Khutbah Jumat: Keimanan Menciptakan Keharmonisan Masyarakat

KHUTBAH I

الحمد لله الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنا بِأَنْواعِ النَّعَمِ ولَطَائِفِ الْإِحْسَان, وفَضَّلَنا عَلى سائِرِ خَلْقِهِ بِتَعْلِيْمِ الْعِلْمِ والْبَيَان, أَشهد أَنْ لاإِلهَ إلَّا الله وأَشهد أَنَّ سَيَّدَنا محمدًا عبدُهُ ورَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

أمَّا بعدُ. فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

فَياعِبادَ اللهِ. اتَّقُوااللهَ  حَقَّ تُقاتِهِ  ولا تَمُوتُنَّ إِلَّا وأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Sidang Jum’at yang dirahmati Allah …

            Di hari dan tempat yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

            Mari kita letakkan sesuatu pada tempat yang selayaknya dan kerjakanlah sesuatu pada waktunya. Ketahuilah bahwa seorang hamba dibangkitkan dalam keadaan bagaimana ia mati. Karena itu janganlah kita mati kecuali dalam keadaan muslim. Sejalan dengan firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُون

Artinya :” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” ( Q.S. al-Imron : 102 ).

Rasulullah Saw. telah bersabda :

عَنْ أَنَسٍ بن مالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ( متفق عليه)

Artinya : Dari Anasbin Malik r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”( Mutaafaqun ‘alaih).

Hadirin Kaum Muslimin yang berbahagia di sisi Allah …

Hadist ini cukup pendek, tapi makna dan cakupannya sangat luas. Dapat kita ambil beberapa pelajaran yang sangat berharga. Di antaranya pentingnya persatuan dan kasih sayang. Islam bertujuan menciptakan manusia yang penuh keharmonisan dan penuh kasih sayang. Setiap individu hendaknya berusaha mendahulukan kemaslahatan umum dan kedamaian masyarakat sehingga tercipta keadilan dan kedamaian. Semuanya tidak akan terwujud kecuali jika individu yang ada dalam masyarakat menghendaki kebaikan dan kebahagiaan kepada orang lain seperti ia menghendaki untuk dirinya sendiri. Karena itu Rasulullah Saw. menjadikan sikap ini erat kaitannya dengan keimanan, bahkan menjadi konsistensi keimanan seseorang dalam dimensi kemanusiaan.

Keimanan yang sempurna. Keimanan tidak akan kokoh dan mengakar di hati kita sebagai umat muslim kecuali jika kita menjadi manusia yang baik, menghindari egoisme, rasa dendam, kebencian, dan kedengkian. Kita berusaha menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain sebagaimana menghendaki kebaikan dan kebahagiaan untuk kita sendiri.

Peduli terhadap sesama manusia. Termasuk bentuk kesempurnaan iman adalah kepedulian dan kecintaan terhadap sesama manusia termasuk terhadap non-muslim. Mencintai orang- orang non-muslim artinya mencintai mereka agar beriman juga membenci kekafiran dan kefasikan yang mereka lakukan sebagaiamana seorang muslim membenci kefasikan dan kekafiran yang terjadi pada dirinya.

Berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Berlomba- lomba dalam kebaikan adalah merupakan sebagian dari kesempurnaan iman. Karena itu seseorang yang ingin memiliki keimanan dan ketakwaan seperti yang di miliki orang yang lebih saleh bukanlah sesuatu yang salah dan juga bukan sifat dengki, bahkan sikap seperti ini merupakan bukti keimanan seseorang dan termasuk perbuatan yang di isyaratkan Allah dalam firman-Nya :

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya : “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” ( Q.S. al-Muthoffifin : 26 ).

Keimanan menciptakan masyarakat yang bersih dan berwibawah. Hadist yang berbunyi :

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Mendorong setiap musim agar senantiasa berusaha membantu orang lain untuk melakukan kebaikan. Karena hal ini merupakan kebaikan dan bukti tanda keimanan. Dengan demikian akan tercipta masyarakat yang bersih da berwibawah. Kebaikan akan tersebar luas, kejahatan dan kedzaliman akan tersisih sehingga terciptalah keharmonisan dalam setiap lini kehidupan. Mereka seakan satu hati. Kebahagian saudaranya adalah kebahagiannya, kesedihan saudaranya adalah kesedihannya juga. Masyarakat yang seperti inilah yang seharuslah terbentuk dalam komunitas muslim sebagaimana di sinyalir beliau Rasulullah Saw. dalam hadistnya :

عَن النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى  ( متفق عليه)

Artinya : “Riwayat dari Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka dan saling mengasihinya adalah laksana satu tubuh, jika satu anggota badan mengeluh sakit, maka anggota tubuh yang lainnya pun ikut sakit, dan panas turut merasakan sakitnya ”. (H.R.  al-Bukhari dan Muslim).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

Mudah-mudahan khutbah singkat ini bisa memberikan kemanfaatan bagi kita semua, dan di jadikan nilai tambah dalam rangka peningkatan kwalitas iman dan islam kita ke taraf yang lebih baik. Semoga Allah berkenan menjadikan kita semuanya menjadi orang-orang yang istiqomah iman, istiqomah dalam tauhid istiqomah dalam amaliah.

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ

تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ.

اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ.

اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Simak juga:
Kisah Kafur, Seorang Budak yang Diangkat Menjadi Raja

Hukum Tidur di Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya tentang hukum tidur di masjid seperti yang banyak dijumpai di masyarakat, terlebih masjid-masjid yang notabenenya ada di pinggir jalan yang sering dijadikan tempat transit para musafir. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

[Rosyid, Semarang]


Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Masjid adalah tempat ibadah sakral bagi umat Islam. Sehingga setiap hal yang berpotensi mengganggu orang yang salat di dalamnya sangat dilarang. Namun realisasinya, banyak kita jumpai orang-orang yang menjadikan masjid sebagai tempat transit untuk beristirahat, bahkan untuk tidur.

Dalam permasalahan ini, Syekh Sulaiman al-Jamal secara tegas telah menjelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj sebagai berikut:

وَيَجُوزُ النَّوْمُ فِيهِ لِغَيْرِ الْجُنُبِ، وَلَوْ غَيْرَ أَعْزَبَ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ نَعَمْ إنْ ضَيَّقَ عَلَى الْمُصَلِّينَ أَوْ شَوَّشَ عَلَيْهِمْ حَرُمَ

“Dan boleh untuk tidur di masjid bagi selain orang yang junub, meskipun tidak lagi bujang, akan tetapi hukumnya makruh. Meskipun demikian, apabila tidur di masjid sampai berakibat mempersempit orang yang salat atau mengganggu mereka, maka hukumnya bisa haram.” (Lihat: Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj, I/155)

Dengan demikian, para ulama Mazhab Syafi’i memperbolehkan seseorang untuk tidur di masjid, namun hukumnya makruh. Kebolehan ini tentunya dengan syarat tidak sampai mempersempit atau menganggu orang yang salat. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, maka dapat berkonsekuensi hukum haram. []waAllahu a’lam.

Baca juga:
HUKUM MENGHADAP KIBLAT DENGAN HANYA MENGHADAP KE ARAH BARAT

Ikuti juga:
Pengajian Kitab Al-Hikam | Kemis Legi

# HUKUM TIDUR DI MASJID
# HUKUM TIDUR DI MASJID

Motivasi Semangat dari Seorang Ayah

Menanamkan cita-cita yang tinggi menjadi modal kesusksesan bagi setiap orang. Apalagi jika hal itu telah terpatri sejak dini.

Dalam suatu kisah, demi menanamkan semangat cita-cita yang tinggi kepada sang buah hati, seorang ayah bertanya kepada anaknya yang masih berusia belia, “Nak, di masa mendatang, kamu ingin seperti siapa?”

“Aku ingin seperti engkau, wahai ayah.” jawab anak tersebut.

“Jangan. Jangan sekali-kali kau berkata seperti itu, Nak. Karena ketika ayah masih kecil, ayah bercita-cita ingin seperti Sayyidina Ali RA. Perbedaan antara aku dan dirimu seperti perbedaan antara aku dan Sayyidina Ali RA. Tinggikanlah cita-citamu. Lihatlah orang yang lebih tinggi lagi.” pesan sang ayah kepada anaknya.


Disarikan dari kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah, hal. 29.

Baca juga:
KEIKHLASAN IMAM AL-MAWARDI DALAM BERKARYA

Simak juga:
NGAJI KEMIS LEGI

Tahun Baru dan Citra Buruk Agama

Penulis: Hafidz Alwy

Penghujung tahun seperti ini, biasanya muncul ‘fatwa’ bahwa perayaan tahun baru dilarang oleh agama Islam. Alasannya macam-macam. Di antara yang paling sering diujarkan ialah bahwa hal tersebut merupakan bagian dari perbuatan orang non-muslim yang tidak diteladani oleh Nabi.

Jika sekadar pendapat untuk diyakini sendiri, mungkin tidak bermasalah. Namun ‘selorohan’ tadi menjadi berbahaya jika mengucapkan selamat tahun baru dijadikan ukuran bahwa si penutur tidak lagi menjalankan agama dengan benar.

Berdebat panjang lebar tentang hal ini hanya akan mencitrakan bahwa kita, sebagai muslim, antipati terhadap kemajuan zaman. Keyakinan adanya jurang yang sangat lebar antara kebudayaan kita dan kultur liyan, di mana ketika jurang tersebut terlampaui, berarti kita sudah meninggalkan ajaran. Agama hanyalah fobia maya yang diciptakan kelompok-kelompok berkepentingan. Sehingga, mewajibkan pendapat perkara khilafiah kepada orang lain seperti tahun baru merupakan bahan murahan yang berujung—bahwa Islam antipati terhadap segala yang beraroma modern, kemajuan, eksklusif dan jaga jarak. Ini adalah kesalahan fatal seorang yang beragama. Ia tidak mengetahui apa itu hakikat agama yang dianutnya. Atas sebab ketidakpahaman inilah, kadang ada di antara kita yang memperjuangkan sesuatu namun secara tak sadar, kita sedang menghancurkan.

Beberapa fobia atas budaya liyan seperti itu sering dialami oleh mereka yang tidak percaya diri dengan peradaban sendiri. Ketakutan akan hegemoni peradaban Barat, muncul dari jiwa yang sebenarnya kalah dari persaingan global. Sikap seperti ini akan memicu eksklusivitas dan pada akhirnya akan memunculkan gerakan radikalisme dengan melakukan aksi teror. Mereka menganggap yang berseberangan dengan mereka adalah musuh dan harus dimusnahkan.

Budaya Global

Menurut hemat saya, merayakan tahun baru adalah suatu laku yang tidak ada kaitannya dengan agama manapun. Meski ada yang mengatakan bahwa pada mulanya ia berawal dari kalangan Nasrani. Namun seiring dengan berjalannya waktu, laku tersebut menjadi budaya global yang tidak mencirikan golongan manapun. Tahun baru sudah menjadi bagian dari budaya modern masyarakat dunia.

Secara mikro, apa yang sedang kita bahas hampir sama dengan fenomena pakaian berdasi. Sewaktu Belanda menjajah Indonesia, dasi merupakan model pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Ini ciri khas mereka. Saat itu, siapa pun yang berpakaian serupa—akan dianggap sebagai ‘Londo’. Seiring berjalannya waktu, pakaian berdasi merupakan pakaian modern dan tidak merefleksikan kalangan manapun. Ini pertama.

Kedua, tahun baru bukanlah (yang oleh sebagian orang dianggap sebagai) budaya golongan fasik dan kotor. Sekarang, ibu kota berbagai negara berikut instansi pemerintahan dan berbagai kalangan mengakui budaya ini. Mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar norma kesopanan. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu kerap terjadi saat tahun baru. Sehingga, pernyataan bahwa tahun baru adalah budaya kotor tidak lagi relevan dalam waktu dewasa ini.

Ketiga, mereka yang antipati terhadap perkembangan dalam aneka rupa, biasanya mempunyai cara pikir tertutup. Bahkan terkait nilai-nilai keagamaan sekalipun.

Islam dan Pencitraan

Suatu ketika, ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Saw. ketika beliau sudah hijrah ke Madinah. Seorang Badui tersebut meminta kepada Rasulullah agar diberi sejumlah harta. Lantas Rasulullah memberinya kambing yang sangat banyak (dikatakan bahwa kambingnya memenuhi lembah antara dua gurun). Betapa kaget Badui tersebut mendapat hadiah sebanyak itu. Ia bergegas kembali ke kampungnya dan menyerukan kepada kaumnya: “Wahai kaumku, berimanlah kalian semua dengan Muhammad, sesungguhnya ia memberiku hadiah sebanyak pemberian orang yang tidak takut akan kemiskinan.”

Perilaku Rasulullah tersebut menjadikan si Badui dan kaumnya masuk Islam sebab terpukau dengan akhlak Rasulullah. Itu adalah satu contoh kecil bagaimana Rasulullah membawakan Islam dengan sikap dermawan dan penuh kasih sayang.

Pada masa ketika Islam sedang menapaki kejayaan, orang-orang non-muslim melihat bahwa kalangan muslim adalah mereka yang berkasta lebih tinggi daripada dirinya. Mereka melihat demikian bukan karena golongan maupun keturunan, namun kasta yang terbangun karena indahnya perilaku dan karakter umat Islam waktu itu. Sehingga mereka merasa bahwa jika ingin dirinya hidup mulia sejajar dengan kasta umat Islam, maka mereka haruslah masuk Islam.

Citra di Nusantara

Peristiwa senada tidak hanya terjadi satu-dua kali. Kita mengingat bagaimana masyarakat Nusantara terpukau dengan pedagang-pedagang yang datang dari Timur Tengah maupun Gujarat. Mereka muslim dan terkenal dengan perilaku yang jujur dan menyenangkan mitra bisnisnya. Hal inilah yang membawa penduduk Nusantara memeluk Islam. Mereka terpesona dengan perilaku para saudagar negeri seberang tersebut.

Suatu ketika, saya mendengar bagaimana Kiai Marzuqi Mustamar (tokoh di Jawa Timur) memaparkan peran para pendakwah dahulu dalam menawarkan Islam pada masyarakat setempat. Walisongo yang mendakwahkan Islam mencapai keberhasilan yang gemilang dengan tanpa mengobarkan permusuhan dan pertumpahan darah. Para pedakwah masa lalu mengerti bagaimana cara membungkus Islam dengan kemasan yang menarik sehingga masyarakat dengan sendirinya terpukau dan memutuskan untuk memeluknya.

Tentu kita tidak lupa ketika ada seorang Sahabat yang tidak sengaja melakukan kesalahan. Suatu ketika, salah seorang Sahabat menjadi imam shalat. Kemudian datang Sahabat lain menjadi makmum. Ketika menyadari bahwa ada orang yang bermakmum kepadanya, Sang imam memanjangkan bacaaan shalat hingga makmum merasa terlalu lama dan lelah. Selepas shalat, makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah tentang perilaku imam tersebut.
Mendapati hal itu, Rasulullah memberikan wejangan kepada imam tersebut. “Apakah engkau menjadi seorang yang membuat orang lari (dari ajaran Islam)?”[]

Tentang penulis:
Koordinator LBM 2018-2020, Koord. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCINU Mesir 2018-2020. Mahasiswa Al-Azhar, Kairo. Alumnus Pesantren Lirboyo mutakharijin tahun 2012

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Baca juga:
APA YANG MENYEBABKAN MASUK SURGA

Lihat juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA
# TAHUN BARU DAN CITRA BURUK AGAMA

Mengenal Al-Asybah Wa An-Nadhair: Kitab Kaidah Fikih Fenomenal Karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Imam Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H/1505 M) merupakan ulama yang dikenal produktif dalam berkarya. Sudah begitu banyak kitab karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dari berbagai disiplin keilmuan yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

Al-Asybah wa an-Nadhair merupakan salah satu karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam disiplin ilmu kaidah fikih. Meskipun kitab kaidah fikih Mazhab Syafi’i semacam ini sudah banyak ditemukan sebelumnya, namun kitab Al-Asybah wa an-Nadhair ini memiliki beberapa keunggulan. Selain penulisannya lebih ringkas, pemaparan yang disampaikan dilengkapi dengan analisis kritis dan komparasi antara pendapat yang merupakan ciri khas dan kepiawaian Imam Jalaluddin As-Suyuthi.

Selain mukadimah dalam kitab Al-Asybah wa an-Nadhair, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis 7 (tujuh) pokok bahasan. Pada setiap pokok bahasan memiliki rincian penjelasan yang lebih luas. Dalam hal ini, keahlian Imam Jalaluddin As-Suyuthi semakin terlihat dalam membuat ringkasan dari berbagai literatur tanpa harus mengurangi esensi dan kualitasnya.

Tujuh pokok bahasan adalah sebagai berikut:

Pertama, 5 (lima) kaidah dasar yang menjadi rujukan semua permasalahan fikih. As-Suyuthi menjelaskan, dalam Mazhab Syafi’i, kelima kaidah dasar tersebut merupakan hasil perampingan dari 17 (tujuh belas) kaidah yang telah digagas dalam Mazhab Hanafi.

Kedua, kaidah-kaidah lain yang muncul sebagai konsekuensi dari kaidah dasar. Di sini, dibahas tentang 40 kaidah umum yang menghasilkan gambaran hukum atas kasus yang parsial.

Ketiga, kaidah-kaidah yang terdapat perbedaan di antara para ulama tentang keabsahannya. Di sini dibahas mengenai kaidah yang diperselisihkan tanpa ditarjih karena adanya ragam pandangan mengenai cabang (furu’) masalah.

Keempat, hukum-hukum yang sering terjadi dan seyogyanya diketahui oleh seorang pakar hukum (faqih). Begitu juga bagi orang yang hendak berfatwa.

Kelima, tinjauan umum pembahasan fikih. Di sini, dibahas secara singkat standar dalam persoalan fikih. Misalkan acuan umum bersuci, wudhu, tayamum, mandi, air, shalat, azan, persoalan kiblat, dan zakat.

Keenam, membahas konsep yang rancu dan perbedaan pendapat para ulama di dalamnya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan antara dua istilah yang terkesan sama, padahal memiliki konsekuensi hukum yang berbeda.

Ketujuh, tema-tema lain yang terdapat perbedaan di antara para ulama. Di sini dibahas tentang perbandingan kasus yang terjadi karena adanya kesamaan konteks dengan persoalan dalam fikih atau pun bahasa.

Hingga saat ini, kitab Al-Asybah wa an-Nadhair paling banyak dijadikan acuan dalam kajian kaidah fikih Mazhab Syafi’i. []waAllahu a’lam

Baca juga:
MENGENAL KITAB IHYA’

Dengarkan juga:
Kekaguman Habib Idrus Ketika di Lirboyo

# MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI
# MENGENAL AL-ASYBAH WA AN-NADHAIR: KITAB KAIDAH FIKIH FENOMENAL KARYA IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah