, Pancasila, UUD ’45, Bhineka Tungal Ika, dan seluruh sistem yang ada di dalamnya—bukan merupakan penghianatan terhadap literatur khzanah turats. Melainkan kreativitas ijtihad ulama Nusantara, dengan mempertimbangkan realitas bangsa Indonesia dan kompleksitas, totalitas, serta universalitas dalil-dalil agama. Maka kita sebagai santri harus berperan dalam menjaga keutuhan NKRI dengan meneruskan perjuangan beliau-beliau (berijtihad politik) untuk membumikan ajaran-ajaran Islam (fiqh as-siyasah) di pangkuan Ibu Pertiwi demi membangun Indonesia menjadi baldatun ath-thayyibah wa rabbun ghofur. Wallahu a’lam[]

Penulis: Miftahul Jannah
Ttl        : Bekasi, 10 Nopember 1999

Hukum Membaca Al-Fatihah bagi Makmum yang Datang Terlambat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ketika jamaah salat fardhu digelar, kadang kala kita datang terlambat. Sehingga ketika kita baru takbir dan masih membaca Surah Al-Fatihah, tak lama kemudian imam rukuk. Bagaimana hukum bacaan Al-Fatihah tersebut, dilanjutkan atau langsung rukuk?
Mohon penjelasannya karena ini ini sering terjadi, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ghofur, Salatiga)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salat jamaah, tertinggal takbiratul ihram bersama imam adalah hal yang lumrah terjadi. Sehingga tidak berselang lama setelah makmum yang datang terlambat tersebut takbir, sang imam pun akhirnya rukuk.

Mengenai bacaan Surah Al-Fatihah dalam kondisi tersebut, maka status makmum dibagi menjadi dua:

Pertama, makmum muwafiq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum harus menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan baginya ditolerir untuk tertinggal tiga rukun panjang, yaitu rukuk, sujud pertama dan sujud kedua.

Kedua, makmum masbuq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya tidak cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum membaca Surah Al-Fatihah sekedarnya dan jika imamnya rukuk maka ia harus rukuk mengikuti imam. Karena bacaan Al-Fatihah makmum sudah ditanggung oleh imam.

Kedua rincian ini sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi Banten berikut dalam kitab Nihayah az-Zain berikut:

وَإِِنْ وجد الإِمَام فِي الْقيام قبل أَن يرْكَع وقف مَعَه فَإِن أدْرك مَعَه قبل الرُّكُوع زَمنا يسع الْفَاتِحَة بِالنِّسْبَةِ للوسط المعتدل فَهُوَ مُوَافق فَيجب عَلَيْهِ إتْمَام الْفَاتِحَة وَيغْتَفر لَهُ التَّخَلُّف بِثَلَاثَة أَرْكَان طَوِيلَة كَمَا تقدم وَإِن لم يدْرك مَعَ الإِمَام زَمنا يسع الْفَاتِحَة فَهُوَ مَسْبُوق يقْرَأ مَا أمكنه من الْفَاتِحَة وَمَتى ركع الإِمَام وَجب عَلَيْهِ الرُّكُوع مَعَه

“Apabila makmum menemui imam ketika berdiri maka makmum juga berdiri bersamanya. Apabila makmum menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah dengan bacaan sedang maka disebut makmum muwafiq dan wajib untuk menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan ia dimaafkan tertinggal tiga rukun panjang dari imam sebagaimana penjelasan terdahulu. Dan apabila makmum tidak menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah maka disebut makmum masbuq dan cukup membaca Al-Fatihah sekedarnya. Jika imam rukuk maka wajib bagi makmum rukuk bersama imam.” (Nihayah az-Zain, hlm. 124)

Untuk itu, bacaan Al-Fatihah makmum tergantung apakah ia menemukan waktu yang cukup untuk membacanya atau tidak. []waAllahu a’lam

Bacaan terkait:
Tentang Shalat Jama’ah

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo

CERPEN: Elegi

Tubuh bergetar. Kegelapan menelan cahaya. Duka mencabik tawa. Kami harus kehilangan, lagi dan lagi.

Tempat itu sangat mengerikan. Lebar dan dalam bagai gua, di bagian dalamnya terdapat jeruji-jeruji putih beraturan. Saat gua itu menutup, jeruji-jerujinya bergerak, mencabik-cabik tubuh teman kami tanpa kasih, hingga hancur tak berbentuk.

“Kau lihat itu? Donat sudah dilumat habis!” seru Donat Keju. Ia selalu menakut-nakutiku, menceritakan gua menakutkan yang disebut mulut manusia. Dan barusan aku melihat langsung peristiwa mengerikan itu.
Kami kaum makanan yang tertata rapi di etalase tak memiliki usia panjang. Ada yang sanggup bertahan berhari-hari seperti para kue, ada yang hanya bertahan satu hari, bahkan ada yang baru saja terpajang langsung lenyap. Ketika tangan itu bergerak di atas kami, semua akan berteriak ketakutan. Takut menjadi korban berikutnya.

Usiaku sudah satu hari di tempat ini dan waktuku habis oleh rasa takut. Aku duduk tepat di sebelah Donat Keju. Ia selalu berteriak penuh ketakutan karena jenisnya sudah habis.

“Hei Kue Kelapa, lihat tangan yang sedang bergerak untuk memilih itu!” Serunya.
“Tapi tidak ada pelanggan,” ucapku.
“Tetap saja, apa yang harus kulakukan? Aku ingin berlari, tapi apa daya? Ini mengerikan, mengerikan… tidak… tubuhku!” ia berteriak histeris, dan semakin histeris saat tangan itu berhenti di antara kami. Aku memejamkan mata.

“Kelapa…Kue Kelapa…!!” aku mendengar teriakannya semakin menjauh, aku tak tega melihatnya pergi.
“Tidak! Kue Kelapa, selamat tinggal kau akan terlumat!” Aku terkejut mendengarnya. Ternyata tangan itu mengambilku. Tapi ia tak memberikanku pada pelanggan, ia justru membawaku pergi jauh menyeberangi etalase demi etalase hingga tiba di etalase paling ujung. Aku diletakan di sana, ternyata aku hanya dipindah di tempat sejenisku, kue kering. Di sampingku ada Kue Bolu, tapi ia terlihat begitu murung. Aku pun menyapanya.

“Hai!” Ia hanya melirik. Kuulangi sapaanku, “Hai!”
“Ada apa?” tanyanya merespon.
“Aku baru datang,” jawabku.
Kue Bolu menatapku sebal, “Aku sudah melihatnya. Jangan ajak aku bicara. Aku sedang merenung.”
“Apa yang kau renungkan?” tanyaku penasaran.
Kue Bolu menghela nafas, “Aku tak terpilih.”
Ini mengejutkan! “Bagaimana bisa kau ingin terpilih? Di tempatku sebelumnya semua menangis dan merengek karena takut terpilih!”
“Kau perlu banyak belajar, nak,” kata Kue Bolu seraya menatapku takzim. “Menurutmu untuk apa kita diciptakan? Untuk dipamerkan di etalase atau dimakan?”
“Di-ma-kan…” jawabku ragu.

“Benar. Itulah takdir kita. Bagaimana menurutmu jika kita melenceng dari tujuan penciptaan kita? Saat harusnya kita dimakan tapi hanya dipajang? Itu menyakitkan!” seru Kue Bolu. “Apakah bentukku terlalu buruk, apa rasaku terlihat tak enak, aku tak menarik? Pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul saat kau dibiarkan terlalu lama di etalase. Dan yang lebih mengerikan lagi, saat jamur-jamur menggerogoti tubuhmu, kau akan dibuang, dibiarkan membusuk. Bakteri-bakteri kotor akan mengurai dan menyelapkanmu, belatung-belatung akan muncul dari dalam dirimu. Itu membuktikan bahwa kau tidak berguna. Menyedihkan…”

Aku menyetujui setiap perkataannya. Jenis kami memang jarang diminati, mungkin itu yang menimbulkan perasaan iri pada jenis yang lain. Hingga Bolu berpikir lebih baik dimakan daripada dibiarkan membusuk. Aku terdiam, merenung, memikirkan hal-hal yang harus kami alami. Aku juga tak tahu mana yang lebih baik, dimakan atau dibuang? Mataku terasa berat, perlahan terpejam, meraih alam mimpi.

Aku melihat tempat yang gelap, panas, berbau busuk, menjijikkan. Dari sudut kiriku terdengar rintihan tangis, suaranya begitu pilu menyayat hati, tubuhku bergetar mendengarnya. Saat kuperhatikan lebih dalam, aku mulai mengenal pemilik suara itu itu. Ya, aku mengenalnya. Donat keju! Kupanggil ia agar menoleh ke arahku.

“Donat Keju…!” Ia tak menoleh hingga panggilan ketiga berhasil memalingkannya. Saat ia menoleh ke arahku, aku tak sanggup melihatnya, bentuknya sangat mengerikan.
“Kue Kelapa, kau disana?” tanyanya. Suaranya berat, seperti menahan sakit.
“Ya, apa yang terjadi denganmu? Dimana ini?”
“Apa kau masih di etalase? Semoga kau tak bernasib seperti ini. Aku sudah tertelan, itu sangat menyakitkan, gigi-gigi itu begitu keras.” Ia menangis meratap. “kau tahu,” lanjutnya, “saat tubuhmu hancur itu tak sebanding ketika kau masuk tempat ini, ini lebih mengerikan.”
“Dimana ini?” tanyaku.
“Perut orang rakus. Saat kau dimakan orang seperti ini, ragamu masuk ke dalam perutnya, tapi tidak dengan jiwamu. Karena jiwamu akan masuk ke perut makhluk terkutuk bernama setan.”
“Bagaimana bisa?” tanyaku.
“Entahlah, mungkin mereka berteman. Kau harus segera pergi Kue Kelapa, tempat ini tak baik untukmu. Semoga kau tak bernasib sepertiku.” Ia kembali memalingkan wajah dan menangis meratapi nasibnya.

Aku terbangun dari mimpiku, mimpi yang mengerikan. Kuceritakan mimpi itu pada Kue Bolu. Ia menyimak setiap perkataanku. Kami pun merenung, seperti itukah nasib yang harus kami alami? Tak ada pilihan yang menggembirakan? Termakan lantas jatuh ke dalam lebah berapi atau dibiarkan hingga belatung menghampiri kami, keduanya sama-sama buruk.

Di etalase lain, makanannya sudah banyak yang berganti, tapi tidak dengan etalase ini.
“Oh tidak!”
Aku menoleh ke arah Kue Bolu yang berteriak. “Ada apa Kue Bolu?” tanyaku.
“Lihat tubuhku! Ada bintik di sini! Apa yang harus kulakukan?” Bolu menangis. Apa yang ia takutkan telah terjadi, ada bintik hitam dengan semburat abu-abu di sekitarnya. Jika bintik itu muncul, maka itu pertanda bahwa Bolu tak lagi berguna. Bolu semakin lemah, makin banyak bintik hitam yang muncul, hingga tangan itu datang dan membawanya pergi. Ia berikan seulas senyum sebagai ucapan perpisahan dan seakan mendoakan semoga aku tak bernasib seperti dirinya. Kini aku merasa sendirian. Sebenarnya ada banyak makanan yang lain, tapi aku malas mengajak mereka berbincang.

Aku mengisi waktu untuk membenahi diri, mempersiapkan diri, menyambut jalan mana yang akan menimpaku. Jalan mana pun aku sudah siap. Lalu tiba-tiba aku merindukan Kue Keju, bagaimana ia sekarang di lembah itu? Aku juga merindukan Kue Bolu, ia pasti sedang berteriak dan menangis di dalam tong sampah bersama makanan-makanan sisa yang tak diinginkan.

Saat mataku terpejam, tubuhku seakan melayang di ruang hampa, aku mendengar bisikan-bisikan seorang lelaki dan perempuan, ternyata pemilik toko dan pelanggan. Aku terjual, ada yang membeliku. Pemilik toko memasukkan aku ke dalam kotak kecil bersama dua makanan lain. Lama kami terdiam di dalam kotak, udaranya sangat panas. Andai aku cokelat, sekarang aku pasti sudah meleleh. Aku heran, kenapa pembeli itu tak segera memakan kami.
Tiba-tiba kotak ini terbuka, tangan pembeli mengambilku sebagai santapan pertama. Aku memejamkan mata, menguatkan hati, sebelum tubuhku masuk ke dalam gua itu. Namun mulut mungil itu bergerak-gerak mengucapkan suatu kalimat yang baik dan nama yang agung. Mungkin itu yang disebut doa. Lantas, perlahan ia memasukkanku ke dalam mulutnya, benar-benar gelap, gigi-gigi itu mulai memotong tubuhku, dan yang mengherankan, aku tak merasakan sakit, aku baik-baik saja.

Ia terus memotong hingga aku hancur berkeping-keping, tubuh lembutku turun perlahan melewati kerongkongan, dan terus ke bawah hingga usus dua belas jari, sampai tempat terujung. Dan jiwaku tak ingin masuki ini, di dalam lembah gelap seperti Donat keju. Aku tetap bersemayam dalam tubuh pembeli, meresap dalam darah dan dagingnya. Mungkin karena doa itu. Pembeli mengikatku, setan pun tak bisa menyeretku ke dalam lebah terkutuknya. Dengan doa itu pembeli membuatku bermanfaaat untuknya. Aku menjadi paham, seperti apa seharusnya kaum kami berakhir. Seperti ini, setiap makanan harus berakhir sepertiku, tidak seperti Donat Keju apalagi Bolu.

Oleh: Khijatul Karomah. Penulis adalah santri PPTQ, kelahiran 23 Mei 1995, asal Wonosobo, Jawa Tengah.

*Tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Mengabdi kepada Allah yang telah menciptakan kita. Setiap hal baik yang diniatkan ibadah, maka hal itu akan menjadi berkah.*

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah