Membangun Gedung Baru Kampus IAIT

LirboyoNet, Kediri – KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mendatangi bangunan baru Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri, Senin pagi (21/03). Didampingi beberapa staf kampus, beliau selaku rektor IAIT berkenan mengawasi jalannya ro’an ngecor yang dilaksanakan oleh santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Tidak seperti roan (gotong royong) sebelumnya, jumlah santri yang ikutserta hanya 200-an. Itu karena bangunan yang dicor tidak terlalu luas.

Institut ini terletak di Jl. KH Wakhid Hasyim No.62, Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri. Berjarak kurang lebih dua kilometer dari Ponpes Lirboyo. Karena itu, para santri yang ditugaskan untuk ngecor diberangkatkan dari ponpes dengan menggunakan truk.

Bangunan yang dicor ini terletak di belakang gedung Pascasarjana. Butuh lebih dari dua ratus sak semen dan beberapa truk pasir. Dimulai pukul 08.00 Waktu Istiwa’, para santri menyelesaikan ro’an saat matahari mulai menguning.

Pembangunan infrastruktur memang sedang menjadi salah satu titik fokus bagi Ponpes Lirboyo. Jumlah santri terus bertambah secara signifikan, yang artinya memerlukan bangunan yang lebih banyak untuk tempat mereka tinggal dan belajar.

Begitu pula IAIT. Kampus yang diwariskan oleh KH. Mahrus Aly ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Walhasil, sangat diperlukan bangunan baru untuk menampung keinginan para mahasiswa untuk belajar di kampus ini.][

Manasik Haji bagi Santri

LirboyoNet, Kediri – Tidak seperti rukun Islam lainnya, ibadah haji terkesan lebih sulit dan rumit. Maka sangat dirasa perlu untuk mejadikannya sebagai tema khusus dalam sebuah diskursus. Misalnya adalah apa yang dilakukan oleh Pengurus Pusat Kelas tiga tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien pada Jumat malam Sabtu (18/03) lalu.

Menggunakan Aula Al Muktamar sebagai lokasi acara, Seminar Manasik Haji dihadiri oleh seluruh siswa kelas tiga tsanawiyah. Mereka berangkat dari lokal kelas pukul 21.00 Waktu Istiwa’, karena harus terlebih dahulu masuk ke dalam kelas pada jam awal (19.00-21.00).

Adalah Agus HM Said Ridlwan yang menjadi tutor pada malam hari itu. Beliau diminta untuk memberikan informasi seputar haji kepada tidak kurang dari lima ratus siswa. Karena begitu banyaknya, beliau kemudian memilih beberapa siswa sebagai contoh praktek ibadah haji.

Selain untuk mengenalkan kepada mereka bagaimana ibadah haji diwujudkan, seminar ini juga sebagai bekal bagi mereka dalam ujian praktek akhir tahun.

Pengurus pusat sudah menyediakan beberapa alat peraga. Semisal Ka’bah mini, Maqam Ibrahim, dan Hijr Ismail. Beberapa tempat lainnya seperti tempat jumrah juga dipersiapkan. Tentunya, hal ini memudahkan Cak Said (panggilan akrab Agus HM Said Rildwan) untuk menjelaskan kepada para siswa.

Beliau membimbing para siswa dalam berbagai hal, termasuk cara melilitkan kain ihram pada badan muhrim (orang yang ihram). Dengan bantuan proyektor, beliau memperkenalkan kepada siswa apa saja yang perlu diketahui dari ibadah haji. Di sana akan terlihat, bahwa apa yang tertera di dalam kutubus salaf tidaklah cukup sebagai acuan untuk mengenal haji.

Setelah dirasa tuntas, Cak Said memberikan waktu bagi siswa untuk mengungkapkan apa yang dirasa masih belum dapat dicerna. Meski pertanyaan yang diajukan tidak sedikit, Cak Said dengan lugas memberikan jawaban-jawaban.

Seminar itu kemudian selesai cukup malam, yakni sekitar pukul 02.00 Waktu Istiwa’.][

Berbahtsu Demi Harapan Baru

LirboyoNet, Kediri – Bersamaan dengan agenda Kamis Legi (17/03), para santri Ponpes Lirboyo Unit Darussalam (PPDS) memiliki hajat besar. Dilaksanakan di bangunan baru, Bahtsul Masail dibuka pukul 08.00 Waktu Istiwa’. Bahtsu ini merupakan langkah perdana bagi PPDS untuk mengadakan acara serupa di kemudian hari.

Peserta berdatangan dari berbagai utusan. Selain utusan Ponpes Lirboyo unit lain, juga terlihat perwakilan dari pondok-pondok kawasan Kediri, seperti Ponpes Sumbersari dan Pethuk.

Dalam kesempatan ini, para peserta dihadapkan pada beberapa permasalahan waqi’iyah. Satu diantaranya mengenai status profesi pengacara di mata fiqh. Permasalahan ini diangkat oleh panitia, mengingat masih belum ditemukannya formula pasti dari fikih untuk menilai kadar profesi pengacara.

Beberapa ustadz diminta sebagai perumus, demi menjaga arah pembahasan agar tidak keluar dari jalur. Para perumus ini tidak serta merta menjadi pengarah jalan secara mutlak. Terbukti, ketika perumus memilih beberapa hal untuk dipertimbangkan, mubahitsin (para peserta bahtsul masail) menawarkan hal lain yang dianggap lebih mashlahah untuk dijadikan pertimbangan.

Peserta bergantian menunjukkan ibarat-ibarat (tendensi hukum) dari berbagai kitab salaf. Meski berkutat pada halal dan haram, status profesi ini tidak bisa diputuskan sesederhana memilih antara hitam atau putih. Terbukti, hingga sore hari, peserta bahtsu masih mencari-cari titik temu yang bisa diterima secara sharih (jelas).

Dengan ditemani putra beliau, Agus Aminulloh Mahin, KH. A. Mahin Thoha menutup bahtsul masail. Beliau yang juga pengasuh PPDS ini berharap, santri-santri dapat terus mengembangkan diri dan intelektualitas yang mereka punya.

Kegiatan bahtsul masail memang telah membudaya dalam keseharian para santri lirboyo. Tidak serta merta berkembang memang. Para santri lirboyo terlebih dahulu harus mengawali tempaan keberanian dan keuletan bermusyawarah di kelas. Setelahnya, mereka harus melewati tantangan berupa musyawarah antar kelas, antar tingkatan, bahtsul masail daerah, dan sebagainya. Walhasil, para santri Lirboyo, seperti yang menjadi harapan masyayikh, akan memiliki mental kokoh dalam bermasyarakat, dan tidak mudah menyalahkan orang lain.][

Seratus Hari Kiai Aziz

LirboyoNet, Kediri – Peringatan seratus hari almaghfurlah KH. M. Abdul Aziz Manshur dilaksanakan Selasa kemarin, (15/03). KH. Abdul Hamid Abdul Qadir (Pengasuh Ponpes Maunah Sari Kediri) memimpin jamaah untuk membaca tawassul dan surat Yasin. Acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil oleh KH. A. Habibulloh Zaini (Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri).

Acara berlangsung sederhana di ndalem almaghfurlah, layaknya hari-hari yang pernah dijalani beliau. Masyarakat sekitar hadir pula menemani segenap dzuriyah PP. Tarbiyatun Nasyi-ien Paculgowang Jombang dan Ponpes Lirboyo Kediri, dan beberapa masyayikh dari Jombang, Kediri, dan kota lain.

Turut hadir dalam acara ini para politisi PKB dan pejabat pemerintah. Sekjen DPP PKB Abdul Kadir Karding ikut memberikan sambutan. “Jasa kiai Aziz sangat besar bagi PKB. Semoga kami, santri dan keluarga dapat meneruskan apa yang telah diperjuangkan oleh beliau,” ujar beliau.

Sebelumnya, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus memberikan sambutan atas nama keluarga. “Mayit itu laksana orang yang tenggelam.” “Mereka membutuhkan doa dari saudaranya,” terang beliau. “Tanda orang baik hidupnya bermanfaat. Orang berilmu hidupnya bermanfaat, matipun bermanfaat. Apa yang telah diperjuangkan oleh KH. M. A. Aziz Manshur semoga tetap dijaga oleh Allah. Dan semoga santri dan keluarga beliau khususnya Gus Shobih (HM. Shobih Al-Muayyad) diberi kekuatan utuk mengemban amanah beliau,” harap Yai Kafa di akhir sambutannya.

Kemudian, KH. Abdul Ghofur diminta untuk memberikan mauidhoh hasanah. Beliau adalah pengasuh Ponpes Sunan Drajat Lamongan, sekaligus teman seperjuangan KH. A. Aziz Manshur dalam beberapa hal. Diantaranya, menjadi pimpinan agrobisnis pertanian pondok pesantren se-Indonesia. “Yai Aziz niku sampun jangkep amale (sudah lengkap amalnya). Beliau punya pondok pesantren, santri yang banyak, dan keturunan shalih yang mendoakan beliau,” kenang beliau.

Dalam kesempatan ini, Yai Ghofur berpesan, “Jangan henti-henti berdoa. Gusti Allah senang jika ada yang berdoa. Allah sudah menantang kita ‘mintalah padaku, Aku turuti semuanya’. Allah tidak bakal mengkhianati janji-Nya.”][

Malam Mingguan Membina Kepribadian

LirboyoNet, Kediri – Kata siapa malam Minggu hanya dinikmati anak muda ‘luar’?

Stigma malam Minggu memang cenderung negatif, terutama bagi mereka yang jalan-jalan dengan lawan jenis. Dengan mengendarai motor, mereka mencari tempat tertentu untuk sekedar bercengkerama.

Sesuatu yang lebih positif telah digiatkan oleh para anak muda ‘dalam’, yakni mereka yang berdiam di dalam Ponpes Lirboyo. Sabtu malam Ahad (06/02) kemarin, beberapa diantara mereka berkumpul di Laboratorium Bahasa Ponpes Lirboyo. Gedung ini berada di dalam komplek Aula Al Muktamar. “Malam Mingguan” mereka nikmati dengan mengikuti Kursus Bina Kepribadian, yang dikoordinir oleh Seksi Pramuka P2L. Mereka datang dengan berbagai latar belakang. Mulai mereka yang masih duduk di jenjang Ibtida’iyyah hingga Aliyah.

Di dalam ruangan itu, mereka telah ditunggu oleh sang pemateri, Bapak Saiful Asyhad, SH. Sesuai jadwal, kursus dimulai pada pukul 23.00 waktu Istiwa’. Dengan sigap, puluhan peserta segera memakai earphone yang tergantung di meja. “Dalam mengatur penampilan, kalian harus jeli memilih warna busana dan aksesoris yang akan kalian pakai,” terang beliau mengawali kursus. Para pria maksimal dapat menggunakan tiga kombinasi warna dalam pakaian mereka. Sementara bagi wanita dua warna lebih banyak.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Tidak hanya pakaian. Cara melangkah dan ekspresi wajah juga tidak boleh lupa untuk dicermati. “Ketika melangkah, jangan menghentak. Turunkan tumit dahulu, kemudian telapak kaki. Selain lebih halus, ini juga berpengaruh ketika kalian sudah berumur tua,” lanjut Pak Saiful. Jika cara melangkah kurang diperhatikan, efek yang akan dirasakan saat tua adalah pinggang yang mudah sakit, jalan menjadi pincang, dan lainnya.

Pengadaan kursus Bina Kepribadian ini berangkat dari kebutuhan dan kewajiban untuk berdakwah bagi para santri. Di dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi dunia dakwah, banyak hal di luar materi kitab kuning yang harus dipelajari. Bagaimana agar mudah diterima masyarakat, mengajak kebaikan (amr ma’ruf) dengan tanpa menggurui, adalah beberapa tema yang menjadi pekerjaan rumah bagi para santri.

Dengan kursus inilah, paling tidak, santri dapat menemukan cara-cara berkepribadian yang benar, baik dan indah untuk mereka terapkan ketika sudah bermasyarakat kelak. Sehingga, akhlakul karimah dan materi-materi agama yang mereka bawa akan mampu diserap dengan baik oleh masyarakat sekitar, lebih-lebih oleh seluruh elemen masyarakat Nusantara.][

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah