Kebahagiaan Hakiki

Oleh: KH. Ahmad Idris Marzuqi

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَاطِرِ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ وَبَاسِطِ الْأَرْزَاق. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَالرَّسُوْلِ الْعَظِيْمِ الْمَبْعُوْثِ لِإِتْمَامِ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ التَّلَاق. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن.

Pembaca yang Budiman…

Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan harta, pangkat, jabatan dan segala macam kemewahan duniawi. Tapi sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada ketentraman hati seseorang. Banyak orang kaya dengan harta melimpah, tetapi kekayaannya tidak menjadikan hatinya tenang. Bahkan sebaliknya, kekayaan yang ia kumpulkan menyebabkan dirinya bersusah payah untuk mengejar kekurangan. Karena ia beranggapan bahwa harta benda yang ia miliki masih saja kurang. Allah SWT berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Demikianlah kebiasaan manusia dalam mengejar harta, memiliki satu ingin dua, mempunyai dua ingin bertambah menjadi tiga dan seterusnya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berusaha dan juga berdo’a agar hati kita selalu diberi ketenangan. Sebab hanyalah di hati yang tenang, kebahagiaan hakiki itu berada. Sebagaimana ungkapan para ahli hikmah:

الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Pembaca yang arif…

Islam tidak melarang seseorang memiliki banyak harta. Yang tidak boleh adalah ketika manusia diperbudak oleh harta. Sehingga tidak mustahil, demi mengejar kekayaan, dia mau melakukan apa saja, menerjang larangan-larangan Allah. Maka dari sini manusia pun menjadi budak harta karena tujuan hidupnya hanya sepenuhnya demi harta. Ibarat kehausan di tengah samudera. Menjadi serakah, tak pernah merasa cukup. Rasulullah SAW menjelaskan:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا، وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَانِيًا لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Seandainya anak Adam telah memiliki harta sebanyak satu lembah, pasti ia akan mencari lagi untuk memiliki dua lembah, dan bila telah memiliki dua (lembah), pasti ia akan mencari lagi untuk memiliki tiga lembah, dan tidak ada yang dapat memuaskan (keinginan) perutnya kecuali tanah.”

Dengan kata lain, ia tidak akan pernah merasa puas kalau belum mati dan diapit bumi yang berisikan debu.

Pembaca yang bijak…

Hadis tersebut memperingatkan kita agar jangan sampai terlena oleh gemerlap/ kemewahan dunia yang disebutkan dalam Alquran sebagai kesenangan yang menyesatkan (mata’ul ghurur). Kita tidak usah terpancing oleh kenyataan hidup sehari-hari. Tidak sedikit orang ingin cepat kaya, tapi tidak mengindahkan tuntunan agama. Akibatnya orang sering mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Padahal hidup ini sebenarnya bagaikan perputaran sebuah roda, hari ini kaya, bisa saja besok miskin. Ada saat datang, ada saat pergi. Ada yang lahir, ada yang mati. Hari ini pegang jabatan, besok mungkin dibebastugaskan. Siapa tahu? Allah berfirman:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ … الآية 

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…,” (QS. Ali Imran: 140)

Pembaca yang setia…

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kunci kebahagiaan adalah ketenteraman hati. Salah satu dari beberapa hal yang menenteramkan hati yaitu qona’ah. Qona’ah artinya ridla, menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya. Selalu menyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Orang yang bersifat qona’ah memiliki pendirian bahwa apa yang ada pada dirinya merupakan yang paling baik dan itu adalah anugerah Allah.

Qona’ah bukan berarti bermalas-malasan, tidak mau ikhtiar, apalagi putus asa. Tetapi sebaliknya, harus tetap ikhtiar. Dan apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dia tetap ridla menerima hasil tersebut, tetap bersyukur dan lapang dada dengan apa yang telah diberikan kepadanya. Sikap demikian inilah yang disebut qona’ah, yang dapat mendatangkan ketenteraman hidup. Rasulullah bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وقَنَّعَهُ اللّٰهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, dan diberikan rizki yang cukup, dan ia merasa cukup dengan apa-apa yang diberikan Allah kepadanya.”

Qona’ah merupakan sifat seorang muslim sebagai pengendali agar tidak terjerumus dalam keputus-asaan dan tidak serakah, karena keduanya sangat dilarang agama. Sebab pada hakikatnya kekayaan itu terletak pada hati seseorang, bukan pada harta yang dimilikinya. Rasulullah bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، لَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.”

Wallahu a’lam bis shawab.

 

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

________

*disarikan dari Majalah MISYKAT

Berhentinya Adzan Di Langit Andalusia

Bumi Andalusia, secara etimologis nama ini punya kaitan dengan kaum Vandal, orang-orang yang sudah lebih dulu menghuni semenanjung Eropa Barat jauh sebelum orang-orang Arab. Tanah taklukan ini sempat bersinar oleh cahaya Islam, dimana pada masa jayanya, ketika tiba waktu salat, suara adzan akan datang bersahut-sahutan silih berganti di seluruh penjuru negeri. Andalusia memancarkan kharisma dan panorama Islam, yang hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Andalusia, terutama kota Cordova, kotanya penulis tafsir kenamaan Islam, tafsir Qurthuby, memiliki reputasi yang maju. Hampir semua orang di kota itu bisa membaca.

Emirat Ummayah yang “didirikan” oleh Abd Al-Rahman Al-Dakhil mampu bertahan sekitar dua tiga perempat abad. Melalui perjuangan penuh, perlahan-lahan seluruh daerah bersatu. Prestasi yang gemilang dan menggembirakan, karena Islam mampu menunjukkan bahwa kemenangan selalu berpihak kepadanya. Namun patut disayangkan, seiring berjalannya waktu, akibat intrik, satu demi satu provinsi-provinsi yang ada mulai lepas dari kekuasaan sang Amîr.

Pada masa kepemimpinan Amîr ke delapan, Abd Al-Rahman III, Andalusia berdiri diatas angin. Ia mencapai puncak kejayaan epos Arab di semenanjung itu. Cordova memperoleh reputasi sebagai ibukota maju dan “tiada tara” untuk sebuah wilayah yang disatukan dengan susah payah. Menguntit saingan ketatnya di timur, Baghdad. Abd Al-Rahman III yang naik tahta di usa belia, dua puluh tiga tahun, mampu membuktikan prestisenya sebagi pemimpin yang cakap, punya keteguhan hati, dan kejujuran. Padahal dia mendapat “warisan” negeri yang sedang terpuruk. Kekuasaan Emirat Ummayah kala itu hanya tersisa kota Cordova dan sekitarnya. Namun pahlawan sejati ini mampu tampil menyatukan kembali provinsi-provinsi yang hilang ke dalam kekuasaan yang absolut. Dalam setengah abad kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Emirat Ummayah semakin meluas ke beragam penjuru.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sukses mengatasi problem politik, Abd Al-Rahman III mulai membangun kotanya, dilanjutkan dua penerusnya, Al-Hakam II dan Al-Hajib Al-Manshur, Emirat Ummayah mencapai masa kejayaan di tiga periode ini. Masa supremasi muslim atas bumi Andalusia yang “belum dapat diulang” kembali sampai sekarang. Kita tentu membayangkan, ada di Cordova pada masa Al-Hakam II seribu tahun yang lalu, sama dengan ketika saat ini kita ada di Madinah Al-Munawwaroh. Dimana kita bisa melihat lambang bulan sabit ada dimana-mana. Dan kita bisa melihat suasana kental negara muslim. Bedanya, di sana sesekali akan turun salju dan di Madinah tak pernah ada salju. Suasana pasar muslim yang meriah, juga aktivitas keilmuwan di Masjid Agung Cordova, Mezquita yang mirip dengan halaqoh pengajian-pengajian di Masjid Nabawi saat ini. Diceritakan, Cordova pada masa keemasannya menjadi kota paling berbudaya bukan hanya di wilayah Andalusia saja, namun di seluruh Eropa. Bersama Konstantinopel dan Baghdad, Cordova menjadi pusat kebudayaan dunia. Setidaknya ada 130.000 rumah, tujuh puluh tiga perpustakaan, banyak toko buku, masjid dan istana. Cordova memiliki bermil-mil jalan yang rata disinari lampu-lampu dari rumah-rumah di pinggirannya. Padahal, tujuh abad setelah ini, London “hanya” punya satu lampu umum. Dan di Paris berabad-abad kemudian, orang yang keluar rumah saat hujan turun akan terjebak dalam banjir kubangan lumpur setinggi pergelangan kaki. Para penguasa di luar kota yang membutuhkan penjahit, penyanyi, arsitek, bahkan ahli bedahpun akan menuju kota ini. Kemasyhuran Cordova sebagai ibukota bahkan menembus telinga orang-orang Jerman. Hingga ada yang menjulukinya “permata dunia”.

Keagungan sejati terpancar dalam keilmuwan, ketika Al-Hakam II membangun dua puluh tujuh sekolah gratis di sana. Didorong oleh rasa cintanya pada ilmu pengetahuan, dia juga membangun perpustakaan raksasa. Setidaknya ada 400.000 judul buku yang dikoleksi. Ada yang merupakan hasil perburuan para karyawannya yang menjelajah jauh sampai ke Iskandariah, Damaskus, dan Baghdad. Dibawah naungannya, Universitas Cordova yang mulai dirintis oleh Abd Al-Rahman III semakin hidup dan berkembang meraih keunggulan diantara lembaga-lembaga pendidikan lain di seluruh dunia. Mendahului Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Nidzâmiyyah di Bahgdad. Bertempat di Mezqiuta, pelajarnya bukan hanya dari kalangan muslim, bahkan pelajar non muslimpun turut “mengadu nasib”. Profesor-profesor dari timur diundang dan digaji di sana. Mezquita, masjid yang luar biasa indah ini, benar-benar menyaksikan Emirat Ummayah di Andalusia yang menggeliat sejak awal, hingga akhirnya tenggelam. Mezquita masih kokoh berdiri hingga kini, konon sebagai satu-satunya simbol Islam yang tersisa di sana, dan sebagai saksi bisu, atas jejak peradaban Islam di Eropa.

Namun zaman kemudian berganti, seiring berakhirnya periode kepemimpinan Al-Hâjib Al-Manshûr, pengaruh Islam mulai “redup” dibawah pemimpin-pemimpin lain yang kurang cakap menggantikannya. Dalam waktu dua puluh satu tahun saja, konon beberapa khalifah silih berganti dinaik-turunkan. Negeri semakin kacau dan carut marut, perebutan kekuasaan tak terelakkan. Adalah Ali bin Hammud, pendiri dinasti Hammudiyyah yang mengklaim diri sebagai khalifah penguasa Cordova menggulingkan Emirat Ummayah. Dan ketika Hisyam III dari Dinasti Ummayah berhasil merebut kembali kekuasaan Emirat Ummayah, keadaan sudah semakin kacau. Emirat Ummayah tak terselamatkan lagi. Sistim kekhalifahan yang dihapus pada masa itu menandai berakhirnya kejayaan Emirat Ummayyah di Andalusia.

Islam belum “hilang” meski Emirat Ummayyah runtuh. Karena menyusul kemudian, bangkit dari puing-puing nama besar Ummayah, muncul beberapa negara-negara kecil. Seperti Dinasti Murabbitun dan Muwahhidun. Namun alih-alih kembali bersatu untuk membentuk kepemimpinan tunggal, negeri-negeri kecil ini justru terus menerus bertikai dalam perang saudara. Setelah sebagian mereka akhirnya kalah, mereka sadar musti menghadapi musuh “yang lebih kuat”, penguasa Kristen di utara yang mulai bangkit. Ada Kerajaan Kristen Castille dan Aragon, dua kerajaan yang berbeda dan menjadi musuh bersama. Namun ketika akhirnya dua kerajaan Kristen ini bersatu, “lonceng kematian” bagi negara-negara muslim kecil menggema.

Ketika Granada akhirnya direbut tahun 1492 M, salib akhirnya menggantikan bulan sabit di menara-menara kota itu. Bencana selanjutnya adalah ketika Dekrit kerajaan mengharuskan orang-orang muslim pindah agama. Jika tidak, mereka harus angkat kaki dari Andalusia untuk selama-lamanya. Bahasa, intuisi, peribadatan, dan cara hidup muslim harus ditinggalkan. Perintah pengusiran terakhir tahun 1609 M  mengakibatkan deportase besar-besaran, hampir seluruh penduduk muslim keluar dari bumi Andalusia. Mereka mendarat di Afrika, atau berpetualang lebih jauh dengan kapal-kapal. Saat itu, mereka yang hidup di sana akan sangat merindukan, ketika Islam mencapai masa supremasinya. Adzan melengking di langit Andalusia, dengan suara yang bersahut-sahutan. Namun bukannya sejarah yang kurang berpihak, apalagi menyalahkannya, salah siapa tidak terdengar lagi Adzan di bumi Andalusia? Di sana Islam pernah jaya seperti matahari, namun kemudian muncul gerhana yang tak kunjung hilang hingga kini.

Pada akhirnya, kadang kita bertanya, ketika kita memimpin suatu komunitas yang kacau. “Apa yang harus aku lakukan?” Sebagai penanggung jawab penuh yang gagal membawa apa yang kita pimpin menuju cita-cita. Kesalahan ini berakar kadang pada kita sendiri. Pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan, akan membawa rakyatnya menuju masyarakat terpelajar. Pemimpin yang kuat, akan membawa masyarakatnya bersatu. Namun pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri, akan membawa masyarakatnya menuju “kepastian”. Pasti tak sepeti yang dia harapkan. Sebelum menyalakan komunitas yang kita pimpin, sudahkah menyadari siapa yang perlu introspeksi diantara kita ataukah mereka? []

Penulis, M. Khoirul Wafa

Terorisme Berkedok Jihad

Kemarin, 14 Januari 2016, Jakarta digegerkan dengan serangan bom. Insiden di Jl. MH. Thamrin  yang menewaskan tujuh orang dan menyebabkan belasan korban luka-luka ini, diduga kuat didalangi oleh kelompok radikal, sebuah organisasi Islam garis keras yang mengatas namakan Islam. Sebuah organisasi yang semakin membuat nama Islam terpuruk dimata dunia, dengan aksi-aksi brutal dan tak berperikemanusiaannya.

Dalam serangan yang menurut Ali Fauzi, seorang mantan teroris, gagal total karena pelaku dan intensitas serangan yang tergolong amatiran ini, sudah membuat Indonesia dan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura menjadi siaga. Karena kita tentu tidak menginginkan, terulang kembalinya tragedi serupa.

Salah Paham

Banyak yang salah penafsiran tentang makna kata jihad akhir-akhir ini. Banyak pula yang mudah terdoktrin dengan iming-iming meninggal dunia secara “terhormat” sebagai syahid. Padahal konsep jihad bil qital, dengan memakai metode peperangan ala Islam, jauh dari apa yang dapat kita saksikan dari sepak tejang organisasi-organisasi radikal yang mengatas namakan Islam, dengan membuat onar, mengebom beberapa tempat-tempat umum, atau bahkan menculik dan merampas harta warga sipil. Jihad bil qital, belum dapat dipraktikkan di Indonesia. Indonesia masih merupakan dârus salâm, negara yang aman. Dan bukan dârul qitâl, medan perang. Kita tentu ingat, peristiwa pertempuran 10 November, ketika itu, kota Surabaya diserang oleh angkatan perang Inggris, pada saat itulah jihad bil qital baru bisa dipraktikkan di Indonesia. Dimana semua orang yang berada di Surabaya dan sekitarnya, dengan jarak masafah qoshr, jarak orang diperbolehkan meringkas rakaat salat. Waktu itu, warga dalam radius 94 KM diharuskan membela kedaulatan Surabaya.

Jika dalam kaidahnya, inti dari jihad sebenarnya bukan berperangnya. Berperang hanya akan menjadi jalan terakhir. Dulu, dalam melaksanakan ekspedisi penyebaran Islam ke negeri-negeri di sekitar jazirah Arab, Nabi Muhammad SAW tidak sembarangan dalam menyerang “musuh-musuhnya.” Terlebih dulu ditempuh jalur diplomatis dengan berkirim surat. Diberi tawaran untuk masuk Islam atau membayar pajak. Syaikh Bakri Syatha, dalam kitabnya I’ânah Al-Thâlibîn, mengutip keterangan Syaikh Khâtib Al-Syirbiny, beliau menuliskan, bahwa “Kewajiban berjihad sebenarnya hanya sebatas wajib wasâil, wajib sebagai perantara untuk menempuh maksud dan tujuan tertentu. Bukan wajib maqâshid, intisari. Tujuan utama berjihad sebenarnya adalah sebagai media perantara menyampaikan hidayah.” Agar orang-orang non muslim mau mengenal Islam dengan benar dan akhirnya masuk Islam. “Juga ada beberapa tujuan inti lain, seperti bisa meninggal dunia sebagai syuhada. Adapun membunuh orang-orang kafirnya, itu bukanlah menjadi tujuan utama. Sehingga kalau saja memungkinkan memberikan hidayah dengan menegakkan dalil-dalil agama, maka hal itu akan lebih baik.”(ᵃ) Artinya, dizaman modern seperti ini, sudah “usang” berjihad dengan metode berperang. Untuk lebih maslahatnya, ditempuh dengan pendekatan lain, seperti syiar dan dakwah.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sedikit tentang Kekeliruan Gerakan Islam Radikal

Merujuk pada “cerita masa lalu”, dan khazanah klasik, setidaknya, beberapa gerakan Islam radikal telah mengubah haluan metode jihad konservatif menjadi konvensional. Yang kata sebagian tokoh, adalah “perang tidak teratur”. Serangan tidak lagi menyasar tempat-tempat, atau wilayah  yang dipersepsikan sebagi musuh. Baik aparat negara, instansi-instansi, simbol-simbol, bahkan warga sipil. Padahal, Islam tidak pernah menarget warga sipil dalam ekspedisi militernya dulu. Tentara muslim dalam berjihad hanya akan menyerang pasukan bersenjata dan pasukan-pasukan musuh yang melawan. Untuk kemudian setelah kekuatan militer musuh dapat dikalahkan, Islam tidak lantas membunuh warga sipil non muslim yang tersisa, namun menegakkan perdamaian di daerah yang ditaklukkan. Coba kita tengok, setelah Sultan Muhammad Al-Fatih berhasil meruntuhkan tembok kota Konstantinopel dan mengalahkan pasukan militer Romawi di kota tersebut, beliau tidak lantas menyerang warga sipil non muslim. Bahkan meruntuhkan gereja-gereja merekapun tidak. Mereka dibebaskan untuk memeluk agama mereka, dan umat Islam mampu hidup berdampingan dengan yang non muslim dengan tenang. Nabi Muhammmad SAW sendiri pernah berpesan kepada sahabat Umar RA. yang kala itu belum menjadi khalifah, jika nanti Islam sampai ke Mesir dibawah kekuasaannya, maka biarkan dan jangan ganggu penduduk Kristen Koptik yang tinggal di sana.

Kemudian tindakan yang dilakukan kelompok garis keras, seperti ISIS, bukanlah apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita bisa melihat dengan jelas, ISIS menghalalkan bunuh diri, yang jelas-jelas dilarang dalam agama. Ada kaidah fikih yang berbunyi,

الضرر يزال

Kemadharatan harus dihilangkan”

Yang juga bermuara dari hadis,

لا ضرر ولا ضرار

Tidak dibenarkan menyakiti diri dan membahayakan orang lain”

Ulama kontemporer Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Jihad, secara langsung menjelaskan tentang keharaman bom bunuh diri. Jangankan bom bunuh diri, tindakan yang lebih ringan sekalipun, seperti melubangi hidung dengan tujuan memasang perhiasan saja dalam fathal mu’in dilarang, karena termasuk perbuatan menyakiti diri yang tak ada gunanya.

Memang, dalam kitab Fatawi Isma’il Zain, status orang non muslim di Indonesia termasuk kafir harbi, karena persyaratan untuk menjadi kafir dzimmah, mu’ahad, apalagi musta’man tidak terpenuhi. Namun meskipun begitu, hukum membunuh orang non muslim di Indonesia tetap saja haram kata beliau.

Bagaimana Pesantren Menyikapi Gerakan Islam Radikal

Tema ISIS dan gerakan Islam radikal pernah menjadi salah satu pembahasan utama dalam FMPP, Forum Musyawarah Pondok Pesantren seJawa dan Madura pada pertengahan April tahun 2015 silam di Ponpes Lirboyo. Menurut kacamata syari’ah, tindakan gerakan Islam radikal, utamanya ISIS, yang melakukan banyak penyimpangan, seperti terlibat dalam serangan bom, penculikan, pembunuhan masal, dan perampasan harta termasuk tindakan kejahatan berat menurut kacamata hukum Islam. Dalam menstatuskan ISIS dan gerakan Islam radikal lain sendiri,  mereka termasuk distatuskan sebagai golongan ahlul baghyi, kelompok makar, dengan “kedok” cita-cita mendirikan hukum Islam. Dan dari tinjauan ideologi, mereka termasuk ke dalam kelompok ahlul bid’ah wa dholal, kelompok bid’ah­ dan sesat. Kemudian dalam menyikapi gerakan semacam ini sendiri, karena perilaku mereka termasuk tindakan munkarât, maka tindakan yang tepat adalah amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan pangkatnya. Yaitu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat, tentang perilaku menyimpang mereka, dan membantu upaya pencegahan berkembangnya gerakan mereka di daerah masing-masing.(ᵇ)[]

_______________

(ᵃ) Hasyiyah I’anah Al-Thalibin. Jilid 4. Hal 181. Cet, thoha putra semarang.

(ᵇ) Hasyiyah Al-Jamal jilid 5. Hal. 182-183. Cet. Dârul fikr.

Haul dan Haflah Akhirussanah 1437 H

LirboyoNet, Kediri – Sejak bertahun-tahun yang lalu, pesantren-pesantren di seluruh pelosok negeri tidak asing dengan pagelaran event tahunannya. Pun demikian dengan masyarakat luas, mereka terbiasa jika mendengar sebuah pesantren akan mengadakan acara imtihan, akhirussanah, khataman, ataupun istilah lainnya.

Begitu pula Pondok Pesantern Lirboyo. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jauh-jauh hari segala persiapan untuk event ini mulai dikerjakan. Mulai dari bagaimana konsep dan teknis acara, membuat daftar kebutuhan sarana dan prasarana, hingga hal-hal lain sebagainya. Setelah semuanya dipertimbangkan dengan matang dalam Rapat Harian Panitia Haul & Haflah Akhirussanah 1437 H Pondok Pesantren Lirboyo & Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, baru kemudian disahkan dalam Rapat Pleno yang pada tahun ini digelar Rabu siang (13/1) kemarin.

Rangkaian agenda Haul & Haflah tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu. Puncak acara dijadwalkan digelar pada hari Ahad malam Senin (9 Sya’ban 1437 H./ 15 Mei 2016 M.), sedangkan kegiatan pendukung dimulai sejak Jum’at, 11 Maret 2016. Acara pendukung sendiri beragam. Mulai dari Musabaqoh Tilawatil Qur’an, Musabaqoh Qiraatul Kitab, Hifdzu Matan Al Jurumiyah, Cerdas Cermat Islami, Debat Hukum Islam, PILDACIL, Adzan dan Muroqi, serta lain sebagainya.

“Agenda tahunan ini harus dilestarikan. Karena selain merupakan syiar, keterlibatan kita semua demi suksesnya acara ini merupakan satu tambahan ilmu tersendiri yang suatu saat akan sangat bermanfaat. Karena realitanya, ketika santri sudah terjun ke masyarakat akan menemui banyak tuntutan. Tuntutan masyarakat tidak melulu soal santri harus bisa ngaji. Oleh masyarakat santri dituntut bisa banyak hal, termasuk kemampuan menghandel suksesnya sebuah acara di sekitar tempat tinggalnya. Dari itu, mari apa yang telah diamanatkan kepada kita semua dilaksanakan semaksimal mungkin,” terang Agus HM. Ibrahim A. Hafidz kepada anggota Pleno sesaat sebelum menutup rapat. /-

Kunjungan Dari Lamongan

LirboyoNet, Kediri – Semakin tingginya tingkat eksplorasi pada sistem pendidikan, yang terus diupayakan untuk memenuhi tuntutan zaman, menarik agaknya melihat bagaimana sistem klasik dalam pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo dapat bertahan.

Banyak lembaga lain yang bertransformasi menjadi lebih “modern”. Tidak bisa tidak, itu adalah sebuah wujud kerja keras agar bisa menumbuhkembangkan santri yang berdaya saing. Memberi mereka bekal yang aktual. Mereka memperluas jaringan dan memberi fasilitas yang kekinian, sebut saja komputer dan internet.

Sebenarnya, apa yang dituju Ponpes Lirboyo tidaklah jauh berbeda. Setiap pesantren tentu ingin menelurkan santri yang dapat berdaya guna di tengah masyarakat. Dan, tentu saja, untuk menuju ke sana dapat ditempuh dengan beragam cara.

Adalah Pondok Pesantren Roudlotul Muta’abbidin, sebuah pesantren di Kabupaten Lamongan, yang meyakini bahwa Ponpes Lirboyo memiliki sistem unik untuk mempertahankan kesalafannya. Maka siang itu, Senin (11/01), sang pengasuh, Ustadz Ibnu Abbas, datang dengan beberapa minibus yang membawa dua kelompok besar: 36 santri putra dengan beberapa ustadznya, yang segera menuju kantor Al-Muktamar. Dan di lain sisi, 54 santri putri melangkah ke arah Ponpes Hidayatul Mubtadiaat.

Waktu mereka tidak banyak. Hanya 24 jam untuk meraba sistem pembelajaran. Maka sore itu juga, santri putra membaur dalam aktivitas musyawarah santri Ibtida’iyyah. Tidak cukup di situ. Setelah jama’ah shalat Isya, mereka diarahkan menuju gedung Muhafadzah. Salah satu pembimbing mereka, Ustadz Thaha, menilai, proses muhafadzah ini menjadi salah satu unsur penting yang ingin mereka ketahui. “Kiranya, metode menghafal ini cocok dengan suasana pendidikan di pesantren kami. Muhafadzah sangat membantu santri untuk memahami pelajaran,” tegasnya.

Perlu diketahui, Ponpes Roudlotul Muta’abbidin telah cukup lama menjalin hubungan dengan Ponpes Lirboyo. Sejak 2010, mereka rutin setiap tahun mengirimkan santri-santri mereka untuk ikut belajar bersama santri Lirboyo. Walhasil, semakin banyak sistem pendidikan yang dapat ditularkan di sana. Muhafadzah salah satunya. Dalam prakteknya, Ustadz Thaha menerangkan, muhafadzah sudah menjadi metode wajib bagi para santri. Imbasnya, pemahaman mereka pada pelajaran semakin tinggi.

Para santri ponpes ini mayoritas berdomisili di kampung sekitar pesantren. Di samping belajar di madrasah diniyah, mereka juga sekolah formal di MA Raudlatul Muta’abbidin, yang bernaung di yayasan yang sama. Di keseharian mereka, banyak yang ikut membantu orangtua. Dari ngangsu (menimba air) hingga ngarit (mencari rumput). “Mereka ini luar biasa. Di luar kegiatan belajar, masih harus mengisi waktu dengan kerja keras,” puji Ketua Tiga Ponpes Lirboyo, Bapak Hamim HR dalam satu kesempatan. “Kalian tidak usah berkecil hati. Saat Sahabat Nabi berjumlah 1500-an, yang mondok (ahlus shuffah) cuma tiga ratus orang. Yang lain berangkat dari rumah masing-masing,” imbuh Bapak M. Masruhan, salah satu dewan Mudier Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM).

Mengenai musyawarah, para santri yang baru saja menjuarai even kompetisi voli Kabupaten Lamongan ini sedikit demi sedikit mulai mengikuti alur yang sudah menjadi tradisi Lirboyo. “Untuk membantu keefektifan situasi musyawarah mereka, kami memberikan buku-buku tanya jawab karya santri Lirboyo. Mereka bisa mencari jawaban di situ,” imbuhnya.

Esok harinya, santri putra yang terbagi menjadi enam kelompok kecil menuju gedung An-Nahdloh, tempat santri kelas V Ibtida’iyyah sekolah. Di dalam kelas, mereka mencermati para santri yang memulai pelajarannya dengan berdiskusi. Pelajaran di hari kemarin menjadi fokus utama pembahasan. Baru kemudian mustahiq (guru) masuk untuk merumuskan permasalahan yang sudah dibahas, lalu menambah pelajaran mereka.

Kunjungan ini mereka akhiri pada Selasa (12/01) siang. Setelah dilepas oleh beberapa pengurus Ponpes Lirboyo dan MHM, mereka menuju maqbarah. Tak lain, ziarah ini untuk mempererat hubungan para santri dengan almaghfurlah KH. Abdul Karim. “Walaupun hanya beberapa jam di sini, kami ingin diakui sebagai santri Mbah Abdul Karim. Semoga kami bisa ikut rombongan beliau kelak,” harap Ustadz Ibnu Abbas.][

 

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah