Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany

Kamis, 10 Juni 2021 | Pondok Pesantren Almahrusiyyah III Ngampel, menggelar Haul Masayikh Lirboyo dan Pembacaan Manaqib Sayyidina Syekh Abdul Qodir al-Jailany secara Virtual.

Acara ini dihadiri oleh para Habaib di antaranya Habib Mustofa bin Abdullah al-Haddar, Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri, Habib Ahmad Mustofa al-Haddar dan Pengasuh Pondok Pesantren al-Mahrusiyyah Lirboyo, KH. Reza Ahmad Zahid, dan KH. Melvin Zainul Asyikin.

Perhelatan majlis merupakan agenda tahunan dalam rangka berkirim do’a untuk segenap kaum Muslimin dan Muslimat, juga kepada kedua orang tua, para guru, khusunya para masayikh Lirboyo.

Susunan acara pada malam Jum’at tersebut diawali dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jailany, dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba’, dan disambung dengan pembukaan acara. Disusul juga sambutan dari Sohibul Bait Agus Haji Nabil Ali Ustman.

Beliau berharap dengan barakah pembacaan manaqib ini, wabah yang sedang melanda dapat segera selesai, juga bagi para santri diberikan dikelancaran dan kemudahkan dalam mencari ilmu.

Setelah sambutan selesai, acara ini kemudian dilanjutkan dengan mauidoh hasanah yang di bawakan oleh Habib Mustofa bin Muhammad al-Jufri.

Mauidhoh

Dalam mauidhohnya, beliau menukil perkataan dari salah seorang ulama;

ثَلَاثَةٌ لَابُدَّ أَنْ تَسْتَقِرَّ فِي ذِهنِكُمْ

“Tiga perkara yang hendaknya senantiasa ada dalam fikiran kalian.”

1. لَا نَجَاةَ مِنَ المَوْتِ

“Tidak ada yang selamat dari kematian.”

Beliau (Habib Mustofa) memaparkan dengan sangat jelas keterangannya bahwa setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian, dan jika hari ini kita (red. kita sebagai orang yang masih hidup) mendoakan orang-orang yang telah meninggal, maka kita juga akan dido’akan oleh orang-orang setelah kita.

2. لَا رَاحَةَ فِي الدُّنْيَا

“Dunia bukanlah tempat untuk bermalas-malasan.”

               Hal ini ditekankan oleh beliau khususnya bagi para pelajar untuk tidak diperbolehkan bermalas-malasan dalam mencari ilmu. Orang akan sukses ketika ia bersungguh-sungguh dalam pencariannya. Pesan beliau ini memunculkan semangat baru dalam diri para pelajar.

3. لَا سَلَامَةَ مِنَ النَّاسِ

“Tidak manusia yang selamat dari godaan manusia.”

               Maqolah ini sangat tepat untuk dijadikan tameng menjaga semangat santri dalam mecari ilmu. Bahwa seseorang pasti, dan tidak akan pernah luput dari godaan manusia. Di antara godaan manusia yaitu adanya pro-kontra. Ada yang mendukung dan ada yang bertolak belakang, walaupun bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu.

               Ketika ada hal-hal yang tidak disukai kita—akan pendapat orang lain, hal ini bisa dikatakan wajar. Maka langkah yang baik adalah ketika seseorang beramal harusah diniati karena Allah Swt. bukan yang lain.

               Acara ini ditutup dengan bacaan do’a, kemudian disambung penampilan dari hadroh Al-Mahrusiyyah.[]


Simak acara lebih lengkap di Haul Masayikh Lirboyo & Pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qodir | Lirboyo AL-Mahrusiyah
Baca juga: Pondok Pesantren Lirboyo Al-Mahrusiyah

KOMPETISI PERSPEKTIF ULAMA SALAF

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Dunia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Modernisasi mengharuskan kita untuk berkompetisi. Kompetisi membikin pekerjaan lebih dinamis dan mampu memberikan dorongan agar terus tergerak maju. Kompetisi membuat inovasi-inovasi baru untuk perubahan dalam peradaban manusia.

Perihal kompetisi ini—ketika membuka fakta di lapangan—seringkali dimaknai sebagai persaingan yang memunculkan gerak tidak sehat. Ini ditenggarai kuatnya sifat serakah yang melekat pada diri seseorang, sehingga ia hanya memikirkan untuk kenyamanan dan kemenangan pribadi maupun kelompoknya. Pembangunan yang ada, hanya akan membuat kemajuan di satu pihak dan merugikan dipihak yang lain.

Said Buthi Ramadhan dalam Manhaj Hadhorotil Insaniyyah, mengatakan: “Tak henti-hentinya kita temukan sebuah bangsa yang melebarkan pembangunan peradaban dengan cara demikian. Ia akan menyibukkan satu tangannya untuk mengembangkan peradaban dan segala faktor penyebabnya. Dan di waktu yang sama, bangsa tersebut mengulurkan tangan yang lain untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain.”

Pendapat Said Buthi di atas menggambarkan; jika ada bangsa dalam keadaan aman dan tidak ada sedikit yang menampiknya (red: keadaan yang tenang dan tidak terjadi permasalahan apapun), pasti ada negara yang sedang mengalami peperangan.

Contohnya saja bangsa-bangsa dari negara manapun, akan terus saling berlomba-lomba menciptakan alat paling canggih dalam segala hal. Tidak kurang semisal ingin menciptakan pengghancur massal atau nuklir. Dengan pengetahuan dan keilmuan, hal tersebut bisa diciptakan.

Tetapi ketika penemuan telah wujud, jika didiamkan saja, atau tidak diuji coba, bagaimana bisa mengetahui kemanfaatan, atau sekedar melihat dan mengetahui sebatas mana pencapaian itu. Maka Ia menjadikan daerah lain sebagai tempat uji coba. Sebab, ia juga tidak sudi dan tidak mau ketika negaranya hancur.

Kompetisi yang Diinginkan Setiap Insan

Kecenderungan kepada dunia yang menggelora, menyebabkan kenyataan yang diwujudkan manusia tidak seperti asal penciptaannya. Meraka salah pengertian bahwa dunia adalah hal yang mereka cari. Padahal, tidak seperti itu.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى (النساء :77)

“Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (An-Nisa: 77)

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِى الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيْلٌ ثُمَّ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ  (197) (آل عمران : 196-197)

“Jangan sekali-kali kamu terperdaya oleh kegiatan orang-orang kafir (yang bergerak) di seluruh negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara. Kemudian tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam. (Jahannam) itu seburuk-buruknya tempat tinggal.” (Ali-Imran: 196-197)

Maka, perlu kembali perenungan dengan lebih hikmat untuk mewujudkan bahwa kita memang benar-benar layak untuk dijadikan khalifah di atas muka bumi ini.

Kemajuan peradaban manusia dan keharmonisan yang ada di dalamnya, bisa dengan mudah kita dapat melalui kompetisi yang dibarengi tidak hanya dengan akal sehat, tetapi juga dengan kerja sama. Bukan disertai dengan syahwat (nafsu) atau dengan rasa dendam (marah).

Seperti yang dipaparkan oleh Imam Sulaiman bin Umar al-Ajily dalam Tafsir Futuhatil Ilahiyyah “Sesungguhnya dalam setiap jiwa manusia, ada tiga perkara yang paling kuat dalam menentukan arah peradaban. Di antaranya; syahwat, marah, dan akal. Dua perkara yang awal, hanya akan menghasilkan kemunduran dalam kepribadian manusia. Sedangkan urutan yang terakhir, mengantarkan kesempurnaan dan keutamaan dalam kehidupan manusia.”[]

Kompetisi Perspektif Ulama Salaf

Simak ulasan: KH. Anwar Manshur | Rahasia agar kita menjadi orang alim sampai tujuh turunan
Baca juga: Lirboyo, Pesantren Saaf Inspiratif Indonesia

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah |
Dikisahkan dari kitab Kifayatul Awam buah karya dari Syaikh Muhammad Fudhali, bahwa Nabi Musa As. pernah sakit gigi dan mengaduakn hal ini kepada Allah. Mendengar keluhan Nabi Musa, Allah memerintahkannya untuk mengambil sejenis rumput di tempat yang telah ditentukan untuk diletakkan di atas giginya yang sakit. Nabi Musa melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Tak lama kemudian, rasa sakitnya hilang seketika.

Di lain hari, sakit gigi Nabi Musa kambuh lagi. Tanpa pikir panjang, Nabi Musa langsung mengambil rumput yang dahulu pernah dikabarkan oleh Allah. Bukannya sembuh, sakit gigi yang diderita Nabi Musa justru bertambah parah.

Setelah itu, Nabi Musa mengadu kepada Allah dan memohon pertolongannya. Nabi Musa berkata: “Wahai Tuhanku Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, bukankah engkau pernah memberitahuku untuk mengobati gigiku yang sakit dengan rumput itu? Tapi mengapa sekarang rumput itu tidak dapat menyembuhkanku?”

Mendengar pengaduan Nabi Musa Allah mengatakan: “Wahai Musa, akulah yang memberi kesembuhan, memberi kesehatan, memberi manfaat dan memberi malapetaka. Dulu, ketika engkau sakit engkau langsung mengingatku dan meminta tolong kepadaku. Maka aku hilangkan penyakitmu. Namun saat engkau merasa kesakitan lagi, engkau tidak segera berharap kepadaku, engkau justru meminta pertolongan pada rumput itu. Karena itulah aku tidak mengehendaki rumput itu bermanfaat untuk gigimu.”

***

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” (QS. Al-Ambiya: 83).

Setiap kali sakit, kita selalu saja buru-buru menyalahkan takdir, atau pun menangis sesenggukan karena tidak tahan dengan apa yang kita rasakan. Esoknya, kita akan meluncur ke rumah sakit dan meminta obat di sana agar lekas sembuh. Padahal sedari awal kita menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Kalau pun setelah meminum obat kita bisa sembuh, itu karena Allah menghendaki kesembuhan lewat obat tersebut.

Jika kita terbiasa melupakan Allah di setiap ujian dan musibah yang diberikan oleh-Nya, kita seakan meyakini bahwa yang menyembuhkan kita bukanlah Allah. Yang memberi kita kesembuhan adalah obat yang diberikan oleh dokter.

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian dan jangan kalian berobat dengan yang haram.”

Renungan

Perlu dicatat, bahwa yang menurunkan penyakit adalah Allah. Lalu kenapa saat kita terkena musibah justru berharap kepada selainnya?

Seharusnya kita lebih dulu mengadukan hal ini kepada Allah dan meminta jalan terbaik agar kita diberi kesembuhan. Setelah itu, barulah ia berobat. Bukan karena kita berharap pada seorang dokter agar bisa menyembuhkan kita. Namun semata-mata karena Allah memerintahkan kita untuk berobat agar kita diberi kesembuhan.

Pandangan seperti ini akan membuat kita terbiasa untuk menjadikan setiap musibah yang datang atau menerpa kita sebagai wasilah untuk semakin dekat pada-Nya. Dalam artian ketika kita diberi cobaan berupa rasa sakit atau pun yang lainnya, Allah satu-satunya Dzat yang dimintai pertolongan. Tidak ada yang lain.

Setelah kita menyadari bahwa musibah tersebut datang dari Allah dan juga sudah berobat ke tempat yang semestinya, sudah sepantasnya bagi kita untuk tawakal atau pasrah pada takdir yang sudah diskenariokan oleh Allah. Ketika diberi kesembuhan berarti Allah ingin agar kita lebih giat dalam bekerja atau pun beribadah. Dan ketika belum juga diberi kesembuhan, mungkin karena Allah belum mengizinkan kita untuk segera sembuh dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya atau mungkin karena Allah mendengar do’a-do’a kita, atau Allah ingin  mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sabar.

Karena semua penyakit datang dari Allah dan setiap kesembuhan juga datang darinya, maka hanya dengan seizinnya jugalah penyakit tersebut akan sirna.[]

*Penulis bertempat tinggal di Pondok HMP kamar M 35 asal Nganjuk.

Baca juga:
TAWAKAL : SEBUAH PENGHAMBAAN DIRI KEPADA ALLAH

Simak juga:
[TUTORIAL] PENDAFTARAN SANTRI/SISWA BARU | PSSB ONLINE

Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah
Menjadikan Musibah Sebagai Wasilah

Pandangan Mufasirin Berkenaan Kisah Israiliyat

Berkenaan dengan kisah Israiliyat, para Mufasirin memiliki sudut pandang masing-masing. Pandangan yang akan diuraikan di bawah ini merupakan kajian yang telah diteliti secara mendalam oleh para ahli tafsir yang tidak diragukan lagi kredibilitas keilmuannya dalam bidang tersebut.

Pandangan yang memerinci kisah Israiliyat di antaranya:

a). Kisah Nabi Daud As. dalam kacamata Imam Baidlowi merujuk tafsir Surat Shod ayat 21-25

Imam Baidlowi mengungkapkan bahwa kisah yang bisa diterima ialah; Nabi Daud As. menyukai perempuan yang merupakan istri orang lain. Atau jika merujuk pada kemungkinan yang lain, jika kisah pandangan Nabi Daud As. terhadap wanita itu dikatakan benar, wanita tersebut hanya pada taraf dilamar oleh Uria, lalu Nabi Daud As. melamarnya.

Dalam uraian di atas, kemungkinan pertama bisa diterima mengingat rasa suka ialah hal manusiawi yang tidak memiliki konsekuensi atau batas pencegahan apapun. Kemungkinan yang kedua juga bisa dibenarkan. Mengingat melamar atas lamaran orang lain dilegalkan dalam syari’at Nabi Daud As. Selebihnya sebagaimana adanya upaya Nabi Daud As. “membunuh” Uria adalah kisah batil yang harus dibuang jauh-jauh.(1)

Ibnu Arabi menyatakan sebagaimana dicuplik Imam Abdul Wahab as-Sya’roni bahwa kesalahan Nabi Daud As. adalah mendongakkan kepala tanpa adanya suatu alasan syar’i sebagaimana setiap gerak-gerik kekasih Tuhan.(2)

b). Kisah Nabi Sulaiman As. menurut Ibnu Katsir mengurai tafsir Surat Shod ayat 34-40

 Beliau mengakui bahwa sanad cerita ini kuat menuju Ibnu Abbas, namun beliau meragukan kevaliditasan jalur di atas Ibnu Abbas. Karena Ibnu Abbas memperoleh cerita ini dari ahli kitab yang beberapa di antaranya disinyalir tidak mengakui kerasulan Sulaiman As(3).

Alih-alih menggunakan kisah itu, Imam As-Showi dalam hasiyahnya atas Tafsir Jalalain menyatakan bahwa ayat itu membahas kisah yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim.

Suatu ketika Nabi Sulaiman As. menyatakan akan berhubungan badan dengan 90 dalam riwayat lain 100 istrinya dan akan melahirkan 100 pejuang fi sabilillah. Namun istri beliau hanya melahirkan seorang anak laki-laki yang diletakkan istri beliau di kursi beliau. Penyebabnya ialah beliau membuat pernyataan di atas tanpa terlebih dahulu mengucap insyaallah.

Beliau menyatakan bahwa frasa  جَسَدَاdalam ayat: وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيْهِ جَسَدَا  adalah jasad anak beliau, bukan jasad setan yang mengakui sisi kerajaan beliau. Tidak sampai di situ, beliau menyatakan kisah yang berkembang mengenai jin yang menyamar menjadi istri Nabi Sulaiman As. dan pada akhirnya berhasil mengakui sisi kerajaan beliau adalah kisah palsu.(4)

c)  Kisah diujinya Nabi Ayyub As. perspektif Syekh Ibrahim al-Bajuri menguak tafsir Surat Shod ayat 41-44

Dalam Surat Shod ayat 41-44 secara umum menyatakan bahwa Nabi Ayyub As. diuji dengan sebuah penyakit. Syekh Ibrohim al-Bajuri dalam tuhfatul murid menyatakan bahwa sakit yang diderita Nabi Ayyub As. adalah sakit yang berada di antara kulit dan tulang, bukan sakit parah yang sampai membuat orang-orang enggan mendekati beliau.(5)

Waba’du

Pada akhirnya dalam menyikapi kisah Isroiliyat yang begitu banyak kita temui, sikap kita diperinci sebagai berikut:

Ketika memang kisah itu diterima oleh syari’at, maka kita menerimanya. Begitu juga sebaliknya. Sedangkan pada kisah yang secara syari’at tidak ada keharusan membenarkan atau menolaknya, maka sikap kita membiarkannya sebagaimana wasiat Kanjeng Nabi(6):

اِذَا حَدَثَكُمْ اَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تَصَدَّقُوْهُمْ وَلَا تَكْذِبُوْهُمْ” رواه البخاري”

“Ketika Ahli Kitab menceritakan sesuatu kepadamu, maka janganlah membenarkan dan jangan menolaknya.”[]

Ditulis oleh Sdr. Muhammad Bagus Fatihulridla

Referensi:
(1) Al-Baidlowi, Tafsir Al-Baidlowi, vol 5/18 (Dar Al-Fikr)
(2) Sya’roni, Abdul Wahab, Minan Kubra, 337 (Dar Al- Kotob Al-Ilmiyah)
(3) Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, vol 7/86 (CD Maktbah Syamilah)
(4) As-Showi, Hasiyah As-Showi, vol 3/442-443 ( Al- Haromain)
(5) Al Bajuri, Ibrahim bin Muhammad, Tuhfatul Murid, 83 (Al-Haromain)
(6) Zarqani, Muhammad Abdul Adhim, Manahil ‘Irfan, vol 2/26  (Dar Al-Hadist Al Qohiroh)

Baca juga: Menyoal Kisah Israiliyat
Jangan lupa tonton juga: Haul Ke-36 al-Maghfurlah KH. Mahrus Aly

Menumpang Adat Menyisipkan Islam

Oleh: Ahmad Athori Thohir*

Kesenian tradisi yang masih hidup di pulau Jawa, serupa napas bagi masyrakatnya, menghidupi dan terus hidup dalam berbagai fase zaman dan karakteristik masyarakat yang berubah. Itu semua karena “Setiap orang pada esensinya adalah seniman.” Kata Joseph Beuys, seorang seniman Jerman. Pernyataan di samping juga diperkuat dengan apa yang disampaikan oleh Presiden komunitas Lima Gunung dari Magelang; Bapak Sutanto Mendut “Segala sesuatu adalah seni.”

Dua pernyataan seniman tersebut telah dipahami dan dipraktikkan benar oleh para Wali Songo saat menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa sampai pada abad 17. Kesembilan wali yang dalam bahasa Arab artinya; pembela, teman dekat, dan pemimpin ini, merupakan para intelektual yang terlibat dalam upaya pembaruan sosial yang pengaruhnya terasa di berbagai manifestasi kebudayaan—mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Kebijaksanaan

Penyebaran Islam di tanah Jawa oleh sembilan wali ini tidaklah dengan armada militer dan pedang, atau dengan cara mengkafirkan dan menindas keyakinan lama yang telah dianut oleh masyarakat Jawa saat itu yang kental dengan pengaruh Hindu dan Budha. Namun, mereka melakukan perubahan sosial secara halus dan bijaksana melalui kesenianan tradisi yang telah lama hidup di Jawa seperti; wayang, seni ukir dan pahat.

Pendekatan melalui medium kesenian ini yang membuat syiar Islam yang dipelopori oleh sembilan wali mendapatkan tempat di hati masyarakat waktu itu. Tercatat dalam sejarah, dengan pendekatan tersebut ajaran Islam mampu menjadi agama terbesar di Jawa dan menyebar ke pelosok-pelosok daerah mulai dari Sabang sampai Marauke, yang sekarang biasa disebut Islam Nusantara.

Inilah yang membedakan syiar Wali Songo dengan masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Di mana saat itu Islam juga sudah datang ke Nusantara, namun tidak populer seperti yang dibawa oleh para wali, sampai 800 tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho saat datang ke Jawa, ia hanya menemukan segelintir penduduk Muslim di wilayah pesisir, itu pun pendatang dari China dan Persia.

Akulturasi Budaya

Akulturasi budaya adalah jalan yang ditempuh para wali dalam menyelaraskan adat dan budaya masyarakat waktu itu dengan tugasnya membumikan Islam di Jawa. Hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang berabad-abad. Walau dalam beberapa tahun ini kehidupan beragama begitu berisik dengan adanya berbagai kelompok yang menyiarkan Islam dengan cara yang tidak membumi di Nusantara, melupakan adat dan tradisi setempat.

Jejak Wali Saongo dalam mensyiarkan Islam dengan medium kesenianan tradisional tercatat dalam berbagai literatur. Misalnya, Sunan Giri (Blambangan, pertengan abad ke-15, Giri 1506) yang bermana asli Raden Paku dikenal juga dengan sebutan Prabu Satmata, kadang-kadang disebut juga dengan Sultan Abdul Fakih. Sebagai pendidik berjiwa demokrasi, Sunan Giri mendidik anak-anak melalui berbagai permainan tradisional yang berjiwa agama, misalnya jelungan, jemuran, jor, gula ganti, cublak-cublak suweng, dan ilir-ilir.

Sunan Bonang (Ampel Denta, Subaya, 1456-Tuban,1525) dikenal juga nama Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Raden Ibrahim menciptakan instrumen gamelan Bonang dan tembang Tombo Ati. Sunan Kudus (abad ke-15, Kudus 1550) yang bernama aslinya Raden Ja’far Sadiq, tetapi sewaktu kecil dipanggil Raden Undung, juga dipanggil dengan Raden Amir Haji, dikenal sebagai pujangga dengan kerangan cerita yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Begitu pun dengan para wali lainnya yang mengkreasikan kesenian dan adat setempat menjadi bentuk baru yang bernapas Islam dan dapat diterima masyarakat saat itu.

Kontekstualisasi

Jejak tradisi kesenian sebagai medium syiar Islam juga harus dipraktikan oleh para santri, utamanya santri pon-pes Lirboyo, Kediri. Dalam konteks saat ini, kita harus menumbuhkan kecintaan kita kepada kesenian tradisional serta ikut cemas atas semakin lunturnya cipta karsa karya adiluhung nenek moyang kita di tengah gempuran budaya dan kesenian ala kebarat-baratan. Kita sebagai santri harus terus berupaya menjaga, mendorong, dan menkreasikan kesenian-kesenian tersebut pada masa kini. Jangan sampai budaya dan kesenian tradisional yang kaya dengan nilai filosofis kehidupan terus tergerus dan hilang.[]

*Penulis adalah santri asal Magelang, siswa kelas III Tsn, bagian F 02, bermukim di kamar Q 48.

Baca juga:
TENTANG KOTA DENGAN SERIBU SATU WALI

Simak juga:
Prof. Mahfud MD | KULIAH UMUM KEBANGSAAN

Menumpang Adat Menyisipkan Islam
Menumpang Adat Menyisipkan Islam

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah