Berkah Pernikahan

Imam Yahya menceritakan:

Dahulu ketika aku bersama Sufyan bin Uyainah (107-198 H), ada seorang pria datang menghampiri ulama besar tersebut dan berkata, “Aku ingin mengadu padamu tentang istriku. Aku sangat rendah baginya dan tidak berharga”.

Sufyan bin Uyainah bertanya, “Apa kamu menikahinya dengan harapan mendapat keagungan?”

“Ya, betul.” Jawab pria tersebut.

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Barang siapa ingin keagungan (dalam pernikahan) maka ia diuji dengan kehinaan. Barang siapa yang memilih ingin kaya maka diuji dengan kemiskinan. Barang siapa menikah karena agamanya maka Allah himpun baginya kemuliaan, harta dan Agama.”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Auliya’, vol. VII hal. 289.

Baca juga:
RUMAH IBADAH NON-MUSLIM DALAM PANDANGAN FIKIH KLASIK

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Pandangan Fikih Klasik


Sebelum mengkaji hukum menjaga tempat ibadah umat lain, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana pandangan fikih tentang tempat ibadah non-Muslim. Dalam menghukumi hal ini, para ulama mengklasifikasinya berdasarkan pertimbangan daerah atau tempat dimana rumah ibadah tersebut dibangun. Para ulama memetakan daerah tersebut menjadi tiga bagian. Pertama, daerah yang sejak awal dibangun umat Islam. Kedua, daerah yang ditaklukkan umat Islam melalui jalur diplomasi dan perdamaian. Ketiga, daerah yang ditaklukkan umat Islam dengan kekuatan militer dan peperangan. Berikut ini penjelasan ketiganya:

Daerah yang sejak awal dibangun umat Islam

Daerah ini biasa disebut dengan kotanya umat Islam (amshar al-Muslimin). Terjadi kesepakatan di antara empat Imam Mazhab mengenai pelarangan membangun atau mendirikan tempat ibadah bagi umat non-Muslim di daerah ini. Bahkan Imam Najmu ad-Din al-Hanafi mengklaim hal ini sebagai konsensus seluruh ulama (ijma’). Meski demikian, perlu dicatat bahwa hukum ini adalah “hukum mentah” yang belum tentu dapat dipraktekkan di segala kondisi. Sebab, antara menghukumi sesuatu dan menerapkannya, adalah dua hal yang sangat berbeda. Sehingga, belum tentu secara hukum fikih haram kemudian dalam penerapannya menjadi tidak boleh.

Dalam tataran aplikatif, hukum taklifi yang berjumlah lima hukum (wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah) sangat terikat erat dengan hukum wadh’iy (sabab, syarat, mani’, sah, dan fasad, menurut satu versi—termasuk diantaranya rukhsah dan ‘azimah) yang menentukan keberlangsungan serta eksistensinya. Dalam konteks ini, apabila melarang umat non-Muslim mendirikan rumah ibadahnya mengakibatkan dloror yang lebih besar dibanding membiarkannya, maka membiarkan dan membebaskan mereka untuk membangun tempat ibadahnya adalah sikap yang harus dipilih. Melalui dasar kaidah:

ارتكاب أخف الضررين

“Menanggung resiko bahaya yang lebih ringan”
Hal ini juga sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam Syarh Shaghir kitab fikih muktabar Madzhab Maliki. Dalam konteks ke-Indonesiaan dengan segala kemajemukan, serta tingkat intoleransinya yang akhir-akhir ini cukup menanjak—melarang mereka untuk membangun rumah ibadah bukan hanya berakibat fatal yang dapat mengakibatkan terjadinya disintegrasi bangsa. Namun juga berdampak perlakuan diskriminatif yang akan menimpa umat Islam di daerah minoritas. Di samping itu, klaim ijma’ di atas sebenarnya masih perlu dikoreksi ulang. Sebab menurut Madzhab Zaidiyyah diperbolehkan bagi pemerintah untuk memberi izin umat non-Muslim membangun rumah ibadah mereka di daerah tersebut, selama menurut pandangan pemerintah—hal ini membawa kemashlahatan yang menjadi orientasi segala kebijakannya.

Bahkan, sebagaimana disampaikan Dr. Abdul Karim Zaidan, pendapat Madzhab Zaidiyyah inilah yang lebih kuat dibanding pendapat Madzhab lain. Sebab, jika kita telah menerima untuk hidup berdampingan serta mengakui eksistensi masyarakat non-Muslim sebagai warga negara dan membiarkan mereka dengan keyakinannya, maka tentu konsekuensinya adalah kita juga harus membiarkan mereka menjalankan kegiatan keagamaanya dengan membangun rumah ibadah.

Sementara berdasarkan pemahaman Sa’id Ramadan al-Buthi, bahwa boleh tidaknya membangun rumah ibadah non-Muslim di daerah ini lebih didasarkan pertimbangan kebutuhan mereka terhadap tempat ibadah atau tidak. Sehingga para ulama melarang hal ini. Sebab secara umum di daerahnya umat Islam, masyarakat non-Muslim tidak membutuhkan adanya tempat ibadah untuk menjalankan kegiatan keagamaan mereka.

Konteks Ke-Indonesiaan

Dalam konteks Indonesia, apa yang disampaikan Dr. Sa’id Ramadan al-Buthi ini sangat sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara kita. Dalam keputusan bersama Kementerian Agama dan Kementreian Dalam Negeri, prosedur pembangunan rumah ibadah di samping harus mendapat dukungan masyarakat setempat paling sedikit enam puluh (60) warga, juga harus memiliki pengguna rumah ibadah minimal sembilan puluh (90) orang. Dalam peraturan ini, angka 90 orang merupakan presentasi dari kebutuhan penggunaan rumah ibadah setelah melalui pertimbangan panjang.
Daerah yang ditaklukkan umat Islam melalui jalur perjanjian, diplomasi, atau perdamaian

Apabila ada daerah yang disepakati dalam perjanjian, daerah ini tetap menjadi milik masyarakat non-Muslim. Mereka dibebaskan untuk membangun tempat ibadahnya, dengan bersedia membayar pajak tanah (kharaj) kepada pemerintah.Sementara jika dalam kesepakatan perjanjian daerah ini menjadi milik umat Islam dan masyarakat non-Muslim bersedia membayar jizyah kepada pemerintah, maka mereka boleh membangun tempat ibadahnya apabila mensyaratkan diperbolehkan.

Sementara menurut Madzhab Maliki mereka boleh mendirikan tempat ibadahnya secara mutlak. Baik ada persyaratan atau tidak selama di daerah tersebut tidak dihuni umat Islam. Namun menurut Imam Ibnu Qasim salah seorang ulama Madzhab Maliki, di daerah ini mereka dibebaskan untuk mendirikan tempat ibadahnya. Baik ada persyaratan atau tidak, baik di daerah ini terdapat umat Islam yang menghuninya atau tidak.

Sementara rumah ibadah yang sudah ada sejak sebelum daerah ini ditaklukkan, maka harus tetap dipertahankan, dilindungi, dan tidak boleh dirusak selama ada pensyaratan dari mereka yang menginginkan hal ini.

Daerah yang ditaklukkan dengan kekuatan militer dan peperangan

Para ulama sepakat bahwa di daerah ini, non-Muslim tidak diperbolehkan membangun rumah ibadahnya. Sebab dengan ditaklukkannya daerah ini dengan peperangan, maka secara otomatis daerah ini menjadi harta ghanimah yang menjadi milik umat Islam. Hanya saja, Imam Ibnu Qasim al-Maliki memperbolehkannya selama mendapat perizinan dari pemerintah. Dalam hal ini, pendapat Ibnu Qasim menjadi pendapat mu’tamad dalam Madzhab Maliki. Sedangkan rumah ibadah yang sudah berdiri sebelum penaklukkan, maka harus tetap dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk dirusak. Sebab dalam masa pembebasan awal Islam (futuhaat al-ulā) tidak ada satu pun dari para sahabat yang menginstruksikkan untuk merusak bahkan merobohkan tempat-tempat ibadah umat non-Muslim. Bahkan menurut Imam Ibnu Qudamah, hal ini telah menjadi ijma’. Sebab faktanya, banyak rumah ibadah non-Muslim yang tidak diganggu meski sudah ditaklukkan oleh umat Islam dengan kekuatan militer dan hal ini tidak ada yang mengingkarinya. Sebagaimana isi surat instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada seluruh pegawai pemerintahannya:

أَنْ لَا يَهْدِمُوا بِيعَةً وَلَا كَنِيسَةً وَلَا بَيْت نَار

“Jangan dirobohkan sinagog, gereja, dan juga rumah penyembahan api”
Dalam konteks Indonesia, dengan keluasan wilayahnya, beberapa pemetaan di atas tentu tidak bisa digeneralisir untuk kemudian diterapkan pada seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masing-masing daerah tentunya memiliki status yang berbeda-beda, tergantung cara penaklukan, kesepakatan perjanjian, dan pembangunan daerahnya. Namun demikian, setidaknya semua pemetaan daerah di atas masih dalam masing-masing daerah yang memiliki landasan otoritatif (qoul ulama) yang memperbolehkan bagi masyarakat non-Muslim untuk mendirikan rumah ibadahnya. Undang-Undang 1945 Indonesia juga menjamin kebebasan menjalankan kegiatan keagamaan bagi setiap rakyatnya. Dalam aturan yang lebih terperinci, pemerintah melalui Kemendagri dan Kemenag juga telah mengeluarkan keputusan bersama (SKB) tentang tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan antar umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah.[]

Oleh: Agus Hamim HR

Baca juga:
STATUS AMAL KEBAJIKAN NONMUSLIM

Youtube Pondok:
Dawuh Masyayikh

Khutbah Jumat November 2020: Sabar, berserah diri, dan Ridho

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ والْجَلَالْ.  وتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِياء ِوالْكَمالْ.أَحْمَدُه عَلى كُلِّ حالٍ حَمْدًا يُقابِلُ نِعَمَه , ويُدافِعُ نِقَمَه, ويُساوِي مَزِيْدَه فِي الْحالِ والْمَآل. أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهْ ذُو الْمَنِّ والْإفْضَالْ. وأَشْهَدُ  أَنَّ سَيِّدَنا  مُحمدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهْ الْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَالْ الدَّاعِي  إِلَى أشْرَفِ الْحِصَالْ, ومُبِيْنُ الْحَرامِ مِنَ الْحَلَالْ. صلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ وعلى أَصْحابِهِ وآلِه خَيْرِ آلْ.

أمَّا بعدُ. فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hadirin Kaum Muslim yang berbahagia …

Dalam kesempatan yang penuh barokah ini, khatib berwasiat kepada kita sebagai umat Islam dan terutama khatib pribadi untuk  senantiasa selalu memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larang-Nya. Dan semoga kita semuanya mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Amiin.

Hadirin Jama’ah sholat Jum’at yang Dirahmati Allah Swt. …

Manusia selalu mengalami pasang surut dalam hidupnya. Suka, duka, senang, dan susah datang silih berganti. Menghadapi kenyataan yang semacam ini, Islam mengajarkan kepada kita sifat sabar dan syukur. Dalam masa-masa sulit tertutama kondisi pandemi yang sampai sekarang belum ada kejelasan sampai kapan akan berakhir, kita sebagai manusia dianjurkan untuk bersabar. Di sini kesabaran diperlukan agar kita mempunyai kesiapan mental dalam mengahadapi kesulitan ini. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’anul Karim :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung”. ( Q.S Ali Imron : 200 )

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

            Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sabar itu ada tingkatannya. Pertama, sabar dalam arti siap mental menghadapi berbagai kesulitan. Kedua, sabar dalam arti ulet dan tahan banting dalam usaha mencari jalan keluar. Ketiga, sabar dalam arti tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan. Antara sabar dan syukur ada keterkaitan sebagaimana keterkaitan antara nikmat dan cobaan. Setiap kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan dan tidak pernah lepas dari nikmat dan cobaan. Semua itu meliputi ketaatan, kemaksiatan, dan cobaan merupakan gambaran kehidupan. Oleh karenanya, sabar adalah separuh keimanan.

Keluh kesah yang kita rasakan di kala mendapat cobaan dan ujian merupakan sebuah perbuatan yang tercela, yang akan membawa kehancuran. Dalam kehidupan ini tidak ada pilihan dari kita sebagai seorang muslim untuk menjalani kehidupan kecuali dengan sikap sabar. Oleh sebab itu, sifat sabar tidak bisa dipisahkan dengan berserah diri dan ridho kepada takdir yang telah ditentukan oleh Allah Swt.

Hadirin Kaum Muslimin yaang dirahmati Allah …

Di dunia ini kita sebagai penduduk bumi tak pernah sepi dari ujian. Kita tidak bisa menghindarinya, sebab jika menghindari ujian dan cobaan, berarti kita gagal dalam menempuh kehidupan yang lebih baik. Sesungguhnya Allah ingin mendewasakan kita dengan cara diberi pelajaran berupa ujian hidup. Barang siapa yang sabar dan tangguh serta tidak putus asa dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan ia akan akan lulus ujian. Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

 Arinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”. ( Q.S al-Baqarah : 55-156 )

            Ujian dan cobaan memang tidak menyenangkan, kecuali bagi orang-orang yang sabar dan mampu menghadapinya dengan tenang. Tidak ada kebahagiaan yang datang secara tiba-tiba tanpa ada perjuangan yang harus dilalui. Ini merupakan hukum Allah yang berlaku bagi siapa saja. Allah Swt. menjanjikan kebahagiaan jika kita bersabar dalam mengahadapi ujian hidup.

Hadirin jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Allah menganugrahi sifat orang-orang yang sabar dengan berbagai sifat keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Hal ini bisa kita temui dalam firman Allah Swt.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya : “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar”. ( Q. S as-Sajdah : 24 )

Kesabaran juga mendatangkan pertolongan dari Allah Swt. dalam firman Allah Swt. :

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Artinya :” Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”( Q.S. al-A’raf : 137 )

Hadirin yang berbahagia …

            Dalam setiap ibadah, Allah telah menentukan kadar pahalanya, kecuali pahala sabar. Oleh karenanya, puasa merupakan ibadah yang pahalanya merupakan rahasia Allh dan menunjukan pahala yang di perolah sangatlah besar. Hal itu dikarenakan puasa adalah separuh dari kesabaran.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmati Allah Swt. …

Sekian khutbah singkat pada kesempatan ini, mudah-mudahan kita semuanya dijadikan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi ujian dan cobaan agar kita bisa meraih ridho Allah Swt. Amiin.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْتَوْنَ اَجْرَهُمْ مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوْا وَيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ.

اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KEBAIKAN

Subscribe juga:
Bukti Cinta Pada Nabi | KH. M. Anwar Manshur

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital

“Diam adalah jawaban terbaik untuk semua pertanyaan. Tersenyum adalah reaksi terindah dalam semua situasi”.
Begitulah seharusnya kita. Namun tidak untuk manusia spesialis millenial. Hadirnya internet dan maraknya pengguna gawai menjadi alarm—menandakan bahwa kita, telah memasuki era disrupsi. Era di mana kekacauan mulai merambah luas. Media informasi baik di internet maupun media cetak, sampai saat ini terus berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Tak dapat dipungkiri, jika informasi sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat awam maupun kaum berpendidikan.

Dari arah sini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu—sangat dibutuhkannya berita informasi yang benar—baik secara lisan, media cetak, atau internet. Karena faktanya internet atau media sosial menjadi pilar utama dalam perkembangan berita palsu. Santri sebagai penerus perjuangan para ulama yang selalu menebarkan citra baik, sepatutnya dapat selalu mengaktualisasikan bagaimana perkembangan informasi yang terjadi dalam masyarakat. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata, namun sebagai upaya menanggulangi dan meminimalisir dampak negatif arus perubahan yang mengkibatkan disrupsi ini. Demi menyemerbakkan rasa damai dalam setiap jiwa insan.

Dalam tinjauan hasil riset Kapolda Sulawesi Tenggara menjelaskan, bahwa saat ini jumlah pengguna internet atau media sosial terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, Kementrian Komunikasi dan Informasi mencatat, jumlah pengguna di Indonesia telah mencapai 132.7 juta orang. Data tersebut juga menyebutkan, “ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.” Kominfo menuturkan, bahwa internet sudah salah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai antar masyarakat.

Mengabsahkan Kitab Kuning

Saat ini, generasi santri millenial mengalami tantangan yang sangat berat. Dengan keadaan pola pengajaran yang tetap menggunakan Kitab Kuning (turats karangan ulama terdahulu), mereka harus bisa mengimbangi arus perubahan sosial yang meliuk-liuk dengan begitu deras. Karena jika tidak, mereka hanya akan menjadi generasi penonton, bahkan korban dari kemajuan teknologi yang terus berkembang dari revolusi industri 4.0 hingga menuju revolusi society 5.0.

Sebagai warisan khazanah Islam, keberadaan Kitab Kuning yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai kurikulum wajib dari semenjak puluhan abad lalu, tak pernah mencecap rasa kadaluwarsa dari negara yang mayoritas Islam ini untuk terus dinikmati. Di dalamnya, mencangkup kajian ilmiah dari para intelektual Muslim tentang ilmu tauhid, tasawuf, fikih, tata bahasa arab (nahwu), hadist, ahlak, serta keilmuan lainnya. Sebagai aktualisasi dalam ilmu pengetahuan melalui penciptaan yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw., Kitab Kuning menjadi salah satu alat untuk menangkal adanya disrupsi informasi atau sering disebut hoaks.

Namun sangat miris sekali, jika ada anggapan perihal Kitab Kuning terbelakang dan tidak relevan.

Mempelajari Kitab Kuning merupakan salah satu upaya paling mudah untuk menyelaraskan pemahaman yang tepat dalam mengamalkan syariat Islam. Hal ini dapat ditasawurkan melalui kajian yang sering dilakukan oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam memecahkan sebuah problematika umat. Diantaranya melalui musyawarah bahtsul masa’il. Kenapa dalam hal ini referensi yang diambil menggunakan Kitab Kuning? Sudah maklum, Kitab Kuning merupakan hasil dari goresan tangan terpercaya dari Intelektualis Muslim yang memiliki kredibilitas dalam bidangnya. Dengan begitu, tidak diragukan lagi kekhawatiran pemahaman yang salah untuk dijadikan sebagai tendensi kajian ilmiah. Tidak hanya itu, bahkan kefalidan data yang terkandung dalam Kitab Kuning sangat dibutuhkan oleh peneliti, mahasiswa dan sekolah Islam sebagai suatu yang sangat diperhitungkan dalam pedoman keaslian sumber. Karena dengan kerumitan metode penulisan menggunakan bahasa Arab, bisa diasumsikan hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat menuliskannya.

Melalui hal di ataslah, Kitab Kuning yang dijadikan pedoman di setiap pondok pesantren menemukan relevansitasnya—juga menjadi fakta baru bahwa dengan mempelajarinya, berarti telah memberikan sumbangsih maha penting dan berharga bagi masyarakat sebab dapat menangkal adanya disrupsi informasi.

Pekerjaan sekarang bagi santri millenial yaitu mengupayakan bagaimana menciptakan ide kreatif dan inovatif dalam menyampaikan keagamaan di tengah fenomena sosial yang terus berubah. Era disrupsi menjadi tantangan sekaligus peluang baru bagi kaum sarungan untuk menyampaikan narasi keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam dan merujuk pada sumber yang tepat. Dan yang menjadi perhatian penting saat ini adalah bagaimana Kitab Kuning menjadi sumber referensi keilmuan yang dapat mengisi ruang media internet sekaligus media sosial lainnya. Yaitu perlunya digitalisasi Kitab Kuning yang disebar-luaskan di berbagai platfrom media, sebagai ikhtiar menyemarakkan aktivitas mengonsumsi Kitab Kuning—dengan hal ini dapat meminimalisir opini keagamaan tidak sejalur yang telah menyebar luas karena digitalisasi.[]

Penulis: Laeli Zakiyah

Baca juga:
PENGGUBAH SHOLAWAT BADAR ITU SANTRI LIRBOYO

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah